
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Zayyen baru saja masuk ke ruangan Delisha setelah ia berpikir dengan keras untuk menjenguk Delisha atau tidak. Akhirnya Zayyen menjenguk Delisha karena tak ingin Akbar, Fiona dan ketiga kakak Delisha curiga dengannya. Zayyen juga menghormati kedua orang tua Delisha walau ia tak mencintai Delisha sebab kedua orang tua Delisha adalah om dan tante Cika.
"Kakak!" ucap Delisha dengan bahagia saat Zayyen datang menjenguknya walau pria itu tak tahu tentang penyakitnya.
Delisha tak ingin dikasihani oleh Zayyen maka dari itu ia tak mengizinkan siapapun untuk mengatakan tentang penyakitnya, ia takut jika Zayyen mengetahui penyakitnya maka lelaki itu akan merasa kasihan dan perhatian kepadanya karena sebuah rasa kasihan. Delisha tak ingin itu terjadi, ia ingin semuanya mengalir tanpa ada rasa kasihan dari Zayyen untuknya.
"Halo Zayyen! Akhirnya ketemu kamu di sini ya! Selama menjadi pacar Delisha, Tante belum pernah melihat kamu ke rumah," ujar Fiona yang sedang menyuapi Delisha. Sedangkan Akbar dan ketiga anaknya sedang berada di luar.
Zayyen tersenyum tipis. "Iya maaf Tante! Saya sibuk," ujar Zayyen merasa tak enak.
"Tante maklum karena kamu calon dokter," sahut Fiona dengan tersenyum.
"Kak duduk sini!" ucap Delisha menepuk ranjang sebelahnya.
Zayyen mau tak mau mengangguk. Ia duduk di samping Delisha yang terlihat sudah tidak pucat seperti kemarin. Gadis itu terlihat lebih berseri.
"Mi udah makannya!" ujar Delisha yang memang sudah merasakan kenyang.
Zayyen melihat ke arah mangkuk yang berisi bubur dan masih sangat banyak.
"Baru juga 5 suap, Sayang!" ujar Fiona dengan pelan.
"Biar saya saja Tante!" ucap Zayyen dengan tegas.
Hati Delisha berbunga, rasa laparnya kembali datang saat Zayyen mengambil mangkuk yang berada di tangan maminya.
__ADS_1
Fiona tersenyum saat melihat kedua pipi Delisha merona. Ia mengacak rambut Delisha dengan sayang. "Makan yang banyak!" ujar Fiona dengan lembut.
"Iya Mami!" sahut Delisha dengan tersenyum.
"Mami duduk di situ ya!" ucap Fiona meninggalkan Delisha dan Zayyen untuk duduk di sofa menunggu kedatangan suami dan ketiga anaknya.
Delisha mengangguk sedangkan Zayyen merasa suasana di ruangan ini menjadi canggung saat ia dan Delisha hanya berdua saja walau Fiona masih ada di ruangan ini tetapi sangat aneh rasanya karena kemarin ia baru saja memarahi Delisha.
Jika ada yang bertanya di mana Kimmy berada, kucing kesayangan Delisha itu sedang di bawa oleh Ikbal. Mungkin jika ada kucing itu di sini Zayyen akan kembali memarahi Delisha karena kucing tersebut adalah pemberian Ikbal. Lelaki yang bisa membuat Zayyen marah entah karena apa.
"Makan!" ucap Zayyen dengan datar saat tangannya mulai mengarahkan sendok ke mulut Delisha.
Delisha membuka mulutnya dengan lebar, ia menerima suapan Zayyen dengan senang. Zayyen menatap Delisha, lalu ia menghela napasnya dengan pelan. Mengapa ia sangat sulit menerima Delisha di hatinya? Gadis polos dengan tingkah yang sangat menyebalkan itu memang terlihat sangat baik tetapi Zayyen belum bisa menerima Delisha di hatinya. Masih nama Cika yang bertahta di hatinya, ia tahu perasaannya ini salah tetapi Cika adalah tipenya sejak dulu. Delisha adalah sebuah pelampiasan agar ia bisa lupa dengan perasaannya terhadap Cika.
"Kak!" panggil Delisha dengan pelan.
"Makan! Jangan banyak bicara!" ujar Zayyen dengan pelan.
Delisha mengangguk. Suapan demi suapan yang Zayyen berikan kepada Delisha akhirnya selesai juga karena bubur yang berada di dalam mangkuk sudah habis berkat Zayyen yang menyiapi Delisha.
"Oo ada Zayyen ternyata!" ujar Akbar dengan ramah. Pria tua itu menghampiri anaknya dan mencium kening Delisha dengan sayang.
"Iya, Om!" ujar Zayyen dengan tersenyum canggung.
"Habis makannya? Anak pintar! Besok Papi sepertinya harus memanggil Zayyen untuk menyuapi kamu lagi," ucap Akbar dengan terkekeh.
"Beneran? Delisha senang kalau begitu, Pi!" sahut Delisha dengan bahagia. Tetapi tidak dengan Zayyen, hatinya merasa tidak nyaman ketika Akbar berkata seperti itu.
"Istri Papi mana?" tanya Akbar.
Delisha melihat ke arah sofa. "Tidur, Pi!" ujar Delisha dengan polosnya.
__ADS_1
Akbar melihat istrinya. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat istrinya sudah tertidur di sofa. Akbar menghampiri istrinya, ia duduk di samping Fiona dan dengan perlahan mengangkat kepala Fiona agar tertidur di pahanya. Semua itu tak luput dari penglihatan Delisha dan Zayyen.
"Romantis kan papi dan mami Delisha?" ujar Delisha kepada Zayyen.
Zayyen mengangguk saja. Ia sedikit malas melihat adegan seperti itu tidak di rumah, tidak di rumah sakit dirinya sering melihat adegan mesra yang kadang membuat hatinya miris.
"Delisha juga mau seperti itu, Kak!" rengek Delisha kepada Zayyen.
"Yang benar aja!" gumam Zayyen tak suka. Suaranya terdengar pelan agar Akbar tak mendengar penolakannya terhadap Delisha.
Delisha cemberut. "Ayolah, Kak! Papi gak akan marah!" rengek Delisha dengan manja.
"Kenapa?" tanya Akbar yang mendengar suara rengekan anaknya. Delisha sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh papinya dan membuat Zayyen tidak bisa berkutik.
"Adek juga mau tidur kayak Mami! Tapi di peluk kak Zayyen! Boleh kan, Pi! Kak Zayyen gak mau karena takut Papi marah!" ujar Delisha yang membuat Zayyen melotot menatap Delisha.
Bagaimana bisa gadis di depannya ini membuat dirinya tidak bisa berkutik di depan kedua orang tua Delisha? Rasanya Zayyen ingin memarahi gadis ini. Sungguh Zayyen sangat kesal dengan Delisha.
Akbar menatap Zayyen. "Silahkan saja asal tidak berbuat macam-macam dengan Delisha!" ujar Akbar dengan tegas sambil mengelus rambut Fiona dengan sayang.
"T-tapi, Om..."
"Kak ayolah! Papi aja bolehin!" rengek Delisha
Zayyen menghela napasnya dengan berat. Akhirnya Zayyen naik ke brankar Delisha dan ikut merebahkan dirinya di sana, walau sempit Zayyen harus terbiasa karena ia sudah dibuat tidak berkutik oleh Delisha.
Sedangkan Delisha, gadis itu tampak senang sekali. Delisha merebahkan kepalanya di lengan Zayyen dan memeluk perut Zayyen dengan erat.
Tubuh Zayyen mendadak kaku. Bahkan ia sama sekali tidak berkutik karena Delisha. Zayyen ingin segera pergi dari ruangan Delisha tetapi tidak bisa seakan ada mata yang selalu mengawasinya yaitu mata Akbar. Baru kali ini Zayyen tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menerima.
"Peluk!" rengek Delisha.
__ADS_1
Zayyen geram. Dengan sengaja Zayyen memeluk Delisha dengan erat bukannya marah Delisha malah tersenyum seakan ia sedang mimpi indah.
"Ini akan menjadi kenangan yang sangat indah!" gumam Delisha dengan bahagia.