Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
bab 21 (Gadis Malang)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Bom like dan komentarnya juga jangan lupa ya....


...Happy reading...


****


"Mama jangan sedih ya! Cika jadi sedih lihat Mama seperti ini," pinta Cika dengan lirih. Hati anak perempuan kecil itu sangat terluka melihat mamanya diam-diam menangis.


"Nenek jahat!" ucap Cika dengan kesal.


Tri mengusap air matanya dengan cepat. Ia menatap Cika dengan memaksakan senyumanya. "Cika tidak boleh begitu sama nenek Yesha. Mama tidak apa-apa kok," ujar Tri dengan tersenyum tipis walau hatinya masih merasa sakit.


"Kalau tidak apa-apa kenapa Mama menangis? Mama bohong ya sama Cika?" tanya Cika dengan sendu.


"Enggak kok, Sayang. Tadi mata mama kelilipan debu jadi air matanya keluar deh," sahut Tri dengan tersenyum.


Cika duduk di pangkuan Tri. "Cika cuma mau mama yang menjadi mamanya Cika bukan tante Tiara. Walau tante Tiara baik tapi Cika tidak mau tante Tiara jadi mama Cika," adu Cika dengan lirih.


"Sayang, dengarkan Mama. Siapa pun yang menjadi mamanya Cika, Mama akan tetap sayang sama Cika," ucap Tri dengan memeluk Cika erat.


Tri merasa tidak rela jika kehilangan Cika apalagi sampai Cika memiliki pengganti mama selain dirinya. Rasanya Tri ingin egois memilki Cika seorang diri bersama dengan Fathan tetapi tidak bisa ia lakukan karena dirinya kalah jauh dari Tiara. Apakah Tri harus mengikhlaskan Fathan menikah dengan Tiara? Tidak! Tri tidak akan sanggup jika itu terjadi.


Tiara dan mama Yesha sudah pulang sehingga membuat Tri leluasa memanggil dirinya dengan sebutan 'mama' bersama Cika.


Fathan menatap Tri dengan sendu. Mendengar jawaban wanita itu membuat Fathan ingin segera bertemu dengan kedua orang tua Tri. Menikahi Tri secepatnya mungkin bisa menghilangkan kesedihan di hati kekasihnya walau masalah pasti akan datang di rumah tangga mereka dari mamanya dan Tiara.


Fathan berjalan mendekati Tri dan Cika. Ia duduk di samping Tri dengan tatapan lulus ke depan.


"Papa," gumam Cika dengan pelan. Fathan mengelus kepala anaknya dengan sayang lalu ia bergantian menatap Tri.


"Cika mau mama Tri tetap menjadi mama Cika?" tanya Fathan dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mau, Pa!" jawab Cika dengan senang.


"Mass!" Tri menatap Fathan dengan sendu, ia tidak ingin membuat Cika berharap kepadanya walau dirinya juga sangat berharap jika Cika menjadi anak sambungnya.


"Kalau begitu besok kita ke rumah orang tua mama," ucap Fathan dengan tegas.


"M-mau ngapain Mas?" tanya Tri dengan tercekat.


Fathan menatap Tri dengan dalam dan menyunggingkan senyuman manisnya. "Saya akan melamar kamu dan kita akan menikah di sana," jawab Fathan dengan tegas.


"M-menikah? Mas, kamu sudah dijodohkan dengan Tiara aku tidak mungkin merebut kamu darinya," ujar Tri dengan sendu.


"Kamu tidak merebut saya dari Tiara tetapi Tiara lah yang mau merebut saya dari kamu. Kita berjuang sama-sama untuk bisa bersama, Hanum! Kamu mau, kan?" ucap Fathan dengan tegas.


"T-tapi..."


"Ma, mau ya menikah sama Papa. Please, Maa!" ucap Cika dengan memohon.


"Saya anggap diamnya kamu adalah sebuah jawaban untuk saya, Hanum. Besok kita akan langsung ke desa orang tua kamu," ucap Fathan dengan tegas.


"A-apa?" tanya Tri dengan mengerjapkan matanya.


"Cika katakan sama Mama karena Papa tidak akan mengulang perkataan Papa barusan!" ucap Fathan dengan tersenyum aneh ke arah Tri yang terlihat bingung.


"Iya, Pa!" ucap Cika dengan tersenyum.


Cika menatap Tri dengan mata bulatnya yang sangat menggemaskan. "Kata papa besok kita akan pergi ke rumah orang tua Mama. Kakek dan nenek Cika yang baru. Papa dan Mama akan menikah di sana," ucap Cika dengan perlahan.


Tri mengerjapkan matanya. "Mas..."


"Saya tidak menerima penolakan, Hanum!"

__ADS_1


*****


Brakkk....


Tiara melempar semua barang-barang yang ada di apartemennya hingga berserakan di lantai. Ia merasa marah, hancur secara bersamaab saat ini. Mengapa tidak ada yang mengerti dirinya? Bahkan kedua orang tuanya selalu mengatur kehidupannya.


"Arrghhhhh..." Tiara menjambak rambutnya sendiri dan terduduk di lantai dengan tangis yang terdengar sangat pilu.


Tangannya gemetar mengambil foto Zidan yang sudah pecah. "Kenapa kamu tidak menyusul aku ke Paris? Padahal aku sangat berharap kamu datang, Mas. Kenapa? Kenapa kamu tega? Dulu katamu, kamu sangat mencintai aku tetapi kenapa kamu menikah dengan wanita lain?" ujar Tiara menatap foto Zidan.


"Hiks...hikss... Kamu tahu Mas? Aku kembali dipaksa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Kenapa? Kenapa hidupku selalu diatur oleh mereka? Bahkan aku tidak bisa memilih lelaki yang akan menjadi suamiku," ujar Tiara dengan tersenyum menyedihkan.


Jari Tiara mengusap foto Zidan dengan lembut. Ia tersenyum lalu menatap benci ke arah foto tersebut. "Aku benci kamu Zidan! Aku benciii!" teriak Tiara dengan histeris.


Tiara memukul dadanya dengan kuat. "Kenapa rasa cinta ini masih ada untukmu? Kenapa? 5 tahun aku berusaha melupakan kamu tetapi kenapa tidak bisa? kenapa Mas? Hiks...hiks...aku terlihat seperti gadis malang di hadapan kak Fathan sekarang," ucap Tri dengan terkekeh sinis.


"Hahaha....Kamu mau aku tetap menikah dengan kak Fathan? Aku akan buktikan jika aku bisa bahagia tanpa kamu Mas!" ucap Tiara dengan sorot mata yang kosong. Hidupnya sudah hampa sejak dulu. Lalu apa yang harus diperjuangkan? Lelaki yang dicintainya tidak lagi mencintainya. Mungkin dengan menikah dengan Fathan bisa membuatnya bahagia, walau Tiara yakin hatinya tidak pernah bahagia sampai kapanpun karena kebahagiaan dirinya sudah diatur oleh kedua orang tuanya.


Bukankah Tiara hanyalah robot yang akan menurut jika di perintah?


Tri beralih ke foto sang kakak, ia tersenyum sinis menatap foto itu. "Aku iri denganmu yang selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Kak. Setelah kepergianmu mama dan papa tetap membandingkan aku denganmu. Sampai aku berpikir jika aku bukanlah anak kandung mereka tetapi jika bukan kenapa wajah kita mirip sekali? Aku sudah kehilangan segalanya karena mereka dan sekarang aku akan membuat mereka kehilangan segalanya karena aku! Aku akan merebut kak Fathan dan Cika dari kakak!" ujar Tiara dengan melantur.


"Kenapa Kakak diam saja, Hah? Marahlah padaku kak karena sebentar lagi aku akan menikah dengan suami yang sangat kamu cintai! Ayo marah kak! Protes lah pada mama dan papa karena kak Fathan hanya milik kakak! AYO KAK!" racau Tiara dengan air kata yang terus mengalir. Jika ada yang melihat tangis pilu Tiara maka dijamin orang tersebut merasa iba dan ikut menangis juga.


Tiara kembali menangis dengan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Lelah menangis membuat Tiara tertidur di lantai, tidak peduli dengan lantai yang dingin karena hatinya sudah membeku sejak lama.


****


Zidan mana Zidan? Kenapa kamu sangat tega dengan neng Tiara?


Huhu jadi sedih!

__ADS_1


Terima kasih buat yang telah membaca cerita ini.


__ADS_2