
Dikta tersadar dan segera bangkit daei posisinya, begitupun dengan Alden. kini mereka duduk saling membelakangi dengan perasaan masing-masing.
"sorry Al, gua bener-bener gak maksud" ucap Alden yang masih memunggungi Alden, namun berbeda dengan Alden. Alden justru kini melihat ke arah Dikta.
'apa..sebaiknya gua jujur sama Dikta tentang perasaan gua ke sia? tapi, apa dikta punya perasaan yang sama kayak yang gua rasain?! tapi kalo dia gak ada rasa sama gua, kenapa dia tadi..' Alden memegangi bibirnya.
"emm Dikta, sebenernya gu-"
"ini kesalahan Al! gua tau tadi lu oasti kaget banget waktu gua ngelakuin itu" Dikta lalu memutar badannya dan menatap Alden.
"tadi itu gua bener-bener gak sengaja Al" Dikta lalu tertawa renyah.
"gak mungkin kan kita lakuin itu karna apa-apa. bukan gimana-gimana, ya kali kita tertarik? kita kan masih normal! dan kalo kita lakuin itu karna cinta, apa kata dunia? lagian kalo gua bener suka sesama jenis, tapi ini amit-amit ya..(dikta ngetuk-ketuk kepalanya sambil cengengesan) mana mungkin gua sukanya sama playbou kayak lu. itu si mustahil kan Al!" lagi-lagi Dikta tertawa renyah untuk menutupi rasa canggungnya terhadap Alden.
sementara itu, Alden hanya tersenyum getir ketika mendengar apa yang diutarakan oleh Dikta. pastinya saat ini perasaan Alden menjadi carut marit mengetahui tentang pandangan Dikta terhadapnya.
"lu tenang aja Ta, gua tau lu tadi masih setengah sadar. gua emang cowok brengs*k, mana mungkin ada orang yang suka sa.a gua sekarang. apa lagi cowo normal kaya lu, gak mungkin juga lu belok sama gua!" Alden berbicara setenang mungkin untuk menutupi perasaannya yang hancur.
"emm ya udah ya Ta, gua balik. makasih semalem lu udah nyariin gua obat dan ngizinin gua nginep disini"
Dikta masih ternhenyak melihat Alden yang tiba-tiba terlihat sangat berbeda dari biasanya dan pergi begitu saja.
"apa Alden masih marah karna gua.." Dikta lalu membayangkan apa yang terjadi beberapa menit lalu saat dirinya lepas kontrol.
"goblok banget si gua, pakek kelepasan segala!" Dikta merutukki dirinya sendiri. namun sesaat setelah ia mengatakan hal itu Dikta terus tersenyum, meskipun ada rasa kekhawatiran takut akan Alden yang marah terhadapnya.
"tapi tadi itu Alden marah gak si sama gua? ah iya pagi ini gua harus ketemu sama Saga buat bahas kontrak yang Saga bahas sama mba Lesya."
__ADS_1
ya, Dikta memang salah satu mitra kerja Saga. saat awal Saga merintis usahanya, Dikta adalah salah satu orang yang berperan penting hingga saat ini Saga berhasil melahirkan cabang-cabang baru coffee shopnya.
selain bekerja sama dengan Saga, Dikta juga memiliki usaha bersama dengan Alden. dimana usaha yang bergerak di bidang kuliner.
_
setiap harinya Lesya terus berkutat dengan laptop dan juga berkas-berkas di kantornya. hingga Lesya sedikit ceroboh dan tidak teratur mengenai waktu makan. hingga setiap harinya Andi lah yang selalu meluangkan eaktu untuk memberitahu Lesya jam makan dan tak jarang Andi juga yang memilihkan makan siang untuknya.
siang itu Andi hendak mengantar makanan untuk Lesya, namun Yoo joon datang lebih dulu dengan membawa makanan untuk Lesya dan membuat Andi mengurungkan niatnya.
"ada apa Ndi? kenapa lo gak jadi nganterin makanan buat bu Lesya?" tanya Via salah satu karyawati.
"nggak jadi Vi, udah ada pak Yoo joon. ni buat lo aja, dsei pada mubazir gak ada yang makan!" ucap Andi sembari menyodorkan satu kotak makanan.
"ya walaupun gua cuman jadi pilihan kedua, tapi gua terima. mendinglah bisa ngirit gue!" Via meraih kotak makanan sembari tertawa renyah.
"lo itu juga butuh nyenengin diri lo kali Vi, jadi jangan terlalu pelit sama diri sendirilah" ucap Andi sembari tersenyum.
"ya gak papalah gue pelit sama diri gue, kan ada lo yang gak pelit sama gue!" lagi-lagi Via tertawa renyah.
"ya udah buruan dimakan keburu dingin!" ucap Andi seraya mengacak rambut Via dan berlalu pergi ke ruangnnya.
setelah Andi meninggalkan Via sendiri, Via tersenyum getir. 'andai aja lo tau perasaan gue sama lo Ndi, pasti lo gak mau bertemen sama gue. gue yakin lo bakal ilfeel sama gue. sebenernya gue bosen dikatain kudetlah,cupulah, tapi gue gak bisa nurutin semuanya termasuk buat outfit zaman sekarang. karna gaji gue cuman cukup buat bayar kontrakan dan beli obat buat bapak. belum lagi ibuk yang butuh duit buat bayar hutang berobat bapak dulu.'
namun Via adalah seorang gadis yang kuat dan ceria, ia tidak akan mengeluh untuk masalah finansil.
meninggalkan Via yang sibuk dengan lamunannya, saat ini Yoo joon justru membuat Lesya bingung dengan ceritanya.
__ADS_1
"maksud kamu gimana si Joonie? jadi kamu suka sama cewe, tapi cewe itu gak mau menjalin hubungan sama siapapun sebelum adiknya sembuh?" Lesya menatap Yoo joon meminta penjelasan. "memang adik dari perempuan yang kamu sukai sakit apa Joonie?"
"dia sakit jantung Sya, dan dia harus mendapat transplantasi jantung!"
"woah..."
"kenapa Sya?" tanya Yoo joon dengan menautkan kedua alisnya.
"kamu udah nyatain perasaan kamu sama si.."
"Dita" Yoo joon menimpali pertanyaa Lesya yang belum selesai.
"kamu pernah nyatain oerasaan kamu ke Dita Joonie?"
"hemm.. udah Sya, dan jawabannya itu tadi. dia mau menjalin hubungan dengan seseorng jika saja adiknya sudah sembuh dari pemyakit jantungnya." Kesedihan terlihat jelas di mata Yoo joon
"itu sama saja dia nolak kamu dong Joonie, tapi aku saranin kamu jangan nyerah. aku yakin dia gadis baik!"
"dari mana kamu tau kalo dia baik?"
"ya buktinya dia sayang banget sama adiknya kan? dia gak egois! kalo dia egois, udah pasti dia terima kamu Joonie. siapa si yang nolak cowo kayak kamu? ganteng, mapan plus kayak oppa-oppa yakan?" selorohan Lesya membuat Yoo joon tersenyum.
'yang nolak aku itu kamu Lesya. dulu aku pernah iseng nembak kamu, dan kamu tolak aku karna kamu bilang aku bukan tipe kamu. meskipun kamu menganggapnya sebagai candaan, tapi waktu itu aku serius sama kamu bahkan aku baru bisa membuka hati setelah aku kenal sama Dita, Sya.'
.
.bersambung
__ADS_1
.