
Dikta melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. kali ini ia benar-benar tidak bisa membiarkan apapun memisahkannya dengan Alden.
dalam kecepatan penuh Dikta melewati semua kendaraan yang berlalu lalang dijalanan. dalam waktu sekejap ia tengah sampai di sebuah bandara. ia mengedarkan pandangannya saat itu ia mendapati Alden yang hendak menaiki pesawat.
"Alden" Dikta berteriak dan membuat Alden menoleh kearahnya.
Dikta berusaha menerobos Keamanan, namun ia dilarang dengan dipegangi oleh pihak sekuriti. namun dengan kemauannya yang tinggi Dikta berhasil melepas pegangannya dan berlari ke arah Alden.
saat itu Samuel yang melihatnya hendak menghubungi Anak buahnya, namun Alden mengangkat tangannya melarang kakaknya untuk menyuruh anak buahnya mengamankan Dikta.
"fuh.. akhirnya aku menemukanmu Alden" dengan nafas yang berat Dikta bernafas lega karena menemukan Alden.
"untuk apa lo kesini Dikta"
"Alden? apa yang kamu katakan? "
"aku akan pergi bersama kakakku, dan aku akan menikah dengan tunangan besok lusa"
"nggak, itu gak boleh terjadi" Dikta meraih tangan Alden, namun Alden segera menghempaskan tangan Dikta dan memilih untuk segera masuk kedalam pesawat. namun lagi-lagi Dikta menahannya.
"hentikan Dikta, jangan halangi sahabat kamu." kali ini Samuel angkat bicara dan menarik Dikta agar tidak menghalangi adiknya.
"jangan bersikap seperti ini kak Samuel. aku tau kau yang sudah melakukan hal ini!"sontak raut wajah keterkejutan menghiasi wajah maskulinnya dan juga wajah Alden.
"apa yang kau katakan, aku tidak mengerti"
"aku bisa melaporkanmu karena aku hanya perlu memperlihatkan semua luka ditubuhku. dan polisi akan menangkapmu kak Samuel"
"Dikta" Dikta mengangguki Alden.
"aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, tapi aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti itu padaku kak Samuel." Dikta menggeleng beberapa kali.
Kekecewaan terlihat jelas dimata Dikta, begitupun dengan Samuel sendiri. ia sebenarnya terpaksa melakukan hal itu karena ia tidak ingin adiknya menjadi bulan-bulanan karena memiliki pasangan yang berbeda dari yang lainnya.
"tolong kak Samuel, jangan lakukan ini dengan kami. jika kakak takut akan masa depan Alden, aku berjanji akan mengubah pandangan orang lain tentang hubungan kami. tapi kak Samuel harus memberi kami waktu untuk membuktikannya!"
saat itu Samuel terlihat berpikir. ia begitu berat untuk menyetujui ucapan Dikta.
tring
ponselnya berdering, dengan segera Samuel memeriksa dari saku celananya. dan ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"iya halo pa"
"... "
"iya ini Samuel sedang di bandara, dan Muel akan segera berangkat pa"
"..."
"apa? jadi itu tujuan kalian menikahkan Alden? "
"...."
"baik pa"
__ADS_1
klik
Samuel segera mengakhiri sambungannya dengan ayahnya. dan saat itu ia menatap dalam adiknya.
-
"Aaaa..... " Dikta berteriak ditepi pantai. dan mendadak sepasang tangan melingkar dipertanyakan dari belakang.
"aku gak nyangka kak Muel bakal ngizinin hubungan kita setelah dia melakukan hal kemarin sama kita Ta"
Dikta menoleh kearah Alden yang menyandarkan dagunya tepat dipundak Dikta. ia lalu mengecup Alden sekilas dan menyunggingkan senyumnya.
"aku juga berpikir begitu Al. entah apa yang membuatnya berubah pikiran sehingga membiarkanmu pergi denganku. dan aku tidak akan mengecewakan dukungan dari kak Muel untuk kita Al"
Dikta memutar badannya dan kini mereka saling memeluk.
"Dikta, darimana kamu tau kalau kak Samuel yang menyekap kita berdua? "
"dari mba Lesya"
"jadi mba Lesya yang membocirkannya? "
"tidak Alden. mba Lesya mana pernah mengingkari janjinya. aku sengaja mengikutinya saat dia menghubungimu kemarin, jadi aku tau siapa yang membuat kita disekap.
"tapi syukurlah, sekarang tidak ada yang akan menyekap kita"
-
Lesya bergegas untuk berangkat ke kantornya, namun pagi itu Saga justru sudah meninggalkan rumah lebih dulu karena harus ke kampusnya. ia mendapat jadwal untuk kelas pagi sehingga tidak sempat mengantarkan Lesya pergi ke kantor.
Saka yang menyadari hal itu segera menyenggol tangan Liyora dan mengisyaratkan meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lesya dan Saga.
Liyora lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya dan ia kirim melalui pesan untuk Saka.
***Saga sedang marah besar dengan Lesya. karena kemarin aku mengikuti Lesya dan saat itu Lesya tengah menyuapi Dikta. dan aku mengambil foto mereka dan aku mengirimkannya kepada Saga! sejak Ssga melihat foto itu dia marah besar hingga pagi ini Saga berangkat lebih pagi dan tidak mengantar Lesya ke kantor. ~Liyora
Tapi apa yang terjadi? kenapa Lesya bisa menyuapi Dikta? dan apa Lesya benar-benar mengkhianati Saga? ~Saka
aku juga tidak tau kak, tapi keadaan Dikta sangat parah seperti habis di hajar oleh orang. dan aku tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka saat itu. tapi aku yakin Lesya tidak berselingkuh dengan Dikta. kau tau seperti apa itu Lesya. tapi karena kecerdikanku, aku berhasil membuat Saga marah dengannya. ~Liyora***
"emm Dina, tolong kamu jaga kak Saka dengan baik ya. aku harus segera berangkat ke kantor"
"injeh mba Lesya. Dina pasti rawat mas Saka sampai sembuh"
"baiklah aku berangkat dulu"
Lesya berangkat ke kantornya dengan mengemudikan mobilnya sendiri. namun dipertengahan jalan ia melihat kerumunan anak kecil yang sedang mengamen. sontak rasa iba muncul begitu saja dan membuatnya turun untuk menghampiri anak-anak jalanan.
"adik-adik, dimana orang tua kalian? "
"kami tidak punya orang tua kak, dan kami dipaksa untuk seperti ini"
"apa? siapa yang memaksa kalian? "
"hoe.. "
__ADS_1
seseorang berteriak dan membuat semuanya terperanjat kaget. ternyata saat itu kepala premanlah yang berteriak dan datang dengan beberapa anggota preman ikut mendatangi Lesya.
"siapa lo berani nanya-nanya sama anak-anak ini? " ucap sang jetua preman.
"kalian tidak perlu tau siapa aku. tapi apa yang kalian lakukan ini namanya ekploitasi anak. dan ini dilarang"
"halah.. lo gak usah ikut campur, mending lo pergi dari tempat ini"
"aku akan laporin kalian ke polisi atas tuduhan eksploitasi anak dan menganggu ketenangan"
"oh jadi lu berani sama kita" dengan mengisyaratkan anak buahnya, para anggota preman itu segera menangkap Lesya.
"lepas atau aku berteriak"
"to.. mmppphhh"
seseorang sudah lebih dulu membungkamnya dan membawa Lesya ke markas preman itu. sedangkan anak jalanan itu masih tetap disuruh kerja paksa.
Lesya di ikat dan mulutnya ditutup dengan kain. saat itu anggota preman yang paling muda mendekat ke arah Lesya dan menggodanya
"ternyata lu cantik juga ya. " ucap preman tersebut sembari menyentuh dagu Lesya.
"jangan menyentuhku" meskipun tidak jelas karena tertutup kain, Lesya tetap berusaha berbicara.
"tapi malam ini kau tidak akan aku apa-apa kan karena aku masih mengantuk"
sementara itu Saga yang sepulang dari coffe shop miliknya. ia melihat disekeliling rumah namun tidak menemukan keberadaan Lesya.
"emm Dina, apa Lesya belum pulang? "
"belum mas Saga"
"oh ya udah silahkan lanjutkan pekerjaanmu"
Saga lalu berinisiatif untuk menelfon kantor Lesya. saat itu orang yang pertama ia ingat adalah Andi. dengan segera ia menghubunginya.
"hali Andi, apa saat ini istriku masih dikantor?"
"maaf Pak, bu Lesya seharian tidak ke kantor!"
"apa? lalu dia ada dimana? ya sudah terimakasih Andi"
klik
Saga lalu mencoba menghubungi Dylan, namun saat itu Dylan juga memberi jawaban yang sama. ia tidak melihat Lesya sama sekali.
"kamu dimana Lesya? " kini perasaan Saga mulai gusar. ia begitu mencemaskan kondisi Lesya saat ini yang tidak diketahui keberadaannya.
.
.
. bersambung
.
__ADS_1