
Dikta kembali kerumah Saga dengan perasaan yang sulit ia artikan. setelah kepeegian Alden, Friska menyatakan perasaannya untuk Dikta. namun saat itu Dikta belum bisa menerima perasaan Friska dan ingin memikirkannya kembali.
dan saat itu Dikta melihat Alden yang tertidur di sofa, ia merasa aneh dengan sikap Alden. 'apa lu suka sama Friska Al? kenapa lu semarah ini sama gua!' itulah yang ada didalam benak Dikta ketika mengingat Alden yang menghempaskan tangan Friska dengan kasar saat memegangnya.
ketika Dikta tengah memperhatikan Alden, saat itu pula Alden membuka kedua matanya. ia memutar bola matanya malas. "udah selesai lu sama pacar masalalu lu Ta!"
"apaan si lu Al, kita gak perlu bahas-bahas itu. tapi ini dimana Saga, kenapa dia gak ada?"
"ya mana gua tau, gua balik Saga tinggal rumah doang. gak ada tanda-tanda kehidupan disini!" ketus Alden.
ketika mereka masih berbincang, terdengar deru suara motor yang tidak asing ditelinga mereka. "kayaknya itu Saga udah balik!" dan benar dengan ucapan Dikta. ketika pandangannya tertuju ke arah pintu, disana sudah ada Saga dengan Lesya yang berada disampingnya.
"Lesya kenapa Ga?" saat itu pula Alden menutup mulutnya. "eghem.. maksud gua kenapa sama mba Lesya, kenapa dia seperti ini. kemejanya juga robek! apa bosnya-"
"woy.. bisa diem gak lu. istri gua capek, dia harus mandi terus istirahat." potong Saga menghentikan semua cecaran peetanyaan dari Alden.
"kamu mandi abis itu kamu istirahat ya" ucap lembut Saga.
ketika Lesya sudah memasuki kamarnya, Alden dan Dikta menatap penuh selidik ke arah Saga. dan saat itu Saga tau apa yang ingin diketagui oleh kedua sahabatnya.
"pikiran kalian itu salah! kemeja Lesya robek, itu karena bosnya diserang sama serigala. dan dia keluar banyak darah dan saat itu Lesya merobek kemejanya untuk membalut luka bosnya!" jelas Saga.
"tapi mba Lesya gak pa-pa kan Ga? di gak luka kan?" kali ini Dikta yang menimpali ucapan Saga terlebih dulu.
"syukurnya si enggak."
"tapi itu berarti mba Lesya perduli banget sama bosnya kan Ga, dan gua rasa lu juga harus hati-hati. mba Lesya itu cantik,cerdas, baik dan perhatian. cowok mana coba yang gak jatuh hati sama perempuan yang modelannya kaya mba Lesya?"
"wooh.. ni anak minta gua plaster ni mulutnya. gua pastiin tu orang gak bakal bisa dapetin stri gua lah Alden, lu aja sampek nyerah sendiri kan?"sahut Saga sembari menyomot wajah Alden.
"eh tapi apa yang dibilang sama Alden itu ada benernya lo Ga! kalo emang bener bosnya mba Lesya suka sama dia, lu gak boleh nganggep enteng. karna kali ini saingan lu seorang CEO perusahaan besar, bukan anak kemaren sore kaya Alden!"
mendengar apa yang dikatakan oleh Dikta, Saga mendadak mengerutkan dahinya.
"tu kan Ga, Dikta aja setuju sama gua. apalagi tu cowo pasti ngerasa kalo mba Lesya perduli sama dia. mba Lesya sampek rela ngerobek kemejanya cuman buat balut luka si tu orang, ya kan?"
"kenapa gua gak mikir kesitu? dan kenapa juga Lesya malah gak perduliin dirinua sendiri."
__ADS_1
"itu semua karena kemanusiaan Saga!" sahut Lesya yang baru saja keluar dsri dalam kamarnya. "dan satu lagi, saat itu pakaianku masih sangat normal meskipun kemeja luar yang aku pakai robek, itu gak akan bikin harga diri aku rendah!"
Lesya memang cerdas. ia tau kemana arah pembicaraan dari Aldeb dan juga Saga. saat itu yang ia tangkap adalah seorang perempuan yang rela pakaiannya terbuka demi untuk membalut luka sang pria yang ia tolong.
"bukan itu maksudku Lesya.."
"itu wajar kok Saga, sebagai suamiku kamu memang harus berpikir sepeeti itu. dan disini aku akan meluruskannya agar kamu gak salah paham dan timbul spekulasi-spekulasi yang nantinya bikin hubungan kita renggang." Lesya dengan tenang berbicata dengan Saga.
"asal kalian tau, aku tidak akan merobek kemajaku jika saja tempat itu dekat dengan rumah sakit. jadi disaat pak Arga terluka, kami berada di daerah yang jauh dari permukiman. maka dari situ aku harus menghentikan pendarahannya. jia tidak, itu akan membauayakam keselamatannya."
seketika Saga mengukir senyum tipisnya dan menarik Lesya kedalam pelukannya. "aku bangga punya istri yang benar-benar baik kaya k kamu Lesya."
"baik si baik, tapi masih ada kita berdua loh disini Ga main peluk-peluk aja mentang-mentang lunya bini lu!" ujar Alden.
Saga dan Lesya pun melepas pelukan mereka. saat itu semuanya terkekeh dengan apa yang dikatakan oleh Alden. dan malam pun semakin larut, saat itu Alden dan Dikta memutuskan untuk segera berpamitan.
"anj*r.. ban motor gua kempes lagi!" Alden menendang ban motornya yang terlihat gepeng tidak ada udara sedikitpun didalamnya.
"ada apa Al, gua denger dari dalem kayaknya lu lagi kesel!" ucap Saga yang menyusul Alden dan Dikta keluar.
"ya udah motor lu tinggalin aja disini, biar besok gua anterin ke bengkel deket situ. cuman kalo sekarang kan udah malem makanya udah tutup!"
"ya udahlah kalo gitu gua pinjem motor lu Ga!"
"janganlah Al, lu balik sama gua!"
"rumah kita gak searah" tukas Alden yang masih terlihat kesal dengan Dikta.
"gak pa-pa biar gua anterin. lu gak lihat sekarang Saga cuman punya motor itu, dia lagi ngejalanin tantangan nyokapnya lu inget kan?!"
"fuh.. ya udah gua balik sama lu."
saat itu Saga mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Alden yang memang seperti kekanak-kanakan. "lu apain Alden si Ta? kelihatannya dia lagi kesel sama lu!" bisik Saga.
"mana gua tau Ga, gua juga bingung"sahut Dikta.
"jadi nganterin gua nggak? apa lu masih mau ngobrol sama Saga?"
__ADS_1
"oh ya jadilah"
'nanti dijalan sekalian aja biar gua tanyain sama Alden. apa dia marah karna cemburu gua ngobrol sama Friska tadi? kalo emang ia itu berarti gua harus tolak Friska. gua gak mau persahabatan gua hancur gara-gara ini. dan gua juga harus bantu Alden deket sama Friska!'
disepanjang jalan pulang,Dikta fan Alden hanya saling diam tanpa mengatakan apapun. hingga akhirnya Dikta membuka pembicaraan.
"lu marah sama gua Al?"
"gaklah, ngapain gua marah sama lu?" tukas Alden
"gua rau kalo lu marah sama gua Alden. lu marah karna tadi Friska megang gua, dan karna itu lu cemburu karena lu suka sama Friska!"
"apa? gua suka sama Friska? gak usah ngawur lu Ta kalo ngomong!" protes Alden sembari menoyor kepala Dimta yang masih mengenakan helm hingga saat itu ia sedikit menunduk.
shiittt..
grep
deg deg deg
"lu gimana si Dikta kita hampir celaka barusan" pekik Alden.
"sorry Al, abisnya lu pakek noyor kepala gua si. jadi gua gak lihat ada jalanan yang berlubang ya gua ngerem mendadaklah tadi!"
" ya udahlah ngebut. udah ngantuk gua!"
setelah di antar oleh Dikta sampai didepan rumahnya, kini Alden langsung masuk kedalam kamarnya. ia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas kingsize nya.
"huh, ada yang gak beres sama gua! kenapa gua tadi kesel banget waktu Dikta dipegang sama Friska? apa bener yang Dikta bilang kalo gua itu suka sama Friska!"
.
.
.bersambung
.
__ADS_1