
Andi terus melihat ke arah Doni dan bergantian melihat Via yang sejak tadi melihat kearah jendela. Andi memang duduk di jok belakang, sementara Via duduk disebelah kemudi.
Doni tidak luput dari pengawasan Andi yang sedari tadi terus memperhatikan Via dengan tatapan yang berbeda.
****
karena terus memperhatikan Via yang ada di sampingnya, Doni tidak melihat ada lubang yang cukup besar. namun untung saja Andi dengan sigap mencondongkan dirinya ke depan dan telapak tangannya menahan daging Via agar tidak terbentur.
"tolong lebih Hati-hati pak Doni, jika anda berkendara dengan tidak fokus, bisa membahayakan orang lain"
"Andi" lirih Via sembari memberi kode kepada Andi untuk tidak bicara lagi.
"maaf" ucap Doni.
"apa dahimu sakit nona Via? "
"oh tidak pak Doni, tadi Andi sudah melindungi saya agar tidak terbentur"
sementara itu ditempat lain saat ini Dikta dan Alden bersiap-siap untuk kembali. mereka berdua begitu terlihat bahagia layaknya pasangan baru yang pulang dari bulan madu mereka.
namun di perjalanan pulang mereka harus menghadapi beberapa orang yang menghadangnya.
"mereka siapa Ta? kamu kenal? "
"nggak Al, kayaknya mereka punya niatan gak baik sama kita Al"
"ya udah kita pergi aja Ta, jangan buka pintu mobilnya, mereka terlalu banyak buat kita lawan"
"kamu bener Al"
dengan segera Dikta memutar mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. namun mereka tidak bisa lolos semudah itu. gerombolan yang menghadangnya yang berpakaian seperti agen FBI terus mengejarnya. hingga akhirnya Dikta terpaksa menghentikan mobilnya ketika satu mobil berhenti didepan mobilnya.
"jangan keluar Ta terlalu berbahaya! "
"aku harus keluar Al. tapi kamu tetep didalam jangan buka pintunya"
"aku akan ikut keluar"
"Alden, turuti apa kata ku"
Alden lalu meraih tangan Dikta dan menatapnya dalam. ia berusaha meyakinkan Dikta bahwa semuanya akan baik-baik saja. akhirnya Diktapun luluh dan mengizinkan Alden untuk membantunya.
"mau apa kalian?"
tanpa menunggu lama, gerombolan tersebut mulai menyerang Dikta. merekapun saling jual beli pukulan. namun karena lawan mereka yang terlalu banyak, seseorang memukul Dikta hingga tidak sadarkan diri.
perlahan Dimta membuka kedua matanya. saat ini keadaanya tangannya diikat pada dua tiang yang berbeda dengan posisi berdiri. Dikta mencari keberadaan Alden, namun ia tidak menemukan siapapun.
"Alden.. kamu dimana Al? "
"Al.. "
"Alden... "
Dikta terus memanggil Alden namun tidak sekalipun Alden menyahuti panggilannya. hingga beberapa orang yang bertubuh besar dan kekar masuk.
"kalian siapa? apa mau kalian? lepasin gua! kenapa kalian ngiketbgua kaya gini? ini namnya penculikan dan kalian bisa dipenjara! " Dijta meronta namun tidak bisa lepas dari ikatan yang membuat tangannya terasa panas.
"kita siapa itu gak penting, sekarang yang terpenting kami harus memberimu pelajaran agar tidak lagi mendekati Alden"
__ADS_1
bug
bug
bug
beberapa pukulan mendarat di perut Dikta, dan hal itu berlanjut hingga membuat wajah Dikta terluka cukup parah.
"sampai kapanpun gua gak bakal jauhin Alden" pekik Dikta dengan wajah yang sudah babak belur.
"lanjut.. "
sementara Dikta di siksa oleh orang-orang yang tidak dikenal, justru saat ini Alden tengah dipertontonkan ketika Dikta menerima siksaan didalam ruangan.
"Dikta" Alden berteriak memanggil Dikta yang terlihat sangat lemah.
"siapa yang lakuin ini? cepat hentikan!"
Alden mengedarkan pandangannya mencari siapa orang yang melakukan hal ini terhadapnya dan juga Dikta. tetapi Alden belum menemukan siapapun didalam sana.
tap tap tap
langkah kaki seseorang memasuki ruangan dimana Alden dikurung. namun yang membuat aneh, Alden tidak diikat sama sekali apalagi disiksa seperti yang dialami Dikta saat ini.
"kak Muel"
seulas senyum terukir diwajah lugas Samuel. awalnya Alden juga tersenyum, namun ia segera tersadar bagaimana bisa Kakaknya bisa semudah itu masuk kedalam ruangan tersebut. dan bagaimana bisa Samuel tau dirinya berada ditempat itu.
"apa yang kak Muel inginkan sebenernya?" itulah yang ingin Alden ketahui saat ini. dan beberapa kali Alden melirik ke layar monitor yang memperlihatkan Dikta yang masih mendapat bogeman dari orang-orang tersebut.
hingga saat ini Samuel belum mengatakan hal apapun. ia langsung mengeluarkan sebuah amplop dan ia berikan kepada Alden.
"apa ini? "
dengan segera Alden membuka dan melihat isi amplop dari Samuel. kedua menikmatinya berhasil terbuka lebar ketika melihat isinya adalah foto kebersamaannya dengan Dikta disebuah vila. bahkan ketika mereka berci*man pun ada didalam sana.
"kak Muel tau hubunganku dengan Dikta? "
"tentu saja aku tau Alden, karena aku ini kakakmu! dan kakak tidak mau kamu memiliki hubungan seperti itu dengan Dikta! " sarkasnya.
raut keramahan dari Samuel lenyap begitu saja. saat ini hanya kematahan yang tersisa dimatanya.
"tapi kami saling cinta kak Muel, dan kakak gak bisa atur kehidupan ku"
"okey, kalau seperti itu. tandanya kamu akan melihat anak buahku untuk terus menyiksa Dikta"
dan ancaman itu berhasil membuat perasaan Alden carut marut. rasanya tubuhnya ikut merasakan sakit yang teramat ketika melihat Dikta kesakitan.
"oke oke.. aku akanakanjauhin Dikta. tapii
zinin aku bertemu dengan Dikta. "
"untuk apa kau menemuinya lagi? "
"please jangan pertanyakan apapun lagi, yang kak Muel mau pasti akan aku lakukan! tapi suruh anak buah kakak berhenti mukulin Alden"
-
"akhirnya kita sampai juga" ucap Doni
__ADS_1
"argh tubuhku rasanya sakit semua" Andi hendak meregangkan pinggang dan tangannya, namun karena ia melihat Doni yang berjalan mendekat ke arah Via, ia segera berjalan cepat hingga berada di antara Via dan juga Doni.
Doni terlihat tidak suka ketika Andi menghalanginya untuk lebih dekat dengan Via.
"Doni.. " teriak seseorang yang baru keluar dari dalam mobil yang sampai setelah mereka.
sontak ketiganya menoleh kearah sumber suara. dan saat itu terlihat sharena lah yang memanggil Doni.
"Sharena? apa tuan Arga yang menyuruhmu datang kemari?"
Sharena tidak menjawab pertanyaan dari Doni. ia justru terus menatap Via yang tengah berdiri disamping Andi.
"bukannya lo itu Cewe yang dipesta waktu itu? yang kelihatan.. "
"hari ini kita akan meninjau proyek, jadi tidak perlu membicarakan hal lain" pungkas Andi yang seakan tau arah pembicaraan dari Sharena.
Sharena pun kesal dengan Andi yang memotong ucapannya. didalam hatinya ia terus mengumpat dan akan memberi balasan kepada Andi. ya, Sharena memang seseorang yang tidak suka orang lain melarangnya. jika ada yang melarangnya makan dia akan bersikap tidak menyenangkan seperti apa yang saat ini ia rencanakan.
saat itu pandangan Sharena tertuju ke arah bangunan yang memang masih basah. saat itulah ia berencana untuk mengerjai Andi.
"mari kita kesana lebih dulu"
"tapi kita belum memakai helm safety Sharena"
"ah itu gak penting, kita cuman liyat dari jauh kok"
akhirnya semua menuruti ucapan Sharena. hingga ketika Andi berada dibawah susunan bata yang masih basah, Sharena sengaja menyenggol kayu yang ada disekitarnya agar baru bata itu runtuh dan mengenai Andi.
"awas Andi"
brug
"auh... "
"astaga nona Via.. biar aku bantu"
saat itu Doni hendak mengangkat Via namun tangannya dicekal oleh Andi.
"biar aku saja yang membawanya ke mobil"
"tidak perlu Andi, aku pun bisa membawanya"
"tidak bisa, aku yang akan membawanya ke rumah sakit"
sementara Andi dan Doni berdebat, kini Via semakin meringis kesakitan karena kakinya mengeluarkan banyak darah karena tertimpa banyak batu bata. dan Sharena, Sharena merasa bersalah karena orang yang bukan sasarannya lah yang terkena.
'kasian juga si, tapi ini bukan salahku. salah siapa dia pakek nyelametin si Andi segala! ' batin Sharena.
"kau lebih baik menyingkir biar aku yang mengangkatnya"
"tidak bisa pak Doni. "
"kenapa tidak bisa Andi? "
'karna kau akan menyentuh kaki Via. dan Via tidak boleh kau sentuh. aku si tidak cemburu, aku hanya membuat Via menjadi istri yang baik agar tidak disentuh pria lain'
itulah alasan Andi. ia tidak tau perasaannya saat ini mulai merasakan cemburu dan ingin menjelaskan kepada orang lain atas haknya.
"apa di istrimu? " sambung Doni dan membuat Via dan Andi saling pandang.
__ADS_1
.
.bersambung