Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 152 (Curhatan Zevana)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan partai ini ya!...


...Happy reading...


***


Saat ini Zevana sudah berada di rumah bersama dengan kedua orang tuanya. Wajahnya tampak lesu yang membuat Zidan dan Tiara bingung dengan anak bungsunya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Zidan dengan lembut.


"Zeva gak habis pikir dengan kak Zayyen!" ujar Zevana dengan kesal.


Zidan dan Tiara saling menatap satu sama lain. Pasti ada yang ingin Zevana ceritakan bukan hanya sekedar kesal dengan Zayyen.


"Duduk dulu! Kayaknya kamu lesu banget," ucap Tiara yang diangguki oleh Zevana.


Zidan, Tiara, dan Zevana akhirnya duduk di sofa dengan Zevana yang berada di tengah.


"Ayo apa yang mau kamu ceritain ke Papa sama Mama?" ucap Zidan yang memang selalu menjadi pendengar yang baik untuk Zevana yang selalu terbuka kepadanya, apalagi Zevana adalah anak gadis satu-satunya yang harus ia jaga dan jangan sampai dirusak oleh lelaki.


"Zeva tadi marahin kak Zayyen, Pa! Zeva suruh kak Zayyen mempertahankan Delisha. Zeva tahu Delisha sangat mencintai kak Zayyen, sebab itu Zeva suruh kak Zayyen tetap menjadi pacar Delisha karena cepat atau lambat pasti kak Zayyen mencintai Delisha. Tapi..." ucapan Zevana tertahan di tenggorokan karena ia masih malu untuk menceritakan jika dirinya mencintai Haidar kepada kedua orang tuanya.


"Tapi...?" Tiara menaikan satu alisnya menatap Zevana dengan serius yang membuat gadis itu menelan ludahnya dengan kasar karena perasaan gugup yang menghampiri hatinya saat ini.


"T-tapi Mama sama Papa jangan ketawa atau marah kepada Zeva ya kalau Zeva cerita?!" ucap Zevana menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Iya, Sayang! Cepat cerita Papa sama Mama penasaran," sahut Zidan dengan tenang.


Zevana menghela napasnya sebelum berbicara. "Alasan Zevana menyuruh kak Zayyen untuk mempertahankan Delisha bukan karena itu saja Pa, Ma. Tapi, karena Zeva suka sama kak Haidar. Kak Haidar berterus terang menyukai Delisha di depan Zevana dan kak Akbar. Zeva cemburu," ujar Zevana dengan suara yang pelan diakhir kalimat.


"Oo jadi anak gadis Papa dan Mama sekarang sudah jatuh cinta begitu?" tanya Zidan dengan menahan senyumnya.


Tiara juga ikut tersenyum saat melihat wajah malu-malu Zevana saat mengatakan perasaannya kepada mereka selaku kedua orang tuanya.


Tiara mengelus punggung Zevana dengan lembut. "Sayang, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Apa yang kamu lakukan sudah baik menurut Mama karena Mama juga suka sama Delisha yang selalu apa adanya walaupun dia adalah anak orang kaya. Tapi, Mama gak bisa biarin Delisha juga tersakiti oleh kakak kamu yang sama sekali tak bertanggungjawab. Biarkan mereka memilih untuk bertahan atau saling melepaskan. Karena cepat atau lambat Mama yakin kakak kamu akan sadar," ujar Tiara dengan lembut.


"Dan sekeras apapun Haidar mendekati Delisha kalau Delisha cintanya sama kakak kamu itu semua tidak akan pernah terjadi," ucap Tiara.


"Kalau begitu Zeva egois gak Ma karena cemburu?" tanya Zeva dengan pelan.


"Niat kamu sudah baik tapi ada keegoisan sedikit di sana! Ya sudah tidur sana besok sekolah," ucap Zidan dengan tegas.


Zevana mengangguk pasrah saat papanya sudah menyuruhnya untuk tidur. "Good night, Pa, Ma!" ucap Zevana dengan tersenyum.


"Good night, Sayang!" ucap Zidan dan Tiara secara bersamaan.

__ADS_1


Zidan menatap istrinya. "Gak terasa ya Sayang semua anak kita sudah dewasa dan sudah merasakan jatuh cinta. Rasanya baru kemarin mereka aku gendong," gumam Zidan memeluk Tiara dari samping.


"Iya, Mas. Tapi aku kepikiran dengan Zayyen. Anak kita babak belur karena dihajar oleh keluarga Delisha. Sebagai Mama aku tidak tega melihatnya seperti itu tapi aku tidak bisa apa-apa karena itu kesalahan Zayyen. Bahkan Zayyen memilih pulang ke apartemen daripada ke rumah kita atau Barra dan Rose, aku khawatir Mas!" ucap Tiara dengan sendu.


"Benar! Tapi kita harus tega agar Zayyen tak berbuat kesalahan lagi yang akan berakibat fatal seperti ini," sahut Zidan dengan pelan.


"Kita ke kamar ya, kamu juga perlu istirahat!" ucap Zidan yang tak mau istrinya kelelahan karena memikirkan Zayyen.


"Iya, Mas. Memikirkan Zayyen dan Zayden kepalaku benar-benar pusing," gumam Tiara memijat pelipisnya.


"Mas udah berhasil menyelidiki Zayden?" tanya Tiara saat keduanya berjalan ke arah kamar.


"Belum, Sayang. Masalah Zayyen benar-benar membuat Mas tidak fokus. Mas janji gak akan lama semua akan terungkap," sahut Zidan menghela napasnya kasar.


Tiara hanya bisa diam, ternyata menjadi orang tua tidak semudah itu apalagi memiliki kedua anak kembar lelaki yang memiliki sifat bertolak belakang.


****


Akbar menekan dadanya yang tiba-tiba berdenyut. Tidak! Dirinya tidak boleh sakit! Ia harus menjaga Delisha sampai anaknya itu sembuh.


"Papi kenapa?" tanya Daniel yang melihat papinya memegangi dada membuat Danish dan Dareel melihat ke arah papinya yang memang sedikit pucat.


"Papi gak apa-apa. Suara kamu jangan keras-keras mami baru aja tidur kasihan mami," ucap Akbar yang mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Saat ini Delisha sudah dipindahkan di ruang perawatan hingga mereka dengan bebas bisa menjaga Delisha di dalam. Ruangan VVIP yang memang Fathan persiapkan untuk keponakannya tersebut.


Akbar menerima minuman dari Dareel. Untuk menetralisir rasa sakit yang tiba-tiba saja datang Akbar menghembuskan napasnya dengan perlahan.


"Papi istirahat aja biar kami yang menjaga Delisha. Papi tenang, nanti setelah Delisha sadar kami akan bangunkan Papi dan mami," ucap Danish dengan tegas karena tak mau papinya juga ikut terasa sakit.


"Kalian gak apa-apa kalau Papi tidur?" tanya Akbar memastikan.


"Iya, Pi! Tenang aja!"


Akhirnya Akbar mengangguk. Ia membenarkan posisi tidur istrinya lalu Akbar ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluk Fiona dengan erat.


Bahkan Fiona langsung mencari posisi ternyamannya yaitu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami untuk menghilangkan kepenatannya. Matanya terpejam tapi pikirannya entah berkelana kemana! Mungkin ada yang sama seperti Fiona sekarang, seakan beban yang ia pikul sangat berat sekali.


Akhirnya Akbar dan Fiona tertidur sedangkan Danish, Daniel, dan Dareel masih setia memejamkan matanya.


Danish yang tak bisa tertidur menghampiri adiknya yang setia memejamkan mata. "Dek kangen banget!" gumam Danish menatap wajah Delisha dengan dalam seakan merangkum wajah Delisha di matanya.


"Bangun yuk, Dek! Adek mau apa? Kakak beliin sekarang kalau adek bangun! Mau telur gulung?" gumam Danish dengan pelan.


Daniel dan Dareel tak kuasa untuk menahan air matanya. Kedua mata mereka langsung berkaca-kaca kala Danish berkata seperti itu dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Tahu gak? Impian Kakak punya pacar kayak Adek. Baik, ceria, cantik, seperti kamu! " ucap Danish dengan pelan.


Danish mengelus rambut Delisha dengan lembut. "Katanya kamu mau melihat Kakak punya pacar," ujar Danish dengan tersenyum.


Hanya suara monitor pendeteksi jantung Delisha yang terdengar kala Danish berhenti berbicara. Tapi Danish merasakan tangan Delisha bergerak dengan perlahan. Danish mengucap syukur saat perlahan mata adik kesayangannya terbuka.


Daniel dan Dareel langsung menghampiri brankar adiknya.


"Delisha! Sayang!" gumam ketiganya dengan bahagia.


"K-kakak? A-adek pikir ini udah di surga," gumam Delisha dengan suara yang amat pelan.


"Jangan ngomong gitu please!" ujar Dareel dengan takut.


Delisha tersenyum. "Kak, Adek dingin!" ujar Delisha menggigil.


Ketiganya terlihat sangat panik. "Kakak panggilkan dokter ya!" ucap Daniel dengan cemas.


Delisha menggelengkan kepalanya. "Peluk Delisha!" gumam Delisha.


"Kak Danish tidur sama Delisha ya!" pinta Delisha dengan tangan gemetar.


Danish langsung menganggukkan kepalanya. Ia naik ke brankar adiknya dengan perlahan. Sedangkan Danish dan Dareel memijat kaki Delisha yang terasa sangat dingin.


"Kenapa sih semua orang gak boleh Delisha ke surga?" tanya Delisha pelan saat rasa dinginnya perlahan hilang.


"Dek, udah malam! Kamu baru aja sadar jangan banyak bicara dulu ya!" ujar Danish mengalihkan pembicaraan Delisha yang ngelantur menurut Danish.


"Kak Zayyen mana? Dia ada jenguk Delisha gak?" tanya Delisha yang terus berbicara seakan tidak terjadi sesuatu dengan dirinya.


"Sssttt... Sini tangannya! Tangan kamu masih dingin!" ucap Daniel dengan tegas.


Tiba-tiba saja Delisha terdiam. Ia menatap langit-langit ruangannya dengan tak berkedip membiarkan kakaknya melakukan sesuatu agar dirinya tidak kedinginan. Delisha sudah lelah.


"Kak!"


"Hmmm..."


"Delisha mimpi bertemu pakde Alan. Pakde Alan mengajak Delisha ke taman yang sangat indah sekali. Pakde Alan terlihat sangat tampan di dalam mimpi Delisha. Delisha mau ikut tapi suara kak Ikbal buat Delisha gak bisa ikut. Kenapa ya, Kak? Pakde Alan gak kenapa-napa, kan?" tanya Delisha kepada ketiga kakaknya.


Deg...


Deg...


Deg...

__ADS_1


Ketiganya langsung terdiam memikirkan perkataan Delisha. Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepada pakde mereka? Tapi tak ada kabar satupun yang mereka terima. Ketiganya berharap ini adalah bunga tidur yang Delisha alami dalam tidur.


__ADS_2