
lorong rumah sakit terasa mencekam ketika semuanya menanti Saga ditangani oleh dokter. Lesya yang tidak henti berdoa, selalu menatap pintu ruangan Saga.
ceklek
pintu ruangan dimana Saga ditangani pun terbuka. Lesyapun segera menghampiri dokter yang baru keluar dari dalam.
"bagaimana dok keadaan suami saya?"
mendengar ucapan dari Lesya, dokter mengerutkan dahinya. mungkin dokter bingung jika seorang siswa SMA sudah memiliki istri. dokter mengetahui Saga seorang siswa memang karena saat ia dibawa ke rumah sakit masih mengenakan seragam sekolahnya.
namun karena tidak ingin ikut campur dengan apa yang bukan porsinya, sang dokterpun mulai menjelaskan tentang keadaan pasien. setelah dokter selesai dengan penjelasannya, kini Lesya sudah mebemani Saga yang belum sadaekan diri.
cukup lama ia menunggu Saga untuk siuman. bahkan yang lainnya sudah terlelap, Lesya masih terjaga dengan menggenggam tangan Saga yang terasa sedikit dingin.
waktu berjalan cukup cepat, hingga jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. dan saat itu Lesya yang masih tertidur sembari menggenggam jemari Saga harus terbangun karena pergerakan dari Saga yang mulai sadarkan diri.
"arrghhh.. sakit banget kepala gua!"
"syukurlah Saga, akhirnya kamu sadarkan diri!" binar mata Lesya menatap Saga nanar dengan senyum haru kebahagiaan.
"eh lo siapa si, pakek megangin tangan gua segala. mana keluarga gua!"
mendapati ucapan Saga yang seperti itu, Lesya justru terkekeh dan melipat tangannya didepan seraya berdiri dari duduknya.
"Saga, kamu itu baru aja siuman udah becanda!" Lesya yang gemas hendak mencubit hidung mancung milik Saga, namun Saga segera menampiknya.
"gak usah sok akrab sama gua! mana keluarga gua?" Saga memekik dengan suara yang cukup lantang dan membuat Lesya terhenyak.
"mereka sedang diluar Saga! dan apa kamu benar-benar tidak ingat siapa aku Saga?" harap-harap cemas, itulah yang dirasakan oleh Lesya saat ini. istri mana yang tidak cemas jika suaminya sendiri tidak mengingat siapa dirinya?
"tolong deh lo entah nama lo siapa, tolong panggilin keluaraga gua!"
'sepertinya ada yang gak beres sama Saga, mending aku panggil dokter'
setelah pemgecekan, Lesya tertegun dengan apa yang diucapkan oleh dokter. pasalnya dia harus menerima kabar buruk perihal yang dialami oleh suaminya, yaitu Amnesia.
"sayang ada apa?" tanya nyonya Darmawan.
"iya sayang kamu kenapa, kenapa kamu terdiam diluar dan tidak menemani Saga?" nyonya Guntara pun menimpali ucspan dari besannya.
__ADS_1
"Saga ma, Saga Amnesia!" suara Lesya bergetar dan tidak kuasa menahan airmatanya yang sedari tadi tahan.
"dan Saga, Saga akan lupa sama apa yang ia alami selama satu tahun terakhir. itu berarti Saga gak akan inget pernikahan kami yang baru sembilan bulan terjalin mi, ma!"
"tenang sayang, kita bisa jelaskan ke Saga kalau kalian sudah menikahkan? kamu jangan sesih okey!" nyonya Darmawan berusaha menenangkan menantunya yang saat ini tengah menangis, sementara Saga berada didalam ditemani oleh Saka dan juga ayah dan juga ayah mertuanya.
"jangan ma, jangan beritahu Saga!" sahut Lesya
"kamu bicara apa sayang, Saga harus tau siapa kamu dan hubungannya dengan kamu sayang!" ujar nyonya Guntara yang tidak habis pikir dengan ucapan putrinya yang melarang ibu mertuanya untuk memberitahu tentang hubungannya dengan suaminya sendiri.
"dokter sudah mengatakan Saga tidak boleh stres dan tertekan! Lesya khawatir dengab kesehatan Saga jiika kita langsung memeberitahu soal pernikahan kami ma"jelas Lesya.
"huff" nyonya Darmawan membuang nafas berat. "baiklah sayang jika memang itu intruksi dari dokter, tapi mami akan tetap beeusaha memberitahu Saga bahwa kalian sudah menikah ngan perlahan sayang!"sambungnya
💜💜
Akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit, kini Saga sudah diperbolehkan untuk pulang.
"kak, kenapa si kak Saka gak pernah ajak istri kakak waktu di rumah sakit? kata mami, kak Saka udah nikah!" celetukan Saka membuat Saka yang tadinya sibuk berkutat dengan tabletnya kini menatap adiknya yang sedang duduk di sofa panjang yang berada di ruang tengah.
"dia sedang sibuk!" tukas Saka.
"oh itu.." Saka terlihat memikirkan sesuatu, "dulu dia itu mau dijodohin sama kakak dan kakak udah milih Ella. dan karna keluarga kita merasa berasalah jadi mami nyuruh Lesya buat tinggal disini. dan selain itu juga Lesya bilang dia rela kakak nikah sama orang lain asal dia masih bisa deket sama kakak dengan dia tinggal disini. dan karena kakak ngerasa gak enak sama Ella, jadi kakak beli rumah biar gak serumah sama Lesya" ucap panjang lebar Saka yang jelas-jelas sedang membohongi adiknya.
"oh.. gak punya malu juga ya tu mba-mba." Saga terkekeh menertawakan Lesya yang menurutnya terkesan agresif.
"nah itu orangnya dateng!"tambah Saga.
"pagi Saga, pagi Saka!"
"pagi Sya.." sahut Saka.
sementara Saga hanya meliriknya sekilas dengan sikao acuhnya. "oh ya aku berangjat sekolah dulu ya kak kayaknya temen-temen udah pada kengen ni sama aku!" ucao Saga dan melenggang pergi.
sesampainya di sekolahan, Saga langsung mencari kedua sahabatnya yang sudah sangat ia rindukan, siapa lagi kalau bukan si playboy Alden dan si dingin Dikta.
"oey brotha... kalian kenapa si gak pernah maen kerumah? gak oengertian bangey sama sahabat sendiri yang lagi sakit!" protes Saga yang mengejutkan kedua sahabatnya yang tengah duduk di bangku kantin.
"Saga, lu udah sembuh apa? kok udah masuk aja lu!" tanya Alden.
__ADS_1
"iya Ga, emang lu udah benaran pulih?" Dikta pun menimpali ucaoan Alden.
"udahlah! lagian kalo lama-lama di rumah males gua!" ucap Saga dengan nada kesalnya.
"kenapa lu males, biasanya juga lu seneng banget kalo libur sekolah!" sahut Alden sembari mengangkat sevelah alisnya.
"iya males aja, di rumah ada mba Lesya yang terus ngejar-ngejar kakak gua! padahal kak Saka kan udah punya bini!"
"Saga, lu kok bisa si ngomong kaya gitu sama issyeeuummm..." Alden membulatkan kedua matanya kearah Dikta yang saat ini tenganh menginjak kakinya.
"lu lupa Al, nyokaonya Saga udah bilang kan sama kita soal amnesianya dia.." bisik Dikta.
"is apa maksud lu Al?"
"maksud gue, lu kok bisa si ngomong kaya gitu sama istri masa depan gua!"
"hahaha.. jadi lu naksir sama tu mba Lesya Al?"
"lah emang kenapa? dia itu perfect banget tau Ga. udah cantik, pinter masak, jago bela diri,wanita karir, masih muda lagi! siapa si yang gisa nolak dia?"
"kak Saka! dia itu bukti nyata orang yang udah nolak tu cewe!" Saga langsung memotong ucapan Alden yang tengah memuji Lesya.
"ya itu kak Saka nya aja yang siwer! cewe kaya dia itu hatus di kejar bukan di tinggal!"
"cewe yang harus dikejar itu kaya dia!" Saga menunjuk seseorang yang baru saja duduk di bangku seberang mejanya. dan seketika Dikta dan Alden menoleh ke arah jari telunjuk Saga tertuju.
"maksud lu Liyora?" tanya Dikta.
"ya iyalah Yora, siapa lagi? kalian taukan gua naksir Yora dari lama, cuman gua belom berani aja ngungkapin perasaan gua! gua pastiin dia bakalan ada couple Yora and Saga"mata Saga mengerling.
sementara Saga terua memperhatikan Liyora, kini Alden dan Dikta hanya saling menatap satu sama lain.
"gua cabut dulu guys, gua mau nyiapin sesuatu buat Liyora nanti pulang sekolah!" Saga tersenyum penuh makna sembari meninggalkam area kantin.
'jangan bilang nanti Saga mau nembak Liyora?!' itulah yang ada dibenak Dikta saat ini.
.
.bersambung
__ADS_1