
Alden dan Dikta tidak memperdulikan masalah mereka terlebih dulu dan langsung pergi bersama-sama untuk mendatangi Lesya yang menghubungi Dikta dengan menangis.
Ketika Dikta dan Alden sampai dirumahnya, ia mendapati Lesya yang menangis didalam pulang Dina yang juga ikut menangis bersamanya. Dikta dan Alden berlari untuk menghampiri Lesya.
kepalanya mendongak menatap Dikta yang berjongkok di sampingnya, dengan cairan bening yang terus mengalir dari pelupuk matanya, Lesya menghambur kedalam pelukan Dikta.
"Dikta, Saga bagaimana Dikta.. heeuu.. heeuu.. "
baru kali ini Dikta melihat seorang wanita tangguh seperti Lesya bisa menangis dan terlihat serapuh saat ini.
Dikta lalu melepas pelukan Lesya dan memegang kedua lengan Lesya dan menatapnya lekat. ia belum tau alasan Lesya menangis dan berkata seperti itu. tetapi satu yang ia simpulkan bahwa saat ini Saga sedang tidak baik-baik saja.
"ada apa mba Lesya, apa yang terjadi dengan Saga? bukankah saat ini Saga sedang seminar dan berlanjut mengurus cabang baru Coffee shop yang dia buka kan?"
bukannya menjawab, Lesya justru semakin menangis sesenggukan. "tenanglah mba Lesya, atur nafasmu dan ceritakan apa yang terjadi"
"Polisi menghubungiku Dikta. mereka bilang mereka menemukan mobil Saga yang terbakar di tepi jalan Dikta. dan mereka tidak menemukan Saga disana"
"apa? kalau begitu lebih baik. kita kesana dan memeriksanya langsung mba Lesya"
"apa yang dikatakan Dikta benar mba, lebih baik kita segera kesana" sahut Alden.
Dan saat itu Lesya, Dikta dan juga Alden segera bergegas untuk menuju ketempat Saga berada.
Mereka harus memakan waktu sekitar tujuh jam yang seharusnya hanya empat jam mereka sampai. hal itu karena disebabkan oleh antrian macet yang sangat panjang di sebuah titik ruas jalan yang mereka lalui.
"akhirnya kita sampai"ucao Alden.
karena merasa tidak sabar, Lesya berlari dan tidak memperdulikan ko disinya yang sedang mengandung.
Melihat hal itu Dikta berlari dan menyusul Lesya. " mba Lesya jangan berlari., ini tidak baik untuk bayimu"
mendengar selorohan Dikta membuat Lesya seketika menghentikan larinya dan segera memegangi perutnya. "sayang kamu harus menjadi anak yang kuat, mama lari karena mama mau menemui ayah kami sayang. kita berjuang bareng ya sayang"
Saat ini Lesya kembali melanjutkan langkahnya namun tidak berlari. ia segera menemui polisi untuk merayakan keadaan Saga saat ini dan segera di susul oleh Dikta dan juga Alden.
"pak, saya istri Saga. suami saya dimana pak? "
__ADS_1
"begini bu, saat kami melihat keadaan mobil yang terbakar. kami tidak menemukan Suami ibu, entah itu saudara Saga disekitar mobilnya ataupun jasadnya. kami hanya menemukan ini"
Polisi tersebut memberikan dompet milik Saga kepada Lesya dan juga sebuah sobekan kemeja berlumuran darah yang memang sama persis dengan kemeja milik Saga, sehingga membuat Lesya terduduk lemas.
"ini gak mungkin, suami saya pasti baik-baik saja pak"
"iya pak, Saga pasti baik-baik saja" sahut Alden
"apa hubungan saudara dengan saudara Saga?"tanya polisi menatap Dikta bergantian Alden.
"kami temannya pak" timpal Dikta.
"sementara ini kami belum bisa menyimpulkan keadaan tuan Saga masih hidup atau tidak, yang jelas sepertinya ini bukan kecelakaan melainkan ini adalah sudah direncanakan karena kami juga menemukan pisau yang berlumur dar*h. dan kemungkinan besar saudara Saga telah tiada"
"nggak gak mung-" belum selesai dengan ucapannya, Lesya sudah pingsan dan ditangkap eh Dikta yang ada disebelahnya.
Dan demi kebaikan Lesya, saat itu Dikta dan Alden membawa Lesya kesebuah hotel yang ada di sekitar.
Sementara itu di tempat lain saat ini Yoo joon mendatangi rumah Lesya. namun saat itu ia tidak melihat Lesya, yang ia temuka hanya Dima yang tengah menangis di depan rumah.
"maaf, apa kau melihat Lesya? "
"kamu siapa? " Yoo joon menatap Liyora penuh selidik
ketika Yoo joon melontarkan pertanyaan seperti itu membuat Liyora ingat bahwa ada yang salah dengan ucapannya.
"saya Dina mas, maaf saya tadi hanya sedang kesal karena kabar dari polisi mas. menurut saya mas Saga orang baik, tapi kenapa justru kejadian naas seperti itu yang menimpanya mas"
"apa yang terjadi dengan Saga? " kali ini Liyora berhasil membuat fokus Yoo joon teralihkan dengan mengatakan apa yang menimpa Saga.
"tadi ada yang nelfon mba Lesya, mereka bilang mereka menemukan mobil mas Ssga dalam keadaan terbakar ditepi jalan mas Yoo joon. dan kami belum mengetahui keadaan mas Saga saat ini "
"astaga, lalu dimana Saga mengalami hal itu?"
"saya ndak tau mas, hanya itu yang saya tau saat ini"
'dan itu bikin gue kesel. kenapa mereka tidak mengatakan kemana Saga pergi!'
__ADS_1
"Yoo joon, apa kau akan menyusul mereka? " tanya Saka yang baru datang dengan kursi rodanya.
"tentu, aku cemas dengan keadaan Lesya saat ini! " jawabnya sembari menghubungi seseorang.
"Lesya tidak mengangkat telfonan, darimana aku tau mereka ada dimana saat ini"
"jika kau ingin tau, mungkin saja kau bisa bertanya dengan seseorang yang dekat dengan mereka. dan aku tau siapa orangnya"
Saat itu Saka berpikir untuk pergi ke restauran milik Alden dan juga Dikta bersama dengan Yoo joon. karena saat itu Saka mencemaskan keadaan Lesya yang ia lihat sangat lemah ketika masih dirumah.
Dengan segera Saka bersama dengan Yoo joon dan juga Dina menuju restoran
sesampainya disana Yoo joon segera turun mencari seseorang yang bernama Dita.
"maaf, disini siapa yang bernama Dita? " tanya Yoo joon yang bertanya kepada para karyawan yang sedang beristirahat karena hari sudah semakin gelap.
"aku Dita" ujar Dita yang berjalan ke arah Yoo joon"
Saat itu Yoo joon seketika mengingat saat ia melihat Dita di sebuah foto yang terpajang di atas nakas yang ada dikamarnya.
"emm begini Dita, apa kau tau dimana Lesya pergi bersama dengan atasanmu? "
"Kak Yoo joon.. " bukannya menjawab pertanyaan dari Yoo joon, Dita justru masuk kedalam kehidupannya yang pahit. diakan ia dilupakan oleh seseorang yang sangat ia cintai.
Dita berlari dan memeluk Yoo joon dengan sangat erat, dan saat itu Yoo joon segera melepas pelukan Dita. "tolong jaga sikapmu. mungkin saja kau teman Lesya. tapi bukan berarti kau dekat denganku! "
ucapan Yoo joon semakin membuat relung hati Dita terasa nyeri. ia tidak menyangka jika Yoo joon tidak mengingatnya sama sekali hingga detik ini.
"jawablah pertanyaanku, dimana atasanmu pergi bersama dengan Lesya."
dan saat itu Akhirnya Dita kembali dalam kesadarannya " mereka pergi ke kota xx kak" balasnya dengan suara bergetar.
"mereka gila, apa mereka tidak tau jika keadaan Lesya saat ini benar-benar rawan untuk perjalanan jauh"
'seperduli itu kamu sama mba Lesya kak Yoo joon, dan perhatian itu juga yang kamu kasih ke aku dan Kenan kak'
.
__ADS_1
. bersambung