It'S Perfect

It'S Perfect
Party Annivesary


__ADS_3

Alden hanya berusaha tenang meskipun didalam hatinya kini mulai mendidih. Entah kenapa Dikta terlihat sangat akrab dan banyak tersenyum ketika berbicara dengan Nadia. Seorang perempuan yang baru Dikta kenal satu tahun terakhir.


Drrttt drrrtt


Ponsel Alden tiba-tiba berdering. Ia mendapat telefon dari seseorang. Ketika Alden berbicara dengan oramg diseberang sana, tanpa ia sadari Dikya terus memperhatikannya.


"Oke, besok biar aku siapkan. Oh ya ma, untuk berapa orang?"


"...."


"Oke..oke.. take care ma."


Alden lalu mengakhiri sambubgan telefonnya dengan ibunya. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu dengan orangtuanya, karena orang tuanya yang sibuk bolak-balik ke luar kota dan juga keluar negeri untuk urusan bisnis keluarganya.


Alden lalu menghubungi Dita dengan manajer restoran untuk segera ke rooftop. Selang beberapa saat Dita sudah sampai lengkap dengan note ditangannya.


"Dita, kamu catet baik-baik. Mama saya galak soalnya, dia gak mau kalo permintaanya sampek ada yang kurang!"


"Siap bos"


"Dengerin baik-baik, mama saya mau booking restoran ini dari jam 5 sore sampe acara selesai. Dia minta nanti didekor kaya gini ni" Alden menunjukkan sebuah dekorasi ruangan sesuai permintaan ibunya.


"Lalu nanti buat berapa orang pak biar kita bisa atur untuk tempat duduknya" timpal manajer restoran.


"Oh ya, katanya si cuman buat 6 orang. Tapi inget nyokap saya gak suka sesuatu yang berlebihan jadi kalian harus sesuaiin biar dekornya kaya apa yang mama saya minta!"


"Baik pak"


Manajer dan Dita pun segera pergi dari rooftop, setelah itu Alden kembali keposisinya. Namun lagi-lagi ia disuguhkan oleh pemandangan yang kurang nyaman baginya, ia melihat Dikta yang menyentuh tangan Nadgia untuk menggeser-geser layar laptopnya.


'Sabar Alden.. Dikta itu sahabat lu, dia bukan pacar lu. Lo gak boleh marah! Kalo lu sampek bertindak diluar batas ke cewe itu, bisa-bisa Dikta tau kalo lu itu suka sama dia? Dan kalo itu terjadi, bisa-bisa dia jauhin lu dan lu gak bisa deket sama dia!' Alden sibuk bermonolog didalam hatinya,Karena merasa tidak tahan, akhirnya Alden memutuskan untuk turun.


"Dulan ya Ta, Nad." Alden tersenyum kecut.


Nadia mengulas senyum tipis diwajahnya sembari mengangguki ucapan Alden. Sementara itu, Dikta menatapa datar kepergian Alden.


'Gua tau lu cemburu kan Al, tapi kenapa lu gak marah? Kenapa lu gak mau jujur? Apa gua harus pakek cara yang lebih ekstrim biar lu mai jujur sama gua?'


Dikta memang seseorang yang bijak, namun entah kenapa kali ini untuk urusan hatinya ia justru egois. Ia tidak mau menyatakan perasaannya terlebih dulu dibanding Alden, padahal dirinya adalah satu-satunya orang yang tau bahwa memang mereka memiliki perasaan yang sama.


Karena Alden sudah tidak berada di rooftop, Dikta sedikit menjauh dari Nadia. Saat itulah Nadia bertanya kenapa Dikta menjauh.


"Ada apa Dikta, apa lo mau mengakhiri kerja kelompok hari ini? Sepertinya ada yang mau lo lakukin?" Tanya Nadia.


Nadia memang seseoramg yang to the poin, jika ia merasa sesuatu atau melihatnya yang membuatnya penasaran, ia akan langsung mencari jawabannya.


"Emm sepertinya iya Nad, sorry ya. Tadi lo juga dengerkan waktu Alden telfon, mungkin aja resto lagi butuh bantuan gue!"


"Okey.. kao gitu gue cabut sekarang"


"Gue anter kedepan" tawar Dikta dan di angguki Nadia.


Setelah mengantar Nadia hingga kedepan restoran, Dikta menghampiri Alden yang sibuk membantu menyambut para pengunjung, Karena hari ini banyak sekali pengunjung yang datang.


"Semoga kalian menikmati makanannya" sambung Dikta yang berdiri disamping Alden. Sontak hal itu membuat Alden melihat Dikta yang ada disampingnya dengan tatapan datarnya.


_


Lesya tengah sibuk berkutat dengan laptop dihadapannya, karena kesibukannya hari ini, Lesya sampai melupakan jika jam sudah menunjukkan waktunya jam makan siang.


Tok tok


"Masuk" ucap Lesya yang masih memperhatikan layar laptopnya.


"Permisi bu Lesya, saya bawakan menu favorite ibu. Saya lihat dari tadi bu Lesya sangat sibuk sampai lupa jika ini jam makan siang bu"


Lesya mengalihkan pandangannya dan menatap sekertarisnya yang sudah membawa makanan untuk Lesya.


Lesya menyandarkan tubuhnya disandaran kursinya, ia mengulas senyum tipis dan menggeleng.


"Aku tidak tau jika kamu bukan asistenku Andi, kamu memang selalu mengingatkan aku dengan makan siang ku"


"Itu sudah tugas saya bu, apa mau aku siapkan sekarang bu?"


"Tidak perlu Andi, aku bisa."


Lesya lalu menghampiri makanannya. Ia membuka makanan yang sudsh dibelikan oleh Andi.


"Apa kamu sudah makan siang?"


"Sudah bu, kalo begitu saya permisi. Semoga rasanya masih sama seperti kesukaan bu Lesya"


"Terimakasih Andi" ucap lesya dengan senyum tipis dibibirnya.


Saat Lesya menikmati makanannya, Andi terus memperhatikan dari kaca pintu. "Lagi liyatin bu boss makan ya?"


Celetukan seseorng barhasil membuat Andi terjingkat.

__ADS_1


"Via.. gue kira siapa"


"Lo gak makan? Makanan lo dingin tau Ndi, dari tadi lo tinggal kesana sini!"


"Emm iya bentar lagi gue makan, soalnya gue mau pastiin kalo bu Lesya suka sama makanannya." Andi terus melihat Lesya dari balik kaca pintu.


"Ya udah itu bu Lesya lagi makan kayaknya lahab banget, lebih baik lo makan bentar lagi jam makan siangnya abis lo Andi"


"Iya Vi... bawel banget si.." Andi barlalu pergi sembari menarik hidung Via" itu memang sudah menjadi kebiasaannya ketika menggoda Via.


Semburat merah pun muncul dari pipi Via. Meskipun Andi sering melakukan hal itu, namun Via masih tetap tersipu setiap Andi menarik hidungnya.


"Teng teng teng.." seseorang besrsuara seperti bunyi lonceng seketika membuat Andi dan Via mencari sumber suara.


"Denger ya, nanti malam aku undang kalian semua buat dateng ke acara party anniversary jadian aku. Kalian harus datang sama pasangan ya, kamu juga aku undang ya si Via. Tapi inget harus bawa pasangan, dan satu lagi harus pakai baju yang bagus. Jangan malu-maluin nanti temen-temen calon suamiku datang juga"


Setelah mengumumkan undangannya, seseorang tersebut kembali ke mejanya.


"Udah lo datang sama gue Vi.." seru Andi. "Eh, apa lo idah punya cowok Vi?" Tambah Andi yang melihat air muka Via.


"Engh.. enggak gue gak punya cowok, tapi gue gak punya baju bagus Ndi dan gue juga gak biasa dateng ke party party kaya gitu" ucap polos Via.


"Udah itu kita urus nanti"


Jam pulang pun tiba. ketika Via hendak memesan ojek online, tiba-tiba Andi meraih tangannya.


"Lo mai kemana Vi?"


"Gue mau pulang Ndi"


"Pulang? Apa nggak bisa telat nanti. Rumah lo kan jaih dari apartemen Chika, Vi!"


"Gue kayaknya gak kesana Ndi, soalnya kaya yang gue vilang tadi-"


"Udah ayok, lo dateng sama gue!" Andi langsung memasukkan Via kedalam mobilnya. Dengan melajukan mobilnya cukup kencang, Andi berhenti disebuah pusat perbelanjaan.


"Kita ngapain kesini si Ndi?"


Tanpa mengatakan hal apapun Andi langsung menarik Via kesebuah pusat kecantikan dan pakaian. Saat itu Andi langsung memeilih satu set gaun dan ia memberikannya untuk Via.


"Mas, tolong make over temen saya tapi jangan berlebihan ya mba"


"Say, panggil madam sendy okey.." titah seseorang yang berperawakan laki-laki namun berpakaian seperyi perempuan. Orang tersebut adalah owner dari pusat kecantikan yang didatangi Andi dan Via.


"Oh okey, tolong ya madam"


Ketika madam Sendy menyebut Via sebagai pasangan Andi, Andi hanya tersenyum kemudian menunggu Via di sofa. Karena cukup lama, Andi sampai tertidur hingga sang perias membangunkannya.


"Buka mata kamu say.. lihat deh karya madam Sendy"


Andi kemudian mengikuti arah jari madan Sendy kesebuah tirai, ketika tirai terbuka kedua mata Andi terbuka lebar.


"Cantik" ujarnya.


Mendengar ucapan Andi, Semburat merah keluar. Namun tidak terlihat karena polesan make up yang ada diwajahnya.


"Cantikkan say.."


"Huh iya cantik"


"Digandeng dong pacarnya.."


"Dia bukan pacar saya madam, dia temen saya" sahut Via seraya berjalam ke arah Andi. Larena kakinya tergelincir, Via pun terjatuh.


Brug


Dengan sigap Andi menangkapnya, kini pandangan mata mereka saling bertemu.


Dag dug dag dug


Entah detak jantung siapa atau justru keduanya yang berdebar sangat kencang. Cukup lama mereka beetukar pandang dalam keheningan.


"Udah dong say jangan bikin madam iri deh.."


Seketika Andi langsung membantu Via untuk berdiri dengan benar. Setelah itu Andi langsung membayar tagihannua dan langsung menuju apartemen Chika.


Setelah menempuh 25 menit, Andi dan Via sampai di basemen apartemen. Dan sebelum keluar, Andi mengganti jas yang ia kenakan dan menyemprotkan parfum.


'Gak mandi aja tetep wangi tetep ganteng, apalah gue yang kek remahan rempeyek.' Batin Via seraya menutup matanya meskipun masih mengintip.


"Udah lo gak usah sok-sokan tutup mata Vi, maaih ngintip gitu" ujar Amdi dan membuat Via menyengir kuda.


Sesampai didalam, banyak sekali pasang mata yang melihat ke arah Ando yang tengah menggandeng Via.


"Hai bro, bawa siapa lo adem bener liyatnya" ucap salah satu teman kerja mereka.


"Gue copot tu mata liyatin Via kaya gitu!" Sahut Andi.

__ADS_1


"Via? Via temen kerja kita" laki-laki tersebut terua menatap takjub sekaligus heran setelah mengetahui perempuan yang bersama Andi adalah perempuan yang sering di olok-olok oleh mereka bisa secantik itu.


Banyak sekali laki-laki yang mendekati Via dari menanyakan nama hingga meminta nomor telfon miliknya. Tidak sedikit perempuan di tempat itu yang merasa iri, hingga sang pemilik acara pun kesal karena prianya terus melihat ke arah Via yang bak putri.


Karena merasa kesal, Chika mendorong seorang pelayan yang tengah membawa gelas yang berisi minuma sisa.


Prank


Byur


"Auh..."


Karena bahan pakaiannya bagian dada yang tersiram air minum terpampang menampakkan pakain dalam yang tidak mencakup semuanya hingga terlihat sebagian yang menggoda banyak pria.


Banyak sekali yang mengambil gambar tanpa sepengetahuan Via, dan dengan segera Andi melepas jas yang ia kenakan untuk ia pakaikan kepada Via.


"Gue mau pulang Ndi"


"Ayo kita pulang" Andi membawa Via keluar dari apartemen Chika.


_


Dikta terus mengikuti Alden yang acuh dengan kehadirannya hingga Restoran hampir tutup.


"Al, lo kenapa, lo ada masalah?" Tanya Dikta yang melihat Alden merapikan ruangannya.


"Enggak kok Ta, kenapa lu tanya gua kaya gitu?"


"Lu kelihatannya urung terus dari tadi.?"


Dikta sebenarnya sudah tau alasan Alden seperti itu, namun Dikta sengaja menanyakannya agar Alden jujur terhadapnya.


"Alden jawab gua kenapa?"


"Gua gak apa-apa Ta"


"Oh gitu"


"Gue belum pernah ngerasa senyaman ini sama seseorang Al, apa lebih baik gua coba nyatain perasaan gua sama dia ya Al?"


"Serah lu lah Ta!" Ketus Alden


"Emm apa gua coba cium dia, kalo dia gak nolak gua baru nyatain perasaan gua sama dia"


Seketika Alden menatap Dikta dengan kesal. "La gak bisa kaya gitulah Ta!"


"Ya gak pa-palah Al, lagian gua kan belum nyoba, siapa tau dia ternyata juga nyaman sama gua!"


"Gak bisa gitu Ta"


"Kenapa gak bisa? Jelasin ke gua dong Al?"


"Gua cemburu sama lu Dikta!" Pekik Alden.


"Jadi lu suka sama Nadia?" Lagi-lagi Dikta terus menggida Alden


Aldwn hanya terdiam karena ia baru saja mengatakan apa yang selama ini ia rahasiakan.


"Oh okey kalo lu suka sama Nadia, gua bisa lepasin dia buat lu"


"Gua suka sama lu Dikta!"


Teriak Alden seraya menatap lekat Dikta


"mungkin lu bisa anggep gua gila, tapi gua suka sama lu! Bahkan gua terus mikirin lu Dikta, gia cinya sam-"


"Hmmpphh"


Dikta langsung ******* bibir Alden, saat itu juga Aldem membulatkan kedua matanya.


Dikya lalu melepas pagutannya dan menatap Alden "ini yang gua tunggu Al, gua nunggu kejujuran dari lu."


"Apa maksud lu Ta?"


Bukannya menjawab, Dikta perlahan menatik tengkuk Alden dan melakukannya sekali lagi.


Tok tok


Kedua melihat kearah pintu dengan mata melebar.


.


.bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2