It'S Perfect

It'S Perfect
Beban Pikiran Meningkat


__ADS_3

Dengan satu panggilan yang baru saja ia Terima dari ponsel yang diberikan oleh perawat, Dikta berhasil di buat pusing. Pasalnya saat itu ia mendapat panggilan dari ibu Alden.


"Terimakasih Sus, sekarang kau bisa pergi"


Perawat tersebut pergi meninggalkan Dikta didalam ruangan Alden dengan beban pikiran yang semakin meningkat. Pasalnya saat itu ia harus berpura-pura sebagai Alden di dalam telepon ketika menerima panggilan dari Riana melalui ponsel Dita yang saat ini masih di tangani oleh Dokter.


"Bagaimana ini? Tante Riana malah meminta alamat rumah persawahan yang aku bilang adalah tempat dimana Alden dan Dita datangi, Padahal tempat itu nggak pernah ada!"


Dikta memijat keningnya yang mulai terasa pening. Kedua manik matanya yang menatap lurus menangkap wajah seseorang yang sangat ia sayangi, membuat Dikta tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan mencoba mencari ide untuk menghalangi Riana agar tidak menyusulnya ke sana.


"Lebih baik aku temui mba Kesya dan Saga. Aku harus meminta bantuan mereka."


Dikta mengusap lembut wajah Alden yang masih memejamkan matanya dan memerintahkan seorang perawat untuk menjaga Alden.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Dikta tengah sampai di kantor Lesya. Saat itu ia mengatakan apa yang ia bicarakan ketika masih di rumah sakit.


Seketika dahi Lesya pun berkerut indah. Karena baginya ini adalah masalah yang rumit, Lesya pun menghubungi Saga untuk datang.

__ADS_1


Selang beberapa menit Saga pun tiba, saat itu Saga melihat kegelisahan di wajah Dikta dan juga istrinya.


"Sebentar, gimana kalo kita bilang kalo mereke nggak mau diganggu karena kayak apa yang kamu bilang Ta. Mereka mau babymoon"


Celetukan Saga kali berhasil membuat Lesya dan juga Dikta mengembangkan senyum diwajahnya mereka.


"Kemana gue nggak pernah kepikiran itu, Ga? "


"Itu semua karena lo terlalu memikirkan semuanya sangat rumit. Jadi solusi segampang ini nggak pernah kepikirkan sama lo" Balas Saga membuat Dikta tersenyum sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Sementara Dikta, Saga dan Lesya tengah berdiskusi didalam ruangan Lesya. Via merasa kesal karena Arga tengah melukai perasaannya.


Meskipun Via tidak seramah dulu dengan Andi, namun ia tidak pernah terlihat sekesal saat ini. Akhirnya Andi memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Pagi Via, Andi" Sapa seseorang sehingga Via belum menjawab pertanyaan dari Andi.


Ya, orang tersebut adalah Dylan yang baru tiba. Dylan datang untuk menemui Lesya, tetapi ia sempatkan untuk menyapa Via dan juga Andi.

__ADS_1


"Pagi, pak" Jawab Andi dan Via bersamaan.


Ketika Dylan sudah melewati meja mereka, namun seketika Dylan berputar dan menghampiri meja Via sehingga membuat Andi mengerutkan dahinya.


"Bagaimana keadaan Rea,Apa dia sudah membaik sekarang? "


"Sudah lebih baik Pak" Balas Via dengan senyum ramahnya.


Selain Andi yang merasa tidak suka dengan sikap Dylan, saat itu Sharena yang juga datang pun merasa kesal ketika melihat perhatian Dylan terhadap Via dan juga Rea.


'Jangan berani-beraninya kamu mau ngerebut Dylan dariku Via.'


Sharena semakin kesal karena melihat Dylan mengulurkan sesuatu di sebuah kotak kecil kepada Via.


'Lebih baik kau bersiap untuk menerima apa yang sudah kusiapkan untukmu, Via'


Sharena tersenyum miring dengan sebelah alis yang terangkat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2