It'S Perfect

It'S Perfect
Suami Yang Layak


__ADS_3

Lesya terkejut melihat Saka lah yang menyusup kedalam apartemennya. ia tidak menyangka Saka yang biasanya terlihat selalu rapi dan elegan, kali ini terlihat seperti tidak terurus. bahkan kali ini Saka dalam pengaruh alkoh*l.


setelah Lesya mengunci dengan jurus bela diri yang ia kuasai, Saka tak sadarkan diri karena mabuk. Lesya dengan susah payah membaringkan Saka diatas sofa ruang tamu. Lesya berpikir untuk menghubungi keluarga Darmawan, namun ia teringat, semenjak ia memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Saga, ia tidak memiliki kontak dengan keluarga Darmawan ataupun yang berhubungan dengan keluarga itu.


saat itu hanya ada nama Andi yang terbesit didalam benaknya. dengan segera Lesya membuka layar ponselnya dan menekan gagang telefon berwarna hijau. "halo Andi"


"halo bu Lesya, apa ada sesuatu ya g penting? atau ada yang bisa saya bantu?" ucap Andi diseberang telefon sembari mengucek kedua matanya yang masih merasakan kantuk.


"sebelumnya aku minta maaf sudah menganggu waktu istirahatmu,Andi."ucap Lesya.


"tidak apa bu, bu Lesya tidak perlu sungkan"


'kedengarannya Andi sangat letih, lebih baik aku tidak meropatkannya'


"begini Andi, tolong kamu kirimkan bomor Saga"


"baik bu"


setelah mengirim nomor Saga kepada Lesya, Andi sempat berpikir kenapa Lesya mwnyuruhnya untuk mengirimkan nomor Saga. pasalnya Andi sangat tau bahwa Lesya sangat tidak suka jika ada yang berhubungan dengan Saga. Namun Andi tidak ingin ikut campur terlalu dalam rumah tangga atasannya, terlebih Andi sebenarnya sangat mengagumi atasannya itu. namun apalah daya jika dia hanya seorang asisten dari seseorang yang ia kagumi.


Lesya menimang-nimang, apakah dia akan menghubungi Saga atau tidak. 'harusnya aku suruh Andi untuk menggubungi Saga, tapi.. Andi terdengar sangat letih. akubtidak tega menganggunya lagi'


Lesya memutar-mutar ponsel ditangannya, ia beranjak dsei tempat duduknya bergegas untuk kembali kekamarnya. namun ia kembali melihat kearah sofa.


"lebih baik aku telfon Saga!"


beep....beep...


Lesya menunggu panggilannya tersambung sembari menggigit kukunya, ketika panggilannya benar-benar terhubung, Lesya justru langsung menekan ikon gagang telfon berwarna merah.


"tapi kalo aku gak menghubungi Saga, gimana sama kak Saka? aku gak tau niatannya menyusup ketempat ini apa? dia akan berniat buruk atau tidak aku juga tidak yakin!"


sruupp


Lesya menarik nafas dalam, akhirnya ia memutuskan untuk menggubungi Saga.

__ADS_1


"halo" ucap datar suara bariton yang ada diseberang sana.


"datanglah ke apartemen xx. kakakmu tidak sadarkan diri"


klik


Sebelum Saga membalas ucapannya, Lesya langsung mematikan sambungannya begitu saja. dan selang bberapa saat ia mengirimkan nomor unit apartemen yang ia tempati.


Saga masih terpaku menyadari seseorang yang menghubunginya. "suara tadi, itu suara Lesya! tanpa kamu beritau, aku tau kamu tinggal diapartemen kita dulu Lesya." Saga mengembangkan senyum diwajahnya, tapi mendadak senyum itu pudar.


"dia bilang kakaku tidak sadarkan diri? itu berarti kak Saka disana? apa yang membuat kak Saka ada di apartemen Lesya?"


dengan tergesa Saga meninggalkan rumahnya, ia melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. dalam waktu setengah jam lebih ia sampai di basement apartemen.


Saga segera menuju unit apartemen yang ditinggali Lesya. setelah sampai didepan pintu apartemen Lesya, Saga segera menekan bel.


selang beberapa saat Lesya membuka pintu. belum sempat Lesya mengatakan apapun, Saga langsung memeluk erat Lesya sekilas. dan setelah itu ia memeriksa keadaan Lesya.


"apa kak Saka nyakitin kamu Lesya? atau kak Saka berbuat yang lainnya? katakan Lesya" terpancar kekhawatiran dimata Saga.


"dengar Saga, tolong jaga sikapmu!" Lesya melepas tangan Saga dari pundaknya. "kak Saka pingsan, sepertinya dia mabuk. lebih baik kamu bawa dia pergi dari sini"


Saga mengikuti Lesya dan matanya tertuju kepada Saka yang masih terpaku didalam dunia mimpinya.


"gimana bisa kak Saka ada disini Lesya?" tanya Saga penuh selidik.


"itu juga yang ingin aku tau!"


Saga menautkan kedua alisnya, ia masih mencerna apa yang dimaksud dengan ucaoan Lesya. "maksud kamu kak Saka menyelinap kesini Lesya?"


"seperti yang kamu tau, aku tidak pernah mengajaknya kesini. tapi setelah aku masuk, kak Saka tiba-tiba membekapku. untung saja aku bisa mengatasinya!" ucap Lesya.


saat itu Saga baru menyadari saat ini Lesya mengenakan pakaian tidur pendek tanpa lengan. Saga segera melepas jaket yang ia kenakan untuk ia pakaikan kepundak Lesya.


akhirnya saat itu Lesya juga sadar dengan apa yang ia pakai, dengan segera ia berlari kedalam kamarnya untuk mengenakan sweter miliknya. ia lalu mengembalikan jaket kepada pemiliknya.

__ADS_1


"ya sudah pergi sana bawa kak Saka sekalian!" ketus Lesya.


"beuh mba istri ini kenapa gak ngeh kalo suaminya ini kehausan? Saga mu ini kehausan mba istri!"


"astaga, setelah lulus sekolah bukannya semakin dewasa kamu malah semakin kaya anak kecil ya Saga!"


"karna aku memang imut Sayang.." Saga menimpali ucapan Lesya dengan candaan.


"bukan anak kecil yang imut tapi anak kecil yang menyebalkan Saga, dan aku sangat tidak suka! lebih baik kamu pergi sekarang!" hardik Lesya


Saga membuang nafas kasar dan meraih pinggang Lesya hingga nafasnya menerpa wajah Lesya.


"bawa pergi kakakmu dari sini Saga" Lesya menggeratkan giginya dengan tatapan nyalang.


"lebih sopan dengan suamimu Lesya!" kini tidak ada candaan sedikitpun dari nada suara Saga.


"kita sudah lama tidak bersama dan kamu masih menganggapku istri Saga? huh, lelucon!"


"dengar Lesya, aku selalu menganggap kamu istriku karna aku memang sangat mencintai kamu. dan asal kamu tau Lesya, aku pergi itu untuk kebaikan kita! aku ingin menjadi seorang suami yang layak untuk seorang CEO sepertimu Lesya!" Lesya terhenyak mendengar ucapan Saga sehingga mereka terpaku satu sama lain.


_


Dikta sampai dirumahnya setelah tiga puluh menit pergi mencari obat, ia segera mencari keberadaan Alden dikamarnya. namun ketika ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Alden yang tengah tertidur dengan posisi badan melingkar sepeeti kucing.


Dikta segera memeriksa suhu badan Alden dan denyut jantungnya.


"fuh.." Dikta membuang nafas lega.


"syukurlah, detak jantungnya normal. suhu badannya juga sudah normal" Dikta tersenyum melihat wajah Alden yang sedang terlelap.


"gua tau rasa ini salah, tapi gua gak bisa bohongin perasaan gua. entah sejak kapan lu berhasil mengisi kekosongan dihati gua Al! gua rasa gua emang udah gila."


Dikta mengusap wajah Alden dan sesekali mengukir senyum tipisnya. "gua pengwn ngungkapin perasaan gua sama lu Al. tapi gua gak tau respon lu bakal kaya apa! gua juga gak tau respon dunia bakal kaya apa setelah orang tau gua suka sama lu Al"


Dikta bimbang dengan perasaanya, ia sangat berusaha menahan perasaannya. namun ia juga takut jika Alden akan menjauh darinya.

__ADS_1


.


.bersambung


__ADS_2