It'S Perfect

It'S Perfect
Aku Tidak Akan mMenjadi Ayah Dari Anak Perempuan Selain Lesya


__ADS_3

Awalnya Alden akan langsung menolak ketika ibunya menyuruhnya untuk segera menikahi Dita, karena memang dirinya dan Dita hanya memiliki hubungan karena sebuah kesepakatan. Tetapi Alden memiliki rencana lain ketika tau Dikta mengawasinya.


"Oke kalo mami meminta, Alden dan Dita pasti akan menuruti permintaan mami"


Sontak hal itu membuat Dita dan juga Dikta yang mengawasinya dari luar rumah Dita terperanjat mendengar jawaban yang di luar dugaan oleh Alden yang justru menyetujui ucapan dari Riana.


"Apa yang lo lakuin Alden? Ini di luar perjanjian! " Lirih Dita namun penuh penekanan yang berbisik kepada Alden.


Namun saat itu Alden segera memegang tangan Dita. "Iya sayang aku tau kamu pasti terkejut karena kamu bahagia kan? Ini kejutan buat kamu sayang" Ucap Alden yang memperlihatkan jajaran gigi putihnya.


"Hehe iya sayang aku bahagia, tapi apa tidak terlalu cepat?"


"Tidak sayang, mami justru setuju. Dengan begini selain main cepet punya cucu, Kenan juga ada yang menemani. Tidak sendirian seperti tadi kan? " Sahut Riana.


"Emm tapi tante" Dita menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan sesekali melirik tajam ke arah Alden yang terus tersenyum.


'Punya temen absurd banget si, Sebenarnya apa coba tujuannya tiba-tiba setuju disuruh nikah? Ini kan gak ada di dalam Perjanjian? '


"Dita, panggil tente,mami. kayak Alden manggil gitu lo"


"Eh iya mami"


"Yaudah kalo kalian udah setuju, besok kalian datang ke butik temen mami buat ngukur baju pernikahan kalian. Dan sekarang mami pulang dulu, mami udah capek banget"


Selang beberapa saat tinggalah Dita yang hanya berdua dengan Alden karena Kenan yang sudah beristirahat di dalam kamarnya.


"Alden, lo gimana si masa iya lo setuju gitu aja? Cari alesan kek buat nolak permintaan mami kamu" Keluh Dita dan membuat Alden terkekeh


"Eh malah ketawa aja, jelasin gimana nanti kita nolaknya hmmm? "


"Kita lihat aja nanti Dita, lo cuma perlu bantu gue"


Disisi lain saat ini Dikta merasa kesal dengan keputusan yang di buat oleh Alden tanpa menanyakan kepadanya. Dikta memilih untuk menenangkan pikirannya dengan pergi ke sebuah baru dan minum.


Padahal Dikta jarang sekalo minum, Dikta akan minum jika memang diperlukan ketika berkumpul dengan para sahabatnya, itupun hanya sedikit.


Alden yang sudah meninggalkan rumah Dita mencari keberadaan Dikta yang sempat ia lihat didekat rumah Dita. Saat itu ia menemukan mobil milik Dikta yang terparkir di sebuah club malam. Dan akhirnya Alden pun pergi ke club tersebut untuk mencari keberadaan Dikta.


Ketika Alden masuk kedalam, ia mendapati Alden yang tengah berci*man dengan salah satu pengunjung dengan sangat panas.


Wajah Alden memanas, ia segera menarik Dikta dan membawanya pergi ke sebuah apartemen yang mereka beli berdua, dimana mereka sering menggunakan nya jika ingin bersama tanpa ingin ketahuan oleh keluarganya.


Brugh


Alden menjatuhkan Dikta di atas tempat tidur. Alden masih sangat marah ketika mengingat Alden di dalam club. Namun Alden tetap melepas sepatu milik Alden.

__ADS_1


Alden berpindah ke samping Dikta dan menatapnya dengan mata yang memerah. "Kamu jahat Ta, setelah kemarin kamu mencium Nadia, dan tadi kamu justru melakukannya dengan gadis asing"


"Sebaiknya aku pergi, jika tidak aku tidak akan baik-baik saja disini!"


Sebuah tangan menahannya dan terus mencekal tangannya. "Nadia.."


Alden tidak percaya didalam tidurnya, bahkan dalam keadaan mabuk Dikta masih teringat dengan Nadia, Bahkan menyebut namanya. Karena merasa marah, Alden meninggalkan Dikta sendirian.


"Nadia, Nadia maafin gue, gue gak bener-bener suka sama lo. Gue udah punya orang la.. in" Sambungnya lagi ketika Alden sudah meninggalkannya dengan kesalahpahaman.


_


Di tempat lain saat ini Yoo joon begitu menikmati masakan dari Lesya. Senyumnya terus mengenbang karena makanan yang sangat lezat kini ada di hadapannya. Selain itu Yoo joon juga sangat senang karena selalu dekat dengan Lesya.


"Emm Joonie, aku harus segera kekantor. Jaga kesehantanmu jangan terlalu bekerja keras okey"


Lesya melakukan mobilnya menuju kantor. Disana Lesya langsung meminta Andi dan Via untuk menjelaskan tentang proyek yang saat ini di tangani oleh kedua anak buah kepercayaannya.


"Baik, kalian sudah bisa kembali ke tempat kalian" Ujarnya


Dan saat itu Via dan Andi kembali ke tempat mereka.


Secara tiba-tiba Via memegangu perutnya yang terasa nyeri, dan akhirnya memilih untuk tetap duduk ditempatnya.


Sesampainya di rumah sakit, Via tidak sengaja bertemu dengan Arga yang mengantarkan sepupunya yang mengalami alergi.


"Kalian lagi, ada apa lagi ke rumah sakit? Apa terjadi sesuatu dengan kandunganmu Via?"


"Istri saya mengalami nyeri di dalam perutnya, jadi saya harus memeriksakannya" Jawab Andi.


Saat itu Arga hanya mengangguk ucapan Andi dan duduk untuk menunggu Sharena yang masih didalam ruangan.


"Andi, aku sangat ingin minum es krim" Dengernya seperti anak kecil.


"Huh, yang benar saja. Tapi ini kita masih di rumah sakit loh Via.. "


"Tapi Andi.. "


"Nanti ya, setelah kamu menemui dokter"


Dengan kekecewaan di wajah Via, akhirnya Via mengangguk ucapan Andi dengan menahan rasa inginnya.


"Via, ini mama telfon"


"Ya udah diangkat Ndi"

__ADS_1


Setelah mengangkat telfon dari ibunya, Andi terlihat cemas. "Ada apa Andi? "


"Mama Minta aku kesana, mama tiba-tiba jatuh dari kamar mandi Via"


"Ya udah kita kesana sekarang ya Andi"


"Tapi via, perut kamu sakit. Kamu harus menemui dokter."


"Tapi mama kamu Ndi"


"Kesehatan kamu harus dijaga demi anak kita Via, dan untuk maslah mama, buat aku yang kesana. Tapi kamu gak papa kalo aku kesana? "


"Aku gak papa kok, kamu boleh kesana Andi. Mama lebih butuhin kamu"


Akhirnya Andi mau tidak mau harus meninggalkan Via dan segera menemui Ibunya.


Ketika Sharena keluar dan hendak di pindahkan ke ruang rawat saat itu Via terjatuh dan memegangi perutnya.


"Sharena, kamu sendiri dulu. Aku harus menolongnya"


"Ya udah bang Arga urus dia, Aku juga mu tidur"


Sharena memang seperti itu. Sebenarnya dokter tidak memintanya untuk di rawat, namun ia sendirilah yang memintanya untuk membuat orang-orang simoatik karena ia mengalami sakit.


Arga pun tidak. Membuang waktu lagi dan mengangkat Via ke dalam untuk di periksa eh dokter.


"Dokter tolong, dia sedang hamil perutnya terasa sakit"


"Baik Pak, bapak tenang ya. Saya akan memeriksa istri anda"


Awalnya Arga ingin menepis jika dia bukanlah suami Via, namun jika mengatakan bukan, ia tidak akan diizinkan kedalam.


Arga dengan setia menunggu dokter menangani Via. Dan saat itu Via tidak memikirkan jika Arga ada didalam karena merasakan sakit.


Jantung Arga berdegup kencang ketika dokter menjelaskan tentang bayi yang di USG. Ia merasa begitu senang mendengar suara-suara yang timbul dari bayi yang ada didalam.


"Dokter, apa itu bayinya? "


"Iya Pak, bayi bapak tumbuh dengan sangat bagus."


Arga tak hentinya mengukir senyum dan melihat ke arah monitor.'apa seperti ini rasanya menjadi calon ayah? '


'Astaga, apa yang aku pikirin? aku gak akan jadi ayah dari anak perempuan selain Lesya! 'Batin Arga.


. Bersambung

__ADS_1


__ADS_2