Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 70 (Hamil anak Siluman Singa?)


__ADS_3

...Jangan lupa follow Ig aku ya : author_syafitri disana ada postingan tentang para tokoh cerita aku loh....


...Ramaikan part ini dong!...


...Happy reading...


****


Akbar menggendong Fiona yang sudah tertidur dengan perlahan, setelah menghabiskan 30 tusuk telur gulung Fiona langsung merasa mengantuk dan akhirnya tertidur di dalam mobil, padahal Akbar masih ingin mengajak Fiona jalan-jalan untuk sekedar membuat gadis ini tersenyum bahagia. Tetapi melihat Fiona tertidur niatnya ia urungkan dan akhirnya membawa Fiona pulang ke rumahnya.


Fiona sedikit menggeliat di dalam gendongan Akbar. Dan Akbar langsung sigap untuk membuat Fiona nyaman lagi dalam tidurnya dan benar saja setelah Akbar membenarkan gendongan Fiona, gadis itu terlihat nyaman kembali.


"Cantik!" gumam Akbar dengan lirih saat ia menatap wajah Fiona dari dalam jarak yang sedekat ini.


Akbar membawa Fiona ke kamar gadis itu saat pertama kali tidur di rumahnya. Ia menidurkan Fiona dengan perlahan, setelah posisi Fiona di rasa nyaman Akbar menyelimuti Fiona, mengatur suhu Ac agar Fiona tidak kedinginan dan kepanasan.


Setelah dirasa semuanya sudah baik Akbar ingin ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Fiona tetapi gadis itu malah terbangun dan menggenggam tangannya dengan erat.


"Om!" panggil Fiona dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Akbar dengan sabar.


Fiona perlahan bangun dari tidurnya dan menguap seperti anak kecil yang sangat menggemaskan.


"Om mau kemana?" tanya Fiona menatap Akbar.


"Mau ke kamar ganti baju terus kerja lagi," ujar Akbar.


"Ikut!!" rengek Fiona yang membuat Akbar menghela napasnya niat hati ingin meredakan gejolak gairahnya malah membuat gairahnya semakin besar apalagi saat menatap wajah polos dan wajah merengek Fiona yang seperti anak kecil.


"Saya mau ganti baju kamu mau ikut? Gak takut saya akan memangsa kamu sekarang?" tanya Akbar dengan gemas.


"Memangsa? Hehehe...Om singa atau harimau? Masa mau mangsa Fiona sih?" ujar Fiona dengan terkekeh.


"Om siluman Singa ya?" tanya Fiona dengan mengerjapkan matanya dengan polos.


Akbar menghela napasnya untuk menghadapi sikap polos Fiona ia harus sesabar mungkin. "Iya saya siluman Singa. Kalau malam saya bisa makan kamu sampai saya kenyang. aerrr..."


Akbar menggeram seperti singa di depan Fiona.


"Aaaa...Om nakal! Fiona takut om jadi siluman Singa. Daging Fiona pahit, Om!" ucap Fiona berteriak kencang.


Akbar mengulum senyumannya, sepertinya mengerjai Fiona bisa menjadi hiburan tersendiri untuknya.

__ADS_1


"Aummm err.... Saya suka daging kamu! Saya mau makan kamu Fiona!" ujar Akbar dalam hati sudah tertawa melihat wajah Fiona yang ketakutan.


"Ommmm!" teriak Fiona memukul dada bidang Akbar dengan kencang menggunakan tangan mungilnya. Akbar yang tak sigap tersandung kakinya sendiri hingga ia terjatuh di kasur dengan menindih tubuh Fiona.


Keduanya saling berpandangan dengan sangat dalam menyelan rasa yang saling mereka sadari masing-masing. Jakun Akbar naik turun saat menatap bibir pink yang sangat menggoda dirinya.


"Argghhh... Bibir Fio terlihat manis sekali," gumam Akbar di dalam hati.


"Duh..Jantung Fio disko tiba-tiba. Ini Kenapa ya? Apa karena dada Fio di tindih dada keras om Akbar ya? Tuh kan rasanya panas dingin ini kenapa? Fio belum mau mati sekarang! Fio belum nikah hiks!" gumam Fiona di dalam hati.


Setelah berkata itu di dalam hati, ia menatap jakun Akbar yang sangat menggodanya. "Om, ininya gerak-gerak," ucap Fiona menyentuh jakun Akbar.


"Jangan di sentuh Fio!" ujar Akbar dengan suara yang amat serak.


"Tapi Fio penasaran. Ini kok lucu banget ya Om! Fio gemes deh, Om. Boleh gigit ya, Om?Sedikit aja!" ujar Fiona dengan polosnya.


Fiona langsung menggigit jakun Akbar dengan pelan. Gadis itu tak tahu jika Akbar berusaha menahan gejolak hasratnya agar tidak melakukan sesuatu kepada Fiona


"Argghhh... Fiona! Kamu harus tanggungjawab. Saya cium kamu!" ujar Akbar dengan serak dan nada yang penuh Kefrustasian terhadap kelakukan Fiona yang polos tetapi sangat menyiksa dirinya luar dan dalam.


Cup...


Akbar tidak tahan lagi, ia mengecup bibir Fiona dengan gemas hingga gadis itu mengerjap dengan sangat lucu.


"Fio gak hamil kan, Om?" gumam Fiona menyentuh bibirnya.


"H-hamil?" otak Akbar blank seketika ia tidak bisa berpikir saat Fiona mengatakan soal kehamilan.


Siapa pria yang berani menghamili Fiona?


"Iya, Om! Om Akbar cium bibir Fio tadi. Fio gak akan hamil kan, Om? Soalnya kita kan belum nikah masa Fio udah hamil, Om?" ujar Fiona dengan polosnya.


Gubrak...


Rasanya Akbar seperti dihempaskan dari bumi setelah mendengar ucapan Fiona yang sangat polos. Akbar langsung bangkit dari tubuh Fiona.


"Iya kamu hamil anak siluman singa!" ujar Akbar dengan kesal.


Pemikiran anak TK yang menganggap ciuman bibir bisa membuat hamil. Tetapi kenapa Akbar malah gemas dengan Fiona sih?


"Aaa... Gak mau hamil anak siluman singa padahal Fio mau hamil anak kembar dari om Akbar!" teriak Fiona yang membuat Akbar mematung.


Deg....

__ADS_1


Ucapan Fiona menyadarkan dirinya tentang sesuatu jika kemungkinan Akbar tidak bisa memiliki anak karena dokter sudah memvonis jika 35% ia tidak bisa memiliki anak. Tetapi dokter masih mengatakan jika ada kemungkinan istri Akbar nanti bisa hamil jika ia melakukan hidup sehat, mendengar ucapan Fiona Akbar antara senang dan sedih.


"Mau punya anak dari saya?" tanya Akbar dengan lirih.


Fiona langsung mengangguk dengan mantap, di matanya sama sekali tidak ada keraguan tentang ucapannya barusan. Fiona benar-benar memiliki cita-cit menjadi istri Akbar.


"Mari kita menikah!" ucap Akbar dengan tegas.


*****


Fathan memeriksa kandungan Tri dengan senyum yang amat mengembang. "Lihat Sayang. Ini anak kita," ujar Fathan dengan tersenyum saat melihat di layar USG jika kedua anaknya dalam keadaan sehat.


Sebagai dokter kandungan sudah pasti Fathan memberikan yang terbaik untuk istrinya termasuk dalam vitamin dan pelayanan yang paling,bagus untuk sang istri.


"Bagus sekali perkembangannya. Jenis kelaminnya belum terlihat jelas, Sayang. Mereka masih menyembunyikan," ucap Fathan yang membuat Tri terkekeh.


"Gak apa-apa, Mas. Biar untuk kejutan saja," ujar Tri dengan tersenyum.


Fathan menurunkan baju Tri yang tersingkap hari ini pemeriksaan telah usai dengan kebahagiaan yang luar biasa di hatinya. Fathan membantu istrinya untuk bangun, semua dokter, suster, dan staff di rumah sakit ini sudah tahu jika Tri yang awalnya pengasuh Cika sekarang sudah menjadi istri dari pimpinan mereka.


Suster yang ada di sana membereskan alat-alat pemeriksaan. Ia tidak ingin mengganggu kedua atasannya yang sedang di mabuk cinta yang sangat terpancar dari mata keduanya. Cika sudah tidur di kamar pribadi Fathan, sejak Tri hamil Cika juga menjadi manja dan tak mau ditinggalkan oleh Tri barang sedikit pun.


"Geraknya udah mulai aktif Mas gak sabar bertemu dengan mereka," ucap Fathan dengan gembira.


Tri mengangguk setuju. Ia mengelus perutnya dengan lembut, semenjak hamil ia menjadi susah untuk tidur. Tri kasihan dengan Fathan yang sudah lelah di rumah sakit dan harus mengurusnya kembali saat ia sering mengeluh sesak dan kram.


"Mas, Fiona bilang ke aku kalau dia suka dengan pak Akbar," ujar Tri saat bersandar di dada bidang Fathan.


Fathan hampir terbatuk mendengar ucapan istrinya. "Yang benar kamu, Sayang?" tanya Fathan tidak percaya.


Tri mengangguk. "Iya, Mas. Aku sedang tidak mengada-ada. Bagaimana kalau kamu nikahkan saja Fio dengan pak Akbar. Pak Akbar baik Mas selama ini selalu melindungi Fio jika kamu sedang tidak bisa. Tapi pak Akbar di vonis tidak bisa memiliki anak makanya dia berpisah dengan istrinya dulu," ucap Tri dengan serius.


Fathan tampak berpikir. Apa benar Fiona menyukai Akbar? Melihat sikap Akbar kepada Fiona, ia baru sadar akan sesuatu.


"Astaga, Sayang! Pantas saja Akbar sangat aneh saat Mas mengatakan ingin menjodohkan Fio dengan lelaki kenalan Mas wajah Akbar langsung berubah masam seperti tidak rela jika Fio akan menikah," ujar Fathan dengan serius.


"Akbar di vonis tidak bisa memiliki anak? Mas bisa membantunya mungkin dengan melakukan bayi tabung Akbar bisa mempunyai anak," ujar Fathan.


"Sudah Mas tapi gagal. Itulah yang membuat pak Akbar tidak ingin menikah lagi," ujar Tri.


"Kita coba lagi saja. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ada banyak di luar sana yang menantikan momongan hingga bertahun-tahun, belasan tahun bahkan puluhan tahun tetapi Allah tetap memberikan anak kepada mereka asal kita mau usaha dan terus berdoa," ujar Fathan yang membuat Tri tersenyum.


"Itu artinya kamu setuju kalau Fio menikah dengan pak Akbar?"

__ADS_1


Ehh....


__ADS_2