
Lesya membuang nafas lega karena melihat kedatangan Saga. ia berlari dan. menghambur kedalam pelukan Saga yang baru saja tiba. tentu saja hal itu membuat Saga mengerutkan dahinya.
"ada apa? apa ada yang terjadi sebelum aku datang? " tanya Saga ditengah pelukannya.
Lesya seketika mengingat kejadian dimana Saka memeluknya dari belakangan dan menciumnya. meskipun saat ini Lesya merasa takut, namun ia tidak ingin menceritakan kejadian tersebut. karena khawatir akan kekecewaan Saga, dimana ia membiarkan orang lain menciumnya.
'tidak, aku tidak boleh mengatakan itu. aku bisa mengatasinya tanpa membuat Saga kecewa. dan aku tidak akan menambah kecemasannya setelah ia cemas dengan keadaan Alden saat ini. dan untukmu kak Saka, jangan berani main-main denganku.'
Saga lagi-lagi mengerutkan dahinya ketika hanya kebisuan yang ia dapat dari Lesya yang masih memeluknya dengan sangat erat.
Keesokan harinya, Saga bangun lebih pagi untuk lari pagi. ia merasa sudah lama tidak berolah raga.
Di depan gerbang rumahnya, Saga melihat pembantu rumahnya membuang sampah dan juga buket bunga. karena merasa penasaran, Saga berjalan mendatangi pembantunya yang hendak kembali.
"bik, itu tadi bunga siapa kok di buang? "
"oh itu tuan Saga, kemarin ada seseorang yang datang dan memeberi bubga itu kepada bu Lesya"
"bibik tau siapa orangnya? "
__ADS_1
"saya tidak mengenalnya tuan Saga, tetapi orang itu sedikit mirip dengan tuan"
"ya sudah bik kembalilah kedalam"
Saga segera menuju kotak sampah, ia melihat buket bunga yang sudah di buang. Saga mencoba mencari tau siapa pengirimnya. namun saat itu Saga melihat sebuah kartu dan membacanya.
"siapa yang mengirimnya? A.D? " Setelah berpikir keras, Saga membulatkan kedua matanya.
Tangannya mengepal dengan erat dan meremas kartu ucapan yang ada didalam buket bunga tersebut.
"Kak Saka benar-benar mengibarkan bendera perang denganku"
Di dalam apartemennya, Dikata bergegas untuk segera pergi ke restoran miliknya dan juga Alden. Namun sebelum ia pergi, lagi-lagi ibunya menanyakan tentang pasangan hidup yang tentunya membuat Cinta terus mengingat akan Alden yang sudah lama tidak ia temui.
"Aku harus menemuinya sekarang"
"Kemana Dikta" Teriak ibunya yang melihat Dikta pergi dengan buru-buru.
"Menemui kekasihku" Balasnya sembari menutup pintu apartemannya. Sontak hal itu membuat ibunya tersenyum gembira mengetahui putranya memiliki seorang kekasih.
__ADS_1
Disepanjang jalan Dikta tak henti memikirkan Alden. Tetapi ada perasaan aneh didalam hatinya. Ia mendadak gelisah, tetapi Dikta sendiri tidak tau apa penyebabnya.
"Apa terjadi sesuatu dengan Alden selama aku tidak bertemu dengannya?" Dikta bermonolog sembari mengemudi.
Sementara itu saat ini Alden yang sudah merasa lebih baik meminta Dita untuk membawanya pulang. Di perjalanan dari rumah sakit, Alden meminta Dita untuk mengantarnya ke restauran miliknya.
Sesampainya di sana, Alden mulai mengecek keadaan restauran. Ia bahkan menanyakan tentang Dikta. Namun saat itu Dikta belum kunjung datang.
"Bagaimana bisa Dikta seperti ini? Dia bahkan tidak datang ke resto dalam waktu beberapa hari terakhir"Alden menggerutu.
Dita yang melihatnya seperti itu pun segera menenangkannya dan mengingatkannya tentang dirinya yang baru saja sakit.
" Jangan marah-marah terus dong Al, inget lo baru aja pulang dari rumah sakit" Ucap Dita.
Cukup lama Alden di restauran nya, hingga Alden memutiskan untuk segera pergi. Namun sebelum itu Dikta sudah berdiri di hadapannya.
"Alden"
.
__ADS_1
. Bersambung