
brak..
brak..
beberapa orang masuk secara paksa hingga membuat Friska ketakutan. ia tau orang-orang itu adalah suruhan dari rentenir yang dihutangi oleh ibunya.
"mana ibu kamu, dia harus segera bayar hutang!" bentak salah satu orang.
"mama gak ada di rumah, dia pergi. a-aku gak ta-tau mama kemana!"
"halah alasan!"
orang-orang itupun mengacak-acak rumah Friska hingga membuat keadaannya ruamahnya berantakan seperti rumah yang terkena gempa bumi yang dahsyat.
"jangan bawa barang-barangku, kalian gak ada hak!" Friska berteriak dan menangis sesegukan.
memang apa yang bisa dilakukan oleh gadis SMA untuk melawan orang-orang yang kejam seperti otu selain hanya meluapkannya dengan airmatanya.
"kami beri waktu satu minggu, kalau kamu tidak bisa melunasi hutang yang 500 juta itu, rumah ini akan kami jual!" ancam salah satunya dan berlalu pergi.
pandangan mata Friska menyapu tiap sudut rumahnya yang kini kosong dengan beberapa figura yang sudah berantakan.
"mama, kenapa mama tega ninggalin Friska? apa mama gak sayang sama Friska!"Friska menangis hingga kedua matanya menjadi sembab.
Friska berjalan gontai menuju kamarnya, perlahan ia jatuhkan tubuh lemahnya di atas tempat tidurnya.
"aku harus cari uang sebanyak itu dimana dalam waktu satu minggu? aku gak boleh kehilangan rumah ini, ini satu-satunya yang aku punya!" Friska menyeka kembali airmata yang tak hentinya menganak sungai diwajahnya.
-
"lu kenapa Ga, dari tadi monyong aja kerjaannya?"tanya Alden. "atau jangan-jangan lu berantem ya sama pacar baru lu?"
Saga masih belum menjawab pertanyaan dari Alden, ia justru terlihat meradang dengab tatapan yang menghunus menatap Alden dan juga Dikta yang baru datang.
"kalian sengajakan nutupin kalo gua ternyata udah nikah sama mba Lesya?" ucap Saga penuh penekanan.
saat itu Alden dan Dikta hanya terdiam dengan ucapan Saga yang telah mengetahui statusnya dengan Lesya.
"kalian pada, kenapa gak sembunyiin hal ini dari gua?" sekali lagi Saga menanyakan hal ini kepada Alden dan juga Dikta yang masih tertegun.
__ADS_1
"kita nutupin ini karena alasan kesahatan lu Ga! jadi lebih baik lu tenangin diri lu, jangan emosi. inget lu itu abis kecelakaan!" tutur Dikta dengan ketenangannya yang selalu bisa meredamkan kemarahan orang lain.
"oke gua tenang, tapi kalian harus cerita sama gua kenapa gua bisa nikah sama mba Lesya?"
awalnya Dikta ragu untuk menjawab pertanyaan dari Saga, namun semuanya di ambil alih oleh Alden yang mulai menceritakan bagaimana kejadian ketika Saga harus terpaksa menikahi Lesya sebagai pengganti daei kakaknya Saka.
"udah gua duga! gua nikah bukan karena cinta. dan yang lebih bodoh, kenapa Mba Lesya terima-terima aja dinikahin smaa gua? harusnya dia nolak karna tau gua masih sekolah!" Saga bangkit dari duduknya dan meremas kertas di tangannya. "gua yakin dia punya maksud tertentu sama keluarga gua" Sagapun pergi dari ruang kelasnya.
"eh Ga gak gitu, gua belum selesai cerita!" Alden meneriaki Saga yang sudah pergi entah kemana.
"ini malah bikin semakin runyam karna cerita yang belum selesai Alden!"Dikta merasa khawatir akan sikap Saga terhadap Leaya nantinya.
-
[sore hari di rumah sakit]
ketika itu, Lesya tengah menyuapi ibu mertuanya yang tengah terbarinh di ruang rawat. Lesya sangat telaten merawat ibu mertuanya. selain itu, Lesya rela membatalkan beberapa meeting pentingnya hanya untuk merawat sang ibu mertua.
"sayang, apa tidak apa-apa jika kamu membatalkan meeting-meeting kamu sayang?" lirih nyonya Guntara.
Lesya lalu mengusao tangan ibu mertuanya dengan lembut."mami jangan khawatir, semuanya akan di urus oleh asisten Lesya mi. Lesya yakin semuanya akan baik-baik saja. lagi pula yang terpenting adalah kesehatan mamikan, Lesya gak bisa kalo hatus tinggalin mami sendiri disini!"
'aku emang gak salah suka sama kamu Lesya. kamu begity menyayangi mami, seperti kamu menyayangi ibumu sendiri. kenapa dulubaku begitu bodoh dengan menolak menikahimu hanya untuk memilih Ella yang matre! tapi aku berjanji dengan diriku sebdiri, bahwa aku akan menjadikanmu menjadi milikku. karena memang itu yang seharusnya!'
"eghem, apa aku mengganggu?" ucap Saka sembari membawakan makanan untuk Lesya.
"sama sekali enggaklah kak Saka!" balas Lesya dengan senyum tipis di wajahnya. lalu melihat sesuatu yang di sodorkan oleh Saka wajahnya menelisik ke arah benda tersebut."apa ini kak Saka?"
"itu buat kamu, dari pagi kami nungguin mami pasti kamu belum makan kan?"
"tidak perlu repot kak, di dekat sinikan ada kafe, aku bisa cari makan disitu nanti!"
"sudah sayang, kamu harys makan sekarang. mami juga udah kenyang!"
"hemm iya mi nanti pasti Lesya makan. dan kak Saka, terima kasih atas makanannya!"
ucapan Lesya dibalas dengan anggukan dan senyum dari Saka yang saat itu duduk di sebelah Lesya dengan menarik kursi yang ada di ruang rawat ibunya.
ceklek
__ADS_1
semua mata tertuju ke arah pintu yang baru saja terbuka dengan kasar. saat itu Saga berdiri dengan sorot mata yang menajam kearah Lesya.
"gua mau kita pisah"
jedar
bagai tersambar petir, seseorang yang sangat ia cintai yaitu suaminya sendiri menginginkan perpisahan. sontak hal itu membuat Lesya berdiri dari duduknya dan mendekat kearah Saga.
"kalau kamu bahas ini, jangan disini Saga! apa kamu mau mami sakit?" lirih Lesya yang masih terdengar oleh telinga Saga dan Saka.
"Saga, apa yang kamu katakan. mami tidak akan mengizinkan kamu menceraikan Lesya!"
Lesya lalu kembali mendekat ke arah ibu mertuanya yang saat itu berusaha bangkit dari posisinya. "mami, mami istirahat ya. mami jangan mikir aneh-aneh okey?"
"tapi kamu janji gak akan ninggalin mami kan sayang?" ucapan nyonya Guntara di angguki oleh Lesya yang tersenyum getir.
"Lesya harus bicara sama Saga dulu ya mi, dan kak Saka tolong jaga mami"
"tentu Lesya, aku pasti akan jagain mami!" sahut Saka menimoali ucapan Lesya.
Lesya pun segera menarik Saga keluar ruangan untuk berbicara. dan dengan kasar Saga menghempaskan tangan Lesya.
"jangan pegang-pegang gua! sekarang gua tau kita nikah secara paksa dan kenapa lu mau nikah sama gua yang jelas-jelas masih SMA, gua yakin lu punya niat buruk sama keluaraga gua kan?!"
sungguh hati Lesya terasa nyeri mendengar ucapan dari Saga yang bahkan bukan hanya menolaknya, justru Saga tega menuduhnya mempunyai niatan yang buruk terhadap keluaraga yang sangat ia sayangi.
"dulu kita memang terpaksa menikah. tapi apa kamu tau Saga, kita sudah saling mencintai sebelum kamu mengalami amnesia!"
"halah itu cuman akal-akalan lu buat bikin gua bimbang kan? gua udah tau kalo gua itu terpaksa nikahin lu dan gak mingkin gua secepat itu cinta sama lu! dan gua minta lu pergi dari keluarga gua!"
"TIDAK ADA YANG AKAN PERGI!"
ucao seseorang yang baru datang di antara Lesua dan Saga.
.
.bersambung
.
__ADS_1