
Alden mengejar Dikta dan meraih tangan Dikta yang sudah keluar dari ruangan nya dan membawanya kembali kedalam ruangan. niat hati ingin membicarakan tentang apa yang baru terjadi, tetapi Dikta justru kembali keluar dan menghindar dari Alden.
mendapati sikap Dikta seperti itu, akhirnya Alden memilih untuk meninggalkan restoran dan kembali ke rumahnya.
"huh, rumah ini seperti bukan rumah. mami dan papi hanya sibuk mengurus bisnis. sementara Dikta, Dikta marah dan tidak ingin bicara denganku"
brugh
Alden menjatuhkan badannya diatas kasur empuknya. ia memandangi langit-langit kamarnya dan sesekali meraup wajahnya dengan kasar.
"baiklah, kalau marah aku juga bisa seperti itu. kita buktikan siapa yang akan bertahan. dan aku tidak akan mengangkat telfonan sebelum kamu minta maaf karena mencium wanita di hadapanku."
Setelah mengatakan itu semua Alden memejamkan matanya untuk segera tidur, namun pikirannya terus terganggu dengan bayangan ketika Dikta mencium gadis lain dihadapannya yang tentu saja membuat perasaannya carut marut.
Alden memeriksa ponselnya, namun apa. Yang ia harapkan tidak terjadi. Dimana harapannya adalah mendapati Dikta menghubunginya, tetapi tidak sekalipun Dikta mencoba menghubunginya. Entah via telepon ataupun pesan.
"Tidakkah seharusnya kamu minta maaf denganku Dikta? Tapi kenapa kamu gak berusaha meminta maaf hmm? "
Alden kembali berusaha memejamkan matanya untuk meredam kekesalannya. Tetapi lagi-lagi Alden membuka matanya, akhirnya ia memilih untuk keluar dari rumah untuk mencari udara segar.
Ketika Alden melintas di dekat sebuah mini market ia melihat Dikta yang tengah mencari sesuatu. Ingin rasanya Alden menghampiri Dikta, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat keberadaan Nadia yang menemani Dikta.
"Nadia? Jadi dia benar-benar melakukan seperti yang aku bilang jika dia harus memperlakukan seperti kekasihnya? Tetapi dia tidak seharusnya seperti itu kan? Bahkan aku hanya di depan orang tuaku ketika aku mendekati Dita, tapi dia? "
Mata Alden menatap tajam, setelah menyaksikan kebersamaan Dikta dengan Nadia membuat suasana hatinya panas dan membuatnya pergi menemui Dita dirumahnya.
Alden membawa buah tangan untuk Kenan. Kenan begitu sumringah melihat Alden membawakannya sebuah mainan yang sudah ia impikan dimana Dita selalu mengatakan 'nanti' jika Kenan memintanya. Karena itu adalah salah satu mainan yang bisa dikatakan mahal untuk seorang Dita.
"Alden, lo gak perlu repot-repot beliin mainan mahal kayak gitu buat Kenan. Mainan Kenan udah banyak kok" Dita terlihat tidak enak dengan apa yang dibawa oleh Alden.
"Tidak masalah Dita, lagi pula aku belum menemui Kenan sejak pulang dari rumah sakit. Dan hati ini aku juga sangat kesal hari ini, jadi dengan aku menemui Kenan kekesalannya akan berkurang."
"Kenapa kau sama dengan kak Dylan, kak Alden? Tadi juga kak Dylan mengatakan kalau dia sangat kesal" Sahut Kenan yang masih mendengar ucapannya .
"Emm Kenan, kamu mainan dikamar ya. Kakak mau berbicara dengan kak Alden"
"Baiklah"
"Eh hari ini kenapa pangeran langsung menuruti ucapanku hmm? "
"Tentu saja, karena kakaku akan berbicara dengan calon suaminya. Jadi aku harus memberi waktu untuknya berbicara denganmu kan? "
Mendengar ucapan dari Kenan membuat Dita berdeham dan segera mengantar Kenan kedalam kamarnya. Seusai mengantarkan adiknya, Dita tidak langsung menemui Alden. Ia memilih untuk membuatkan teh racikannya yang terkenal sangat enak. Akankah Alden menganggap hal yang sama atau justru berbeda pendapat dari orang lain?
Usai membuat teh, Dita menyuguhkannya dengan beberapa camilan yang ia punya.
"Minumlah Al, cuman teh yang bisa gue suguhin sama lo. Sama beberapa camilan yang gue bikin sendiri"
"Gue minum ya Dit? " Dita mengangguki ucapan Alden, dan Alden pun segera menyesal teh buatan Dita dan juga mecicipi beberapa camilan yang sudah di suguhkan oleh Dita.
"Teh lo ini agak beda ya Dit, tapi rasanya bikin nagih banget. Camilan ini juga enak banget, gimana kalo lo bikin dan kita jadiin menu buat dessert dengan kita tambahin beberapa tambahan biar bisa dikatakan dessert"
Kedua mata Dita berbinar mendapat tawaran dari Alden. "Beneran boleh Al? "
__ADS_1
"Ya, karena bagi gue ini enak banget Dita. Dan gue yakin pengunjung resto kita bakalan suka banget"
"Makasih ya Al, lo udah ngizinin gue buat bikin salah satu menu buat restoran lo. Padahal restoran lo itu restoran yang gak main-main kualitasnya"
"Gak usah berlebihan deh lo Dita, kita ini sahabat. Jadi lo gak perlu gak enakan kayak gitu" Sambung Alden.
"Oh ya Al, tadi lo bilang lo kesel? Lo kesel sama siapa? "
Alden membuang nafasnya kasar. "Udahlah Dit, gue gak mau bahas itu. Gue balik aja ya Dita, lagian ini udah malem kasian adek lo pasti mau istirahat kan"
Alden bangkit dan beranjak dari duduknya. Ia pun berpamitan kepada Dita dan mulai melangkah keluar.
Brug
Sesuatu menabraknya dan membuat Alden menoleh. Dan dengan segera Dita menarik Kenan yang ternyata menabrak Alden.
"Kenan, kamu kenapa keluar dan nabrak kak Alden? " Dita berjongkok dan menatap adiknya.
"Maaf kak Dita, aku ingin mengajak kak Alden buat beli makanan kesukaanku kak"
"Eh Kenan, gak boleh kayak gitu. Itu gak sopan!"
Saat itu Alden mengikuti Dita yang berjongkok dan menatap Kenan dengan lekat.
"Memang Kenan mau kemana hmm? " Tanya Alden.
"Aku ingin makan es krim kak Alden, kak Dita sangat pelit dia gak mau beliin Kenan es krim" dengernya nya dengan suara yang bergetar.
Alden lalu mengukir senyum di wajahnya dan memegang tangan Kenan dengan lembut dan perhatian.
"Alden" Dita membukatkan kedua matanya.
"Ayo Dita" Ujar Alden sembari mendorong kursi roda Kenan menuju mobilnya. Dan mau tidak mau Dita harus mengikuti kemauan dari adiknya.
Selang beberapa saat Alden sampai di restoran mikiknya. Saat itu mata Kenan berbinar karena bahagia akan mendapatkan apa yang ia meminta selama ini.
"Apa disini ada es krim kak Alden?"
"Emm tentu Kenan"balas Alden
" Tapi apa makanan disini mahal? Sepertinya restoran ini sangat bagus! Dan kalau mahal lebih baik kita pergi saja dari sini, Kenan gak mau duit kak Dita abis cuman mau beliin Kenan es krim"
Pertanyaan Kenan membuat Alden terenyuh. Seorang anak kecil sudah berpikir sedewasa ini, dan hak itu mengingatkannya dengan masa kecilnya yang selalu berkecukupan bahkan lebih dari cukup dan sering menghamburkan uang.
'Lo bener-bener berhasil ngedidik adik lo Dita. Dia menjadi seorang anak kecil yang sangat manis' batin Alden.
"Tidak mahal kok Kenan, bahkan restoran ini akan memberimu oaoaun gratis asalkan Kenan menjadi anak yang baik"
"Benarkah?" Tanya Kenan dengan antusiasnya.
"Tidak perlu begitu Al, lo bisa potong gaji gue buat apa yang diminta Kenan nanti Al" Bisiknya didekat Alden.
"Sstt"balas Alden sembari melirik Dita.
__ADS_1
Saat itu Alden memerankan sesuatu untuk Kenan. Dan selang beberapa saat pesanan itu sudah ada di hadapan Kenan.
" Ini yogurt yang dibuat semirip mungkin dengan es krim, dan ini boleh untuk di konsumsi sama Kenan Dita"
Akhirnya Dita bisa bernafas lega setelah tau bukan es krim yang di pesankan oleh Alden. Saat itu ketiganya terlihat sangat senang melihat Kenan menikmati gogurt yang ia kira adalah es krim.
Dan disaat itulah Dikta datang bersama dengan Nadia dan duduk di meja yang ada di sebelah meja Alden.
"Dita, lo di sini? Bukannya lo tadi bilang gak masuk kerja karena mau nemenin Kenan kerumah sakit? " Tanya Dikta.
"Rumah sakit? "Tanya Nadia
" Iya rumah sakit, karena adikku baru operasi" Nadia mengangguki ucapan Dita.
"Hai.. Nama aku Nadia, nama kamu pasti Kenan. Emm kamu suka makan itu? "
"Iya suka kak, apalagi ini kak Alden yang mesenin. Padahal tadi waktu ke rumah kak Alden bawain Kenan banyak buah lo"
Dikta terus memperhatikan Alden sembari mendengar cerita dari Kenan. Dan disaat itulah Dikta tau jika Alden mendatangi Dita.
Sejak kedatangan Dikta, Alden bahkan belum mengatakan apapun. Ia masih teringat kebersamaan Dikta bersama Nadia di sebuah minimarket.
"Dita, lo kelihatan capek. Kita pulang ya. Badan lo juga deman" Alden menyentuh dahi Dita.
Awalnya Alden hanya ingin membalas sikap Dikta. Tetapi ternyata saat itu Dita memang mengalami demam.
"Kak Dita demam? " Kenan menimpali ucapan Alden dan terlihat sangat cemas mengetahui kakak nya demam.
Sementara itu Pandangan Dikta tak luput dari Alden yang tidak membalas tatapan dari Dikta dan justru begitu fokus dengan Dita.
"Lihatlah Saga, apa yang kamu katakan tadi tidak benar sama sekali. Kau bilang Alden dan Dita hanya pura-pura pacaran di depan tante Riana. Tetapi ini apa? Mereka tetap perhatian tanpa kehadiran tante Riana kan? " Ujar Lesya yang memperhatikan Alden dan Dita dari luar restoran bersama dengan Saga.
Akhirnya saat itu Lesya dan Saga kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah Lesya masih terdiam dengan wajah yang tertekuk karena kesal.
"Apa kamu masih mau membela Alden sama Dita, Saga? "
Saga ingin meyakinkan jika Dita dan Alden hanyalah berpura-pura, namun Saga sadar jika dirumahnya sendiri justru tidak aman mengatakan rahasia opapun. Dan Saga juga belum bisa membela Alden dengan apa yang mereka lihat didalam restoran.
"Baiklah aku salah, aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai ucapanku. Tapi aku yakin nanti kamu akan tau yang sebenarnya sayang"
"Dan sekarang tugas kita membuat Yoo joon pulih setelah apa yang dia alami kan? " Akhirnya saat ituesya berhasil meredam emosinya dan langsung memeluk Saga dengan erat.
"Aku harap kamu tidak akan mengkhianatiku kan Saga?"
Saga lalu menatap Lesya dengan lekat, ia kemudian mengecup lembut kening istrinya. Namun saat itu ia menyadari kehadiran orang yang mengawasi nya.
"Aku tetap yakin dengan ucapanku. Jadi terserah jika kamu tidak percaya. " Dontak hal itu membuat Lesya terperanjat melihat perubahan sikap Saga.
"Jadi tadi kau pura-pura setuju Saga" Lesya yang kesal segera meninggalkan Saga dan bergegas menuju kamarnya.
'Astaga, marah lagi.' Saga berdecak dan menyusul Lesya.
.
__ADS_1
. Bersambung