
...Jangan lupa ramaikan part ini yam...
...Happy reading...
****
Mama Yesha dan papa Handoko melihat ke arah Fiona dan Akbar yang seperti ratu dan raja dalam sehari. Mama Yesha tak menyangka jika Fiona akan menikah dengan orang yang sangat kaya bahkan ia syok mendengar mahar yang diberikan Akbar kepada Fiona. Apakah uang Akbar tidak akan habis sampai tujuh turunan? Tetapi bukan lagi harta yang mama Yesha pikirkan tetapi Fiona dan Fathan yang selama ini kurang mendapatkan kasih sayang darinya.
Begitupun dengan papa Handoko. Lelaki paruh baya itu nampak bersedih karena tak bisa menikahkan anaknya karena keadaannya yang sedang sakit hingga membuat papa Handoko hanya bisa menyesal di dalam hati. Andai ia tak serakah dulu mungkin ia tidak akan seperti ini, perusahaannya bangkrut dan sekarang sudah di kelola oleh keluarga Akbar bahkan sudah berganti nama. Menyesal? Tentu saja papa Handoko menyesal karena ternyata menantunya adalah orang yang menyadarkan dirinya serta orang yang telah membuat perusahaannya bangkrut, walaupun begitu papa Handoko sudah ikhlas karena ia sadar jika harta bukan segalanya apalagi melihat kebahagiaan di mata Fiona saat ini membuat ia bahagia juga.
Mama Yesha mendorong kursi roda papa Handoko mendekat ke arah Akbar dan Fiona. Gadis itu sudah sangat terlihat lelah karena menerima tamu dari Akbar yang sangat banyak, sedangkan teman-temannya hanya segelintir saja. Bisa dibayangkan bagaimana pegalnya kaki Fiona saat ini bahkan Akbar dengan perhatiannya mencoba membantu melepaskan high heels yang Fiona pakai.
"Sosweet banget suami Fio!" puji Fiona dengan bahagia yang membuat Akbar tersenyum.
"Saya takut kamu kelelahan dan saya gak bisa unboxing kamu malam ini," sahut Akbar dengan pelan agar tidak didengar oleh orang lain selain Fiona.
Fiona terkekeh, melihat Akbar blushing di depan matanya membuat Fiona merasa lucu karena baru kali ini ia melihat Akbar seperti ini lucu sekali.
Fiona tidak tahu jika saat ia memanggil Akbar dengan sebutan 'suami Fio' jantung Akbar berdetak dengan sangat kencang dan membuat lelaki itu gugup bukan main. Tak pernah Akbar merasakan yang seperti ini sekali merasakan ternyata membuat jantung dan hatinya tidak aman.
"AC-nya kurang dingin ya Om? Kok wajahnya merah?" tanya Fiona.
Akbar memegang kedua pipinya, ia menelan ludahnya dengan kasar. "Panas!" jawab Akbar pelan.
"Gak kok! Fio gak kepanasan," ucap Fiona yang membuat Akbar tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Fio!"
Sebuah suara yang menyelamatkan Akbar dari serangan pertanyaan Fiona. Tetapi wajahnya terlihat datar melihat mama Yesha dan papa Handoko yang ternyata mendekat ke arah mereka, walaupun keduanya sekarang adalah mertuanya tetapi Akbar sepatutnya bersifat waspada kepada keduanya.
"Mama, Papa!" ucap Fiona dengan tersenyum.
"Om sapa mama dan papa aku dong jangan diam aja!" tegur Fiona yang melihat Keterdiaman Akbar.
"M-mama, p-papa!" ucap Akbar dengan canggung.
Mama Yesha hanya bisa tersenyum. Ia merasa terintimidasi oleh tatapan Akbar kepadanya.
Tanpa aba-aba mama Yesha memeluk Fiona dengan erat. "M-maafkan Mama, Sayang! Mama banyak salah sama kamu hiks..." ucap Mama Yesha dengan tulus.
Fiona menatap Akbar dengan menggigit bibir bawahnya, ia membalas memeluk mama Yesha dengan erat. Anggukan Akbar membuat Fiona bahagia akhirnya mamanya sadar jika kasih sayang orang tua lah yang ia butuhkan sejak lama.
"Mama gak salah! Fio yang seharusnya minta maaf karena Fio gak bisa bahagia-in Mama," ujar Fiona dengan tulus.
Akbar meneliti raut wajah mertuanya, sepertinya mama Yesha benar-benar sadar akan kesalahan yang ia lakukan. "Hikss...Mama dan Papa yang banyak salah sama kamu, Fio! Maafkan Mama dan papa, Sayang!" ucap Mama Yesha menyesal.
__ADS_1
Semua menatap haru ke arah mereka terlebih bunda Marisa dan ayah Bram. Akhirnya kedua kakak mereka sadar dengan apa yang keduanya lakukan hingga Fiona memilih tinggal bersama bunda Marisa dan ayah Bram.
Mama Yesha melepaskan pelukannya, Akbar mendekat ke arah mama mertuanya. "Fio istri saya sekarang. Saya tidak tahu anda benar-benar tulus atau tidak yang jelas anda tidak saya perbolehkan untuk membuat Fiona terluka, sedikit saja anda membuatnya menangis maka saya tidak segan-segan menghancurkan anda sekali pun saat ini anda adalah mertua saya!" bisik Akbar dengan tegas.
"Saya benar-benar menyadari kesalahan saya, Akbar! Jika nanti kamu juga menyakiti anak saya maka saya tidak akan membawa Fiona pergi dari kamu," ucap Mama Yesha dengan tegas yang membuat Akbar geram.
Tak ingin Fiona yang sedang berpelukan dengan papa Handoko curiga, Akbar kembali mendekat ke arah Fiona dan memeluk pinggang Fiona dengan erat menunjukkan bahwa Fiona adalah miliknya sekarang.
****
Acara pernikahan Akbar dan Fiona berjalan dengan lancar banyak sesi foto bersama dengan keluarga. Terlihat sekali jika Fiona dan Akbar sangat bahagia hanya satu orang yang terlihat kesal sejak datang di acara keduanya yaitu Aurel bahkan wanita itu sama sekali tak memberikan selamat pada keduanya, ia langsung pergi ketika hatinya merasa panas saat melihat kemesraan keduanya. Aurel merasa tidak rela Akbar menikah.
Saat ini Fiona dan Akbar sudah masuk ke kamar mereka yang sudah di hias dengan begitu cantik menambah kesan romantis di antara keduanya.
Akbar menatap Fiona dengan dalam.
"Om gak sabar mau unboxing Fio ya? Sama Om, Fio penasaran gimana cara unboxing Om ke Fio," ucap Fiona dengan polosnya yang membuat tubuh Akbar semakin gerah.
Saat ini Fiona sudah memakai piyama tidur berwarna pink dengan bahan yang sangat tipis, entah siapa yang memberikannya. Semua pakaiannya hanya pakaian tipis yang mencetak tubuh Fiona dengan jelas dan itu berhasil membuat Akbar menelan ludah tak sabar ingin melakukan ritual malam pertama dengan Fiona.
"Duduk sini!" ucap Akbar dengan suara yang berat. Tangannya menepuk pahanya dengan pelan agar Fiona duduk di pangkuannya.
Fiona menurut saja karena ia merasa nyaman saat sudah duduk di pangkuan Akbar. Fiona mengalungkan kedua tangannya di leher Akbar dan mengedipkan matanya dengan lucu.
"Om udah gak sabar ya?" tanya Fiona dengan polosnya.
"Saya sekarang suami kamu, Fio! Bisa gak panggilannya di ubah? Jangan om lagi panggil saya Mas Akbar!" ucap Akbar dengan tegas.
"Bisa! Apapun Fio lakukan agar mas Akbar bahagia! Fio gak mau tante Aurel yang panggil mas ke mas Akbar! Itu kan panggilan mesra!" ucap Fiona cemburu memainkan kancing piyama Akbar.
Akbar terkekeh. "Jadi, Aurel boleh panggil saya dengan sebutan apa?" tanya Akbar dengan jahil.
"Panggil nama kan bisa! Kenapa harus mas-mas! Gak cocok tahu!" ucap Fiona dengan ketus.
Akbar semakin terkekeh. ia menarik dagu Fiona dengan pelan. "Istri saya cemburuan banget!" ucap Akbar dengan tersenyum.
"Boleh saya cium? Soalnya saya udah tahan gemas sejak tadi!" ucap Akbar dengan lembut.
Fiona mengangguk.
"Ini balasan karena kamu sudah cium saya di depan umum tadi!" ucap Akbar dengan serak memiringkan wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan bibir Fiona.
Bibir Akbar bergerak dengan perlahan dan penuh kelembutan. Akbar membaringkan Fiona dengan pelan tanpa melepas tautan bibir mereka, ciuman yang tadinya lembut sekarang berubah menjadi sangat menuntut. Akbar menindih tubuh Fiona dengan pelan, napas Fiona terdengar terengah-engah saat Akbar melepaskan ciuman mereka, saat ini Akbar sudah beralih ke leher jenjang Fiona yang sangat wangi, suara desah*n Fiona terdengar sangat merdu di telinga Akbar.
Tangan Akbar tak tinggal diam, ia mulai melepas satu persatu kancing piyama Fiona. Akbar menelan ludahnya dengan kasar saat melihat gundukan yang masih terbungkus rapi berwarna hitam.
__ADS_1
"Mas kenapa melihat dada Fiona seperti itu? Mas kayak bayi yang mau nen*n tau!" ujar Fiona menutup dadanya.
Shitt...
"Iya saya bayi besar yang mau mencicipi ini!" ucap Akbar memegang dada Fiona dengan gemas hingga suara lirih Fiona kembali terdengar.
"Ihh Fio gak mau! Gigi Mas kan banyak kalau bayi belum ada. Pasti rasanya sakit karena Mas gigit!" ucap Fiona bergidik ngeri.
"Katanya mau di unboxing! Ini salah satu caranya Fio!" ucap Akbar berusaha sabar.
"H-harus nen*n ke Fio gitu ya Mas?" tanya Fiona dengan polosnya.
"Iya! Kamu diam aja biar Mas yang Unboxing dulu!" ucap Akbar menahan kesalnya.
Fiona mengangguk. Ia menurut saat Akbar menyuruhnya untuk diam, tubuh Fiona bergerak gelisah saat Akbar kembali mencumbunya dengan mesra. Apalagi saat lidah Akbar berhasil mengusai kedua dadanya, ternyata rasanya sama sekali tidak sakit melainkan geli dan terasa nikmat.
Fiona tidak sadar jika Akbar sudah melepaskan celananya. Akbar sudah tidak tahan ingin menyentuh Fiona tetapi ia merasa bingung saat menyentuh sesuatu.
"Fio, ini apa?" tanya Akbar dengan suara yang amat berat karena gairahnya sudah memuncak, kepalanya sudah berdenyut sakit segera ingin menuntaskan hasratnya yang semakin menggebu.
"A-apa?" tanya Fiona melihat ke bawah.
"Ini!" tunjuk Akbar ke arah milik Fiona. Akbar merasakan benda yang empuk yang melekat di segitiga milik Fiona.
"Ooo ini. Ini pembalut, Om! Kan Fio lagi datang bulan," ucap Fiona dengan polosnya. Fio tidak tahu jika itu berhasil memunculkan tanduk di kepala Akbar dan asap di telinga suaminya.
"A-apa? Coba ulangi sekali lagi?" ucap Akbar dengan terbata.
"P-e-m-b-a-l-u-t!" eja Fiona dengan suara yang lantang.
"Sejak kapan?" tanya Akbar dengan tersiksa batin.
"Baru tadi pagi!" jawab Fiona dengan santai.
Akbar menatap Fiona dengan kesal. "KENAPA GAK BILANG DARI TADI? KAMU TAHU KAN MILIK SAYA UDAH BERDIRI FIO!" ucap Akbar dengan geram dan tersiksa.
"Mas gak tanya!" jawab Fiona dengan sewot. "Kalau Mas tanya ya Fio bilang. Emang kenapa sih?" tanya Fiona dengan heran saat melihat Akbar uring-uringan tidak jelas.
"I-itu Mas kok hidup?" tanya Fiona menunjuk ke arah junior Akbar yang sudah menegang sejak tadi ingin segera masuk ke sarangnya.
"Emang kenapa sih? kok hidup? Kamu tahu gak unboxing malam ini gagal total! Kamu selalu bisa membuat saya tersiksa Fio! Arrghhh...malam ini saya harus pakai sabun!" ucap Akbar berlari ke dalam kamar mandi karena kepalanya sudah sangat pusing seperti mau pecah.
"Loh kok gak jadi? Kok Mas marah sih? Masa marah sama pembalut Fiona?"
"MAS AKBAR UNBOXING-NYA BENARAN GAK JADI? AAHH PADAHAL FIONA PENASARAN!" teriak Fiona mengedor pintu kamar mandi.
__ADS_1
"BERISIK! CALON ANAK KITA HARUS TERBUANG SIA-SIA MALAM INI KARENA PEMBALUT SIALAN ITU!"
"KOK NGAMOK??"