Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 102 (Terima Kasih Telah Kembali)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini....


...Happy reading...


****


Zidan menatap istrinya dengan tak berkedip, pandangannya ke Tiara sangat dalam bahkan kedua anaknya juga sama seakan takjub melihat mamanya telah membuka mata. Tak lupa juga papa Ezra, mama Erlin, ayah Felix, dan ibu Mala terlihat sangat bahagia setelah melihat Tiara sadar.


"Ay!" panggil Zidan dengan pelan saat Tiara melihat ke arah tangan kanannya yang sudah tidak ada.


Tiara melihat ke arah tangannya tanpa ekspresi. Tidak ada raut sedih di hatinya sama sekali yang membuat Zidan takut jika Tiara memendam kesakitannya seorang diri seperti sebelum-sebelumnya.


"T-tangan kamu..."


"Tidak apa-apa," jawab Tiara dengan tersenyum walau suaranya masih terdengar sangat pelan.


"T-tapi..."


"Tidak apa-apa, Mas!" ucap Tiara sekali lagi.


Zidan menatap Tiara dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia memegang tangan kiri Tiara dengan pelan. "Sayang, Mas mohon apa yang kamu rasakan tolong katakan pada Mas sekarang. Mas takut kamu... Mas takut kamu pergi, 7 bulan kaku tak sadarkan diri membuat hidup Mas berantakan," ucap Zidan dengan sendu.


Tiara tersenyum, ia sama sekali tak merasa sedih ketika melihat tangannya sudah tidak ada. Saat bayangan kecelakaan itu berputar di otaknya Tiara sudah melihat tangannya hancur dan pasti tidak bisa di selamatkan.


"Aku gak apa-apa!" ucap Tiara dengan pelan. "Aku merasa semuanya terasa ringan, tanpa tangan pun aku masih bisa hidup, kan?" ucap Tiara dengan bijak.


Zayyen mendekati mamanya dengan menundukkan kepalanya. Ia takut mamanya membencinya karena ulahnya lah sang mama kecelakaan.


"M-mama, Zayyen minta maaf!" gumam Zayyen dengan pelan.


Tiara menatap ke arah Zayyen. "Mama sudah maafkan Zayyen!" ucap Tiara dengan tersenyum.

__ADS_1


Zayyen memberanikan diri untuk melihat wajah mamanya. Mata Zayyen berkaca-kaca, ia ingin memeluk Tiara tapi tidak mempunyai keberanian untuk melakukan itu.


"Zayyen, Zayden, apa kalian berdua tidak merindukan Mama?" tanya Tiara yang membuat keduanya langsung mengangguk dengan cepat.


"Sini peluk Mama!" ucap Tiara yang membuat keduanya berhamburan memeluk Tiara. Namun, tatapan antara Zayyen dan Zayden sangat dingin satu sama lain seakan keduanya tidak akan pernah berdamai.


Pemandangan tersebut membuat Zidan dan yang lainnya terharu. Ia sangat bersyukur ketika Tiara sudah sadar dan menjadi wanita yang lebih hangat. Zidan tak tahu apa yang terjadi saat Tiara tidak sadarkan diri yang jelas Zidan menemukan Tiara-nya yang dulu. Dari tatapan mata Tiara benar-benar berbeda, Tiara-nya benar-benar sudah kembali. Apakah alter ego Tiara juga sudah pergi?


****


Zidan menyuapi Tiara dengan sangat telaten sekali, kini hanya tinggal mereka berdua di ruang perawatan Tiara karena memang Zidan menyuruh keluarganya untuk keluar, ia ingin berbicara empat mata dengan Tiara. Sikap Tiara kepada kedua orang tuanya pun melunak seakan tidak terjadi sesuatu dengan ketiganya.


"Ay!" panggil Zidan dengan lembut saat sudah selesai menyuapi Tiara.


"Iya, Mas!" jawab Tiara dengan pelan.


"Kamu beneran gak apa-apa, kan? Ada yang sakit gak?" tanya Zidan memastikan.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Gak ada cuma sakit kepala sedikit," ujar Tiara.


"Terima kasih telah kembali!" ujar Zidan dengan tulus.


Tiara tersenyum. "Perasaan aku cuma tidur sehari doang!" ucap Tiara dengan terkekeh tetapi tidak dengan ekspresi Zidan yang amat sendu.


Zidan naik ke brankar Tiara dan ikut merebahkan diri di sana. Ia menatap mata Tiara dengan sangat dalam. "Sehari bagi kamu tapi sangat menyiksa Mas, Sayang. 7 bulan melihat kamu bertahan hidup dengan alat-alat medis membuat hati Mas sakit. Andai saja Mas bisa menggantikan rasa sakit yang kamu rasakan Mas akan melakukan itu," ucap Zidan dengan sendu.


Tiara membenamkan dirinya di dada bidang Zidan dengan nyaman saat kepalanya di landa rasa sakit yang tiba-tiba membuat Zidan mengernyitkan kedua alisnya.


"Ada yang sakit?" tanya Zidan dengan cemas.


"Jangan buat aku khawatir, Sayang!" ucap Zidan dengan khawatir saat merasakan keterdiaman Tiara.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa! Kepalaku cuma pusing aja, Mas!"


"Istirahat ya, Ay. Mas panggilkan dokter Ridwan," ucap Zidan dengan cemas


"Mau istirahat aja sama kamu!" ucap Tiara dengan perlahan.


Zidan mengelus kepala Tiara. Mungkin dengan elusan tersebut sakit yang Tiara rasakan menghilang.


"Kamu tahu Zayyen dan Zayden selalu berantem saat kamu masih belum siuman," ucap Zidan menceritakan bagaimana sikap kedua anaknya.


"Zayyen? Zayden? Siapa mereka?" tanya Tiara dengan bingung.


Deg..


Zidan melepaskan pelukannya pada Tiara dan menatap Tiara dengan dalam, ada yang tidak beres dengan istrinya.


"A-ay...Ini kamu lagi bercanda, kan? Tadi kamu mengenal anak kita. Ini sama sekali gak lucu, Ay!" ucap Zidan dengan cemas.


"A-anak? Kamu ini lucu Mas. Aku sama kamu ini belum menikah! Mana bisa mempunyai anak!" ucap Tiara dengan heran. Pasalnya Tiara sama sekali tidak mengenal kedua anaknya setelah rasa sakit yang ia rasakan tadi.


"A-ay jangan bercanda! Ini gak lucu!" ucap Zidan mendesak Tiara.


Tetapi ekspresi wajah Tiara benar-benar serius yang membuat Zidan khawatir. Ia ingin memanggil dokter Ridwan tetapi dicegah oleh Tiara.


Cup....


"Mana mungkin aku lupa sama anak-anak kita yang sudah aku perjuangkan dengan mati-matian, Mas!" ujar Tiara dengan tersenyum setelah berhasil mencium bibir Zidan.


Zidan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Kamu mengerjai Mas hmm?" tanya Zidan dengan geram.


Tiara tersenyum dan kembali membenam wajahnya di dada bidang Zidan. Setelah itu ekspresinya berubah menjadi sendu.

__ADS_1


"Kenapa denganku? Aku seperti tak mengenali mereka sewaktu-waktu?"


Zidan memeluk Tiara dengan sangat erat. Ia takut apa yang terjadi dengan Tiara barusan adalah benar. Tetapi Zidan berusaha untuk tidak berpikir macam-macam, Tiara-nya telah kembali! Dan tak mungkin melupakanya dan juga kedua anaknya.


__ADS_2