It'S Perfect

It'S Perfect
Menantu Pengeretan


__ADS_3

Langkah Dylan tertuju pada meja resepsionis yang sudah siap melayani. Dengan segera Dylan meminta kunci kamar hotel yang sudah ia pesan sejak masih didalam pesawat.


Jadi meletakkan kopernya dikamarnya, Dylan segera pergi untuk menemui Yoo joon dan Lesya.


"Akhirnya kamu datang juga Dylan, sepertinya kita harus membawa Lesya kembali, karena jika dia terlalu lama di tempat ini Lesya akan semakin syok mendengar kabar tentang Saga" Ucap Yoo joon yang melihat kedatangan Dylan.


"Sepertinya itu lebih baik Yoo joon. Besok kau bawa pulang Lesya, biar aku yang mengurus mengenai kasus hilangnya Saga dan menyelidiki siapa orang yang sudah merencanakan untuk mencelakai Saga"


"Selain itu aku juga takut jika orang itu akan mencelakai Lesya Yoo joon" Sambungnya lagi.


Setelah berbincang cukup lama, saat itu Lesya terbangun dari istirahatnya dan segera memeluk Dylan dengan air mata yang tak kunjung berhenti.


"Tenanglah Lesya, aku berjanji akan membawa Saga mu kembali. Sementara itu, kau kembali dan beristirahat. Biar Yoo joon yang mengurus kantor"


"Tapi Dylan-"


"Demi anakmu Sya" Sahut Yoo joon"


Dengan berat hati Lesya harus menuruti ucapan Yoo joon dan juga Dylan.


Keesokan paginya, Lesya dan Yoo joon kembali ke kotanya dengan perasaan yang tidak baik terlebih Lesya saat itu sedang tidak sehat karena kandungannya.


Sesampainya di rumah, Lesya ditemani oleh Yoo joon untuk mbawa kopernya kedalam. Namun saat itu mereka tidak menemukan keberadaan Saka dan juga perawatnya Dina.


"Joonie, apa kau melihat dimana kak. Saka dan Dina? "


"Aku tidak melihat mereka Sya. Tapi sepertinya mereka tidak ada disini, karena rumahmu terlihat seperti tidak ditempati Sya"


"Kau benar Joonie"


Sudah tiga hari berlalu sejak Lesya kembali dari luar kota. Selama tiga hari pula Yoo joon setia menemani Lesya.


Ting tung


Bel rumah Lesya berdering, saat itu Yoo joon lah yang membukanya karena Lesya tengah memasak untuk makan malam.


"Siapa Joonie? " Ucap Lesya dari arah dapur.


Tap tap tap


Yoo joon menyusul Lesya di ruang dapur bersama seseorang.


Pandangan mata Lesya membulat dan mengulas senyum di wajahnya.


"Dylan.. " Mata Lesya terus verbinar dan memeluk Dylan, setelah itu ia masih mencari seseorang yang ia tunggu-tunggu.


Saat itulah Dylan dan Yoo joon saling menatap. Dylan lalu membawa Lesya untuk duduk di ruang tengah. Dylan menarik nafas Dalam dan membuangnya perlahan.


"Maaf Lesya, aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawa Saga pulang"


Lesya tersenyum dan bersedekap dihadapan Dylan dengan menggeleng.


"Dylan, jangan kamu pikir aku bisa tertipu. Kau pasti menyuruh Saga bersembunyikan?"


Lesya berjalan dengan cepat dan memeriksa ruang tamu, pandangan matanya menyapu tiap sudut ruang tamu dan bahkan Lesya berpindah memeriksa teras rumahnya.


"Dylan, dimana Saga? " Teriaknya dari luar rumah.

__ADS_1


Karena tidak mendapat jawaban dari Dylan, Lesya kembali kedalam. Namun belum sempat ia masuk, Dikta dan Alden datang dengan membawa sebuah kantung.


"Dikta, Alden kalian pasti yang bersama Saga kan? " Lesya mencari-cari Saga di belakang Dikta dan juga Alden, namun ia juga tidak menemukannya.


Dan saat itulah Dylan dan Yoo joon keluar bersamaan.


"Lesya.. " Dylan menarik Lesya kedalam dekapannya.


"Aku tau ini berat untukmu Lesya, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi-"


"Enggak Dylan, kamu bohong"


"Dan ini milik Saga mba Lesya, polisi menemukannya terpisah. Mereka bilang Saga kemungkinan diserang hewan buas karena jurang tersebut dekat dengan hutan"


Tangannya bergetar, Lesya membuka kantung dimana bersisi sobekan pakaian Saga dan juga ponsel milik Saga.


"Nggak mungkin ini nggak mungkin, kalian bohong kan?" Lesya mulai histeris. Ia lalu menarik baju Yoo joon dengan air mata yang terus mengalir. "Ini semua bohong kan Joonie.. Kalian pasti mengerjaiku kan? "


Air mata Yoo joon pun sudah tak terbendung. Namun Yoo joon segera menyekanya agar tidak mempengaruhi Lesya.


"Mba Lesya harus kuat, kami yakin Saga akan senang jika mba Lesya mengikhlaskannya" Ucap Dikta yang menahan kesedihannya.


"Nggak.. Kalian bo.. "


Brugh


Lesya jatuh pingsan hingga membuat semuanya menjadi panik dan membawanya kedalam kamar.


Triiing


Telepon rumah berdering dan segera di angkat oleh Dylan. Saat itu ia mendapat kabar dari Andi bahwa Saka mendatangi Perusahaan Lesya dan mengatakan jika ia adalah orang yang akan memimpin kantor karena Lesya tidak mampu karena kematian Saga.


"Baik Pak"


Andi kemudian menghubungi satpam untuk mengusir Saka dan juga Liyora yang tiba-tiba datang untuk menjadi pemimpin di kantor milik Lesya.


Dengan rasa amarah Saka dan Liyora pergi begitu saja karena didatangi oleh Satpam.


"Apa mereka semua sehat?"


"Maksudmu bagaimana Via? "


"Maksud Via, tidak semudah itu berpura-pura baik didepan Lesya dan ingin menghilang alih Perusahaan" Sahut Arga yang baru datang dan ditemani oleh Doni.


Seketika Via menatap datar kearah Arga dan justru Mengukir senyum untuk Doni. Dan hal itu tentu saja membuat Arga tidak suka.


"Tapi kenapa pak Saka tiba-tiba istana ke kantor ini, apa alasannya?" Tanya Doni.


"Semua ini karena bu Lesya sedang tidak baik karena ia baru saja mendapat kabar jika Pak Saga tidak ditemukan dan kemungkinan besar hewan buas sudah" Andi bahkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Apa? Saga di mangsa oleh hewan buas?"


Setelah mendengar kabar tersebut Arga berlari dan bergegas untuk pergi kerumah Lesya.


'Kau sangat perduli dengan bu Lesya tuan Arga. Tapi kau tidak mengakui anakmu sendiri dan menuduhku sebagai wanita gampangan tuan Arga!' Via tersenyum getir.


"Andi"

__ADS_1


Seorang perempuan menghambur kedalam pelukan Andi yang masih berbincang dengan Doni dan juga Via hingga membuat Via terkejut.


"Tolong yang sopan, jangan seperti ini" Ucap Andi sembari melepas pelukan perempuan tersebut.


"Maaf nona, kau ini siapa? Sepertinya kau bukan karyawan disini?" Doni menatao penuh selidik.


"Aku Rizza, tunangannya Andi"


Sontak hal itu membuat Via terhuyung dan segera di pegangin oleh Doni.


"Terima kasih pak Doni, aku hanya sedikit pusing"


Ucap Via dengan suara yang bergetar


'Ternyata mamanya Andi benar-benar melakukannya setelah ia mengatakan hal ini melalui telefon'


Flashback On_


"Andi kemana, kenapa dia tidak ada di ruang tamu seperti ini? "


Via yang tengah menyiapkan makan malam ingin meminta Andi untuk membantunya mengantarkan makanan untuk tetangganya.


"Ada apa Vi? "


"Emm ini Andi, semenjak kita menikah dan tinggal disini kita belum memberi apapun untuk tetangga kita kan? Karena kebetulan aku masak banyak, tolong antar ini ke rumah sebelah ya, aku masih harus memasak udang"


"Ya baiklah chef Via" Andi segera pergi ke rumah sebelah.


Drrtt Drrtt


Ponsel Andi berdering, Via yang melihat jika itu ibu mertuanya, ia pun berinisiatif untuk mengangkatnya.


"Halo ma"


"Dimana Andi, kenapa kamu yang angkat? Apa kamu mau mebguasai semuanya termasuk ponsel Andi? "


"Bukan begitu ma"


"Halah dasar menantu pengeretan. Oke kali ini kamu masih istri Andi, tapi setelah aku menjodohkan Andi dengan menantu pilihanku, kamu jangan harap bisa bersama Andi lagi"


Klik


Sambungan pun diputus secara sepihak oleh ibu mertuanya. Saat itu Via hanya bisa menahan kesedihannya.


Flashback Off_


Via menatap Andi dengan matanya yang berkaca-kaca, setelah itu ia memilih pergi meninggalkan Andi bersama dengan Rizza tunangannya. sementara itu Doni menyusul Via.


"Ada apa dengan dia, apa dia pengen ke kamar mandi? Dan cowok itu, dia pacarnya ya?"


'Dia istriku dan dia sangat kecewa padaku' batin Andi yang merasa begitu bersalah.


"Kamu tunggu disini Rizza, aku akan membahas urusan kantor dengan mereka"


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung


__ADS_2