
Lesya memperhatikan suaminya yang masih terlelap, Lesya lalu memutuskan untuk keluar dari kamarnya. dengan rambut yang masih tergerai, Lesya berdiri didekat jendela. ia menaruh lengannya ditepian jendela yang baru ia buka. rambutnya yang tersapu angin malam, membuat terlihat semakin indah.
Namun saat ini keindahan itu tidak bisa memancarkan kecantikannya karena terlihat murung. Lesya merasa letih dan kecewa ketika suaminya tidak mendengar penjelasannya. Lesya menuandarkan kepalanya di jendela. ia terus memperhatikan air hujan yamg kini mulai jatuh kembali.
Udara dingin semakin menyeruak menusuk kedalam tubuh. tanpa terasa bulir air mata mulai membasahi pipinya. Lesya sejatinya adalah sosok perempuan yang kuat dan tangguh, bisa dikatakan ia dulu sangat jarang mengeluarkan air mata. terlebih selepas kepergian Arvin, ketika ia sempat depresi karena kehilangan Arvin, namun setelah ia pulih ia memutuskan untuk menjadi seseorang yang lebih kuat. entag kenapa perasaanya mulai melunak kembali dan sensitif setelah ia menikah dan jatuh hati kepada seorang siswa SMA.
Saga yang sedari tadi memperhatikan Lesya dari belakang, ia merasa sikapnyabkali ini sudah keterlaluan. sehingga perlahan Saga semakin mendekat ke arah Lesya yang belum mengetahui keberadaanya.
Lesya yang merasakan sentuhan tangan dipundaknya, ia segera menyeka air matanya dengan cepat. ia tau saat ini Sagalah yang ada dibelakangnya. karena itulah ia tidak ingin Saga melihatnya menangis.
"ada apa Lesya? kenapa kenapa kamu disini? ini sudah larut, waktunya untuk kamu beristirahat." ucap Saga dengan ketenangannya. berbeda dengan keadaannya setelah pulang, saat ini Saga terlihat lebih dewasa dan tanpa amarah dimatanya.
perlahan Saga menarik Lesya hinggaesya menghadap kearahnya. saat itu netranya langsung menangkap sesuatu yang tersisa di pelupuk mata Lesya. Saga pun segera mengusap lembut dengan ibu jarinya.
"kamu menangis?"
Lesya hanya menggeleng, ia mengukir senyuman diwajah mungilnya. meskipun begitu, Saga tau saat ini Lesya hanya tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"dan kenapa ditengah malam begini kami membuka jendela? terlebih ini sedang hujan Lesya!"
"aku hanya ingin menikmati udara malam Saga, dan kebetulan hujan turun lagi"
mendengar jawaban dari Lesya, Saga segera menarik tubuh Lesya kedalam dekapannya. Saga mengusap lembut rambut Lesya yang tergerai.
"dari dulu kamu ini pembohong yang buruk! aku tau kamu menangis, dan itu semua karna aku kan?"
"Saga.."
"maaf sayang. bukannya mendengar lenjelasanmu, aku justru terbakar dengan kecemburuan. dan hal itu membuat kamu bersedih"
Lesya lalu sedikit mendorong Saga agar ia bisa menatap kedua netra Saga dengan dalam. "aku tau kamu marah karna aku menyuruh pak Arga masuk saat kamu tidak ada di rumah Saga. maafkan aku"
nanar mata Lesya mampu membuat hati Saga semakin campur aduk. ia semakin merasa bersalah karena sudah membayangkan hal-hal yang tudak perlu,bahkan ia mendiamkan istrinya sehingga istrinya memilih untuk keluar dari kamar ditengah malam seperti ini. padahal saat itu istrinya merasa lebih bersalah darinya karena mengizinkan pria lain masuk kerumahnya.
"ada yang ingin aku tanyakan Lesya!"
"kamu boleh bertanya apapun yang mau kamu tanyakan Saga!"
"kenapa aku tidak bisa menghubungi nomormu? dan jika ban mobil Arga bocor kenapa dia gak telfon anak buahnya?"
Lesya menarik nafas dalam, ia menatap lekat manik mata Saga. "begini Saga, saat kami meninjau lahan yang akan dibangun oleh perusahaan pak Arga, aku disana sendirian karena pak Aega pergi untuk mengambil sesuatu barang penting miliknya yang tertinggal. dan karena semakin gelap, aku menggunakan ponsel untuk penerangan. hingga akhirnya daya baterainya habis. dan untuk masalah pak Arga, ponselnya juga habis baterai. dan saat pak Arga ingin menghubungi Doni, otomatis dia harus menunggu ponselku untuk terisi. oleh karena itu dia aku surih menunggu diteras, namun karena hujan teras kita basah makanya aku menyuruhnya masuk. maaf Saga aku-"
__ADS_1
"ssttt..."
Saga meletakkan jarinya dibibir Lesya. Saga pun kembali menarik Lesya kedalam pelukannya.
keesokan harinya, Saga yang berada diarea parkir sekolahan tiba-tiba menerima pukulan dari Dylan yang saat itu datang bersama dengan Yoo joon. melihat hal itu,Dikta berlari dan ingin melerai Dylan dengan Saga yang mulai baku hantam.
"apa-apaan ini, kenapa kalian berantem disini ha?" Pekik Dikta yang berada diantara Dylan dan juga Saga.
Dylan hanya melirik Dikta sekikas, ia pun bersiap untuk menghajar Saga lagi dengan tangan yanh sudah mengepal. namun pukulannya kali ditangkap oleh Saga.
"kenapa lo tiba-tiba nyerang gua?"
"huh.." Dylan menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum smirk. "masih bisa kamu bertanya seperti itu, setelah apa yang kamu lakuin terhadap Lesya ha?" sambungnya lagi.
"tenanglah Dylan, ini sekolahan! jangan bersikap seperti ini!" ucap Yoo joon.
"lalu, apa yang harus aku lakukan untuk laki-laki sepeeti dia Yoo joon? aku tidak terima dia berulang kali nyakitin sepupu aku!"
"aku juga tidak terima jika sahabatku disakiti, tapi bukan dengam kekerasan kita nyelesaiin ini semua Dylan!"
Saga masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Yoo joon dan juga Dylan. pasalnya ia tidak merasa melakukan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.
"tapi apa yang lu lakuin kemarin itu emang gak bener Ga" sahut Dikta. seketika Saga menoleh kearah Dikta.
"apa maksud lu Ta? kenapa lu ikut nyalahin gua?"
Dikta memperlihatkan postingan diakun media sosial milik Elsa. sontak hal itu membuat Saga membulatkan kedua matanya. "gua gak pernah lakuin ini! lagi pula kalian lihatkan gua ngadep kesana sedangkan Elsa ada dibelakang gua. dan gambar ini hanya memanfaatkan engglenya doang gua gak pernah ngerasa dipeluk sama Elsa!" sergah Saga yang memang tidak melakukan seperti apa yang ada di foto tersebut.
"kita gak percaya sama apa yang kamu ucapkan. dari awal aku sudah ragu kamu bisa membahagiakan Lesya, dan akan aku pastikan Lesya akan memikirkan kembali untuk hidup sengsara sama kamu! ayo Yoo joon!"
Dylan pergi begitu saja dan diikuti oleh Yoo joon. sementara itu Saga masih tidak habis pikir kenapa Elsa memposting foto tersebut.
"gua harus klarifikasi ini sama Elsa!" Saga melenggang pergi meninggalkan Dikta yang masih memating di tempat itu. bersamaan dengan itu, Dikta mendapat pemberitahuan bahwa sudah ditemukan sidik jari pada batu yang saat itu benar digunakan untuk menghilangkan nyawa Friska.
karena merasa senang, Dikta segera melaporkan hal itu kepada pihak sekolah."walaupun belum ketahuan siapa yang memukul Friska, tapi ini cukup untuk membuat Alden bisa sekolah lagi disini!"
karena hasil laporan tersebut, pihak sekolah memutuskan untuk membatalkan pengeluaran pada Alden.
tidak terasa jam pulang sekolah sudah tiba, saat itu Dikta tidak sabar untuk memberitahukan keputusan sekolah kepada Alden. dengan melajukan motornya dalam kecepatan tinggi, Dikya tiba dirumah Alden lima belas menit lebih cepat.
tok tok
__ADS_1
Asisten rumah tangga dirumah Alden segera membukakan pintu untuk Dikta. "emm mbok, Alden nya ada?"
"oh ada den, den Alden masih didalam kamarnya. biar simbok panggilkan ya den"
"oh gak perlu mbok, biar Dikta yang kesana"
Dikta segera berlari ke atas, karena kaki Alden yang sudah pulih, kini ia kembali kekamarnya yang ada dilantai dua. Dikta masuk begitu saja, saat itu Alden yang tengah selesai membersihkan diri sedikit terkejut karena kedatangan Dikta secara tiba-tiba.
Dikta langsung merengkuh Alden sembari tersenyum bahagia.
"ada apa Ta? kenapa lu meluk gua?" Alden merasa bingung dan sedikit terkejut dengan sikap Alden.
"selamat Al, lu gak jadi dikeluarin dari sekolah."
"apa?" Alden menatap Dikta pemuh selidik
"iya lo gak jadi di D.O karna memang Friska gak bun*h diri. karna dibatu itu diketahui ada sidik jari orang lain, itu berarti bukan lu yang nyebabin Friska meninggal!" Dikta kembali memeluk Alden.
namun saat ia sadar bahwa saat itu Alden hanya melilitkan handuk sevatas pinggang, membuat keduanya merasa canggung dan melepas pelukan mereka.
"engghh.. sorry Al gua gak sadar kalo lu belum pakek baju"
glek
saat itu Dikta susah payah menelan salivanya. dan segera berbalik agar tidak melihat badan Alden yang bertelanj*ng dada.
"fuh, untung aja Dikta gak denger suara jantung gua!" gumam Alden.
"lu ngomong sesuatu Al?"
"enggak kok Ta, ya udah gua mau pakek baju dulu"
setelah melihat Alden pergi keruangan ganti, Dikta membuang nafas lega.
.
.bersambung
.
.
__ADS_1