It'S Perfect

It'S Perfect
Makan Malam


__ADS_3

Pagi itu sebelum berangkat ke sekolah, Saga menjemput Liyora lebih dulu. karena ia tidak ingin terlalu lama di perjalanan Saga mencari jalan lain untuk bisa lebih cepat sampai ke sekolah.


"babe, kenapa si kamu sekarang sering pakek motor. rambut aku jadi berantakan kan kena helm sama angin!"


Liyora terus menggerutu di bonceng oleh Saga.


"tapi pakek motor itu bisa lebih cepet Yora. apalagi sekarang sering macetkan, jadi lebih baik kita naik motor okey?" Saga mengusap lembut tangan Liyora yang melingkar di perutnya.


setelah limabelas menit menempuh perjalanan, Saga segera menghentikan laju motornya karena sudah memasuki area parkir sekolah. saat itu ia hendak melepas helm yang Liyora kenakan.


"astaga.."


"Saga kamu kenapa si tiba-tiba ngagetin aku!" masih dengan pipi wajah yang menggembung dengan bibir yang mengerucut, Liyora semakin dibuat kesal oleh Saga yang mengejutkannya.


"iya kaget aja liyat kamu cemberut Yora.. udah dong sekarang semyum ya" Saga berusaha membujuk kekasihnya untuk tidak kesal terus menerus.


dan saat itu tanpa menunggu Saga yang masih meletakkan helmnya di motor, Liyora sudah lebih dulu memasuki gedung sekolah tanpa menggandeng Saga yang biasanya selalu lengket dengannya.


dan untuk Saga, ia justru hanya terdiam melihat kepergian Liyora. Saga lalu membuang nafas kasar. ia merasa lega karena Liyora tidak lagi mengganggunya dengan cecaran permintaannya terus


menerus.


"aman.." Saga mengusap dadanya dan bernafas lega. "ini gua kenapa si? bisa-bisanya wajah Liyora berubah jadi mba Lesya! mana tadi ngegemesin banget lagi ekspresinya."


"apa gua perlu ke psikolog biar gua gak terus terusan salah penglihatan gegara halusinasi?"


ketika Saga bermonolog, ia melihat Dikta yang saat itu terduduk di bawah pohon rindang yang ada di halaman samping.


dan akhirnya Saga memutuskan untuk menghampiri sahabatnya itu.


"lu disini Ta?"


"hemm"


"lu kenapa Ta, ada masalah?"


"gua capek aja sama keluarga gua! gua kasihan sama nyokap gua yang belum bisa ngelupain pengkhianatan bokap gua!"


Saga lalu duduk di samping Dikta. ia menepuk pundak Dikta pelan. "gua tau nyokap lu pasti sangat terluka Ta, tapi lu sebagai anaknya jangan kaya ginilah. kasihan nyokap lu kalo lihat anaknya murung gara-gara itu!"


'bukan cuma itu masalah gua Saga. bahkan sekarang orang yang dulu spesial buat gua, ternyata pekerjaannya sama dengan perempuan yang udah bikin hancur keluarga gua. yaitu pel*c*r'


Dan entah kebetulan atau apa, saat itu Friska datang dengan di antar oleh pria yang kemarin mengantarkannya.


namun saat itu Saga yang tidak sengaja melihat laki-laki yang bersama dengan Friska dan sedikit mengernyitkan dahinya.


"Friska sama siapa Ta?"

__ADS_1


"gua gak tau"


saat itu Dylan yang melihat Saga, segera datang untuk menghampiri Saga yang tengah membicarakannya dengan Dikta. Friska yang melihat itupun segera menyusul Dylan.


"Saga.." sapa Dylan dengan senyum di wajahnya.


"ya, apa kita kenal?"


Dylan seketika menautkan kedua alisnya. pasalnya Dylan bahkan sudah pernah berbicara dengan Saga saat Lesya dulu mengalami amnesianya.


"apa kamu lupa denganku Saga?"


Saga lalu menatap kearah Dikta dan bergantian menatap Friska yang berdiri di samping Dylan.


"begini kak, Saga mengalami amnesia. jadi dia lupa beberapa bulan terakhir. bahkan istrinya saja dia lupa, dan justru dia berpacaran lagi sama Liyora yang dulu udah nipu dia."


"apa? berani-beraninya kamu Saga!" Dylan menarik kerah baju Saga dan hendak memukul Saga. namun dengan sigap Dikta melepas cengkraman tangan Dylan dari kerah baju Saga.


"tolong jangan kasar! anda sepertinya lebih dewasa, kenapa sikap anda seperti kekanakan!"


'Dikta, kenapa sikapnya berbeda dari biasanya. dan saat aku masuk, kenapa dia gak nanyain kabar aku? padahal beberapa hari terakhir dia yang selalu ada buat aku!' mata Friska tidak bisa membohongi siapapun yang melihat, saat itu tatapannya terus ke arah Dikta yang bahkan tidak menatapnya sedikitpun.


"aku tidak perduli jika kau berbuat seperti itu pada siapapun. tapi jika menyangkut sepupuku, kau akan berhadapan langsung denganku!" Dylan terlihat sangat marah hingga ia terus menatap Saga yamg bahkan terlihat bingung.


'apa? jadi Lesya sepupu kak Dylan?' Friska meremas tangannya sendiri 'jika kak Dylan tau aku pernah membantu Liyora buat ngancurin rumah tangga Lesya, apa dia masih sebaik ini?'


"gua gak pernah ada perasaan sedikitpun sama mba Lesya. dan gua harap lu tau alasan kami menikah karna apa!" kali ini Saga mulai angkat bicara.


Dylan semakin tidak mengerti, jika yang harus menikah dengan sepupunya adalah orang lain, kenapa dia menikah dengan siswa yang ada dihadapannya saat ini.


"bingungkan anda? makanya jangan sok keras kalo lu gak tau yang sebenarnya." Saga lalu beralih menatap Friska yamg ada di sampin Dylan. "dan buat lu Fris, kenapa lu bilang cewe gua nipu gua?"


'gue gak mungkin jawab yang sebenarnya sekarang! kalo gue jujur, kak Dylan pasti juga akan marah. dan gue gak bisa orang sebaik kak Dylan jauhin gue gegara kebohongan yang pernah Liyora lakuin.'


"gue harus pergi, gue gak ada waktu buat jelasin itu" Friska pergi begitu saja meninggalkan Saga yang masih mematung.


"lebih baik anda pergi dari sini dan tanyakan langsung dengan sepupu anda!" Saga lalu menatap Dikta yang masih berdiri di belakangnya. "ayo Ta, bentar lagi kelas mau mulai. gak ada untungnya kita ladenin orang yang gak tau apa-apa, yang bisanya cuman emosi."


Saga dan Dikta lalu menyusul pergi tanpa memperdulikan Dylan yang masih tertegun dengan apa yang baru ia dengar saat ini. "Lesya, jadi kamu mengalami semua ini karena perjodohan kalian! aku harus bertanya langsung dengan paman, kenapa pernikahan mereka tetap dilangsungkan meskipun bukan dengan mempelai yang seharusnya!"


-


drrttt drrttt


ponsel Lesya yang ada di atas meja bergetar. saat itu Lesya langsung menggeser gagang telfon berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.


"halo ma, mama ada apa menghubungiku sepagi ini?"

__ADS_1


"begini sayang, kamu tidak perlu meminta Yoo joon untuk makan malam, karna mama udah minta langsung sama Yoo joon, dan dia menyetujuinya untuk makan malam bersama keluarga kita. dan untuk kamu nanti malam harus bawa Saga ya sayang.."


tut


"huh mama, mama memang juara! kalo udah ngomong gak bisa ngasih kesempatan orang lain ngomong. dan sekarang, mama main tutup telfon gitu aja." Lesya tersenyum sembari menggeleng akan sikap ibunya.


waktupun berjalan cepat, Lesya kini sudah berada di rumah. saat itu ia mencari keberadaan Saga, namun ia tidak bertemu dengan siapapun.


"emm mi, apa mami tau Saga dimana?"


"mami lihat Saga tadi ada di gazebo belakang sayang, ada apa kamu cari suami kamu sayang?"


"begini mi, mama nyuruh aku sama Saga buat makan malam bersama dengan Yoo joon juga mi"


"ya udah kamu samperin dia di belakang sayang, kamu bilang sama dia biar dia juga siap-siap!"


"iya mi"


Lesya pun mendatangi Saga yang saat itu tengah asik memainkan game yamg ada di ponselnya.


"Saga.."


mendengar suara Lesya, Saga lalu menoleh kesumber suara. 'pokoknya gua gak boleh berimajinasi kaya kemaren-kemaren' itulah yang ada di benak Saga saat ini.


"ada apa mba?"


"malam ini kita harus datang ke rumah mama papa buat makan malam!"


"iya nanti gua usahain!"


Lesya tersenyum saat mendengar Saga tak lagi mengajaknya berdebat kali ini. ia lalu meninggalkan Saga yang masih degan ponselnya.


saat itu tanpa Lesya sadari, Saga terus memperhatikannya dari belakang.


drrttt drrtt


suara ponsel membuyarkan lamunannya. ia lalu segera mengangkat panggilan tersebut.


"iya halo Yora"


"babe, malam ini jam tujuh kamu harus anterin aku ke acara tante aku. dan sekarang aku mau kamu anterin aku cari baju buat acara malam ini. aku gak mau denger penolakan, atau aku bakalan marah!"


tut


Liyora mematikan hubungannya tanpa menunggu balasan dari Saga. "cewe ribet banget si, ini kalo gua gak cepetan berangkat pasti dia bener-bener marah sama gua" saat itu Saga bergegas pergi untuk mengantarkan Liyora.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2