It'S Perfect

It'S Perfect
Future wife


__ADS_3

Sirine ambulance membelah jalanan yang cukup padat pengendara. saat itu Saga terlihat sangat cemas melihat keadaan Lesya dengan peeban di tangannya. entah kenapa Lesya melakukan hal bodoh macam ini.


"kenapa lu nekat si mba, apa yang bikin lu kaya gini coba?" ucap Saga sembari menggapit jemari Lesya dengan tangannya.


"suster kok mba Lesya tambah pucat si?" Saga mendadak sangat cemas.


"sepertinya pasien kehilangan banyak darah dek, jadi kita harus cepat membawanya ke rumah sakit. kalu tidak entahlah apa yang akan terjadi."


"mba jangan mati dong mba! kalo mba mati siapa yang marahin gua? masa ia gua baru 17 tahun udah jadi dua?!" rengekan Saga terdengar jelas oleh suster yang saat itu membantu menangani Lesya.


Setelah cukup lama berada di jalanan, akhirnya ambulance sampai di rumah sakit terdekat daei kantor Lesya. saat itu Dokter langsung menangani Lesya yang sangat urgent karena kehilangan banyak darah.


Saga tak hentinya menatap ke pintu ruangan Lesya di tangani. ia melihat suster bolak-balik keluar masuk ruangan membawa beberapa kantung darah untuk Lesya. dan disaat bersamaan orang tua Lesya yang sudah di beritahu segera datang.


"nak Saga apa yang sebenarnya terjadi?" tanya tuan Guntara.


"sebenarnya tadi waktu di kantor, Saga keluar untuk cari makan siang pa. tapi, ketika Saga sampai mba Lesya udah kaya gini waktu Saga dobrak kamar mandi, mba Lesya mengiris pergelangannya dengan gunting pa!"


orang tua Lesya tidak memperhatikan swbutan apa yang Saga pakai untuk istrinya, yang mereka pikirian hanyalah keadaan Lesya saat ini.


"gimana ini pa? gimana kalo Lesya ga bisa tertolong!" nyonya Guntara pun memeluk suaminya dengan airmata yang terus mengalir.


"ada apa ini jeng, kenapa dengan Lesya" mendengar suara dari nyonya Darmawan, nyonya Guntara pun menghambur kedalam pelukannya.


"ini terjadi lagi jeng, aku yakin ini semua ada hubungannya dengan Arvin!"


'Arvin! gimana bisa mama tau? dan ,'lagi' itu berarti dulu mba Lesya pernah bunuh diri kaya gini. sebenarnya apa yang di lakuin oleh si Arvin itu sampe segitunya mba Lesya sama dia'


"sebenarnya siapa Arvin itu ma?" Saga akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada mertuanya.


"jadi kamu belum tau soal Arvin nak Saga?" tanya nyonya Guntara.


dan ucapan nya hanya di balas dengan sebuah gelengan kepala dari Saga yang mendekat.


nyonya Guntara pun melangkah ke arah Saga dan menggenggam jemari Saga "maaf nak,mama tidak berhak menceritakan hal ini selama Lesya belum menceritakan sendiri sama kamu sayang. mama yakin suatu saat Lesya akan memberi tau kamu!"


"kenapa harus di sembunyikan? apa hal ini akan membuat keluarga kami marah jika mengetahuinya?" sahut Saka yang saat itu baru datang bersama dengan istrinya.


"mereka tidak menyembunyikan apa-apa Saka, mami papi tau soal ini! tapi, benar apa yang di ucapkan oleh nyonya Guntara. yang lebih berhak adalah Lesya sendiri." sahut tuan Darmawan.

__ADS_1


"Saga harus tau apapun yang menyangkut dengan Lesya ma, pa, pi, mi! karna saat ini Lesya itu istri Aku!" protes Saga.


ting


ruangan itu terbuka dengan beberapa petigas medis yang ikut keluar. dan saat itu pula Saga segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Lesya saat ini.


"pasien sudah bisa di jenguk, tapi jangan terlalu di ajak bicara dulu ya"


tanpa membalas ucapan dokter, kini Saga langsung menemui istrinya yang sedang terbaring lemah.


"hei.. apa masih sakit" entah kenala Saga mendadak lembut setelah ia sedikit meradang saat mempertanyaan tentang Arvin.


Lesya menatap sendu wajah Saga yang saat ini ada di sisi kanan ranjangnya. begitupun dengan Saga yang berbalik menatap Lesya dengan senyum tipisnya.


namun ketika ia tengah memperhatikan wajah Lesya, nyonya Guntara pun berbisik sesuatu di telinga Saga yang membuat dahi Saga berkerut.


💜💜


Keesokan harinya Liyora mencari Saga, namun ia tidak menemukan keberadaannya sama sekali. ia justru menjumpai Dikta dan Alden yang sedang di kantin sembari menyeruput minuman yang mereka pesan.


"kalian tau dimana Saga?" tanya Liyora.


"belum berangkat" balas Dikta


"itu anaknya baru dateng" Alden menimpali ucapan Dikta.


saat melihat kedatangan Saga dengan cepat Liyora menghambur kedalam pelukan Saga. tetapi hari ini ada yang sedikit berbeda, biasanya Saga akan merangkul lama setelah Liyora masuk kedalam pelukannya.


"kamu tunggu disini, aku akan berbicara dengan mereka dulu" ucap Saga yang kini menuju kepada kedua sahabatnya itu.


"gua butuh bantuan dari kalian!" ucap to the poin Saga, dan hal itu membuat Alden dan Dikta saling memanatap heran.


"emang lu butuh bantuan apa si Ga kayanya penting banget" Alden pun menimpali ucapan Saga.


"gua mau kalian bantu cari tau siapa itu Arvin!"


"lah emang kenapa cari tau si arvin, gaklah gua gak mau gak kenal gua sama tu yang namanya Arvin."


"si Arvin itu yang bikin Lesya nyium Dikta!" tiba-tiba saja Saga menatap tajam ke arah Dikta.

__ADS_1


"yang bener Ta? wih menang banyak lu Ta!"


"itu semua karna mba Lesya mabuk! tapo ada yang aneh menurut gua"


"aneh karna lu suka di cium Lesya?" celetukan Saga membuat Adlen menahan tawanya.


" lu cemburu ya Ga?" ucap Alden yang cengengesan.


"udah-udah itu gak penting. yang gua heran, kenapa mba Lesya bisa mabuk? padahal disitu gak ada minumam beralkohol sama sekali kan! coba kalian pikir, ini pasti ada yang ngerjain mba Lesya kan?"


"lu bener Ta, tapi itu kita bahas nantian aja. sekarang yang kita perlu tau itu siapa si Arvin, kenapa dia bisa bikin perempuan kaya Lesya jadi lemah dan bahkan bunuh diri sampek dua kali!"


"bunuh diri?"lirih Dikta sembari memastikan kepada Saga.


"ya, semalam Lesya bunuh diri setelah gua ndesek dia siapa itu Arvin!" Saga memijat keningnya yang tak pusing. "gua yakin tu cowok pasti cowok brengs*k" sambungnya lagi.


"kenapa lu bisa berpikir kaya gitu Ga?" kini Dikta yang bertanya terhadap Saga..


"pasti tu cowo ninggalin Lesya swtelah dia berbuay sesuatukan makanya cewe sperti Lesya bisa sampek bunuh diri"


"itu berarti tu yang namanya Arvin harus kita kasih pelajaran. enak aja dia nyakitin my future wife"


plak


Saga pun menampol Alden dengan sesikit keras segingga membuat Alden meringis kesakitan. "jangan macem-macem lu. lu luoa dia itu iatri gua!"


"heh iya emang dia istri lu. tapi lukan punya dia" Alden menunjuk Liyora yang masih duduk di sebuah bangku kantin yang cukup jauh dari tempat duduk mereka.


mengetahui di perhatikan, Loyora tersenyum menatap Saga dan hal ituoun di balas senyuman manis Saga.


"ya emang dia punya gua, tapi gua gak suka ya lu bilang Lesya future wife lu." Saga kemudian beranjak pergi meninggalakn kantin tersebut.


"yah cembukur tu anak" ucap Aldaen dan Dikta hanya menggeleng melihat kelakuan dari Alden.


Kini Saga berjalan menuju kelasnya. didalam sana ia masih berpikir tentang Arvin dan Lesya. "apa sangat seberarti itu yang namanya Arvin?"


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2