
Sah
Kini Andi dan Via sudah resmi menjadi suami istri. Mereka menyalami neneknya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Andi.."
"Iya nek, apa ada yang sakit nek?"
Nenek Andi hanya menggeleng ia meraih tangan Andi dan menatapnya dalam dengan mata sayunya. Terulas senyum diwajahnya.
"Jaga cucu mantu nenek ya sayang, nenek gak mau kami nyakitin dia apalagi sampek kalian pisah. Kalau sampai itu terjadi, nenek tidak akan memafkanmu sampai kapanpun"
Belum sempat Andi membalas ucapan neneknya, saat itu juga nenek Andi tiba-tiba terpejam. Sontak hal itu membuat Andi cemas, ia terus memanggil-manggil neneknya namun tidak ada sahutan sama sekali.
Hingga akhirnya domter menyatakan bahwa kini nenek Andi telah tiada.
_
Setelah acara pemakaman, Andi mengenalkan Via sebagai istrinya. Saat itu pula kedua orang tua menatap Via sinis. Ia tidak menginginkan seorang menantu dari kalangan menengah.
"Andi bilang kalian menikah karena permintaan ibuku, itu berarti kalian bisa bercerai setelah ini" ucap ibu Andi dan berlalu pergi.
Sontak hal itu membuat ibu Via sangat terkejut. Hatinya terasa teriris ketika mendapati sikap dari obi Andi yang sangat menginjak-onjak harga diri Via.
Ketika melihat gestur tubuh ibunya, Via segera mencekal lengan ibunya. Ia tidak ingin terjadi perdebatan di saat berduka seperti saat ini, sementara Andi, ia bahkan hanya terdiam mendengar ucapan ibunya. Entah kenapa saat ini Andi terlihat seperti orang linglung. Mengetahui hal itu Via menyurih ibunya pulang lebih dulu dari pemakaman.
Via duduk disebelah Andi yang tengah menatap sesih pusara sang nenek. Andi menganggap neneknya adalah segalanya, terbukti dengan ia menyetujui ketika neneknya menyuruhnya untuk menikahi Via gadis yang tidak pernah terpikirkan olehnya akan mendampingi hidupnya.
"Andi, lebih baik kita pulang sekarang" ucap Via seraya menyentuh lengan Andi. Dan seketika saat itu Andi menatap Via dengan tatapan yang sulit di artikan.
Hujan mulai mengguyur, tatapan Andi semakin sendu. Perlahan ia menyandarkan kepalanya dibahu Via dan bersamaan dengan gemuruh guntur, tangisnya pecah begitu saja. Ia menangis sejadinya seperti anak kecil dan memeluk erat Via.
Via tidak mengatakan apapun, ia membiarkan Andi untuk meluapkan rasa sedihnya. Ia hanya menepuk-nepuk punggung Andi dan sesekali mengusap lembut kepala Andi.
_
Saga begitu perhatian dengan Lesya, ia tidak membiarkan Lesya mengerjakan apapun. Hingga saat itu Lesya diam-diam pergi kedapur untuk membuat nasi gireng ketika Saga tengah berada didalam kamar mandi.
"Akhirnya aku bisa membuat nasi goreng tanpa larangan-larangan dari Saga."
Lesya kini mulai menyuap nasi goreng kedalam mulutnya, ia bahkan tidak teringay akan Saga dan langsung menghabiskan makanannya.
"Heeuuuukkk..." Lesya bersendawa begitu keras, dan ia menepuk-nepuk perutnya yang terasa kenyang.
"Astaga Saga..kamu ngagetin" Lesya begitu terkejut ketika menoleh dan Saga sudah ada disampingnya dengan tangan dilipat didepan dada.
__ADS_1
"Enak?" Lesya mengangguk dengan wajah polosnya.
"Suami gak dikasih" Lesya kembali mengangguk.
"Kan aku sudah bilang sayang..
aku yang akan melakukan apapun untukmu. Jika seperti ini kau akan lelah, dan aku tidak suka istriku kelelahan!"
"Tapi aku sangat ingin makan nasi goreng Saga" Lesya mengerucutkan bibirnya merasa kesal karena Saga selalu melarangnya.
'Aduh marah ni kayaknya, kalo udah bibir di monyong-monyongin kaya bebek itu bakal susah bujuknya.' Batin Saga.
"Emm sayang gimana kalo sekarang kita kerumah papa sama mama, mereka harus tau hubungan kita yang sekarang"
"Bener?" Lesya begitu antusias hingga melupakan kekesalannya.
Akhirnya Lesya dan Saga memutuskan untuk pergi kerumah orang tua Lesya. Selang beberala menit, mereka tengah sampai dikediaman Guntara.
Tok tok
Pintu utama terbuka, Lesya memeluk erat ibunya dan juga ayahnya. Kedatangannya disambut dengan suka cita, hingga kegembiraan itu pudar setelah mendapati Saga yang ada dibalik tubuh Lesya.
"Kenapa kamu datang bersama dengan dia Lesya?" Tanya tuan Guntara dengan rahang yang mengeras.
"Ada apa pa, Saga suamiku."
Lesya lalu tersenyum, dan hal itu membuat kedua orang tuanya mengerutkan dahi.
Lesya lalu menceritakan semuanya, dan ia pun turut memperlihatkan bukti yang Saga tunjukkan terhadapnya. Namun dari raut wajah tuan Guntara, ia belum yakin sepenuhnya.
"Apa kamu yakin Saga tidak membodohimu lagi?" Tuan Guntara menatap penuh selidik ke arah Saga.
"Aku tidak akan berbohong apapun karna Lesya satu-satu perempuan yang Saga cinta pa. Dan untuk alasan kenapa Saga pergi dan menghilang, itu karna Saga menerima surat dari seseorang yang mengatakan Saga tidak pantas untuk putrinya, dan karena hal itu Saga berusaha membuktikan diri" tuturnya sehingga membuat semuanya menatap kearahnya.
"apa yang kamu maksudkan?"
Saga sudah lama merahasiakan tentang surat yang ditujukan padanya dari lesya. Namun kali ini ia akan mengatakan segalanya. dan untuk hal itu? Saga membawa surat ywrsebut dan ia tunjukkam kepada kedua mertuanya dan juga istrinya.
Saat itu keluarga Guntara merasa terkejut ketika ada surat yang mengatas namankan tuan Guntara yang mengatakan bahwa Saga bukanlah seseorang yang tepat untuk Lesya.
"ini bukan tulisan papa Saga!" tukasnya.
Saga kemudiam menatap Lesya demgan dahi yang berkerut. Ia kemudian melihatnya kembali, saat itulah tuan Guntara menunjukkan tulisan tangannya. Dan benar saja tulisan dari keduanya sangat berbeda.
Saat itulah Lesya tiba-tiba yerongat akan sesuatu.
__ADS_1
"aku seperti pernah melihat tulisan tangan seperti ini, tapi aku tidak bisa mengingat ini tulisan siapa!"
"lupakan siapa penulisnya untuk saat ini, yang jelas kita harus berterimakasih dengan orang yang menulis ini!" ujar tuan Guntara
"papa.." timpal Lesya
"tapi apa yang papamu katakan itu memang benar sayang"
"aku juga setuju dengan mama dan papa" sahut Saga. Dan hal itu membuatbLesya seketika menatapnya.
"mungkin saja aku velum menjadi suamimu yang membanggakan seperti saat ini jika surat itu tidak ada sayang.." sambung Saga.
"ah iya.. Kenapa kalo Lesya deket sama Saga, Lesya jadi lemot kaya gini si pa, ma"
"kamu itu gak lemot sayang, kamu cuman polos"
Pembicaraan itupun membuat tuan dan nyonya Guntara kembali mempercayai menantunya. Hingga saat ini mereka berencana untuk makan malam bersama karena sudah disiapkan oleh art kediaman Guntara.
Kini semuanya sudah berada dimeja makan. Nyonya Guntara begitu bersemangat untuk mengambilkan semua makanan kesukaan Lesya, khususnya telur gulung.
"ini sayang, makan yang banyak. Kami juga Saga, kamu juga harus makan yang banyak"
"iya ma, ini Lesya mau makan"
"huwekk..." seketika Lesya menutup mulutnya "maaf, Lesya gak sengaja" sambungnya lagi sembari menutup mulutnya.
"kenapa sayang, apa kamu sakit?" tanya nyonya dan tuan Guntara
"enggak kok ma, pa. Lesya cuman ngerasa mual aja pas mau makan telur gulungnya"
"syukurlah.."
"mama anaknya sakit kok malah bersyukur?" ucap tuan Guntara
"papa ni kaya gak tau aja. Papa ingetkan waktu mama ngidam dulu?"
"ngidam?" ucap Lesya dan Saga bersamaan.
"iya ngidam!"
"tapi kita baru baikan sekutar dua minggu ma, mana mungkin secepet itu Lesya hamil?" pungkas Lesya.
"udah lebih baik nanti kamu chek ke dokter sama suami kamu"
Saga terlihat memikirkan sesuatu sehingga membuatnya terdiam 'apa bener Lesya hamil? Tapi dokter mengatakan Lesya akam susah punya anak! Argh, tapi ini justru kabar baik jika itu memang benar!'
__ADS_1
.
.bersambung