
ting
kedua netra Liyora membulat sempurna saat melihat notifikasi dilayar ponselnya. ia berulang kali mengedipkan matanya seakaan tidak percaya.
"ini benerkan Saga ngechat gue?" Liyora berulang kali melihat layar ponselnya.
Hai Yora.. nanti malem gue jemput ya. ada yang mau aku omongin sama kamu~
"hah, apa Saga bener-bener lupain tu cewe tua?kalo gitu ini kesempatan bagus. walaupun Saga lupa kalo pernah jadian sama gue, tapi dia gak lupa kalo dulu emang kita deket sebelum kita bener-bener jadian!" Liyora mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum licik.
"oke, gue harus terkesan elegan, biar Saga semakin penasaran sama gue!" jari lentik Liyora pun mulai menari-nari diatas layar ponselnya dan berselancar membalas pesan dari Saga.
sementara itu di tempat lain Saga terus tersenyum sembari terus berkutat dengan ponselnya sendiri tanpa menghiraukan keberadaan ibu dan istrinya yang tengah duduk di sofa diseberang mejanya di ruang tengah.
"Saga, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya nyonya Darmawan.
"enggak pa-pa mi, cuman lagi chat sama temen!" balas Saga tanpa menatap ibunya yang sedang berbicara.
"Saga, kalau mami ngomong itu tatap mami!" hardik nyonya Guntara.
"siap nyonya Lisa Darmawan" ucap Saga yang kini menatap ibunya dengan raut wajah seperti anak kecil.
"oh ya mi, nanti malem Saga mau keluar sama temen-temen ya"
"emm cowo mi"
"kalo gitu kamu ajak Lesya ya sayang!"
"ah mami, nanti temen-temen Saga risih lah mi kalo ada cewe di tempat nongkrong kita"
'kalo sampe mba mba ini ikut, bisa ngerecokin rencana gua. dia kan ngeselin' batin Saga seraya melirik ke arah Lesya yang masih memperhatikannya.
"kalo kamu gak mau ajak Lesya, mending kamu gak usah keluar!" tukas nyonya Darmawan.
"oke oke nanti mba Lesya, Saga ajak." ucap Saga dan berlalu kekamarnya. namun saat di pertengahan tangga ia mendadak menghentikan langkahnya dan menatap Lesya. "eh mba, nanti dandannya sedwng aja ya jangan kaya tante-tante gua malu kalo sampek mba Lesya dandan kaya ondek-ondel!"
"Saga yang sopan kalo ngomong sama is-"
"iya, kamu tenang aja aku gak akan malu-maluin kamu kok. lagian Alden sama Dikta juga udah kenal sama aku!"
tanpa merespon ucapan Lesya, Saga langsung melnggang ke kamarnya untuk bersiap.
"mami.. mami jangan kaya tadi ya, Lesya khawatir kalo mami keceplosan, nanti Saga bisa tertekan.!"
"iya sayang maaf. tapi mami sebel kalo lihat Saga cuekin kamu sayang!"
"Lesya gak pa-pa kok mi, yang penting buat Lesya itu kesehatan Saga!"
"mungkin itu karma buat perempuan yang hobi godain suami orang! makanya suaminya sendiri lupain dia" tiba-tiba saja Ella yang baru datang dengan Saka pun menyela ucapan Lesya dan ibu mertuanya.
"jaga bicara kamu Ella"Saka membentak Ella hingga Ella merasa menciut.
"isshhh" Ella pun segera menyalimi ibu mertuanya dengan raut wajah kesal. dan ia pun segera menggeser Lesya yang tadinya duduk disevelah nyinya Guntara.
"mi, Ella laper ni makan yuk!"
"iya udah ayok sayang, karna papi masih di luar negeri jadi kita makan tanpa papi malam ini"
__ADS_1
"iya gak pa-pa kok mi.." ucap Ella seraya memeluk manja ibu mertuanya.
"dasar ular" lirih Saka.
"emm mi, Lesya harus siap-siap dulu ya buat peegi sama Saga" ucap Lesya
"iya sayang dandan yang cantik ya.."
Lesya hanya twrsenyum manis seraya pergi mnuju kamar tamu yang saat ini ia tempati.
Saka yang mendengar ucapan dari Lesya ia kini duduk di sebelah ibunya yang sekarang sendirian karena Ella yang lbih dulu ke ruang makan. "emm mi, Lesya sama Saga mau kemana?"
"itu sayang tadi Saga mau keluar sama temennya, terus mama nyuruh dia ngajak Lesya supaya mereka bisa lebih dekat dan bisa bikin Saga segera pulih dan mengingat Lesya adalah istrinya sayang"
"emm iya mi semoga saja!" Saka yerlihat tidak senang dengan ucapan ibunya untuk Lesya dan Saga. 'tapi semua itu akan sangat sulit mi, karna dokter sudah bilang kecil kemungkinan untuk Saga pulih. dan itu akan semakin bagus untuk membuat Lesya menjadi milikku!'
"ya udah sayang ayok kita makan, istri kamu udah kelaperan tu."
"oh ayo mi"
setelah memakan waktu setengah jam kini Saga sudah turun dan bersiap untuk pergi. saat itu ia hendak keluar rumah, namun lagi-lagi nyonya Guntara menghentikannya.
"Saga, tunggu Lesya dong.." nyinya Guntara menatap ke arah pintu kamar Lesya yang masih tertutup. " nah itu Lesya udah siap."
Lesya pun segera menghampiri nyonya Guntara dengan Saga dengan pakaiannya yang sangat cocok ia kenakan.
"sayang kamu cantik banget hari ini!" ucap nyonya Guntara yang melihat Lesya datang. "iya kan Saga, Lesya cantik banget!" sambung nyonya Guntara seraya menyenggol Saga yang tak hentinya menatap Lesya.
"eghem, biasa aja mi!" ucap Saga sedikit gugup. "ya udah ayo, mau ikut apa mau berdiri aja?"titah Saga
"lo duduk belakang aja mba, nanti gua mau jemput gebetan gua!"
"apa, gebetan?"
"iyalah gebetan, kenapa? mau bilang lo istri gua lagi mba? kaya waktu di rumah sakit?" Saga menatap remeh Lesya yang saat ini berdiri dihadapannya.
Lesya hanya menatap datar Saga dan bergegas untuk duduk di jok belakang. meskipun hatinya carut marut, Lesya adalah perempuan yang tegar dan ia sangat pandai menutupi kesedihannya dengan wajah dinginnya.
setelah Lesya sudah dipastikan duduk, Saga segera mengemudikan mobilnya menuju kesuatu tempat dimana Liyora sudah berdiri di depan gerbang. Saga lalu menghentikan laju mobilnya dan segera membukakan pintu untuk Liyora
ketika semuanya sudah didalam mobil, Liyora terkejut dengan keberadaan Lesya di belakangnya.
dan saat itu Liyora mengingat sesuatu tentang Saga yang belum mengingat Lesya, ia sengaja membuat Lesya kesal.
"emm Saga, kenapa kamu ngajakin dia?"
"oh itu, mami yang nyuruh Yora. aku harap kamu gak salah paham ya?"
"emm.. aku gak punya hak buat salah paham Saga, karna-" Liyora sengaja menjeda ucapannya, ia sengaja membuat Saga semakin merasa terpancing untuk menyatakan perasaan Saga terhadap dirinya. "karena kita memang belum ada hubungan apapun selain temen deket kan Saga!"
"Yora, tolong jangan berkata seperti itu okey.." Saga mengusap lembut punggung tangan Liyora. dan hal itu tak pernah lekang dari pandangan Lesya yang sedari tadi berusaha keras menahan perasaannya.
Liyora yang menyadari akan sikap Lesya yang mulai terlihat tidak nyaman pun tersenyum penuh makna sembari menatap Lesya.
setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menitan, Mereka telah sampai ditempat tujuan dimana disana sudah ditunggu oleh Alden dengan ditemani oleh Dikta.
saat Lesya baru turun dia mendapati sebuah meja dengan dua kursi yang bernuansa monokrom khas anak muda tidak berlebihan dan diberi aksen romantis tipis-tipis.
__ADS_1
"emm guys gua nitip ni mba Lesya ya, gua mau kesana sama Yora!"
"lu seriusan Ga?"tanya Dikta
"gua serius, gua gak mau dia ngerecokin semuanya gua kesel dia ikutgua terus" bisik Saga
Dikta hanya meengerutkan dahinya dan mengangkat alisnya.
"dia itu suka ngejar-ngejar kakak gua, dan sekarang dia mulai ngaku-ngaku jadi istri gua Ta, jadi gua gak suka dia ngikut-ngikutin gua terus" tambah Saga.
tanpa menunggu lama Saga segera menggandeng Liyora ketempat yang sudah mereka siapkan. sementara itu, Dikta dan Alden menemani Lesya di temoat yang lumayan jauh namun masih bisa melihat meja yang ditempati oleh Saga dan Liyora.
Lesya tak hentinya memperhatikan tingkah laku Saga yang membuat hatinya semakin nyeri.
"mba Lesya, kamu gak pa-pa?"ucapan Dikta sedikit mendistraksi perhatian Lesya.
"apa mau aku antar pulang Lesya?" sambung Alden.
"Alden, panggil aku mba atau kak apapun itu terserah! kamu ini lebih muda dari aku!" hardik Lesya
"tapi aku maunya panggil nama kamu, karna bagi aku kamu adalah calon istri yang pas buat aku Lesya."
"aw..aw.. oke aku panggil kamu mba Lesya. tapi jangan di cubit dong sakit cantik.."
"dasar playboy cap kodok" Dikta menoyor kepala Alden dan membuat Lesya sedikit terkekeh. namun senyumnya seketika menghilang saat ia melihat Saga menyodorkan sebuah kotak yang bersisi cincin untuk Lesya. dan disaat bersamaan sebuah tulisan di belakang Saga mulai menyembul.
Yora aku mau kamu selalu bersamaku sampai kita menua bersama dengan ikatan yang disebut cinta
melihat tulisan tersebut seketika Lesya bangkit dari posisinya, buku-buku tangannya memutih. binar mata yang mulai redup dan berkaca-kaca.
ingin rasanya Lesya berteriak dan mengatakan semuanya. namin sekali lagi ia menahannya dengan beralasan kesehatan Saga.
Lesya terduduk dan menunduk "aku harus pulang, aku titip Saga sama kalian"
"aku antar ya mba"tawar Dikta
"atau mau aku antar mba?" Alden oun juga ikut menawarkan diri.
namun saat itu tiba-tiba seseorang menghubungi Dikta dan mengharuskan Dikta pergi "sorry ya mba, aku harus pergi"
"iya Dikta pergi aja, aku bisa sendiri kok!"
"kamu gak akan sendirk kok cantik, ada aku!" itulah Alden yang selalu berusaha meluluhkan hati perempuan dengan kata-katanya.
"ya udah ayok, aku oengen cepet-cepet pulang!"
"lets go my queen"
Lesya pun berjalan menjauh dari temoat itu, dimana Saga masih mengungkapkan perasaanya kepada perempuan lain di hadapan istrinya sendiri.
'apa kamu benar-benar lupa Saga? dan sekarang kamu kembali dengan orang yang dulu ingin kamu jauhi karna hampir menghancurkan rumah tangga kita' Lesya meninggalkan Saga dengan perasaan yang entah seperti apa, mungkin jika digambarkan perasaan Lesya saat ini sudah seperti gelas yang oecah dan tak berbentuk.
.
.bersambung
.
__ADS_1