
Dita melamun di dapur restoran. saat itu Dita yang tengah membantu untuk cuci piring, ia justru menjatuhkan beberapa piring hingga pecah. sontak hal itu membuat kesadarannya kembali.
"ada apa Dita, kenapa lo bisa ceroboh kayak gini? " ucap salah satu teman kerjanya.
"enggak, gue cuman lagi mikirin sesuatu May"
"apa ini ada hubungannya sama tu fans fans lo Dit? "
"nggak ada si, gue cuman mikirin seseorang aja May"
"lo lagi mikirin oppa-oppa Korea itu ya? hayo ngaku"
"ih apaan si Maya.." Dita menatap temannya dengan penuh maksud. seakan tau apa yang ada dipikiran Dita, Maya menepuk-nepuk pundak Dita.
"nanti gue main ke rumah lo ya Dit"
"iya boleh-boleh, tapi emang lo gak ada kerjaan nanti? biasanya lo kalo malem kan kerja di klub itu kan May"
"malem ini gue libur Dit, makanya gue nanti malem mau ke rumah lo, bolehkan? "
"iya boleh banget dong May"
sementara orang yang saat ini tengah dipikirkan oleh Dita pun sama halnya, Yoo joon yang saat ini berada di luar negeri pun tengah memikirkan Dita.
"kamu sedang apa Dita? apa kamu sadar kalau aku tidak ada di Indonesia?"
Yoo joon kemudian ingat ketika ia melihat Dita berpelukan dengan Dylan kala itu.
"atau mungkin kau sedang bersama Dylan dan tidak mengingatku sama sekali" raut kesedihan terpancar dari wajah Yoo joon.
"tapi meskipun kamu tidak mengingatku, aku akan tetap berusaha mencari donor untuk Kenan. karna aku benar-benar menyayangi Kenan seperti adikku sendiri. tunggu kak Yoo joon mendapat donor jantung yang tepat Kenan"
_
Saga mendatangi rumah mertuanya. saat itu kedua orang tua Lesya tengah menikmati teh dihalaman rumah sembari menikmati udara di pagi hari.
"salamat pagi pa, ma"
"pagi Saga, lalu dimana Lesya Saga? " nyonya Guntara mengedarkan pandangannya menunggu kedatangan dari putrinya.
'jika mama mencari Lesya, itu berarti Lesya tidak ada disini! lalu kamu dimana sayang?'
"oh Lesya berada di kantor ma. mama tau kan Lesya.. Lesya tidak bisa diam. dia justru akan mengeluh jika libur dari kantor" ucao Sgaa sembari menyengir kuda. "dan aku tiga tiba sangat ingin datang kesini. mungkin ini yang namanya bawaan bayi ma" sambungnya lagi.
__ADS_1
"iya itu memang bisa terjadi Saga. bisa saja kamu yang ngidam" tuan Guntara terkekeh bersama dengan Istrinya.
"tu kan pa, Lesya itu kayak gitu gara-gara nurunin kamu lo pa. dia jadi gak bisa diem walaupun disuruh istirahat, padahal dia lagi hamil muda."
"iya papa juga gak tau kalo Lesya bakal ngikutin papa ma! " sahut tuan Guntara.
"emm ya udah ya ma, pa, Saga harus pergi. karna sebentar lagi Saga akan ada kelas di kampus"
"oh iya Saga, salam buat Lesya ya sayang.. "
"iya ma, Saga pasti akan sampaikan. Saga pamit ma, pa" Saga kemudian mencium kedua tangan mertuanya.
Saga kemudian melajukan mobilnya perlahan. ia masih bingung harus mencari keberadaan istrinya.
"kami dimana sayang, sejak semalam kamu tidak pulang, dan Andi bilang kamu bahkan tidak datang ke kantor! apa kamu seperti ini karna aku mendiamkanmu? "
"kenapa aku harus bersikap seperti itu kemarin, padahal aku tau kau sedang mengandung. dan tentu saja kau sangat sensitif sayang" Saga begitu menyesali sikapnya kemarin terhadap Lesya.
kini ia bingung harus mencari Lesya kemana, hingga ia memutuskan untuk melalui jalur yang biasa Lesya gunakan. namun ada sesuatu yang menyita perhatiannya dari kejauhan. dengan rasa penasaran, Saga segera mendekati apa yang sudah mencuri perhatiannya.
Saga lalu menghentikan mobilnya dan melihat apa yang dia lihat itu benar. "ini benar mobil Lesya, lalu dimana Lesya saat ini? " Saga celingukan ia bahkan berlari memeriksa disekitaran sana mencari keberadaan Lesya, namun ia tidak menemukannya sama sekali.
perasaan Saga menjadi gelisah ketika menemukan kendaraan yang ditumpangi Lesya dalam keadaan kosong.
"sepertinya aku harus meminta bantuan Dikta dan Alden."
Saga lalu menghubungi keduanya. selang beberapa saat Dikta dan Alden datang bersamaan.
"ada apa Ga, kenapa lu tadi ngubungin kita. kedengarannya dari suara lu ini urgent banget?! " tanya Alden.
"Lesya hilang"
sontak hal itu membuat Dikta dan Alden terkejut. pasalnya kemarin Lesya yang mengurus Dikta disaat ia terluka.
"sebenarnya ini juga salahku. aku mempertanyakannya ketika akuendapat sebuah foto Lesya yang tengah menyukaimu Dikta"
Saga menunjukkan foto dari ponselnya. dan saat itu Alden dan Dikta melihat foto yang ada di ponsel milik Saga.
"astaga Saga, ini mba Lesya nolongin gua karna gua luka parah." celetukan Dikta membuat Saga menyipitkan matanya. dan ia baru sadar bahwa keadaan wajah Dikta memang banyak memar.
"dan itu gua yang nyuruh mba Lesya buat ngurusin Dikta, Saga. karna gua gak bisa ngurusin Dikta, kalo sampe kak Muel tau, dia bisa bertindak lebih lagi ke Dikta."
Saga semakin bingung ketika mendengar penjelasan dari Alden. ia tidak mengerti kenapa Samuel akan bertindak lebih terhadap Dikta. yang ia tahu selama ini Samuel sudah menganggapnya dan juga Dikta seperti adiknya sendiri. tapi kali ini Samuel akan bertindak yang seperti apa?
__ADS_1
"gua tau lu bingung denger apa yang gua omongin barusan. tapi setelah waktunya tepat, pasti gua bakal ceritain ke elu Ga. tapi yang penting sekarang kita harus cari mba Lesya"
mendengar ucapan Alden Saga lalu kembali teringat dengan istrinya yang masih belum ia temukan.
"lu bener Al, ya udah ayok kita cari. mungkin aja istri gua masih dideket-deket sini."
"eh itu ada anak-anak, mungkin aja ss alah satu dari mereka ada yang melihat mba Lesya" ujar Dikta menunjuk kerumunan anak jalanan.
dengan segera Ketiganya berlari ke arah anak-anak tersebut. namun beberapa dari anak-anak itu justru terlihat takut dan berlari menghindar.
"eh tunggu dek" Saga Dikta dan Alden masing-masing meraih satu anak. saat itu terlihat anak-anak anak itu sengaja menghindar.
"emm gini, kakak mau tanya sama kalian, apa kalian lihat perempuan yanga ada didalam foto ini? " Saga segera menunjukkan foto Lesya dari ponselnya.
anak jalanan itu hanya saling pandang dan kemudian menggeleng. "bener kalian gak tau?" pagi lagi ketiga anak itu menggeleng.
"wah sayang sekali ya, padahal kalo ada yang lihat bakalan kita kasih duwit lo" Alden sengaja mengatakan hal itu untuk mempengaruhi Anak-anak tersebut. namun ketiganya masih menggalang dan mulai beranjak pergi.
"gue yakin mereka tau sesuatu. gue bisa lihat itu dari ekspresi mereka" Alden semakin menggoda anak-anak itu dengan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"huh.. sepertinya memang gak ada yang lihat Alden" ujar Saga lemas.
"eh tunggu Saga, itu mereka datang kesini lagi"
pandangan mata Saga dan Alden mengikuti arah jari Dikta yang menunjukkan kedatangan ketiga anak yang sempat mereka tangkap.
"sebenarnya kami tau dimana kakak itu" ucap salah satunya.
"benarkah? "
"ayonkalian ikuti kita"
dengan segera anak-anak itu berlari cukup jauh dan Saga dan juga Dikta bersama Alden mengikutinya dari belakang.
saat itu anak-anak itu menunjukkan gedung tua. disana mereka melihat Lesya yang sudah lemas terikat dikursi dengan mulut yang tersumpal.
"astaga.. itu Lesya. mereka benar-benar kurang ajar"Saga hendak menyerang orang-orang yang menyekap Lesya, namun Alden mencegahnya sementara Dikta memberikan uang yang sudah mereka janjikan untuk anak-anak tersebut.
" jangan gegabah Saga, kita harus persiapkan semuanya. nanti kalau lu gausah gausah bisa bahaya ini mba Lesya" ucap Dikta.
"tapi gua gak tenang liyat istri gua digituin Dikta" Sga mengepalkan tangannya merasa sangat marah.
.
__ADS_1
. bersambung