
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 50 menit akhirnya Delisha dan keluarganya serta Ikbal sudah sampai di Bali. Mereka sudah sampai di Villa pribadi milik Akbar yang desainnya juga Akbar yang merancang sejak pembangunan villa ini.
"Akhirnya ke sini lagi!" ucap Delisha dengan tersenyum bahagia.
Delisha merebahkan dirinya di sofa dengan senyuman yang sangat manis. Ikbal yang membawa koper dirinya serta milik gadisnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Gadisnya? Aaa rasanya Ikbal ingin berteriak kepada dunia jika Delisha sudah jadi miliknya dari semalam.
"Kamar kalian ada di atas semua ya! Kamar Papi dan Mami ada di bawah," ujar Fiona dengan tersenyum.
"Siap, Mami!" sahut kembar dan Delisha sedangkan Ikbal hanya mengangguk saja.
"Ayo!" ucap Ikbal dengan menggandeng tangan Delisha yang membuat kedua orang tua serta ketiga kakak Delisha saling menatap satu sama lain.
"Kayaknya ada yang berbeda dari kalian. Tapi apa ya?" tanya Fiona dengan berpikir.
"Apa, Mi? Kayaknya gak ada deh!" ujar Delisha dengan polosnya.
"Dih polos banget kamu, Dek! Dari di pesawat tadi kalian duduk berdua, terus tangan Ikbal gak pernah lepas dari tangan kamu. Kapan kalian jadian?" tanya Danish tutup poin.
"Ehh.." Refleks Delisha melepas tangannya yang di genggam Ikbal dengan erat yang membuat orang tersenyum geli.
"Kapan kalian jadian?" tanya Daniel mengulangi pertanyaan kakaknya.
"Seperti kabar baik itu sudah datang," ucap Akbar dengan tersenyum.
"Kami baru jadian semalam Pi, Mi, dan semuanya! Izinkan Ikbal yang akan menggantikan kalian untuk menjaga Delisha," ujar Ikbal dengan tegas yang membuat Delisha tercengang.
"Kak Ikbal..." Delisha tercekat saat Ikbal sangat percaya diri mengumumkan hubungan mereka pada keluarganya.
"Woahhhh... Hal seperti ini harus di rayakan. Kita istirahat dulu saja, setelah ini baru kita bersenang-senang sekaligus merayakan hari jadi Delisha dengan Ikbal," ujar Fiona dengan bahagia.
Akbar tersenyum dengan kebahagiaan istrinya. Ikbal memang cocok bersama dengan Delisha, ia yakin Ikbal tak akan membuat kecewa anaknya.
"Papi pegang kata-kata kamu! Sampai kamu menyakiti Delisha awas saja kamu!" ujar Akbar dengan tegas.
"Iya, Pi! Ikbal akan buktikan semuanya kalau Ikbal gak akan main-main. Kalau perlu Delisha tamat sekolah kami menikah!" ujar Ikbal dengan tegas.
"Kak Ikbal, Delisha kan masih mau kuliah!" ujar Delisha dengan cemberut.
"Nikah sambil kuliah kan gak masalah, Sayang!" ujar Ikbal.
Uhuk...uhukk...
"Cie-cie Sayang-sayangan!" ujar Dareel bersiul setelah semua orang terbatuk karena baru pertama kali mendengar Ikbal memanggil Delisha dengan sebutan 'sayang'.
"Ihhh Delisha malu!" ujar Delisha dengan menyembunyikan wajahnya di lengan Ikbal yang berotot.
__ADS_1
"Jangan ketawain Delisha lagi! Delisha kan jadi gemetaran!" ujar Delisha dengan polosnya.
Semua orang terkekeh. Baru kalo ini melihat Delisha malu-malu kucing karena Ikbal, sejak bersama dengan Zayyen, Delisha tidak pernah seperti ini. Perbedaan itu terlihat sangat jelas bukan?
"Jangan goda kekasih Ikbal mulu! Dia malu!" ujar Ikbal yang semakin membuat ketiga kakak Delisha menggodanya.
"Sudah-sudah! Papi bahagia kalau kalian bersama! Ikbal, bawa Delisha ke kamarnya! Dia masih sangat malu dengan kami!" ujar Akbar yang memang sudah sangat percaya dengan Ikbal. Akbar yakin Ikbal tidak akan melakukan sesuatu di luar batas.
"Iya, Pi!"
"Koper tinggal aja dulu! Yang penting adek gue!" ujar Daniel dengan terkekeh.
Ikbal tersenyum. Ia menggendong Delisha bak anak koala bahkan Delisha tak berani menampakkan wajahnya di hadapan kedua orang tua serta ketiga kakaknya, ia masih menyembunyikan wajahnya di dada Ikbal sekarang sampai menuju kamar Delisha yang memang sudah di beri nama di depan pintu.
"Masih mau peluk Kakak seperti ini sampai di kamar?" tanya Ikbal dengan geli saat Delisha sama sekali tidak bergerak sedikit pun.
Delisha mulai mengangkat kepalanya. Ikbal terkekeh saat melihat wajah Delisha yang sangat memerah.
"Tadi gak pakai make up sekarang kok pakai? Pipinya merah banget!" goda Ikbal yang membuat Delisha gemas menggigit lengan Ikbal.
"Awww...sakit, Sayang!"
"Kakak nakal! Semua orang kan jadi goda Delisha! Delisha gak berani lihatin wajah Delisha!" rengek Delisha yang membuat Ikbal gemas.
"Malu?" tanya Ikbal yang diangguki polos oleh Delisha.
Ikbal mengangkat dagu Delisha menatap mata Delisha yang sangat indah. Ikbal mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
Deg...
"Cantik!" gumam Ikbal mencium pipi Delisha.
"Kak Ikbal kebiasaan cium-cium Delisha!"
"Mulai sekarang itu adalah hal wajib, Sayang! Dan kamu harus terbiasa dengan ciuman Kakak! Jangan pernah bosan!" ujar Ikbal dengan tulus.
"Sekarang istirahat! Nanti kita akan ke pantai!" ujar Ikbal dengan pelan.
"Hehe...siap, Bos!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Kenapa ya setiap bersama Kak Ikbal hati Delisha bahagia?"
*****
Delisha dan yang lainnya menikmati suasana pantai dengan gembira. Bahkan Delisha asyik bermain hingga pakaiannya basah. Melihat Delisha bahagia membuat Akbar dan Fiona tersenyum.
"Gak salah Papi pilih Ikbal!" ujar Fiona dengan tersenyum.
"Papi tahu mana lelaki yang tulus atau tidak, Mi! Dan Ikbal adalah orang yang sangat tepat untuk Delisha. Kehidupannya sebagai anak broken home pasti akan membuat Ikbal berpikir seribu kali untuk menyakiti Delisha. Ikbal tidak akan pernah melakukan itu! Papi percaya itu," ujar Akbar yang diangguki oleh Fiona.
"Dan Papi akan merestui mereka jika Ikbal meminta menikah dengan Delisha?" tanya Fiona dengan serius.
Akbar menatap Fiona, ia mengelus wajah istri yang telah memberikan kebahagiaan di hidupnya karena hadirnya 4 orang anak di kehidupannya yang selama ini sepi.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri, suami kamu ini sudah tua! Melihat Delisha dan anak-anak kita bahagia dengan pasangannya adalah hal yang sangat membahagiakan yang terpenting mereka tidak akan melupakan kita terutama kamu sebagai maminya jika papi sudah tidak ada," ujar Akbar dengan tulus.
"Pi..." mata Fiona berkaca-kaca.
"Kematian adalah hal yang pasti, Sayang. Saat itu tiba kamu jangan menangis ya! Bahagialah bersama dengan anak-anak kita! Di sisa hidup Mas apapun akan Mas lakukan untuk membuat kamu, Delisha, Danish, Daniel, dan Dareel bahagia! Biarkan mereka hidup sesuai kata hati mereka! Biarkan Dareel menjadi pilot impian, dan ketiga anak kita yang lainnya menuruni bakat Mas untuk jadi arsitek. Bukan tanpa alasan Mas mengajarkan mereka dari remaja tentang dunia bisnis kelak jika mereka dewasa, mereka akan menjadi orang yang hebat dan tentu saja itu berkat kamu dan Mas! Berkat kita berdua serta Allah yang selalu bersama dengan mereka! Mas yakin ketiga anak lelaki kita akan menjadi pria yang bertanggungjawab nantinya," ujar Akbar mengelus pipi istrinya.
Fiona masih sangat terlihat sangat cantik sekali. Wanita yang telah memberikan empat orang anak kepadanya terlihat sangat menggemaskan.
Fiona memeluk suaminya. Mereka lebih memilih duduk menyaksikan anak-anak mereka bermain.
***
Danish mengalungkan kamera di lehernya, sesekali ia memotret keindahan pantai di Bali dengan decak kagum, juga banyak foto Delisha yang tertawa bahagia. Hingga kameranya teralah oleh gadis kecil seperti Delisha yang tampak diam menyendiri.
Langkah Danish terasa sangat ringan menuju gadis kecil itu. Danish semakin tertarik dengan apa yang gadis kecil itu lakukan di pasir pantai menggambarkan sebuah keluarga yang berpegangan erat.
"Mama, papa, dan Keisya!" gumam Danish membaca tulisan gadis kecil tersebut.
Gadis kecil yang merasa terganggu tersebut melihat ke arah Danish. "Kamu siapa?" tanya Keisya dengan pelan.
"Jangan-jangan mau culik Keisya ya? Jangan culik Keisya! Keisya mau cari mama dan papa!" ujar Keisya dengan polosnya.
"Eh gue gak mau culik lo! Gue tertarik aja lihat lo duduk sendiri di sini. Ngapain sih?" tanya Danish yang entah mengapa menjadi cerewet.
"Kakak kepo deh sama urusan Keisya!" ujar Keisya dengan cemberut.
"Mirip Delisha!" gumam Danish jadi gemas.
"Emang gak boleh?" tanya Danish.
"Enggak sih! Tapi boleh deh!" ujar Keisya dengan terkekeh mereka lucu dengan ucapannya.
Danish tersenyum tipis. "Orang tua kamu mana?" tanya Danish yang membuat Keisya terdiam.
"Keisya gak punya orang tua!" ujar Keisya dengan sendu.
"Eh, maaf!" ujar Danish merasa bersalah.
"Gak apa-apa! Kata ibu panti Keisya di temuin di pintu panti asuhan. Keisya mau cari kedua orang tua Keisya! Tapi Keisya gak punya uang untuk ke Jakarta!" ucap Keisya dengan sendu.
"Emang kedua orang tua kamu ada di Jakarta?"
Keisya menggaruk kepalanya. "Gak tahu juga sih, Kak! Hehe...Keisya kan jadi curhat! Aduh Keisya harus balik ke panti!" ujar Keisya dengan panik.
"Keisya balik ya, Kak!"
"Tunggu!!!"
"Kenapa, Kak?"
"Gue Danish!"
"Iya kak Danish sampai jumpa!"
__ADS_1
Danish memandang kepergian Keisya dengan tersenyum bahkan sudah banyak potret Keisya yang ada di kameranya.
"Kembaran Delisha versi lebih bocil!" kekeh Danish.