It'S Perfect

It'S Perfect
Chilled Room


__ADS_3

Sesuai permintaan Lesya, Andi hendak mengantar Via ke rumah sakit. namun saat itu Via menolaknya.


"gak perlu Andi, gue udah baikan kok!" via beralasan. pasalnya sakit perutnya hanyalah sebuah kepura-puraan yang ia lakukan, bukan karena apa-apa, Via melakukan itu untuk membuat kegelisahan Andi menghilang.


sejak kedatangan Yoo joon Via sudah memperhatikan tingkah laku Andi yang terus menatap ke ruangan Lesya. karena itulah ia menyuruh Andi untuk mengantarkan berkas miliknya.


"lo yakin Vi? gue gak mau ya kalo lo sampek sakit lagi" ucap Andi penuh perhatian.


"Andi bantuin kita dong, berat ni. jangan ngurusin apa yang gak penting kenapa si" ucap beberapa staf yang tidak menyukai Via, khususnya staf perempuan.


"baiklah!" sebelum bergegas membantu staf lainnya,Andi melirik Via yang masih verdiri disampingnya "lebih baik kamu istirahat ya Vi" gegas Andi mebantu staf lain sembari menepuk pundak Via.


saat itu Via hanya mengangguki ucapan Andi dan segera kembali kemejanya untuk bekerja.


_


Alden yang biasanya semangat, kali ini ia hanya murung dan sesekali membantu pelayan restorannya melayani pelanggan.


saat itu Dita yang bekerja ditempat itu menghampiri Alden yang tengah melamun.


"ada apa Al, kelihatannya lo banyak pikiran?"


ya, meskipun Dita bawahan Alden. namun ketika mereka berdua, mereka akan berbicara santai tidak selayaknya bawahan dan owner tempat kerja.


Alden sedikit terhenyak ketika Dita menepuk bahunya,saat itu Alden berusaha memasang wajah senormal mungkin untuk menutupi perasaannya yang tengah hancur.


bagaimana tidak hancur? cinta yang belum terjalin, sang pemilik hati sudah mengatakan mencintai dirinya itu sebuah kemustahilan dan sebuah kesalahan apabila hal itu terjadi.


"ada apa Dita? apa lo butuh sesuatu?"


"enggak kok Al. cuman gue perhatiin, hari ini lo gak kaya biasanya, lo kelihatan murung. apa lo sakit Al? lo mau gue anter ke rumah sakit?" tanya Dita sembari memeriksa kening Alden dengan punggung tangannya.


"mungkin gue kecapean aja Dit, dan makasih lo udah perhatian sama gue" balas Alden tersenyum tipis.


"tu kan, hari ini lo aneh deh Al. biasanya lo nggak suka kalo orang lain sembarangan nyentuh kepala lo. tapi hari ini? hari ini gue periksa kening lo, lo malah nurut aja!"


"ya nggaklah Dit, gue gak suka kalo orang asing. kalo lo ya bedalah, lo kan temen gue, mana mungkin gak gue izinin"


"eghem.."


tiba-tiba suara dehaman seseorang mengagetkan Alden dan juga Dita yang tengah berbincang.


"eh Dikta.." Dita lalu melihat Dikta dan Alden bergantian "emm gue lanjut kerja ya. oh ya Dikta, itu sahabat lo lagi gak enak badan tapi gak mau dianterin ke rumah sakit. mungkin kalo sama lo Alden mau ke rumah sakit" ucap Dita dan berlalu pergi meninggalkan Alden bersama Dikta.


"Lu masih sakit Al?" Dikta mendekat untuk memeriksa suhu badan Alden, namun Alden memundurkan kepalanya.


"seperti yang gua bilang Ta, mungkin gua kecapean aja. lu gak perlu repot ngawatirin gua." Alden lalu menyibukkan dirinya dengan berkomunikasi dengan pengunjung restoran yang datang.


Alden mengerutkan dahinya dan terus mengikuti Alden berusaha untuk mengajak Alden berbicara. namun lagi-lagi Alden masih menyibukkan dirinya dengan mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan. seharian Dikta terus berusa hingga ketika waktu semakin larut saatnya restoran tutup, Alden sengaja pergi ke pantri untuk mengecek stok sayuran di restoran tersebut, Dikta juga masih berusaha mengajaknya bicara.

__ADS_1


"pak hasan, kamu jaga di pos saja, biar aku yang menguncinya. soalnya Alden masih didalam"


"baik den"


hasan adalah satpam yang biasa berjaga disiang hari, namun hari ini ia harus menunggu lebih lama karena satpam yang bertugas dimalam hari belum sampai.


setelah memberitau Hasan, Dikta segera menyusul Alden didalam. dan sesaat setelah Dikta kedalam, ucup yang bertugas beejaga malam telah tiba.


"maaf ya pak hasan saya datangnya terlambat"


"iya cup gak pa-pa, yasudah saya pulang dulu ya, ini kunci gedungnya"


"oh siap"


Ucup memang lebih muda dari Hasan, saat itu ia melihat pintu gedung yang belum terkunci segera ia kunci. Ucup berjalan menuju pos, namun sebelum ia sampai di pos satpam, ia melihat mobil milik Dikta masih terpakir dihalaman restoran.


"mungkin mobil si bos memang sengaja ditinggal. eh tapi itu motornya pak Alden juga, tapi lampu udah padam. ah pasti memang mereka sengaja meninggalkan kendaraannya disini" Ucup pun kembali melanjutkan untuk pergi ke pos satpam.


sementara itu Alden tengah memeriksa satu persatu bahan makanan apa saja yang sudah habis. "lebih baik gua lihat persediaan daging, apa udah abis?"


Alden segera memasuki Freezer room untuk memeriksanya. Dikta yang melihat hal itu segera menyusul Alden kedalam Freezer room.


"Al, gua mau ngomong sama lu"


Alden meilirik Dikta sekilas dan kembali melihat persediaan Daging.


"Al.." panggil Dikta


"oke, gua tunggu diluar" balas Dikta.


setelah selesai dengan Freezer room, Alden kembali ke chilled room untuk memeriksa sayuran.


"tu anak mai di ajak ngobrol malah kesitu lagi? mending gua ikut kesana ajalah!" Dikta menyusul kedalam Chilled room. namun sesaat setelah ia sampai, Alden hendak keluar.


ketika Alden berusaha membuka pintu ruangan, tiba-tiba daja pintu tersebut macet.


"kenapa Al?"


"pintunya rusak Ta"


"haduh kalo kita kekurung disini ini gak lucu Alden. disini dingin banget Al."


saat itu Alden terlihat cemas, ia lalu membuka pinselnya untuk menggubungi pos satpam.


"gimana Al, pak Hasan nyaut gak?"


"gak diangkat Ta, oh ya yang jaga malem itu pak Hasan apa Ucup?"


"biasanya si Ucup, tapi yadi gua lihat pak Hadan yang ada didepan Al"

__ADS_1


"tapi gak diangkat ni telfon dari gua! apa pak Hasan ketiduran?"


"ya udah sini biar gua yang hubungin los satpam. lebih baik lu duduk disini, gua tau lu kecapean." Dikta meraih ponsel milik Alden, namun ketika ia mersihnya, entah kenapa tangannya terasa licin dan membuat ponsel milik Alden jatuh.


"astaga, ponselny mati"seru Dikta.


"ya udah lu pakek hp lu ajalah Ta, daeipada kita kelamaan disini?"


Dikta menggeleng sembari menatap Alden "kenapa lu geleng-geleng Ta?"


"hp gua di ruangan gua Al"


"astaga.." Alden menepuk kepalanya tidak habis pikir dengan apa yang ia alami saat ini.


'ini kesempatan gua buat ngobrol sama Alden!'


"Alden,lu kenapa si hari ini cuekin gua?"


"perasaan lu aja kali,gua cuman capek aja Ta!"


"gua rasa lu punya alasan lain Al. apa lu masih marah karna gua cium lu tadi pagi?"


"gua udah gak mikirin itu Ta, lagian itu cuman keslahan kan Ta, jadi kita gak perlu inget-inget kesalahan tadi pagi"


entah kenapa mendengar Alden mengatakan hal itu membuat Dikta merasa nyeri di hatinya. dan seketika Dikta menyadari apa yang membuat Alden mendiamkannya.


'apa Alden marah gara-gara omongan gua soal ini?'


saat itulah Dikta hanya terdiam sembari mengingat semua ucapan yang ia lontarkan. dan ketika Alden hendak mengajak Alden berbicara kembali, ia melihat Alden yang kedinginan.


"astaga Al, lu kedinginan?"


saat itu Dikta terduduk sembari menggksok-gosokkan tangannya agar sedikit hangat.


sudah tiga jam mereka terkurung didalam Chilled room, hingga Alden sudah memejamkan matanya dnegan bibir yang sedikit pucat.


"Al, bertahan Al.."


Dikta terlihat sangat cemas, ia terus berusaha membuka pintu ruangan. namun pintu tidak bisa terbuka. hingga saat itu ia mulai membuka kancing baju Alden, dalam keadaan yang sudah lemas dan kedinginan, Alden memegang tangan Dikta yang berusaha membuka kancing bajunya.


"singkirin tangan lu Ta" lirih Alden.


"gua akan tetep lakuin ini Al."


.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2