
...Jangan lupa ramaikan part ini....
...Happy reading...
****
Fiona keluar dari ruangan papanya dengan menghela napasnya dengan berat. Mungkin saatnya ia berbakti kepada kedua orang tuanya karena selama 12 tahun ini Fiona sama sekali tidak bersama dengan kedua orang tuanya.
"Mama ada bicara apa di dalam?" tanya Fathan penuh selidik. Ia yakin Fiona tidak akan pernah berbohong kepadanya karena kepolosan sang adik.
Sedangkan Fiona saat ini sedang berperang batin dengan hatinya. Hampir saja ia keceplosan saat mengingat mamanya mengatakan jika tidak boleh mengatakannya dengan Fathan atau pun yang lainnya.
"Mama menyuruh Fio untuk tetap tinggal di sini, Kak!" ucap Fiona dengan menggigit bibir bawahnya.
"Duh Fio gak suka bohong gini. Tapi kata mama demi kebaikan supaya kak Fathan gak sedih dan marah," gumam Fiona di dalam hatinya.
"Jangan bohong sama kakak Fio!" ujar Fathan dengan tegas.
"F-fio gak bohong, Kak!" ucap Fiona menunjukkan dua jarinya di depan Fathan.
"Yakin?" tanya Fathan dengan memicingkan matanya.
"Y-yakin!" ucap Fio dengan tersenyum. Jantungnya berdetak sangat kencang saat ia berbohong karena Fio tidak biasa berbohong seperti ini. Tetapi demi kebaikan keluarganya terpaksa Fio berbohong kepada kakaknya.
Fathan menghela napasnya. "Ayo kita ke ruangan Cika. Ada yang mau kakak kenalkan sama kamu," ujar Fathan mengalah untuk bertanya kepada adiknya, biarlah ia menyelidiki sendiri apa yang di katakan mamanya kepada sang adik yang terlihat gugup ketika menatap matanya.
"Siapa, Kak? Dimana om Akbar?" tanya Fiona mencari keberadaan pujaan hatinya.
__ADS_1
"Akbar di telepon rekan kerjanya dan dia sudah pergi bekerja. Ayo ke kamar Cika!" jawab Fathan dengan tegas merangkul adiknya yang terlihat lesu ketika mengetahui Akbar tidak ada lagi di rumah sakit ini.
Tidak mungkinkan adiknya menyukai Akbar yang lebih cocok menjadi ayahnya Fio?
"Cika kenapa, Kak? Dan siapa yang akan Kakak kenalkan ke Fio?" tanya Fiona dengan penasaran.
"Cika sakit. Yang akan Kakak kenalkan ke kamu adalah Kakak ipar kamu dan calon keponakan kembar kamu," ucap Fathan dengan tersenyum saat melihat wajah terkejut adiknya.
"K-kakak i-ipar? K-keponakan k-kembar? Woahh....ayo Kak, Fio sudah gak sabar ketemu kakak ipar," ucap Fiona dengan bahagia. Akhirnya sang kakak sudah membuka hati untuk wanita lain setelah kepergian kakak iparnya itu.
Fathan mengacak rambut adiknya dengan gemas. Sungguh Fathan akan sangat marah jika kepolosan adiknya akan di manfaatkan oleh mamanya. Dengan riang juga Fiona mengikuti langkah kakaknya, ia tidak sabar ingin bertemu dengan kakak ipar barunya yang akan memberikan keponakan kembar untuknya.
"Jadi, pengin punya anak kembar dari om Akbar!" gumam Fiona di dalam hati dengan terkekeh geli.
*****
"Kakak ipar!" ucap Fiona yang langsung memeluk Tri dengan erat karena ia yakin wanita cantik dengan perut membuncit itu adalah kakak ipar barunya yang bisa menaklukkan hati kakaknya yang sudah lama membeku.
Tri bukannya marah, ia malah terkekeh kucu melihat Fiona yang memeluknya dengan erat.
"Fio, anak Kakak penyet itu!"
"Aunty Fio adek Cika penyet itu!"
Fathan dan Cika berteriak sangat kencang secara bersamaan yang membuat kedua wanita yang sedang berpelukan itu saling memandang, Fiona yang tersadar langsung melepaskan pelukannya terhadap Tri.
"Upss....Kesayangan aunty Fio kalian di dalam sana gak apa-apa, kan?" tanya Fiona dengan mengelus perut buncit Tru dengan lembut.
__ADS_1
"Kalau anak Kakak sampai kenapa-napa kamu yang Kakak penyet, Fio!" ancam Fathan yang membuat Fiona nyengir kuda.
"Buat Aunty Fio penyet, Pa! Enak saja dia peluk mama Cika!" ujar Cika tak terima.
"Hahaha... Kalian ini kenapa sih? Posesif sekali? Ooo ini Fio yang Mas ceritain itu ke aku ya? Cantik sekali Fio," ujar Tri dengan tersenyum.
"Iya, Sayang. Dia di suruh mama pulang ke sini dan aku sama sekali gak tahu Fio pulang sendiri. Untung saja ada Akbar yang membantu Fio, kalau tidak mungkin dia sudah tersesat!" ujar Fathan menjawil hidung adiknya dengan kesal.
"Aku suka Fio di sini, Mas. Boleh gak Mbak cubit pipi kamu. Pengin banget cubit pipinya," ujar Tri dengan memohon.
Fiona memegang kedua pipinya yang hendak dicubit oleh Tri. "Ihh..nanti pipi Fio sakit!" rengek Fiona.
Mata Tri berkaca-kaca, entah kenapa ia sangat ingin mencubit pipi Fiona dengan gemas. "Mas, aku mau cubit sekali aja! Aku mau cubit sekali aja Mas. Boleh ya?!" ucap Tri dengan mata yang sudah siap menumpahkan air mata.
"Fio boleh Mbak cubit sebentar aja ya!" rengek Tri yang membuat Fiona membulatkan matanya yang semakin membuat Tri gemas.
"Masss! Fioo!" rengek Tri yang membuat Fathan menghela napasnya. Kenapa hormon istrinya menjadi seperti ini ketika melihat Fiona. Apa karena kepolosan Fiona yang yang membuat istrinya menjadi seperti ini?
"Fio kasih Mbak Hanum cubit pipi kamu sebentar. Kasihan Mbak Hanum yang ngidam," ujar Fathan pada akhirnya.
"T-Tapi...huhu iya deh, Kak. Mbak jangan lama-lama ya cubitnya," ujar Fiona tak tega melihat wajah sedih Tri.
Ekspresi wajah Tri langsung berubah menjadi senang saat ia diperbolehkan mencubit pipi Fiona. Dengan cepat ia mencubit pipi Fiona dengan gemas.
"Akhh...sakit Mbak!"
"Hahahaha...." Cika tertawa dengan riang saat melihat tantenya kesakitan karena cubitan gemas mamanya.
__ADS_1
"Hiks...demi ponakan kembar gak apa-apa! Fio rela!" ujar Fiona dengan polos yang membuat Fathan dan Cika tertawa sedangkan Tri meringis merasa bersalah.