It'S Perfect

It'S Perfect
Rumah Kita


__ADS_3

Deru nafas Dikta yang memburu menerpa kulit wajah Alden yang kini hanya berjarak beberapa senti saja. Hal itu semakin membuat Alden panik, berada sedekat ini dengan Dikta mengingatkannya dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu dengan Dikta.


'Nggak, ini gak boleh terjadi lagi! Gue gak boleh ngelakuin itu. Gue takut gue terlalu berharap dan ujungnya gua bakalan malu dan terluka. Gua harus jadi Alden yang dulu, biar Dikta gak semena-mena jadiin gua lelucon.'batin Alden


Sementara itu Dikta terus mengikis jarak mereka, meskipun ini hanya untuk rencananya membuat Alden berkata jujur, namun pesona Alden barhasil membuat Dikta susah payah menelan salivanya hingga gerakan jakunnya yang naik turun.


'Tahan Dikta, lu harus tahan. Lu harus bisa bikin Alden ngakuin perasaannya sama lu, setelah itu lu baru bisa lakuin apa yang lu mau.'


"Dikta! Lu gak usah keterlaluan kenapa si? Gua mau sarapan, lu malah ngehalangin gua kaya gini" pekik Alden seraya mendorong Dikta dan berlalu keluar ruangan.


Dikta melihat kepergian Alden, ia tidak menyangka Alden akan semarah ini dengannya. Harapannya adalah membuat Alden manyatakan perasaan, justru kali ini Dikta harus menerima kemarahan dari Alden.


Sementara itu di laon tempat, Dylan dan Yoo joon tengah bersitegang dengan Saka di kantor Darmawan.


"Perusahaanmu sudah anfal Saka, dan aku sudah mengakuisisinya. Jadi semuanya ada ditanganku dan Yoo joon. aku beri waktu dua hari untukmu membereskan urusanmu disini." Ucap Dylan.


Seketika Saka marah besar, ia tidak tau apa yang ia lakukan dengan bekerja sama dengan Arga justru membuatnya rugi dan mengalami hal ini. Sementara itu tuan Dsrmaean justru sedang keluar negeri dan tidak tau menau mengenai jatuhnya perusahaannya ke tangan orang lain.


Setelah Dylan dan Yoo joon meninggalkan perusahaannya, kini Saka menuju kantor Arga. Sesampainya disana Saka segera memasuki ruangan Arga tanpa membuat janji, sehingga dengan terpaksa ia harus menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Seorang satpam mengusirnya hingga terjatuh di lantai depan ruangan Arga.


Tap tap tap


Langkah kaki besar bardiri dihadapannya yang berasal dari dalam ruangan.


"Ada apa dengan mu tuan Saka, kenapa kau bersantai didepan ruanganku?" Ucap Arga ditemani oleh Doni tangan kanannya sekaligus sahabat.


"Tuan Arga, kita harus bicara."Saka mendongak dan kemudian bangkit dari posisinya.


"Urusan kita selesai setelah kontrak kerja kita berakhir tuan Saka."tuturnya.


"Ini tidak bisa tuan Arga, anda harus bertanggung jawab atas kerugian kita."


"Tunggu dulu tuan Saka, bagaimana bisa aku yang bertanggung jawab jika kau sendiri yang membuat kesalahan"


"Apa maksudmu tuan Arga?"


"Kau sendiri yang salah mengenali siapa aku!"


"ARGA" teriak Saka yang penuh kekesalan.


"Percuma kau marah-marah tuan Saka, jika perusahaanmu sudah tidak bisa diselamatkan"


"Tapi kenapa kau lakukan itu keperusahaanku tuan Arga?"


"Itu bukan urusanmu, lebih baik kau pergi sekarang dari katorku!" Titah Arga, namun Saka bersikeras untuk tetap meminta Arga membantunya untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ia alami.

__ADS_1


Arga menekan smart watch nya untuk memerintahkan Doni membawa satpam untuk mengusir Saka. Sesaat setelah ia menghubungi Doni, dua satpam datang dan memvawa paksa Ska keluar dari ruangan Arga.


Melihat Saka yangbmenderita membuat Arga tersenyum puas. "Aki hampir saja membuat kesalahan membantumu melawan Dylan dan Yoo joon,Saka." Arga menatap tajam kepergian Saka.


_Flashback On


"Kenapa kau justru membuat Saka bangkrut Arga? Kau bilang kau akan membuatnya menjadi pionmu untuk balas dendam?"


"Itu sebelum aku tau kebenaran tentang Lesya Don. apa kau tau Don, Lesya perempuan yang pantas dicintai oleh bang Arvin. Aku tidak heran jika bang Arvin relangorbanin nyawanya Don"


'Karna akupun sama, jika aku memiliki seseorang seperti Lesya, aku akan mengorbankan nyawaku jika perlu'sambung Arga didalam benaknya.


"Jadi Lesya memang pantas dicintai?" Doni menggoda Arga.


"Ya, memang!"


"mungkin aku bisa mencoba mencintainya menggantikan Arvin" celetukan Doni berhasil membuat tatapan Arga menghunus seperti pedang kearahnya.


"Wait, ini kenapa kamu kaya gitu Arga? Kamu gak suka aku mencoba gatiin tanggung jawab Arvin?"


Aega masih terdiam, ia menatap tajam Doni yang ada dihadapannya. Ia lalu mendekatkan wajahnya kedekat telinga Doni. "Jangan memancingku Doni, kau tau aku seperti apa!"


"Ya tentu, aku hanya ingin memastikan. Aku ingin mendemgar pengakuanmu langsung Arga!"


"Aku sepertinya punya solusinya Arga, supaya Lesya memaafkanmu dan mau dekat denganmu!" Ujar Doni sembari menarik sudut bibirnya tersenyum penuh maksud.


_


Saga dan Lesya kini pergi ke apartemen dimana Lesya tinggal setelah melihat keadaan Kenan di rumah sakit. Disana Lesya masih berada didalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Sementara itu,tanpa Lesya tau Saga berkutat didapur dengan celemek yang menempel ditubuh proporsionalnya. Karena sebelum kembali ke apartemen, Saga dan Lesya menyempatkan untuk berbelanja bahan makanan.


"Saga, kamu bisa masak?"


Saga mengukir senyuman sembari melanjutkan kegiatan memasaknya. Sesaat memasukkan daging yang sudah ia iris, ia menarik Lesya dan memposisikan dirinya dibelakang Lesya yang tengah mengaduk masakan yang sudah Saga mulai sejak tadi. Sehingga saat itu saat Lesya fokus dengan masakannya, Saga justru memeluk Lesya dan sesekali iseng meniup tengkuk Lesya.


"Saga.."


"Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini sayang.." bisik Saga sehingga membuat bulu kudu Lesya meremang.


Setelah masakannya matang, Lesya segera mematikan kompornya. Lesya lalu berbalik dan menutup mulut Saga. "Kan kalo kaya gini kamu gak bisa usilin aku Saga"


Tanpa membalas ucapan Lesya, Saga justru menggeser Lesua dan menaikkan Lesya di meja dapurnya.


"Saga.." Lesya menekan pundak Lesya. Saat ini posisinya masih lebih rendah dengan Saga, karena memang Saga yang terlampau tinggi. Meskipun Lesya sudah didudukan diatas meja dapur ia belum bisa lebih tinggi dari Saga.


Lesya hendak turun dari meja tersebut, namun Saga mengekangnya dan menatap lekat Lesya sehingga Lesya berhenti dengan ocehannya karena Saga sudsh lebih dulu menutup mulut Lesya dengan sebuah kec*pan.

__ADS_1


"Sa.. hmmpp"


Kali ini Saga bukan hanya sekedar mengec*p bibir ranum istrinya, Saga menci*m lembut. Dan perlahan ia sedikit menaikan intesifitas kegiatannya dengan Lesya. Cukup lama mereka berpagut dan melepasnya setelah nafasnya terengah.


Saga menatap lekat istrinya dan mengukir senyum diwajahnya. "Mulai besok kita akan tinggal di rumah kita yang sudah aku siapkan!"


Denga segera Lesya mengangguki icaoan Saga. "Tapi sebelum itu aku mau kamu bertemu dan menjelaskannya dengan mama dan papa"


"Pasti sayang, dan aku akan membuktikan kalu aku bisa membahagiakan putri mereka!" Saga lalu menarik Lesya kedalam pelukannya kembali.


Drrtttt Drrttt


Ponsel milik Saga tiba-tiba berdering. Saat itu Saga segera meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja.


"Siapa Saga?"


"Entahlah.."


"Iya halo.."


"Apa ini dengan keluarga bapak Saka?"


"Iya saya adiknya, ada apa? Dan ini dengan siapa?"


"Begini pak, kami dari pihak rumah sakit xxx. Tadi pak Saga di bawa ke rumah sakit kami karena mengalami kecelakaan tunggal. Dan kami menghubungi seseorang dari ponselnya untuk memberitahukan keadaannya"


"Baik terima kasih, saya akan datang"


Saga mengerutkan dahinya. Ia lalu menatap Lesya.


Sontak Lesya melebarkan pandangannya.


"Ada apa Saga?"


"Kak Saka kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit Lesya!"


"Apa, kecelakaan?"


'Apa ini ada hubungannya dengan Dylan dan Yoo joon, setauku mereka tidak berhubungan baik. Dan tadi, tadi mereka bilang ingin memberi pelajaran! Pelajaran untuk siapa?' Itulah yang ada di benak Saga kali ini.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2