
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Fiona tampak kesal dengan banyaknya es krim yang di kirim oleh Akbar melalui GrabFood. Padahal Fiona sudah sangat senang ketika Akbar ingin mengajaknya pergi membeli es krim tetapi kenapa Akbar harus pergi dan membohonginya.
"Jadi gak suka es krim. Sebel sama es krim!" ucap Fiona dengan kesal.
"Ihhhh...kenapa gak om Akbar aja yang di paketin?" ujar Fiona ngelantur.
"Fio kenapa es krimnya di serakin di lantai sih?" tanya Tri dengan heran hampir ada 20 eskrim tergeletak di atas lantai karena perbuatan Fiona.
"Fio gak suka es krim lagi!!! Huhuhu....Es krim kalau gak ada om Akbar gak manis lagi Mbak!" ujar Fiona.
"Masa sih? Kenapa bisa begitu?" tanya Tri yang belum paham apa yang di maksud adik iparnya tersebut.
"Karena manisnya sudah diambil om Akbar!" ujar Fiona mengerucutkan bibirnya.
Tri tertawa mendengar jawaban adik iparnya. "Astaga Fio hahaha...Om Akbar itu sudah tua loh Fio, dia duda! Kamu suka?" ujar Tri dengan terkekeh.
"Duda ya Mbak? Umur om Akbar berapa sih?" tanya Fiona dengan penasaran.
"Iya duda, dulu pak Akbar menikah dengan sahabatnya sendiri ternyata pernikahan mereka kandas karena di pernikahan mereka tak kunjung mempunyai anak. Umur pak Akbar kalau gak salah 50 tahun, dia lebih cocok jadi om kamu Fio bahkan ayah kamu," ujar Tri dengan tersenyum.
"Gak sih! Menurut Fio, om Akbar lebih cocok jadi suami Fio. Walaupun duda, Fio tetap cinta kok. Kalau pernikahan om Akbar dengan mantan istrinya dulu gak punya anak, Fio yakin menikah dengan Fio akan punya anak. Nanti Fio akan konsul ke kak Fathan supaya cepat punya anak dari om Akbar," ucap Fio dengan polosnya.
Tri tersenyum. "Kamu beneran suka dengan pak Akbar? Ingat Fio pernikahan adalah hal yang sakral, jangan sampai kamu gagal karena itu sangat menyakitkan sekali nantinya," ujar Tri menasehati adiknya.
Fiona mengangguk dengan mantap. "Fio mau jadi istri om Akbar!" ujar Fiona dengan berbinar.
Tri menghela napasnya dengan pelan. Sepertinya adik iparnya benar-benar mencintai Akbar. Tri tidak masalah jika mereka menikah akan tetapi apakah Akbar menyukai Fiona yang masih muda dan polos sedangkan Akbar adalah lelaki dewas.
"Bereskan es krimnya kalau kamu gak mau biar kakak dan Cika yang makan. Masukan di kulkas ya!" ujar Tri menggoda adiknya.
"Jangan dihabisin ini punya Fio di kasih om Akbar!" ujar Fiona dengan mengerucutkan bibirnya.
"Katanya gak suka es krim lagi?" goda Tri.
__ADS_1
"Tadi gak suka sekarang suka lagi!" ucap Fiona dengan malu.
"Sayang ayo istirahat dulu. Dari tadi kamu belum istirahat. Fio kamu juga masuk kamar!" ujar Fathan saat keluar dari kamar Cika.
"Cika sudah tidur Mas? Iya ini aku mau istirahat kok," ujar Tri dengan tersenyum menatap penuh cinta ke arah suaminya, setelah kejadian dimana Tri pergi dari rumah keduanya semakin terlihat sangat romantis sekali.
"Fio juga mau tidur!" ujar Fiona merasa iri dengan kedua pasangan yang berada di hadapannya.
"Es krimnya masukan ke lemari jangan lupa Fuo nanti mencair!" ujar Fathan yang melihat es krim yang di kirim Akbar berserakan di lantai.
"Iya!" ucap Fiona mengambil es krim yang berada di lantai.
Setelah dipastikan semua beres Fathan mengajak istrinya ke dalam kamar dengan mengelus perut Tri dengan sayang sedangkan Fiona masih berada di dapur menatap ke arah kulkas di depannya.
"Sebenarnya es krimnya enak tapi om Akbar nyebelin Fio ngambek sama om Akbar! Hiks....om Akbar bohongin Fio!" gumam Fiona dengan kesal.
Fiona masih tampak bimbang harus memakan es krim kiriman Akbar atau membiarkannya saja? Coba aja om Akbar ada di sini pasti semua es krimnya akan ludes di makan Fiona.
*****
Akbar baru saja pulang dari kantornya mata memicing melihat seseorang dengan gestur tubuh yang sangat Akbar kenali. Ya, Fiona ada di sana gadis itu asyik makan es krim di luar malam-malam begini seorang diri dengan pakaian yang errr...terbilang seksi. Kenapa gadis itu berada di luar? Es krim yang ia berikan masih kurang?
Dengan geram Akbar menghentikan mobilnya di pinggir jalan di mana Fiona asyik duduk dengan menikmati es krimnya.
Fiona menatap Akbar sejenak. "Siapa ya? Fio gak kenal!" ujar Fiona dengan polosnya yang membuat Akbar gemas.
"Fio jangan bercanda ini sudah malam! Kamu gak takut ada preman terus mencelakai kamu di sini, hah? Ayo pulang!" ucap Akbar mendekat ke arah Fiona bahkan hampir menarik tangan gadis itu tetapi Fiona menghindar dari Akbar.
"Fio lagi ngambek sama Om! Jadi jangan pegang-pegang Fio!" ujar Fiona dengan cemberut.
"Ngambek? Emang saya buat salah apa sampai kamu ngambek sama saya?" tanya Akbar dengan menautkan alisnya bingung.
"Ngimbik? iming siyi biit silih ipi simpi kimi ngimbik simi siyi!" ucap Fiona menirukan ucapan Akbar dengan memajukan bibirnya.
Akbar menghela napasnya menghadapi Fiona sama saja sedang menghadapi anak TK yang sedang meminta sesuatu tetapi tak kunjung dibelikan.
"Fio..."
"Om udah janji buat beli es krim bareng Fio tapi kenapa abang-abang GrabFood yang datang bawa es krimnya? Emang sih abang-abangnya ganteng kalau senyum ke Fio tapi kan..."
__ADS_1
"Sssttt...Jadi kamu ngambek karena ini? Astaga Fiona!"
"Jidi kimi ngimbik kirini ini? Istigi Fiini! Isshh au ah Fio masih ngambek sama Om!" ujar Fiona membuang stik es krim yang sudah habis.
Akbar terkekeh geli ke arah Fiona, ia berjongkok di hadapan Fiona. "Seharusnya saya kasih es krim satu aja ke kamu Fio. Cara makan kamu masih kayak anak kecil, ngambeknya kamu kayak keponakan om yang lagi minta mainan!" ujar Akbar mengusap sisa es krim yang ada di sudut bibir Fiona.
"Jangan luluh dulu Fio! Ngambeknya harus di perpanjang!" ucap Fiona di dalam hati.
"Tadi saya ada pekerjaan di luar yang gak bisa saya tinggalkan. Abang GrabFood-nya ganteng ya? Tapi masih gantengan saya yang belikan es krim buat kamu, dia cuma mengantarkan pesanan saya. Besok-besok saya yang pilih abang GrabFood-nya yang sudah tua," ujar Akbar dengan pelan.
"Kenapa harus yang tua? Biar usianya sama kayak om ya?" tanya Fiona dengan polosnya.
Akbar mengepalkan tangannya merasa gemas sekaligus kesal dengan tingkah Fio yang sangat polos. Padahal Akbar sudah merasakan hatinya memanas karena Fiona memuji abang GrabFood di hadapannya.
"Gak gitu konsepnya Fio. Gak usah di bahas lagi, ayo kita pulang!" ujar Akbar dengan kesal.
Fiona melihat ke kanan dan ke kiri. Ini sudah malam dan akibat kegabutannya karena kesal dengan Akbar dia nekat keluar dari rumah kakaknya seorang diri alhasil Fiona lupa jalan pulang ke rumah kakaknya hingga ia duduk di pinggir jalan seperti ini.
"Om jangan marah ya! Fio sebenarnya lupa jalan pulang ke rumah kak Fathan. Fio tunda dulu ngambeknya sama Om karena Om mau ajak Fio pulang kalau udah sampai rumah baru Fio ngambek lagi sama Om Akbar," ujar Fiona yang membuat Akbar terkekeh.
"Ngambek apa yang bisa di tunda? Aneh kamu!" ujar Akbar.
"Ada! Buktinya Fio bisa! Fio pegel mau digendong!" ujar Fio merentangkan tangannya.
Akbar menghela napasnya perlahan dan memberikan punggungnya menghadap ke arah Fiona. "Ayo!" ucap Akbar dengan lembut.
"Gak mau gendong belakang maunya gendong depan!"
Astaga Fio!!! Kenapa semakin menguji keimanan Akbar??? Argghhhh....
"Ya udah cepat!" ujar Akbar mengalah.
Fiona melompat ke tubuh Akbar. Kakinya membelit pinggang Akbar dengan kuat dan dengan kedua tangan yang melingkar di leher Akbar.
"Ganteng!" ucap Fiona menatap wajah Akbar dari atas.
"A-apa?" tanya Akbar dengan degup jantung yang tak biasa.
"Om Akbar walaupun tua tetap ganteng!"
__ADS_1
Gubrak....
Mental Akbar kembali diuji jika bersama dengan Fiona.