It'S Perfect

It'S Perfect
Amplop Coklat


__ADS_3

"gua gak bisa tenang kalo Lesya deket sama sepupunya itu. entah kenapa gua punya feeling yang gak bagus!" Saga berdiri dibalkon apartemen Dikat sembari menatap lalu lalang kendaraan di jalan raya yang ada si dekat apartemen itu.


"emang seperti apa si Dylan Ga? apa dia nunjukin sesuatu yang mencurigakan!" tanya Dikta seraya mengulurkan minuman kaleng dingin dengan gambar jeruk lemon kepada Saga.


Saga pun segera menenggak minuman itu hingga ia mengernyit karna merasa tercekat ditenggorokannya. "arrgghh.."


"sampai detik ini belum ada yang mencurigakan, tapi gua lihat perhatiannya terhadap Lesya itu beda Ta." Saga beralih menatap Dikta dihadapannya. "gua tau perhatian itu bukan perhatian dari laki-laki terhadap saudarinya, tapi laki-laki terhadap seorang wanita!" sambungnya lagi.


"emm labih baik perhatian kita, kita pusatkan buat nyari akar dari permasalahan lu Ga. yaitu Liyora!"Dikta meneguk minuman dinginnya sekilas.


"Liyora memang mudah kita atasi, tapi.." Dikta menjeda ucapannya yang ditunggu oleh Saga "sepertinya ada orang yang sangat licik yang ada dibelakangnya!" tambah Dikta.


Disisi lain Lesya mengobati sudut bibir Dylan yang mulai terlihat biru karena pukulan dari Saga.


"aku minta maaf atas yang dilakukan Saga, Dylan!"


"tidak perlu minta maaf seperti ini Lele..!"


"sebenarnya Saga bukan orang yang seperti itu, hanya saja entah kenapa tadi dia seperti itu!"


"cemburu!"


seketika Lesya menatap sekilas Dylan dan terkekeh. "kau ini bisa-bisanya bercanda Dylan. mana mungkin Saga cemburu denganmu, dia tau kau ini sepupuku!"


Dylan kemudian merubah posisi duduknya, kini Dylan duduk lebih dekat dengan Lesya."lelaki tidak pernah memilih pada siapa dia akan cemburu Lesya!"


seketika ucapan Dylan berhasil membuat Lesya tertegun, ia kembali mengingat raut wajah Saga ketika saat itu ia dekat dengan Dikta. "apa itu berarti tadi dia seperti itu karena cemburu?"


Dylan menyebikkan bibirnya dan mengangkat bahunya "aku tidak tau, kau bilang Saga tidak akan cemburu denganku!" Dylan menyindir Lesya yang sangat naif.


Lesya lalu mengehela nafas panjang "kalaupun dia cemburu aku tidak perduli, dia lebih dulu bermain api dengan perempuan lain!" wajah Lesya berubah menjadi muram


Dylan menangkup dagu Lesya dengan tangan besarnya, "jika kau seperti ini, kau semakin mirip dengan lele!"


bukannya menenangkan Lesya, Dulan justru menggodanya dengan sebutan.yang sangat tidak disukai oleh Lesya.


plak


Lesya menabok tangan Dylan yang tadi menangkup dagunya. "jangan memanggilku seperti itu dylan, kau tau aku sangat tidak menyukainya." Lesya mengerucutkan bibirnya karna tidak suka panggilan yang diberikan oleh Dylan.


"hei apa kau malu jika kupanggil Lele, kau akan ingat saat kau mengejekku dan malah terjebur di kolam ikan lele"


Dylan tertawa hingga membuat wajah Lesya bersemu merah.

__ADS_1


"jangan mengejekku" ucap Lesya seraya menyubit hidung Dylan dan berlalu pergi dari ruangannya.


Lesya memang terkenal Ceo yang dewasa dan tegas, namun jika ia sudah bersama dengan Dylan, ia akan berubah menjadi Lesya yang manja. Lesya memang menganggap Dylan seperti saudara kandungnya bahkan sahabatnya.


💜💜


sudah satu minggu sejak kejadian di kantor. dan hingga detik ini, Lesya menolak untuk menemui Saga sehingga membuat Saga sedikit kacau terlebih Liyora terus mencecarnya dan meminta untuknya tanggung jawab atas kehamilannya.


hingga suatu sore ketika Saga masih berada di rumahnya bersama Saka dan Ella, seseorang mengantar sebuah amplop berwarna cokelat. entah apa isinya, Saga pun belum mengetahui isinya.


Saga memang memilih pergi dari apartemen miliknya dan Lesya, karna ia merasa saat ini tidak tepat untuknya tetap disana tanpa Lesya yang yengah tinggal dirumah orangtuanya.


"apa itu Saga, apa kamu tidak ingin membukanya?" ucap Ella sembari menatap penuh selidik kesebuah amplop yang ada di tangan Saga.


sementara itu Saka hanya meliriknya sekilas dengan secangkir teh ditangannya.


bukan buatan Ella melainkan art di rumah itu, memang semenjak Saga dan Lesya memilih tinggal di apartemen, Saka memperkerjakan asisten rumah tangga untuk membereskan rumah tersebut.


setelah mendengar ucapan dari Ella, Saga pun menjadi penasaran dengan isi amplop tersebut, dan akhirnya Saga pun segera membukanya.


deg


"surat gugatan cerai!" lirih Saga.


"udah ceraiin aja Lesya terus nikahin pacar kamu Liyora yang udah kamu hamilin. lagi pula Lesya itu cewe gak baik, buktinya dia lebih milih belain sepupunya kan kamu bilang Saga. jadi gak.usah pertahanin cewe kaya dia"


brakk


seketika Ella menghentikan ucapannya karna takut akan Saga yang mendadak menggebrak meja dihadapannya.


Saga pun segera keluar dan melajukan motornya dalam kecepatan tinggi. selang beberapa menit, ia telah sampai di halaman rumah milik keluarga Guntara.


Saga pun segera memencet bel rumah Guntara, dan selang beberapa saat seseorang membuka pintu rumah.


"Saga!" Lesya hendak menutup kembali pintu rumahnya, namun Saga lebih dulu masuk dan menghentikan Lesya.


"dengar Lesya, aku tudak ingin bercerai karna aku cinta sama kamu! dan aku sekarang sedang mencari buktinya Lesya, tapi kenapa kamu menggugat cerau?"


Lesya tercekat mendengar ucalan Saga. netranya membulat melihat surat yang ditunjukkam oleh Saga terhadapanya.


"gugatan cerai, si-si-siapa yang melakukannya?"


"papa yang melakukannya Lesya, dan kamu hanya perlu menandatanganinya saja!" tukas tuan Guntara sembari menuruni tangga rumahnya.

__ADS_1


"papa" lirih Lesya yang tak menduga ayahnya kan bertindak lebih cepat.


"pa-"


"aku sudah pernah bilang Saga, jika kamu terbukti ayah dari bayi itu maka kau harus berpisah dari anakku. karna aku tidak akan membiarkan anakku terluka lbih dalam lagi!" belum sempat Saga menyelesaikan ucapannya, tuan Guntara memotongnya dengan perkataan yang membuatnya semakin kacau.


"tapi pa, sejak kapan papa memutuskan untuk membuat gugatan cerai di pernikahanku dengan Saga?"


"papa hanya ingin kamu tidak terus-terusan di lukai oleh Saga apalagi setelah seseorang memberitauhuku bahwa Saga masih menjalin hubungannya dengan mantan kekasihnya setelah kalian menikah" wajah tuan Gunta menjadi merah padam dan rahang yang mengeras, itu meandakan ia saat inimarah besar dengan menantunya.


"itu memang benar pa, tapi beberapa bulan terakhir aku dan Lesya sudah memutuskan untuk memulai hubungan baru. dan aku berani bersumpah kalau anak itu bukan anakku pa! aku bahkan tidak pernah melakukannya selain dengan Lesya" Saga bersikukuh mengatakan bukan dirinyalah ayah dari bayi Liyora.


"itu hanya alibimu saja, kau hanya ingin menutupi kesalahanmu. lebih baik sekarang kau pergi dari sini karna aku tidak mau putriki terpengaruh oleh dirimu!"


"sudahlah pa, biarkan Saga disini dan biarakn kita beri waktu untuk mereka saling berbicara!" ucap nyonya Guntara.


"tapi ma.."


"papa, kita akan lakukan apapun untuk kebahagiaan Lesya. jadi kita harus memberi kesempatan untuk mereka berbicra, mama gak mau nanti kita yang menyesal"


"ya sudah jika itu keinginan mama!"ucap tuan Guntara seraya meninggalkan ruang tamu.


"terima kaaih ma, mama sudah mau mendengarkan Saga!" Saga memeluk ibu mertuanya.


"mama memang kecewa dengan hasil itu Saga, tapi mama ingin kamu membuktikan kembali. mama sayang sama kalian berdua, dan mama harap kamu bisa membuktikan dan jangan buat mama kecewa untuk kedua kali" ucap nyonya Guntara, dan kini ia pun mengikuti suaminya kedalam.


Saga kemudian mendekat ke arah Lesya yang masih sama dengan raut wajah dingin. "akau akan buktikan bukan aku ayah dari janin itu Lesya!"


"kamu tidak perlu mengatakan itu, buktikan saja!" Lesya pun masuk kedalam kamarnya meninggalkan Saga yang masih mematung.


'aku tau kamu marah, itu semua karna kesalahanku yang membiarkan orang lain menjebakku Lesya. dan aku yang akan memperbaikinya'


ting..


notifikasi ponselnya berdenting dan membuat launannya buyar.


"apa ini?" Saga membuka sesuatu yang masuk di sebuah aplikasi pesan di ponselnya. ia mengerutkan dahinya dan meremas ponsel yang ada ditangannya.


.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2