It'S Perfect

It'S Perfect
Tidak Bisa Melawan Mama


__ADS_3

Dengan mata yang sembab, Via berusaha terlihat tenang ketika Doni menemuinya di depan toilet karyawan. cukup lama Doni menunggu Via yang menangis didalam toilet.


"nona Via, apa kamu baik-baik saja? " tanya Doni.


"aku baik pak, Doni." balas Via singkat dan bergegas untuk kembali ke meja kerjanya.


Saat itu Doni tidak berani bertanya lebih dan hanya mengikuti Via hingga ke meja kerjanya. disana Andi yang berada di meja yang dengan ditemani oleh Rizza terus menatap Via yang sengaja tidak melihat Andi. Via tau jika ia memperhatikan Andi, ia tidak akan bisa menahan air matanya.


Hari berjalan cukup cepat hingga jam makan siangpun tiba. semua karyawan pun pergi untuk makan siang kecuali Via yang masih berkutat dengan Komputernya.


"Via, ayo kita makan siang" ajaknya.


"Andi, apa kamu mau siang ini kita makan bertiga? kita sangat jarang kan bertemu setelah kita bertunangan dua bulan lalu. jadi Via, maaf ya aku mau siang ini makan siang berdua dengan Andi"


"ya, lagi pula aku juga tidak bisa karena aku masih merevisi file untuk meeting nanti sore" balasnya sembari menatap ke arah layar komputer.


Andi enggan untuk meninggalkan Via, namun ia juga tidak bisa menolak keinginan dari Rizza yang pasti akan langsung mengadu kepada ibunya karena Andi menolak permintaannya.


Andi tidak fokus dengan makanannya yang hanya ia aduk. dan hal itu disadari oleh Rizza yang tengah menikmati makanannya.


"Andi, kenapa kamu gak makan si? "


"begini Za, aku harus kembali ke kantor karena aku harus menyiapkan berkas-berkas untuk meeting juga. jadi gak pa-pa ya kamu makan sendiri"


tanpa menunggu jawaban dari Rizza, Andi kembali lebih dulu ke kantor yang ada diseberang jalan. saat itu tanpa sepengetahuan Rizza, Andi sudah memerankan makanan untuk Via.


"Via nggak boleh telat makan. dia harus jaga pola makan supaya bayi yang ada dikandungannya sehat."


Langkah Andi terhenti ketika mendapati Doni yang duduk di depan meja milik Via yang tengah fokus dengan pekerjaannya. dan disitu Andi membujuk Via agar memakan makanan yang di belikan oleh Doni.

__ADS_1


"ayolah nona Via, ini untuk kesehatan bayimu juga"


disitulah Via menyerah untuk menolak makanan dari Doni.


"baiklah aku akan makan pak Doni, tapi pak Doni juga harus makan siang. karena dari tadi pak Doni menemaniku, aku yakin pak Doni belum makan jugakan!"


Doni mengukir senyum diwajahnya. baru kali ini ia dipaksa oleh seorang perempuan untuk makan siang, karena itulah Doni segera menuruti ucapan Via.


"tunggu disini ya pak, aku akan mengambil piring dan sendok untuk pak Doni"


Sesaat setelah Via mengambil piring dan sendok, Via juga mengambilkan makanan untuk Doni.


Doni begitu menikmati makan siang kali ini.


"nona Via, maaf" Doni mengusap noda makanan yang ada di dagu Via.


"apa kalian sudah selesai?" tanya Andi ketus sembari meletakkan makanan di meja miliknya.


Andi yang mendengar ucapan Doni, ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Doni yang masih didepan meja milik Via.


"tentu saja, karena kau mendekati istriku"tukas Andi.


"maksudmu Istri yang nggak kamu anggap? aku tau kalian menikah dengan tanpa Cinta. tapi kau tidak pantas bertunangan dengan gadis lain sebelum menceraikan nona Via Andi! "


Tenggorokan Andi terasa tercekat. karena apa yang dikatakan oleh Doni memang benar adanya. dan hal itu semakin membuat Via bersedih.


'aku kira perhatianmu selama ini karena kamu mulai cinta sama aku Ndi, tapi ternyata aku salah besar' batin Via yang merasa sangat kecewa kepada Andi.


"Via, aku ingin kita bicara"

__ADS_1


"maaf Andi, aku sedang sibuk. jika kamu mau bicara, kita bicara nanti di rumah" pungkas Via dan kini kembali memakan makanan yang ia Terima dari Doni.


"tapi Vi, aku mau kita bicara tentang rumah tangga kita"


"karena itu, kita bicara di rumah. karena ini di kantor, jadi tidak pantas kalau kita bahas urusan rumah tangga disini"


Akhirnya jam pulang kantor pun tiba, Andi dan Via yang sudah berada di rumah segera membahas tentang apa yang terjadi hari ini yang tentu saja membuat Via terluka.


"Via, aku bisa jelasin tentang Rizza" ucap Andi sembari meraih tangan Via dengan lembut.


"aku harus menikahi Rizza karena aku tidak bisa melawan mama Via.


Via menarik nafas dalam, dadanya terasa begitu sesak mendengar Andi yang mengatakan hal itu.


'apa kamu orang yang sama dengan orang yang mengatakan ingin menikah sekitar seumur hidup Andi?' batin Via dengan mata yang berkaca-kaca.


"maaf Andi, jika saja aku tidak hamil mungkin saja sekarang kau bisa menikahi Rizza secepatnya. maaf karna aku membebani dan menghalangi cinta kalian"


"aku akan segera mengusur perceraian ketika aku melahirkan Andi" ucal Via dan bergegas pergi kedalam kamarnya.


Didalam Sana Via meluapkan perasaannya yang hancur. dadanya begitu sesak mengatakan perceraian dengan Andi. begitupun yang terjadi kepada Andi yang kini juga berada didalam kamarnya.


"kenapa, kenapa semakin aku ingin menjauh dari Via dadaku semakin sakit. apalagi jika aku melihat laki-laki lain perhatian dengan Via. padahal aku sendiri yang memutuskan untuk tidak mengatakan perasaanku kepada Via"


Andi begitu berada didalam dilema. hagknya mengatakan jika ia harus mempertahankan pernikahannya. tetapi ia juga tidak bisa membuat ibunya kecewa.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2