It'S Perfect

It'S Perfect
Rencana Diva dan Giva


__ADS_3

Hari ini Alden dan Dikta pergi ke kampus bersama, disana mereka sudah di tunggu oleh teman satu jurusan Masing-masing.


"Dikta, lo kemana aja si? dosen udah nanyain terus dan besok adalah hati terakhir buat kita"


"iya sorry Nad, gue sama Alden sibuk di rumah sakit. jadi sorry gie jadi ngesampingin tugas kita"


"oh okey, tapi hari ini kita harus udah selesai" Dikta mengangguki ucapan Nadia.


disamping itu, Dikta justru memperhatikan Alden yang tengah berbincang dengan beberapa temannya.


matanya menyipit ketika mendapati dua orang gadis yang sempat membawa Alden di sebuah klub kalau itu. dengan segera mata emangnya memperingatkan kedua gadis itu dengan bahasa isyaratnya. sontak dua gadis tersebut mengangguk kecil dengan raut wajah yang sedikit takut.


Setelah merasa Alden aman, Dikta lalu pergi bersama dengan Nadia untuk menyelesaikan tugas dari dosennya.


Kedua Gadis tersebut berubah ketika tidak melihat keberadaan Dikta disekitar mereka. keduanya berbisik merencanakan sesuatu.


"kita gak boleh diem aja setelah di ancem sama Dikta. kita harus kasih pelayanan buat Dikta"


" nanti malem kita jalanin rencana kita, gue yakin si Dikta bakal tau akibatnya karena udah berani ngancem kita kan? "


Kedua gadis itu adalah Diva dan juga Giva, mereka adalah kakak adik yang terobsesi dengan Alden sejak zaman SMA, dimana saat itu Alden sempat mempermainkan Giva adik dari Diva sebelum merubah penampilannya.


Keduanya ingin mempermalukan Alden karena Alden mempermainkan perasaan cinta dari Giva, sejak itulah Diva sebagai kakaknya tidak Terima sehingga berambisi untuk menghancurkan Alden.


"Hai Al, lo kemana aja si gak pernah kumpul, gak pernah dateng waktu ada kelas? " tanya Diva


"gue di rumah sakit, temen gue ada yang sakit." tukasnya sembari melihat layar laptop yang ia bahas dengan beberapa temannya.


"guys, gimana kalo nanti malem kita pesta kecil buat ngerayain Alden balik"


"apaan si gak usahlah, gue juga harus ngurus resto gue! " Alden menolak ajakan dari Diva, namun teman yang lainnya menyetujui apa yang disarankan oleh Diva.


"ayolah Al, masa lo tega ngecewain temen-temen lo si? apa lo gak nganggep kita-kita ini temen lo ya Al? " ucapan salah satu dari mereka.


"oke.. oke.. nanti malem gue ngajak Dikta kesana"


"gak usah ngajakin Dikta kali Al"


"ya udah gue gak jadi ikut kalo Dikta gak boleh ikut" pungkasnya.


"ya udah gak papa, yang penting ntar malem kita party"


semuanya berseru kegirangan. saat itu Diva dan Giva saling pandang dengan tersenyum Licik.

__ADS_1


"ya udah guys, kita diapain dulu tempatnya ya"


Diva dan Giva segera pergi untuk menyiapkan tempat untuk mereka berpesta. dimana tempat itu akan ada di rooftop kampus yang akan di jadikan mereka tempat menjalankan rencana mereka.


Seusai dari kampus Dijta dan Alden kembali ke restoran mereka.


"gimana Ta, tugas kamu sama Nadia udah beres?"


"udah, besok tinggal ngumpulin aja. oh ya Al, hari ini aku yang di resto, kemaren nyokap lo ngajakin buat jenguk Kenan kan? ".


" ah iya, aku bahkan lupa kalo kamu gak bahas soal itu Ta"


karena gemas dengan raut wajah Alden yang seperti tidak bersalah mengatakan lupa, Dikta mencubit hidung mancung Alden.


"oh ya Ta, nanti malem temen-temen mau ngadain pesta sambutan karna aku balik ke kampus, dan aku mau kamu ikut"


"ya itu memang harus, aku gak akan biarin kamu pergi kalo aku gak ikut! "


"iya.. iya.. posesif banget si" ucap Alden.


"karena gue gak mau pacar gue di sentuh sama orang lain" Dikta hendak meraih pinggang Alden, Namun Alden yang sudah tau segera menghindar.dan yang membuat Dikta gemas, saat itu Alden menjulurkan lidahnya meledek Dikta dan berlari keluar ruangan.


_


Alden menemani Dita untuk membawa Kenan pulang, karena hari ini dokter sudah menyatakan bahwa Kenan sudah membaik dan hanya tinggal pemulihan.


"tidak tante bukan aku yang sakit, tapi sahabatku! ada apa tante dsini? ah iya aku lupa, tante pasti menemani calon menantu tante! " Senyuman Lesya kali terlihat menyeringai, tidak seperti biasanya yang terlihat sangat manis dan tulus.


"emm bagaimana dengan sahabatmu, apa dia juga sudah diperbolehkan untuk pulang? "


"sayangnya belum tante, dia mengalami koma"


"tante ikut prihatin ya Lesya. lalu kamu disini dengan siapa? "


"aku bersama dengan Saga tante."


"lalu orang tua sahabatmu? "


"aku sengaja tidak memberitahu mereka tante, karena mereka punya riwayat sakit yang berbaya jika mendengar kabar buruk seperti ini. terlebih Joonie, em maksudku Yoo joon adalah anak tunggal tante"


"astaga, boleh tante jenguk dia Floella? "


"tentu tante."

__ADS_1


"biar Dita menemanimu ma"


"oh iya boleh sayang ayo.. "


Lesya terlihat tidak suka, namun ia harus menjaga perasaan dari Riana. ia tidak mungkin akan melarang calon menantunya untuk menjenguk Yoo joon.


"si tampan, kenapa kamu tidak kunjung sadar. lihatlah sahabatmu ini. dia terlihat sangat letih karena menjagamu dan menjaga keluarganya. dan dia juga harus menjaga calon keponakanmu tampan" Riana mengusap lembut tangan Yoo joon yang terlihat sangat pucat dan hangat.


"aku tidak masalah jika harus menjaganya tante, karena Joonie adalah sahabat yang sangat baik. dia tidak pernah lelah dan mengeluh saat menjagaku dulu. dan sekarang aku sangat sedih karena ada seseorang yang mengkhianati orang sebaik Joonie! " tatapan sedih Lesya membuat Riana semakin iba dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"tenanglah Lesya, jangan menangis. Yoo joon pasti tidak akan senang melihatmu menangis. dan untuk orang yang mengkhianati Yoo joon, semoga saja dia akan menyesal dan mendapat balasannya"


Tanpa Riana sadari, orang yang ia sumpahi adalah calon menantunya. meskipun Dita tidak benar-benar mengkhianati Yoo joon, namun Lesya dan Yoo joon tidak pernah tau kebenarannya.


Perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya. dengan segera Dita menyekanya kasar agar tidak dilihat oleh Lesya dan juga Riana.


"tante, aku harus mengemas barang-barang Kenan. jadi Dita ke kamar Kenan dulu ya tan"


"iya sayang, sebentar lagi tante akan menyusulmu" balas Riana.


Dita yang berjalan menunduk segera menumpahkan tangisnya di dalam kamar mandi ruang rawat Kenan. dan saat itu Alden yang melihatnya, ia tau jika Dita saat ini tengah bersedih.


Waktu berjalan cukup cepat. Alden sudah mengantar Dita dan juga ibunya.


Ketika sampai di apartement yang ia tempati, terlihat Dikta yabg sudah menunggunya di dalam dengan menyiapkan minuman hangat untuk Alden.


"Dikta, kamu udah siap? "


"tentu, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri dengan beralasan aku yang belum siap"


Alden tersenyum mendspati Dikta yang tak henti-hentinya posesif.


Hingga saat ini mereka sudah ada di tempat yang sudah disiapkan oleh teman-temannya.


brug


Alden dan Dikta menjadi tidak sadarkan diri. sementara itu para temannya hanya melihatnya.


"apa yang kalian bilang tadi akan benar-benar terjadi? "


"tentu saja. kita lihat ketika mereka bangun dalam pengaruh obat itu. bahkan orang yang akan berbohong tidak akan bisa! " ucap Diva tersenyum licik.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2