Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 121 (Cemburu)


__ADS_3

...Like, vote, dan komen yang banyak jangan lupa ya....


...Happy reading...


****


Cika sedang berada di kampus, ia sedang bimbingan dengan dosen PA yang akan membantunya menyelesaikan tugas akhirnya. Menjadi mahasiswa semester akhir ternyata sangat melelahkan, mentalnya juga diuji dengan berbagai cobaan. Dosen PA-nya yang selalu absen jika dirinya ingin bertemu, banyaknya revisi di skripsinya membuat Cika terkadang berpikir ingin menyerah. Cika selalu merasa skripsinya sudah benar karena ia selalu bertanya kepada orang tuanya, Cika tidak tahu kesalahannya apa hingga banyak coretan di kertas skripsinya hari ini. Rasa semangatnya langsung menghilang melihat tulisan dosennya yang sama sekali tidak bisa ia baca.


"Kepala gue mau pecah rasanya!" gumam Cika menghampiri kedua sahabatnya yang berada di kantin.


"Sabar! Kita aja belum bimbingan skripsi seenggaknya kita bisa barenglah lulusnya," ucap Feli, sahabat Cika yang memang paling terlihat santai ketika kuliah. Tidak lulus tahun ini ya tahun berikutnya, bereskan?


"Coba gue lihat!" ucap Devi mengambil skripsi Cika yang dicoret oleh dosen PA-nya.


"Gila! Itu dosen buat karya baru di skripsi lo? Lo heran gak sih sama Pak Andra? Setiap ketemu lo ada aja revisian, terus kalau lo gak nyari dia, dia yang nyuruh lo ke ruangannya tapi bukan buat bimbingan skripsi sih tapi buat bantuan dia periksa tugas mahasiswa di ruangannya, hanya berdua. Aneh gak sih?" ujar Devi kepada dua sahabatnya.


Cika terdiam, ingatannya melayang bagaimana Andra sebagai dosen PA-nya memperlakukan dirinya. Pria itu selalu dingin dan galak jika bersama dirinya bahkan Cika sampai mengajukan untuk mencari pengganti dosen PA yang baru tetapi pengajuan Cika ditolak mentah-mentah.


"Jangan-jangan..."


"Jangan-jangan, apa?" tanya Cika pada kedua sahabatnya dengan perasaan was-was.


"Pak Andra suka sama lo, Cik!" jawab kedua sahabat Cika yang membuat gadis itu terdiam lalu tertawa.


"Hahaha... Pikiran kalian itu aneh jangan menghalu akibat baca novel dimana dosen nikahin mahasiswanya. Mana mungkin pak Andra suka sama gue, dia itu duda anak satu pasti cari wanita yang seumuran lah," elak Cika.


"Tapi, Cika! Kali ini firasat gue sama Devi pasti gak salah!" ujar Feli yang membuat Cika tidak nyaman dengan obrolan ini. Ia takut Zayden tiba-tiba datang dan mendengar obrolan mereka.


"Ganti topik!" ucap Cika yang merasa atmosfer di sekitarnya menjadi mencekam.


"Iya deh yang udah punya pacar posesif. Gimana rasanya punya pacar sejak dari TK? Awet banget hubungan kalian ya?! Gak pernah merasa bosen gitu sama Zayden?" tanya Devi yang membuat Cika terdiam.


"Gue gak tahu! Terkadang gue pengin hubungan gue sama Zayden berakhir tapi di satu sisi gue gak mau kehilangan Zayden!" ungkap Cika dengan lesu.


"Gue gak tahu rasanya di posesifin sama pacar. Tapi lihat lo tertekan gue jadi mikir lagi buat punya pacar," gumam Feli dengan pelan.


"Cantika Anastasya Samudra, ke ruangan saya sekarang!" ucap Andra, dosen PA Cika yang selalu seenaknya saja.


Cika menatap dosennya kali ini dengan kesal. "Saya hari ini mau pulang cepat, Pak! Tadi juga saya sudah bertemu dengan anda!" ujar Cika dengan kesal.


"Ke ruangan saya sekarang atau kamu lulus tahun depan!" ancam Andra yang membuat Cika menghela napasnya dengan pasrah.

__ADS_1


Feli dan Devi menatap sahabatnya dengan wajah yang sangat prihatin. Mau tak mau Cika mengikuti Andra dari belakang tapi tangannya ditarik dengan cepat oleh seseorang, Cika sudah tahu tangan siapa yang menariknya.


"Mohon maaf, Pak! Hari ini Cika harus pulang cepat karena kami akan mengatakan pertemuan keluarga! Cika akan menjadi istri saya secepatnya! Permisi!" ucap Zayden dengan tajam. Setiap kata yang diucapkan Zayden sangat penuh penekanan bahkan tatapan Zayden sangat dingin untuk Andra.


"Oo silahkan!" ucap Andra dengan tenang. Tak ada perubahan ekspresi yang signifikan di wajah Andra tetapi Andra tahu ada ketegangan di mata Cika saat kekasih Cika datang. Andra merasa ada yang tak beres dengan hubungan mereka.


Andra hanya menatap kepergian keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan setelah itu ia hanya bisa menghela napasnya dengan berat, setelah Cika tak terlihat di pandangannya lagi barulah Andra berjalan pergi ke ruangannya tanpa seorang Cika.


"Masuk!" perintah Zayden dengan tajam dan sangat kasar mendorong Cika agar masuk ke mobilnya.


Cika meringis saat punggungnya terasa sakit. Aura Zayden sangat dingin sekali yang membuat Cika tak berani bersuara.


"Zayden pelan kan mobilnya!" teriak Cika saat Zayden mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Zayden sama sekali tidak mendengarkan ucapan kekasihnya, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tangannya terkepal dengan sangat erat saat melihat Andra yang menatap kekasihnya dengan berbeda.


"Brengsek!!" umpat Zayden dengan memukul stir mobil dengan keras.


Cika hanya bisa memejamkan matanya saat Zayden mengamuk seperti ini. Cika sangat takut jika Zayden sudah seperti ini, jantungnya seperti akan terlepas dari tempatnya saat mobil milik Zayden melaju dengan sangat kencang.


Zayden memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran apartemen yang sangat mewah. "Keluar!" teriak Zayden menarik tangan Cika dengan keras.


"S-sakit, Zayden!" gumam Cika dengan pelan saat Zayden menariknya menuju ke apartemen pria itu.


Zayden membuka pintu apartemennya dengan tidak sabaran setelah terbuka Zayden langsung mendorong tubuh Cika hingga membentur kursi.


"Mau ngapain lo sama pak Andra tadi? Mau berduaan, iya? Lo godain duda, hah? JAWAB GUE!" teriak Zayden mencengkram dagu Cika dengan kuat.


"Ay, sakit!" gumam Cika dengan mata yang berkaca-kaca.


"Peduli gue apa? Lo selalu buat gue marah!" teriak Zayden dengan keras.


Cika berusaha mendorong tubuh Zayden agar menjauh darinya. Ia harus bisa keluar dari apartemen Zayden. Cika mencoba berlari namun tangannya di cekal oleh Zayden.


Plak...


Zayden menampar pipi Cika dengan keras. Cika terhuyung ke belakang dengan kepala yang berdenyut sakit. Cika tak mampu melawan Zayden, tubuhnya lemas dan terjatuh di lantai.


"JAWAB PERTANYAAN GUE! LO MAU NGAPAIN KE RUANGAN PAK ANDRA? DI KASIH APA LO SAMA DIA?" teriak Zayden dengan murka.


"Hiks...aku gak tahu, Ay! Tiba-tiba pak Andra nyuruh aku ke ruangannya. Mungkin untuk membantu memeriksa tugas mahasiswa seperti biasa," jawab Cika.

__ADS_1


Zayden tertawa sinis. "Seperti biasa? LO SERING KETEMU PAK ANDRA? KALIAN SERING BERDUAAN DI RUANGANNYA? JAL.."


"ZAYDEN STOP! AKU BUKAN WANITA YANG SEPERTI ITU!" teriak Cika dengan menangis.


"Hiks.... Kamu jahat hiks..."


Zayden berjongkok di hadapan Cika. Ia menyeka darah yang berada di sudut bibir Cika akibat tamparannya.


"Aku gak suka kamu dekat dengan pak Andra! Lelaki manapun yang mendekati kamu, aku gak suka, Ay!" gumam Zayden dengan pelan.


"Aku cemburu! Kamu milik aku, Ay!" ucap Zayden memeluk Cika dengan erat.


"Aku mau pulang!" ujar Cika dengan serak.


"Gak boleh! Aku masih kangen sama kamu!" rengek Zayden dengan manja. Sikap kasarnya tadi entah hilang kemana yang membuat ketakutan Cika sedikit berkurang.


"Aku gak mau! Kamu jahat! Pipi aku sakit hiks!" ucap Cika memukul dada Zayden dengan keras.


"Maaf, Ay! Nanti aku obati tapi kamu jangan pulang dulu! Aku mau di peluk kamu sambil tidur!" ucap Zayden dengan manja.


Zayden menggendong Cika menuju kamarnya. Sikap Zayden yang seperti ini selalu membuat Cika bimbang antara ingin melepaskan atau tidak.


Zayden merebahkan tubuh Cika di kasurnya, ia menindih tubuh Cika dengan perlahan dan membenamkan wajahnya di perut Cika. Cika merasakan bajunya basah.


"Ay, kamu nangis?" tanya Cika dengan perlahan.


"Maafkan aku, Ay! Hiks gara-gara aku bibir kamu berdarah!" ujar Zayden merasa bersalah.


"Gak apa-apa! Nanti bisa diobati!" gumam Cika mengelus rambut Zayden dengan lembut.


"Kamu pasti marah sama aku, kan? Iya, kan Ay?" tanya Zayden menatap Cika dengan mata yang memerah.


"Aku marah sama Aiden. Dia galak, cemburuan, kasar, posesif!" gumam Cika dengan pelan.


"Aku bakal marahin Aiden! Berani-beraninya dia buat pacar Zayden terluka! Bodoh!" ucap Zayden memukul kepalanya sendiri.


Cika menahan tangan Zayden yang hendak memukul dirinya sendiri lagi. Cika memeluk Zayden dengan erat.


"Jangan kasar lagi aku gak suka!" gumam Cika dengan pelan.


Entah didengar oleh Zayden atau tidak tetapi lelaki itu semakin memeluknya dengan erat. "Jangan pergi, Ay! Aku butuh kamu," gumam Zayden dengan pelan.

__ADS_1


Cika hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia menahan rasa sakit di kepalanya demi menenangkan Zayden. Sikap manja Zayden yang seperti ini membuat Cika sulit untuk melepaskan Zayden.


__ADS_2