
Kedua orang berusia paruh baya itu terduduk dengan suasana yang hening, keduanya pun saling menatap satu sama lain.
"Ini semua nggak bener pa, Alden itu anak kita"
"Jangan menyebutnya anak kita lagi ma, aku tidak akan menganggapnya lagi sebagai anak begitupun mama"
Tap
Tap
Tap
Dita datang dengan membawa dia cangkir teh untuk kedua mertuanya. Ia lalu duduk di sebuah sofa yang berseberangan dengan mereka.
"Pa, ma silahkan. Ini adalah teh kesukaan kalian" Dita menyuguhkannya dengan senyum tipis terluas di wajahnya. Kedua orang tua Alden melihat Dita dengan tatapan sendu.
Merasa bersalah, tentu saja itu yang di rasakan oleh kedua orang tua Alden. Mereka tidak tahu menahu tentang apa yang sudah terjadi selama ini sehingga menganggap semua kesalahan ada pada anaknya. Sedangkan Dita, mereka menganggap Dita adalah korban dari mereka.
"Jangan menatapku seperti itu ma, pa, aku tidak apa-apa"
"Apa maksudmu tidak apa-apa Dita. Suamimu mengkhianatimu bahkan dengan cara yang sangat memalukan"
'Apa aku harus mengatakannya sekarang? Mungkin Alden keliru, tapi cinta mereka nggak salah. Dan apa ini saatnya aku buat jujur tentang perasaanku. Tapi bagaimana jika akau jujur? Bagaimana dengan nasib anakku nanti. Aku sudah tidak memiliki pekerjaan. Bagaimana jika mereka mengusirku juga, bagaimana dengan Kenan?"
Dita berada didalam dilema yang besar. Ia tau jika ia jujur mungkin orang tua Alden tidak akan melimpahkan kesalahan itu hanya kepada Alden dan Dikta. Tapi bagaimana nasibnya nanti yang sudah bergantung sepenuhnya dengan keluarga itu.
-
Saga menemani Kesya yang masih terjaga di dalam kamar. Ia tau istrinya saat ini memikirkan banyak hal.
"Sayang, tidurlah. Ini sudah larut malam" Saga mengusap lembut kedua pundak istrinya dari belakang. Seketika saat itu Les ya menoleh dan langsung memeluk Saga sekilas.
"Sebagai sahabat mereka, kita tidak bisa tinggal diam Saga. Apa kita tega melihat sebuah keluarga hancur?"
"Mereka mungkin memang salah, tapi tidak ada seorangpun bisa mengatur kepada siapa kita harus jatuh cinta kan Saga? "
"Tenanglah Lesya, kita akan pikirkan masalah itu nanti. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Tidak baik untukmu tidur terlalu malam"
Akhirnya malam itu Les ya tertidur di dalam pelukan suaminya. Tetapi saat itu hanya Les ya saja yang tertidur, tapi tidak dengan Saga. Ia merasa harus melakukan sesuatu tetapi tidak tau apa.
Pasalnya ia tau Alden tidak bisa jauh dari keluarganya, apalagi kesehatannya saat ini sedang buruk. Selain ia yang baru saja menjalani operasi karena terjatuh, penyakitnya saat ini juga sudah parah dan semakin menggerogoti raganya.
"Lebih baik aku menghubungi Dikta"
__ADS_1
Perlahan Saga menidurkan istrinya dengan sangat hati-hati. Ia berjalan ke balkon agar tidak menganggu Les ya yang baru saja bisa tidur.
"Halo Dikta, bagaimana dengan keadaan lo sama Alden?"
"Gua baik Saga. tapi Alden, dia terlihat sangat lemah sekarang" Terdengar nada cemas dari seberang telefon.
"Lalu kalian ada dimana sekarang? "
"Gua bawa Alden ke rumah sakit yang nggak jauh dari apartemen gue Ga. Keadaanya lemah, terlebih saat ini Alden demam"
"Astaga, kalau gue akan kesana sekarang"
"Jangan Ga, ini udah larut. Lebih baik lo istirahat. Besok baru lo kesini"
Setelah memikirkan ucapan Dikta, Saga pun setuju. Keduanya mengakhiri pembicaraan mereka.
Keesokan paginya Saga bersiap untuk ke kampus. Hari ini ia harus datang karena pihak kampus mengadakan penyambutan untuk kedatangan salah satu Profesor terkenal sehingga Saga tidak mungkin untuk absen.
Sepulang dari kampus, Saga bertemu dengan Saka yang saat itu hendak pergi ke suatu tempat. Saat itu Saga memilih untuk tidak memperdulikannya, tetapi Saka yang hampir saja masuk kedalam mobilnya pun urung dan memilih menghampiri Saga yang hendak membeli buah.
"Hai Saga, lama kita tidak bertemu"
Saga tidak ingin menanggapi Saka, ia bahkan langsung meminta sangat penjual untuk membuatkannya parsel buah.
Benar-benar tidak tahu malu dengan apa yang di ucapkan oleh Saka saat ini. Meskipun begitu, Saga berusaha untuk tidak melayaninya karena banyak orang di tempat itu.
Setelah Saga mendapatkan pesanannya, kini ia bergegas untuk melakukan mobilnya. Tetapi saat itu Saka justru mengikutinya. Tetapi Saga masih tidak ingin melayani Saka karena ia ingin cepat melihat keadaan sahabatnya saat ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Ssga sampai dan langsung mencari ruangan Alden di rawat. Dan dalam waktu beberapa saat, Saga sampai ke ruang rawat Alden.
"Saga, lu kesini?"
"Ya elah letoi amat si lu Alden? Lu nggak mau ni tanding basket sama gua lagi? "
"Congor lu Ga. lihat aja nanti, lu bakalan kalah sama gua. Iya kan Ta?"
Ketiga sahabat itu terkekeh bersamaan. Mereka tau sejak dulu jarang sekali Saga kalah jika bermain basket, bahkan sekalipun Dikta dan Alden bersatu untuk mengalahkannya. Dari sepuluh pertandingan mungkin hanya dua banding sepuluh untuk kemenangan Alden dan Dikta.
"Argh"
"Udah cukup, ni anak ketawa terus sampek lupa sama kondisinya yang baru operasi" Ujar Saga.
Saat ketiganya tengah berbincang, saat itu seorang dokter dan perawat datang untuk mengecek keadaan Alden.
__ADS_1
Cukup lama mereka memeriksa Alden, terlihat suatu kekhawatiran di wajah dokter tersebut sehingga membuat Saga dan Dikta ikut cemas.
"Dokter, bagaimana keadaan Alden sekarang? "
"Kita bicarakan itu di ruangan saya, mari"
Dengan segera Dikta mengikuti Dokter tersebut. Kini Alden hanya bersama dengan Saga. Saat itulah Saga mulai berbicara serius dengan Alden.
"Al, apa lo baik-baik aja sekarang?"
"Iyalah Ga, emang sejak kapan gua nggak baik-baik aja"
"Gue tau lu pasti kuat kok Al. Dan buat urusan om Bian, gue bakal bantu supaya om Bian ngertiin lo sama Dikta."
"Jangan di paksa Ga, gua tau sekeras apa bokap gua. Jadi lebih baik kita tunggu beberapa waktu biar nggak bersitegang. Gua nggak mau karena gua hubungan lo sama bokap gua ikut hancur"
Ceklek
Dikta datang dengan seulas senyum di wajahnya yang juga ditemain oleh perawat yang membawakan makan siang untuk Alden dan juga obat.
Setalah makan dan minum obat, Alden tertidur karena pengaruh obat yang ia minum. Saat itulah raut wajah Dikta berubah seketika dan membuat Saga menautkan kesua alisnya.
"Ada masalah Ta?"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Saga, Dikta melihat ke arah Alden. Saat ia melihat Alden sudah tidur, ia duduk di sebelah Saga. Dikta tertunduk dengan jarinya yang memijat pangkal hidungnya. Ia menitikkan ari mata yang membuat Saga cemas.
"Ada apa Ta, ngomong sama gua"
"Dokter bilang luka bekas operasi udah membaik Ga"
"Itu baik kan Ta, terus kenapa lo malah nangis?"
"Tapi penyakit Alden semakin parah Saga. Dan kecil kemungkinan Alden bisa sembuh"
Ketika kedua tengah membahas penyakit Alden, suara bising terdengar jelas, saat itu Saga melihat dari balik tirai di pintu ruang rawat Alden.
Kedua bola mata Saga membulat sempurna melihat banyak wartawan.
"Kenapa wartawan-wartawan itu datang kesini?"
.
. Bersambung
__ADS_1