It'S Perfect

It'S Perfect
Berpikir Rasional


__ADS_3

Liyora terus berdiri di depan kelas dengan pandangan kesana sini yang tengah mencari keberadaan seseorang yang ia tunggu-tunggu.


"lo cari siapa ra?" tanya Alden yang baru datang bersama dengan Dikta, namun Dikta tidak menggubris keberadaan Liyora dan langsung duduk di bangkunya dengan mendengarkan musik. "cari pacar gue lah Al, yakali gua nyariin lo!"


"coba deh lo hubungin Saaga, Ra!"


"gue luoa gak bawa hp Alden, kalo gue bawa, gue gak perlu repo tanya sama lo!"


"ya udah biar gua telfon si Saga"


'sebenernya hp gue ada di tas si, gue cuman gak mau terkesan gue yang posesif sama Saga. biar Saga tambah cinta sama gue!' Liyora tersenyum tipis sembari menunggu Alden menghubungi Saga.


"gimana Al?"


"Saga gak berangkat, dan gua harus kerumah Saga.!"


"tunggu-tunggu, Saga kenapa? dia sakit?" Liyora mencekal lengan Alden yang hendak bergegas ke dalam kelas untuk mengajak Dikta ke rumah Saga.


"bukan Saga yang sakit, tapi calon istri gua!" Alden lalu mendatangi Dikta, ia lalu menarik earphone yang menempel ditelinga Dikta.


"Dikta ikut gua ke ke rumah Saga."


"kelas mau mulai kali Al, kenapa lu ngajak gua kesana?"


"Lesya sakit, dan gua harus kesana!"


"oke, kita kesana." Dikta adalah siswa teladan yang jarang sekali tidal berangjat sekolah, apalagi bolos. itu adalah hal yang sangat dihindari oleh Dikta. tapi entah ada apa hari ini ia begitu gampang setuju dengan ajakan Alden untku meninggalkan sekolah.


Friska yang melihat Dikta dan Alden keluar dengan membawa tas pun berlari untuk menanyakan hal itu. namun ketika sampai didepan pintu, ia melihat Liyora mengikuti Alden dan juga Dikta, hingga akhirnya Friska pun mengikuti mereka.


selang beberapa menit mereka telah sampai di kediaman Darmawan. namun saat itu Dikta dan Alden terkejut karena dibelakang mereka sudah ada Liyora dan juga Friska.


"kalian kenapa ikut kesini?" tanya Alden.


"ya gue mau nemuin pacar gue lah Alden!" sahut Liyora.


"terus kalo lo mau ngapain?" pandangan mata Alden beralih dengan seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan Dikta.


"emm gue penasaran aja kenapa kalian bolos, dan ternyata kalian kesini!"


dan ketika mereka berbincang, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. namun ada satu orang yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


mendadak tatapan Dikta menjadi sangat dingin. dan orang itu adalah Dylan yang ingin menemui Lesya. "kalian, bukannya ini sudah waktunya jam sekolah?"


Dylan menyapu pandangannya keseluruh orang yang saat ini berada di sekitarnya."Friska, bukannya tadi aku sudah mengantarmu ke sekolah! kenapa sekarang kamu ada disini?" sambungnya lagi.


"emm aku.."


"maaf, kakak ini siapa ya?" tanya Liyora


"aku Dylan, sepupu dari Lesya! ya sudah permisi, aku harus menemui Lesya"


saat itu Dylan memencet bel rumah. dan sesaat setelah itu, seseorang yang bertugas bersih-bersih pun membukakan pintu untuk Dylan.

__ADS_1


"maaf bi, Lesya nya ada?"


"maaf aden ini siapa ya? ada urusan apa mencari non Lesya?"


"begini bi, aku adalah sepupunya dan aku ingin bertemu dengannya!"


"oh kalo gitu silahkan masuk den, non Lesya sedang ada di kamarnya. den Saga sedang menyuapinya, karena non Lesya sedang sakit!"


"apa? nyuapin cewe itu?" Liyora yang mendengar hal itupun segera menerjang masuk Asisten rumah tangga yang berdiri di dekat pintu hingga terhuyung. namun untungnya Dylan dengan sigap menahan art itu untuk tidak terjatuh.


"kalo begitu aku akan menemuinya dulu bi" Dylan pun memutuskan untuk mengikuti kemana Liyora pergi dan disusul oleh Alden,Friska dan juga Dikta.


brak


dengan kasar Liyora mendorong pintu kamar milik Lesya. dan hal itu membuat Lesya yang tengah memakan sarapannya terkejut, begitupun dengan Saga yanh masih menyuapi Lesya.


Liyora langsung menarik tangan Saga hingga sendok terjatuh. "manja banget si jadi cewe! udah tau Saga punya cewe, masih aja lo godain dia! dasar cewe jal*ng"


"jaga bicaramu itu, aku tidak tau siapa kamu yang aku tau kamu sudah hersikap kurang ajar disini!" Dylan langsung membantu Lesya yang saat itu membersihkan tangannya yang terkena tumpahan makanan.


"ayo ikut aku Lesya.." Dylan menggendong Lesya dan hendak membawanya pergi, namun Saga segera menahannya.


"turunin mba Lesya! lu gak berhak bawa pergi dia daei sisni!" Saga menghentika Dylan dengan tatapan yang menghunus seoalah ingin menghabisi seseorang.


"aku gak akan nurunin Lesya. karena aku gak mau anda selalu nyakitin perasaannya terus menerus!"


"wah..wah tu orang berani-beraninya gendong-gendong istri masadepan gua!" Alden yang baru sampai dengan ditemani Dikta oun merasa tidak suka dengan Dylan yang menggendong Lesya seperti itu.


"jaga ucapan lu Al, ini lagi serius. lebih baik kita keluar karena disini kita itu orang luar!"


"tapi lu harus sadar posisi, disini mba Lesya itu istrinya Saga! jadi laki-laki itu harus ounya harga diri, jangan terkesan MURAHAN!" Dikta menekankan ucapannya sembari melirik Friska yang saat itu tak henti memperhatikannya.


'Dikta, apa dia nganggel gue kayak gitu? kenapa? apa karena gue pernah hamil? tapi gue hamil itu juga karna shabat lo Dikta! dan gue, gue gak suka lo jauhin gue!' itulah yang ada dibenak Friska saat ini. pasalnya ia tau bahwa sesungguhnya Dikta berbicara seperti itu bukan untuk Dikta melainkan untuk dirinya.


"kamu tidak berhak melarangku untuk membawa Lesya daei sini. karna aku tau kalo kamu memiliki peremuan lain kan?"


"terus kakak main nyalahin kita? kita emqng udah saling cinta dari dulu, dan sepupu kakak ini datang-datang ngancurin semuanya!" sahut Liyora dengan suara tinggi.


"Yora!" Saaga ingin melarang Liyora untuk berbicara namun saat itu ia melihat Lesya yang menatapnya dan menggelengkan kepalanya.


"Dylan, tolong turunkan aku. aku ingin bicara sama Liyora."


Dylan menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti kenapa Lesya mau berbicara dengan seseorang yang menginginkan kehancuran rumah tangganya.


"kamu yakin?" Dylan menatap Lesya dalam-dalam. dan hal itu membuat Saga merasa terbakar.


'kenapa gua harus kesel liyat cowo itu deket-deket sama mba Lesya? inget Saga lu itu punya Liyora!' Saga pun segera menampik semua yang ada di pikirannya tentang Lesya.


saat itu Lesya dan Liyora berdiri sedikit jauh dari orang-orang yang ada di tempat itu.


"dengar Liyora, aku kan melepaskan Saga. tapi aku butuh waktu untuk itu" ucap Lesya.


'kalo butuh waktu itu berarti ada kemungkinan Saga jadi suka sama dia! gue gak boleh biarin itu kan?' Liyora terdiam sejenak dengan sesuatu yang ada dikepalanya saat ini.

__ADS_1


'Kebetulan kan Lesya saat ini megangin gue!' Liyora menatap Lesya dengan senyum sinis, dan kemudian.


"Aaaa....."


sontak semua yang mendengar suara terikan berlari ke arah Liyora dan Leysa.


"Yora.." Saga menangkap Liyora yang tengah terhunyung karena merasa kesakitan.


"Saga, mba Lesya tadi mau dorong aku biar jatuh dari sini, untung aja aku menghindar. tapi sayangnya kepalaku membentur tangga Saga."


"Liyora, apa yang kamu katakan aku sama sekali gak pernah lakuin ini ke kamu!" Lesya berusaha menjelaskan hal itu dengan menatap nanar suaminya yang kini memapah perempuan lain.


"gua kira dugaan gua selama ini tentang mba Lesya salah. tapi setelah gua lihat keadaan Yora saat ini, itu udah ngebuktiin kalo mba Lesya emang bukan cewe baik-baik!"


bug


Dylan langsung menjatuhkan bogemannya tepat diwajah Saga hinga darah segar keluar dari pangkal hingungnya.


"atas dasar apa kamu menghina Lesya seperti itu. bukannya disini kamu yang laki-laki tidak bermoral. sudah tau punya istri, tapi masih juga menjalin dengan perempuan lain!" Dylan meradang dengan ucapa Saga saat ini.


"aku tau mungkin kamu kehilangan ingatan kamu. tapi apa itu juga bisa mebuatmu kehilangan moral dengan memilih perempuan sepeti dia? entag apa sebutannya untuk perempuan yang mau berpacaran dengan laki-laki yang bersistri"


"jaga ucapan anda!" Saga menunjuk Dylan dengan jarinya. seakan ia tidak terima dengan ucapan dylan tentang dirinya dan juga Liyora.


"Saga, apa yang lo katakan. Lesya itu orang baik, dan lo jangan beraninya menyimpulkan seperti itu hanya karena ucapan dari sebelah pihak!" Alden pun tidak terima dengan tuduhan Saga terhadap Lesya.


"ada apa ini? kenapa ramai-ramai di rumah ini?" seketika semua mata tertuju pada sumber suara yang baru saja tiba. yaitu nyonya Darmawan yang ditemani oleh Saka dan Ella.


"menantu kesayangan mami, tega ngelukain perempuan lain cuma demi posisinya dirumah ini mi!"


nyonya Darmawan lalu melihat dahi Liyora yang berdarah. "astaga, darah." ucap nyonya Darmawan bersamaan dengan Ella.


"sebenarnya apa yang terjadi?" kali ini Saka pun angkat bicara.


"ini ni ulah dari mba Lesya kak. apa ada orang yang melukai dirinya sendiri seperti ini?"


"tapi bukan Lesya yang lakuin ini mi?" Lesya ingin menjelaskan kepada ibu mertuanya.


Nyonya Guntara pun mulai mengobati luka Liyora. "Lesya, kamu sebenarnya tidak perlu melakukan ini sayang. mami kecewa dengan apa yang kamu lakukan!"


sontak ucapan nyonya Darmawan berhasil membuat luka yang ada di hati Lesya seperti disiram oleh air garam. Lesya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"ayo Lesya, percuma kamu tinggal dirumah ini dengan orang-orang seperti mereka!" Dylan mengangkat tubuh Lesya dan melewati semuanya. sementara itu, dengan hati yang seperti tersayat-sayat air mata Lesya lolos begitu saja dan mengalir deras dari pelupuk matanya yang sudah ia tahan sejak tadi.


"kalian semua toxic" Alden pun oergi meninggalkan temoat itu dan di susul oleh Dikta.


'kenapa lo jadi kaya gini Dikta, kenapa sekarang lo jadi orang yang gak perduli sama kebenaran. padahal selama ini lo selalu ada di pihak mba Lesya kan Dikta!' Friska terus memandangi Dikta yang perlahan menuruni anak tangga.


dan saat ini pandangannya beralih menatap Saga dan keluarganya. "kalian harusnya berpikir rasional. kalau disini Saga amnesia, aku rasa tante dan kak Saka gak lupa kalo Liyora pernah menipu kalian. "


"dan apa kalian pikir seseorag yang masih lemah, bisa melakukan hal yang membutuhkan tenaga . bahkan berjalan saja mba Lesya benar-benar lemah, ini kalian malah percaya sama ucapan ular betina!" ucap Friska dan pergi begitu saja.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2