
sekitar pukul delapan malam, Lesya baru saja sampai dirumahnya, ia diantarkan oleh Arga. namun ketika Arga hendak melajukan mobilnya, tanpa ia duga ban mobilnya bocor.
"Lesya, gua pinjem hp lo. gue mau telfon Doni buat jemput gue!"
"maaf pak ponsel saya mati, dan saya harus segera mengisi daya baterai nya."
"kalo gitu gue nunggu sampek hp lo idup, sstelah itu gue telfon Doni."
Lesya sempat ragu, namun karena keadaan sedang hujan lebat, ia tidak mungkin membiarkan Arga berada didalam mobilnya.
"mari pak!"
saat itu Lesya hanya menyuruh Arga duduk dikursi teras. ia merasa tidak pantas jika ada pria yang masuk kerumahnya jika suaminya tidak dirumah. namun saat itu hujan yang semakin lebat, mau tidak mau ia memlersilahkan Arga untuk masuk dan duduk diruang tamu.
"sebentar pak, saya harus mengisi daya ponsel saya!"
saat itu Lesya segera mencharge ponselnya agar Arga bisa menghubungi Doni dan segera pergi dari rumahnya. Lesya khawatir jika suaminya tau itu akan menimbulkan salah paham.
setelah mengisi daya ponselnya, Lesya keluar dengan membawa secangkir teh untuk Arga. ia tau saat ini Arga memang kedinginan akibat guyuran air hujan.
"silahkan diminum pak, ini bisa mengurangi rasa dingin pak"
tanpa mwngucapkan terimakasih, Arga segera menyesap tah yang sudah dibuatkan oleh Lesya. ketika ia pertama kali menyesap teh itu, ia langsung teringat dengan teh buatan ibunya. ia sangat hafal dengan racikan teh yang biasa ibunya buatkan, sehinga.
"siapa yang membuat tehnya?"
masih dengan posisi yang berdiri dengan nampan ditangannya, Lesya menautkan kedua alisnya.
'ini orang selain gak sopan apa dia juga buta? disini hanya ada aku dan dia, dan dia masih menanyakan siapa yang membuatnya? dasar manusia aneh! tapi kamu harus sabar Lesya, kamu butuh pekerjaan, jadi bersabarlah'
Lesya kembali memperingatkan dirinya sendiri. mungkin saat ini ia sedang kesal, namun ia harua menahannya. dijaman sekarang sangat susah mendapat pekerjaan, jadi Lesya harus bersabar demi mempertahankan pemerjaannya.
"gue tanya sama lo, tapi kenapa lo diem aja?"
"engh.. tentu saja saya yang membuatnya pak. untuk karyawan seperti saya, mana mungkin saya bisa menggaji orang untuk menjadi asisten rumah tangga saya pak."
"lalu bagaimana kamu bisa belajar membuat teh seperti ini?"
"emm maksud pak Arga?"
"teh ini tidak seperti teh pada umumnya!" Arga sengaja mengatakan hal itu karena Arga tidak mungkin mengatakan teh yang dibuatkan Lesya mirip dengan teh racikan ibunya sendiri.
"emm aku belajar dari seseorang pak!"
__ADS_1
"iya siapa orang yang lo maksud?"
"ibuku.. emm lebih tepatnya dia seseorang yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri pak"
'apa yang dia maksud adalah nyokap gue?' itulah yang terlintas sibenak Arga.
"lalu dimana orang yang lo anggep ibu itu?"
"dia tinggal diluar negeri pak"
Lesya hanya mengatakan hal it, ia tidak ingin menceritakan terlalu dalam dengan orang lain yang baru ia kenal. terlebih orang itu orang seperti Arga, yang menurutnya adalah orang yang sangat menyebalkan.
karena berbincang, Leaya melupakan bahwa ia saat ini masih mengenakan pakaian basah. akhirnya Lesya meninggalkan Arga diruang tamu untuk mengganti pakaiannya.
setelah selesai mengganti pakaian, Lesya kembali keruang tamu dengan ponsel yang sudah ia charge. Lesya lalu duduk disofa seberang Arga.
"ini pak, bapak bisa menghubungi Doni untuk me jemput bapak!" Lesya lalu mengulurkan ponselnya untuk Arga.
"lo ngusir gue?"
"bukan begitu pak, tadi-"
"udahlah, gue juga gak sudi lama-lama disini" tukas Arga dan segera meraih ppnsel dari tangan Lesya.
dan ketika Arga keluar dari pekarangan rumah, saat itu tepat Saga kembali dari tempat ia bekerja.
saat memasuki pekarangan rumahnya, Saga mempeehatikan mobil Arga hingga tak terlihat lagi. saat itu ia melihat Lesya yang berdiri diteras rumahnya dengan handuk yang masih dikepalanya. saat itu tiba-tiba bayangan tentang Lesya yang berada didalam rumah dengan Arga mguasai isi kepala Saga. sehingga saat itu Saga menatap Lesya dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.
Saga masuk kedalam rumahnya begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Lesya yang berdiri diterasa rumah. mengetahui sikap Saga, Lesya tau saat ini suaminya tengah marah. dan Lesya pun tau apa penyebab kemarahan dari suaminya.
"Saga"
brak
Saga menutup pintu kamarnya. ia meninggalkan Lesya diluar kamar. melihat kemarahan Saga saat ini rasanya peecuma saja bersikeras menyuruh Saga untuk membuka pintu kamarnya, dan saat itu Lesya memilih untuk pergi kedapur menyiapkan minuman hangat untuk Saga.
dsn ternyata benar dugaan Lesya, ketika Saga mencium bau teh buatan Lesya, ia akan langsung keluar dari kamarnya. ia kemudian menyusul Lesya didapur. Lesya segera menawarkan teh yang sudah ia buat untuk Saga.
dan Saga pun mengambil teh dari tangan Lesya, namun berbeda dari biasanya, Saga yang selalu menerima teh dengan senyum ucapan terimakasih, justru malam ini ia langsung membawa teh itu kedalam kamarnya.
saat itu Lesya mengernyitkan dahinya "tidak biasanya kamu seperti ini Saga! semarah apapun kamu, kamu akan berterimakasih. meskipun aku tidak ingin kamu berterimakasih karena itu kewajibanku. tapi ada apa denganmu hari ini Saga? apa kamu marah karena pak Arga?"
Lesya memegang hendel pintu, perlahan ia memutarnya hingga pintu kamarnya terbuka. saat itu ia melihat Saga yang berbaring dengan satu tangannya yang digunakan untuk bantalan kepalanya.
__ADS_1
"Saga.."
"hem.."
Saga berdeham, namun masih dengan matanya yang tertutup.
"aku ingin bicara Saga"
"hem.."
lagi-lagi Saga hanya berdeham.
"tasi pak Arga memgantatkanku pulang karena ketika kami meninjau lahan, disana kami kehujanan. dan karena kasihan, pak Arga mengantarku pulang karena memang tidak ada kendaraan umum disana Saga"
Lesya menunggu respon daei Saga, namun Saga tidak merespon apapun. ia justru meletakkan tangan yang satunya lagi untuk menutupi matanya. saat itu Lesya menarik nafas dalam, ia kemudian menyentuh kaki suaminya.
"dan tadi ketika sampai dirumah, mendadak ban mobil pak Arga bocor dan aku menyuruhnya untuk berteduh diteras Saga!"
Lesya ragu, apakah dia akan mengatakan ia menyuruh Arga masuk atau tidak. ia khawatir jika ia mengatakannya, Saga akan semakin marah.
'kehujanan? ban bocor? kenapa bisa kebetulan sekali? huh, diteras rumah? lalu apakah jika tamu ada diteras, minumannya akan ada didalam ruamg tamu!' Saga sibuk bermonolog didalam pikirannya. rasa cemburu tidak membiarkannya percaya begitu saja.
'dan apa-apaan, kenapa kamu memakai handuk dikepalamu dan membiarkan pria lain melihat leher jenjangmu? apa kamu sengaja supaya si Arga itu melihat lehermu berlama-lama hemm?'
entah kenapa pikiran negatif terus menguasai benak Saga. ia justru membayangkan sesuatu yang benar-benar jauh dari kenyataannya.
'apa dia tidak punya ponsel? kenapa dia tidak menghubungi anak buahnya?'
"dan tadi waktu pak Arga mau menghu-"
"tidurlah, aku sangat lelah hati ini" tukas Saga.
karena tidak ingin menganggu istirahat suaminya lagi, akhirnya Lesya menuruti ucapan Saga untuk segera tidur.
melihat Lesya yang sudah terpejam, Saga bangkit dari posisinya. ia duduk sembari memandangi istrinya yang terlelap. 'dan kenapa ponselmu tidak aktif? apa kamu sengaja karna kamu ingin berduaan dengan boss kayamu ity hmm?'
Saga membuang nafasnya kasar. ia kembalu membayangkan Arga yang terus menatap leher jenjang Lesya. tidak bisa dipungkiri bagian itu adalah salah satu favorite Saga. jadi Saga tidak rela jika pria lain yang memperhatikannya lama-lama. sadar akan pergerakan Lesya, Saga segera kembali seperti posisinya semula.
.
.bersambung
.
__ADS_1