
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Suara sirine mobil ambulance terdengar sangat keras memasuki area rumah sakit, semua tampak panik karena mendapatkan kabar jika salah satu dokter berbakat di rumah sakit ini mengalami kecelakaan. Zidan yang masih di dalam ruang bersalin belum mendengar kabar itu sama sekali hingga salah satu suster membisikinya.
"Dok, dokter Tiara mengalami kecelakaan dan sudah tiba di rumah sakit ini," bisik suster yang membantu Zidan dan tahu sedikit banyaknya hubungan keduanya.
Deg...
"A-apa?" Zidan terkejut dan hampir saja terjatuh jika tidak mengingat ada nyawa lain yang sedang ia selamatkan.
"Jangan berbohong, Sus!" ucap Zidan dengan dingin. Ia sama sekali tidak percaya jika Tiara mengalami kecelakaan.
"Saya tidak berbohong, Dok! Saat ini dokter Tiara sudah di tangani oleh dokter Ridwan," ucap suster tersebut dengan menahan tangisnya sebab ia melihat bagaimana keadaan Tiara waktu ia keluar tadi.
"K-keadaannya bagaimana?" tanya Zidan yang ingin segera berlari melihat keadaan Tiara tetapi tugas yang diembannya belum selesai.
"B-baik-baik saja, Dok! Kita harus menyelesaikan operasi ini, Dok! Dokter Tiara butuh anda," ucap suster tersebut dengan cepat.
Zidan memejamkan matanya, ia tidak yakin dengan perkataan suster yang mengatakan jika Tiara baik-baik saja terdengar dari suara bergetar suster yang di sampingnya. Zidan tak mau mengulur waktu lagi, ia harus segera menyelesaikan tugasnya dan melihat keadaan Tiara dan memastikan jika wanita yang ia cintai dan ibu dari anak-anaknya baik-baik saja.
****
Semua alat penunjang kehidupan Tiara sudah dipasang. Dokter Ridwan terlihat sangat serius menangani Tiara.
Dokter Ridwan menggelengkan kepalanya menatap para dokter dan suster yang ikut menangani Tiara.
"Keadaan dokter Tiara sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertahan dengan keadaan yang seperti ini," ucap dokter Ridwan menghela napasnya dengan perlahan.
"Kita masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya?" tanya salah satu dokter.
Dokter Ridwan menggelengkan kepalanya. "Operasi yang menentukan nanti. Tapi saya pesimis karena keadaan dokter Tiara yang sangat memprihatinkan," jawab dokter Ridwan.
"Dokter jantung dokter Tiara berhenti berdetak!" ucap Suster dengan panik.
"Cepat lakukan tindakan saya akan menemui keluarganya terlebih dahulu," ucap dokter Ridwan dengan panik.
__ADS_1
Dokter Ridwan tergesa-gesa keluar dari ruangan ICU. Di sana ternyata sudah ada Zidan yang menenangkan anaknya yang terlihat gemetar terus memanggil Tiara. Tentu saja Zidan panik, ia tidak tahu harus berbuat apa melihat Zayyen yang seperti ini apalagi ia belum mendengar keadaan Tiara bagaimana.
"Dokter Ridwan bagaimana keadaan Tiara?" tanya Zidan diserang rasa panik yang luar biasa.
Dokter Ridwan menghela napasnya dengan pelan. "Keadaan dokter Tiara sangat kritis dokter Zidan. Banyak sekali luka yang terdapat di tubuhnya, dan yang paling parah pada kepala dan tangan kanannya, tim saya harus segera melakukan tindakan operasi pada bagian kepala dan mengamputasi tangan kanannya karena tulang tangan kanannya sudah remuk," ucap dokter Ridwan yang membuat Zidan hampir saja jatuh.
"M-mama gak meninggal kan, Pa? Mama kesakitan tadi," ujar Zayyen dengan lirih. Sungguh Zayyen sangat trauma melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi di depan matanya.
"Mama akan baik-baik saja. Kita berdoa untuk mama ya, Nak!" ucap Zidan berusaha kuat.
"Zayyen takut, Pa! Mobil Mama remuk! Tangan Mama hancur, kepalanya berdarah!" ujar Zayyen dengan gemetar.
Zidan tahu anaknya sedang mengalami trauma, ia menatap dokter Ridwan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lakukan yang terbaik untuk Tiara, Dok!" ucap Zidan dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Ridwan mengangguk. "Dokter dan yang lainnya harus tabah jika terjadi sesuatu dengan dokter Tiara. Saya dan tim dokter yang lainnya akan membantu menyelamatkan dokter Tiara semampu kami setelah itu takdir Tuhan yang menentukan," ucap Dokter Ridwan yang membuat jiwa Zidan terguncang dengan hebat.
Bagaimana parahnya luka yang dialami Tiara? Kenapa dokter Ridwan terlihat sangat pesimis sekali?
Tak lama ibu Mala dan ayah Felix datang dengan tergesa-gesa, wajah mereka terlihat sangat panik dengan Zayden yang berada di gendongan ayah Felix.
"Tiara gimana keadaannya? Mama tadi dengar kabar dari Fathan," tanya Ibu Mala dengan cemas.
Ibu Mala mengangguk setuju. "Ibu akan menjaga anak-anak kamu," ucap Ibu Mala dengan cemas. Terlebih ayah Felix yang terlihat diam tetapi hatinya sama sekali tidak tenang mendengar kabar calon menantu kesayangannya kecelakaan.
"Mama hiksss...Zayden mau mama!" ucap Zayden ingin ikut bersama dengan Zidan tetapi ayah Felix mencegahnya.
Ibu Mala memeluk Zayyen yang sangat terlihat terguncang. "Ini salah Zayyen, Nek!" ucap Zayyen dengan wajah teramat pucat.
"Mau cerita sama Nenek apa yang terjadi?" tanya Ibu Mala berusaha tenang.
Zayyen mengangguk, anak kecil itu benar-benar sangat trauma. Kebenciannya pada Tiara lenyap seketika yang ada hanya rasa sayang dan rasa bersalah di hatinya. ibu Mala membawa cucunya duduk di kursi tunggu, ia menenangkan Zayyen yang benar-benar sangat terguncang. Ibu Mala yakin setelah ini Zayyen pasti akan sangat menyayangi Tiara.
****
Zidan masuk ke ruang ICU di mana Tiara dirawat. Tubuhnya hampir terhuyung jika ia tidak berpegangan pada tembok. Keadaan Tiara sangat mengenaskan, alat-alat medis sudah terpasang di tubuhnya. Mata Zidan menatap tangan kanan Tiara dan benar saja daging dan tulang tangan kanan Tiara sudah remuk.
Zidan tertatih mendekat ke arah Tiara. Ia menangis tanpa suara saat melihat tubuh calon istrinya penuh dengan alat bantu penunjang kehidupan.
"Saya harus menemani Tiara sampai operasi selesai, Dok!" ucap Zidan dengan gemetar menahan isak tangis yang hendak keluar.
__ADS_1
Dokter Ridwan mengangguk setuju karena Zidan juga seorang dokter yang profesional. "Kita tak punya banyak waktu, operasi harus dilakukan sekarang!" ucap Dokter Ridwan dengan tegas.
Brankar Tiara di dorong dengan cepat ke ruang operasi. Zidan juga ikut membantu, matanya terus menatap wajah Tiara yang sangat pucat. "Ini arti kata lelahmu tadi, Ay?" gumam Zidan di dalam hati.
Apakah Tiara sudah memiliki firasat?
Zidan ingin sekali berteriak memanggil Tiara agar wanita itu bangun tetapi tenggorokannya tercekat dan Zidan hanya bisa memandang Tiara dengan tatapan takut kehilangan.
Pintu ruangan operasi sudah tertutup. Di depan sana sudah ada ibu Mala, ayah Felix, Zayyen, dan Zayden yang menunggu. Ibu Mala sangat syok melihat keadaan Tiara yang terlihat tidak memungkinkan apalagi Zayyen sempat histeris melihat keadaan Tiara yang dipenuhi alat-alat medis, traumanya semakin bertambah.
Lampu operasi sudah menyala. Zidan berada di samping kiri Tiara, ia berdoa dalam hati agar operasi berhasil dilakukan. Zidan memejamkan matanya saat melihat dengan langsung bagaimana kepala Tiara di operasi dan tangan kanan Tiara di amputasi.
"Sayang bertahan ya. Mas mohon sekali lagi kamu bertahan, Mas tahu kamu lelah tapi bisakan bertahan sekali lagi? Kamu wanita yang sangat kuat, Ay! Walau tangan kanan kamu sudah tidak ada Mas yang akan menggantikan fungsi tangan kamu, Ay! Kamu gak perlu takut. Kamu masih sempurna di mata Mas, Ay!" bisik Zidan dengan bibir gemetar menahan tangis.
Operasi berjalan dengan sangat lama. Suara pendeteksi jantung Tiara berbunyi memenuhi ruangan operasi yang sangat sunyi.
"A-apa yang terjadi, Dokter?" tanya Zidan dengan panik.
"Jantung dokter Tiara mendadak berhenti berdetak kembali! Dokter Tiara perlu transfusi darah secepatnya!" ujar dokter Ridwan dengan panik.
"Cepat lakukan yang terbaik untuk calon istri saya! Saya tidak mau kehilangannya untuk yang kedua kalinya!" teriak Zidan dengan menangis.
"Ay, kamu gak boleh pergi! Sebentar lagi kita akan menikah dan kamu sudah setuju. Kamu gak boleh ingkar, Ay!" ucap Zidan dengan dengan menangis.
Tubuh Zidan lemas terjatuh di lantai, ia tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berdoa di dalam hati dengan air mata yang terus keluar menatap ke arah Tiara yang masih berjuang.
"Kamu sudah janji untuk kembali kepada Mas, Ay! Kalau Mas menahan kamu pergi kamu mau melakukannya, kan? Kamu boleh tidur kok tapi jangan terlalu lama apalagi sampai gak bangun lagi," gumam Zidan dengan terisak.
Pendeteksi jantung Tiara kembali normal bersamaan dengan operasi yang sudah dilakukan berjam-jam lamanya karena dua operasi yang dilakukan secara bersamaan.
Dokter Ridwan menatap Zidan yang terduduk di lantai, ia ikut berjongkok menepuk pundak Zidan. "Operasi sudah selesai!" ucap dokter Ridwan dengan iba menatap Zidan.
Zidan terdiam, mulutnya terus menggumamkan doa untuk Tiara.
"Dok, jantung dokter Tiara tidak berdetak lagi tetapi dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya bisa membantu jantungnya untuk bekerja kembali. Saraf otaknya juga sudah mati dengan alat-alat itu dokter Tiara masih bisa bertahan. Apakah anda mau melepas alat-alat medis yang terpasang di tubuh dokter Tiara? Kasihan beliau, keadaannya semenjak dibawa ke rumah sakit memang sudah tidak memungkinkan, dengan berat hati saya katakan dokter Tiara hidup karena bantuan alat-alat medis yang ada di tubuhnya jika alat itu dilepaskan dapat dipastikan dokter Tiara sudah meninggal," ujar dokter Ridwan dengan pelan.
Zidan mencekeram jas dokter Ridwan. "Tiaraku belum meninggal. Jangan ada yang berani melepas alat-alat medis yang ada ditubuhnya. Jika ada akan ku tuntut kalian!" ujar Zidan dengan marah.
"Baiklah jika anda maunya seperti itu. Dokter Tiara akan kami bawa ke ICU kembali. Kita berdoa saja agar dokter Tiara segera sadar ," ucap dokter Ridwan dengan pelan. Dokter Ridwan sendiri hanya bisa menguatkan Zidan, ini adalah pilihan Zidan walau ia kasihan dengan Tiara yang harus dipaksa bertahan dengan alat-alat medis yang merekat di tubuhnya.
__ADS_1
Zidan menatap tubuh Tiara dengan sayu. "Jika dengan alat itu kamu bertahan maka Mas tidak akan melepaskan alat itu, Ay!" gumam Zidan dengan lirih.