It'S Perfect

It'S Perfect
Tes DNA


__ADS_3

Karena tidak diperbolehkan terlalu banyak orang, akhirnya hanya tersisa Lesya dan juga Saka yang menemeni Saga di rumah sakit. Lesya terus menggenggam tangan suaminya hingga tertidur.


Saka yang terus memperhatikan Lesya, ia terlihat kesal karena wanita yang dulu harusnya mebjadi istrinya, justru sekarang sangat menyayangi asiknya sendiri.


perlahan Saka berjongkok di samping Lesya yang tengah terlelap, bahkan saat itu telapak tangannya menyibak rambut Lesya yang menutupi sebagian wajahnya. Saka mengusap lembut pipi Lesya . "harusnya akulah yang ada di posisi Saga, dan perhatianmu hanya untukku Lesya!" lirih Saka yang tak lena memandangi wajah Lesya.


dahi Lesya berkerut seakan merasakan sentuhan Saka. seketika Saka menarik tangannya, ia lalu memilih kembali duduk disebuah sofa.


Lesya perlahan membuka matanya. pandangannya langsung tertuju kepada Saga yang saat itu mulai tersadar.


"Saga.."


"hei mba Sayang, apa kamu sangat merindukanku? kenapa kamu menatapku seperti itu?" Saga lalu bangkit dari posisinya yang kini duduk dan menggeser sedikit menepi, namun menjauh dari Lesya.


"kenapa Saga? kenapa kamu menjauh." Lesya sedikit heran.


Saga menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, ia menepuk-nepuk tempat tidurnya mengisyratkan Lesya untu duduk disana.


"disini ada Saka, Saga.."


"aku gak perduli, kak Saka juga tay kamu itu istriku!" dan perlahan Lesya duduk di mana Saga menepuk-nepuk tempat untuk Lesya.


setelah Lesya mendudukkan dirinya disana, Saga segera melingkarkan lengannya yang cukuo berotot dipinggang ramping Lesya seraya memposisikan dagunya di pundak Lesya. "aku sangat nyaman seperti ini" Saga semakin memasukkan kepalanya keceruk leher istrinya.


"hei bicah tengil, jangan seperti ini kamu harus berbaring.."


bukannya menjawab ucapan Lesya, Saga justru semakin membenamkan kepalanya didalam dekapan Lesya. yang entah meraka sadari atau tidak, disana ada hati yang semakin terbakar.


"aku harus keluar, aku akan mencari udara segar!" ucap Saka yang berjalan keluar seembari melepas kancing atas kemajanya.


Saka menari dasi hingga longgar. meski terlihat berantakan, namun tidak mengurangi kadar kemaskulinannya. Saka duduk disebuah bangku yang ada ditaman rumah sakit.


ketika Saka berusaha meredam kekesalannya, netranya tersita oleh dua orang gadia yang baru memasuki ruangan dokter.


"bukankah itu mantan pacar Saga! kenapa dia masuk kesana? apa ini menyangkut dengan skandalnya dengan Saga!" Saka semakin penasaran, ia memilih untuk melihat secara diam-diam.


"jika dia hamil, kenapa justru temannya yang berbaring disana?"


selang beberapa saat Saka mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk merekam semua perbincangan anatara dokter dan Liyora bersmaa temannya. seusai dengan kegiatannya, Saka pergi dengan senyum yang terukis di wajahnya.


"mungkin aku bisa mengajaknya berkerja sama! dan jika dia mulai membantah, aku bisa memanfaatkan rekaman ini untuk mengendalikannya." Saka memutuskan kembali kedalam ruangan.


keesokan paginya, Saga terbangun dengan Lesya yang ada dipelukannya yang masih berada didalam dunia mimpinya. Saga dengan usil mengecup tiap inci wajah istrinya tanpa memperdulikan Saka yang ada disana.


'bersenang-senanglah dulu Saga, sevelum istrimu berada dipelukanku!' itulah yang ada dibenak Saka sembari berselancar dengan ponselnya.

__ADS_1


"emmhhh Saga hentikan.."Lesya menggeliat sembari mendorong pelan wajah suaminya.


"aw..aw.. sakit sayang" ucap Saga manja sembari memegangi wajahnya yang memang memar akibat pukulan dari ajudan sang ayah.


"oh maafkan aku Saga.." Lesya langsung mengelus wajah Saga yang terasa sakit. namun tiba-tiba raut wajah Saga terlihat lebih serius.


"hei ada apa, apa masih sangat sakit?" tanya Lesya cemas.


"sakit ini tidak seberapa Sayang, aku hanya sedang memikirkan bagaimana untuk membuktikan bahwa Liyora memang berbohong."


Lesya lalu menggenggam jemari Saga. ia menatap nanar suaminya "tenanglah Saga, selama bayi itu tidak terbukti darah dagingmu, aku akan terus berusaha mempercayaimu!"


Saga lalu menarik Lesya kedalam pelukannya. ia mencium puncuk kepala Lesya dengan lembut.


💜💜


Dikta menyusuri lorong sekolah. ia mencari sesuatu yang sempat menarik perhatiannya. Dikta terus mengikuti arah suara yang terdengar semakin menjauh, namun masih terdengar.


hingga langkah kakinya berhenti disebuah ruangan yang saat itu terdapat seorang gadis yang tengah menangis di depan jendela. perlahan satu kakinya naik disebuah bangku dan berlanjut kesebuah jendela.


dan hingga beberapa detik gadis tersebut hampir melompat, dan Dikta segera menarik gadis tersebut.


"apa yang lo lakukan Friska? apa lo gila ha?"


Friska lalu memeluk Dikta erat dan semakin jadi dengan tangisannya. "kenapa Dikta, kenapa lo ngelarang gue buat loncat. gak ada yang perduli sama gue Ta, gak ada!" Friska semakin terisak didalam pelukan dikta.


"gue gak mau hidup didunia ini Dikta, gak ada yang sayang sama gue! nuyokap bokap gue sibuk sama kerjaan mereka, sedangkan pacar gue, dia selingkuhin gue Dikta!"


"terus lo mau nyia-nyiain hidup lo biat orang kaya dia. dan satu lagi, orang tua lo sayang sama lo. mereka sibuk kerja itu karna mereka ingin masa depan lo tercukupi Friska. sekarang lo tenang okey?" Dikta menatap lekat Friska yang masih terisak.


Friska kembali memeluk erat Dikta "masih sama, sama seperti dulu. masih terasa sangat nayaman dan hangat Dikta"


"sudahlah tenang jangan menangis lagi!" Dikta menimpali ucapan Friska.


mendapati sikap Dikta yang seoerti itu, membuat Friska mengacungkan jempolnya dibelakang punggung Dikta yangditujukan untk seseorang.


_


"lo pinter banget deh Ra, Dikta langsung perhatian gitu sama gue. padahal selama ini semenjak gua sama dia putus, dia selalu nyuekin gue pas gue sapa!" ucap Friska kegirangan.


"ya pastilah gue pinter, Liyora!" balas Liyora seraya membanggakan dirinya.


Liyora dan Friska memang memutuskan untuk bekerja sama demi tujuan mereka masing-masing. disisi lain, Liyora yang ingin merebut Saga dari Lesya yang satunya lagi ingin mendapatkan mantan kekasihnya kembali.


"gue rela lakuin apa aja demi Saga balik ke gue! meskipun gue harus bantu lo buat dapetin Dikta yang gak seberapa di banding saga!" ucap Dikta

__ADS_1


"ya ya terserah lo lah.. gue gak perduli, yamg oenting ni bayi nanyi dapet bapak, karna bapaknya udah ngasih gue duit 200 juta buat gak nyari dia" celetukan Friska membuat Liyora mengerutkan dahinya.


'sebenernya siapa bapak dari bayi itu, gue jadi penasaran! sekaya itu?' Liyora yang awalnya biasa saja, namun setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Friska, ia mendadak menjadi yertarik ingin tau siapa laki-laki yang sudah menghamilinya.


di sisi lain Dikta terduduk di dalam kelasnya, disana ada Alden yang duduk tak jauh darinya.


"lu kenapq si Ta, diem aja daei tadi?" tanya Alden yang berpindah duduk dimeja Dikta.


"ga apa gua cuman mikir siapa ayah dari bayi yang di kandung oleh Liyora. kalo emang Saga pelakunya, gua kasian sama mba Lesya yang di khianati dia. padahal mba Lesya baru aja harus kehilangan bayinya." balas Dikta yang memang menjawab jujur, namun sebenarnya Dikta juga tengah memikirkan tentang Friska yang hampir bun*h diri karena kurangnya kasih sayang.


Dikta memang pernah menjalin hubungan dengan Friska, jadi wajar jika ia gampang menaruh rasa empatik terhadap Friska.


"alah itu juga masih diselidikin kan, mending nanti kita kerumah sakit jengukin Saga. lu denger kan tadi pembokatnya dateng nyempekin surat izin buat si Saga yang semalem di pukulin sama ajudannya bokapnya Lesya."


"bener yang lu bilang Al, mending nanti kita kesana."


setelah jam pulang sekolah, kini Alden dan Dikta sudah berada di rumah sakit. mereka menjenguk Saga yang masih te4baring di ranjang rumah sakit dengan ditemani oleh Lesya.


"gimana keadaan lu Ga?" tanya Alden


"gua baik Al, makasih kalian udah jengukin gua!" balas Saga.


"kayanya udah sehat lu Ga, bisa dong besok balik sekolah lagi" sahut Dikta.


"ya helas gua sehatlah Ta, orang istri gua yang ngerawat!" ucap Saga sembari melirik Lesya yang tengah mengupas buah untuknya.


"eits, tapi lu siap-siap buat kehilangan Lsya kalo sampe lu terbukti berslaah ya Ga. walaupun lu sahabat gua, tapi gua juga tulus cinta sama Lesya!" Saga menepuk kepala Alden karena membuatnya kesal.


"awas aja lu, gua slebew tau rasa lu!" sahut Saga.


sedangkan Lesya tidak menganggap serius ucapan Alden dan memilih fokus mengupas buah untuk Saga.


"tapi Ga, apa yang mau lu lakuin sama Liyora?" ucapan Dikta membuat Saga menjadi lebih serius.


"gua mau tes DNA buat buktiin kalo anak itu bukan anak gua!"


"emm emang si gua pernah denger walaupun masih di kandungan, kita bisa tes DNA!" Alden menimpali ucapan Saga.


"itulah rencana gua, gua minta kalian besok bawa Liyora kesini!" Saga mebatap keluar jendela dengan optimis.


"tapi kalo dia gak mau bisa repot kita!" sahut Alden 'dan kalo sampek terbukti anak itu bukan anak lu, bisa tambah kecil peluang gua buat dapetin Lesya. di lihat aja udah super duper candu buat gua, apalagi bisa milikin lu! sumpah gua bisa bener-bener insaf jadi playboy Lesya!' itulah Alden yang menyukai istri sahabatnya sendiri, namun masih membantu saingannya buat cari kebenaran, benar-benar lucu.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2