
Setelah satu minggu semenjak acara perjamuan Dylan berencana untuk menyelidiki Sharena. Hari ini ia memutuskan untuk pergi menemui Arga di perusahaan Arles Company.
Ditengah perjalanan, Dylan melihat seorang gadis yang tengah berlari sembari menggendong anak laki-laki. Setelah diperhatikan, Dylan mengenali gadis tersebut. Ia lalu turun dari mobilnya dan menghampiri gadis tersebut.
"Dita, ada apa? Kenapa kamu ada disini?"
"ini kak adikku penyakitnya kambuh, aku ingin membawa Kenan ke rumah sakit. Tapi dari tadi gak ada kendaraan umum yang lewat makanya aku harus berlari" ucap Dita dengan nada cemas.
"ya sudah biar aku antar ke rumah sakit"
"iya kak"
dengan segera Dylan mengambil alih dengan menggendong Kenan dan ia bawa kedalam mobilnya yang ia parkirkan tidak jauh dari tempat itu. Disepanjang perjalanan tidak jarang Dylan memperhatikan kaca kecil yang ada ditengah. Ia melihat Dita berulang kali menyeka airmatanya dan mengusap lembut rambut adiknya yang tidak sadarkan diri.
Ini kami pertama Dylan melihat Dita sekacau ini. Biasanya yang Dylan tau hadis yang saat ini ada di belakang kemudi selalu ceria dan blak-blakan.
Sesampainya di rumah sakit Dylan segera mencari ruangan untuk Kenan. Setelah Dokter menangani Kenan, Dita terus mendampingi adiknya yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Sesekali Dita mencium tangan mungil yang terus ia genggam. Saat itu Dylan menarik kursi dan duduk disevelah Dita.
Dita memperhatikan Dylan yang juga menatapnya lekat. "aku ingin me anyakan sesuatu padamu Dita" Dylan membuka pembicaraan.
"kak Dylan mau bertanya tentang apa?"
"sebenarnya Kenan sakit apa?"
"Kenan sakit jantung kak, dan dia harus segera mendapat donor. Dan aku belum bisa menemukan pendonornya kak. Padahal selama ini aku udah berusaha ngumpulin uang biat biaya seandainya ada pendonor untuknya kak" airmata Dita lolos begitu saja.
Melihat hal itu membuat Dylan teringat dengan ibunya yang juga meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya.
Dylan menarik nafas dalam dan kini memegang kedua pundak Dita. "aku akan membantumu mencari donor yang tepat untuk Kenan. Dan untuk masalah biaya aku yang akan mengurusnya."
"enggak, aku gak bisa terima bantuan sebanyak itu kak!"
"jangan pikirkan itu, kalau kamu tidak merasa enak kamu bisa anggap itu sebagai pinjaman. Dan secepatnya aku pasti akan menemukan pendonornya!" tutur Dylan.
"baik kak, aku akam memganggap itu pinjaman dari kak Dylan" Mata Dita berbinar memancarkan kegembiraan. Ada secerca harapan untuknya menyelamatkan adiknya sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"yasudah Dita, aku harus pergi. ada sesuatu yang harus aku urus." Dita mengangguki perkataan Dita dan kembali mengusap lembut adiknya.
__ADS_1
Sesusai keluar daei rumah sakit, Dylan kembali dengan tujuan utamanya untuk pergi ke perusahaan Arles company. Saat itu ia memutuskan untuk menghubungi Yoo joon.
"halo Yoo joon, aku butuh bantuanmu. Aku mau kamu datang ke perusahaan Arga. Aku ingin menyelidiki tentang Sharena, aku takut dia berniat buruk kelada Lesya."
"kenapa kamu tiba-tiba berpikir seperti itu Dylan? Apa ini semua karna pe4kataan Saga waktu itu?!"
"ya, dan aku mau memastikan sendiri. Apakah ucapan Saga benar atau tidak!"
"baiklah aku akan datang"
Setelah Dylanengakhiri sambungannya, Yoo joon masih terpaku dihalamam rumah seseorang. "kamu dimana Dit, di restorang aku tidak bisa menemukanmu. Di rumah Kenan juga tidak ada? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Yoo joon ingin menghubungi Dita saat ini, namun ia ingat ia harus segera pergi untuk menemui Dylan. Akhirnya ia hanyalah mengirim sebuah pesan kenomor Dita.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirmya Yoo joon sampai di basement perusahaan Arga. Disana ia sudah ditunggu oleh Dylan. Saat itu Dylan langsung mengatakan semua rencananya dan di angguki oleh Yoo joon.
_
Dikta mengepalkan tangannya ketika melihat Alden yang tengah bersama dengan seorsng gadis yang ia kebal di kampusnya. Diam-diam Dikta terus memperhatikan tingkah laku dsri gadis itu. Dikta semakin meradang ketika gadis tersebut melingkarkan tangannya dipinggang Alden ketika sedang berswa foto didekat sebuah bangunan.
Ya hari ini Alden memang sedang mengerjakan tugas dari dosennya bersama seorang teman perempuannya. Meskipun Dikta dan Alden menempuh pendidikan di universitas yang sama namun. Dikta memilih jurusan yang berbeda. Dikta lebih memilih jurisan manajemen bisnis dan properti, sementara Alden memilih jurusan bisnis kuliner.
"ada apa Ta, apa ada yang penting?"
Dikta terlihat sedikit gusar, pasalnya ia belum memiliki alasan apa yang harus ia katakan agar Alden tidak curiga. "emm gini Al, kayaknya kita harus cari sesuatu biar resto kita tambah ramai!"
Alden terlihat berpikir "lu bener Ta, tapi kita bahasnya nanti aja ya. Soalnya gua hatus selesain tugas gua sama si Adel, soalnya besok tugas itu harus udah kita kumpul.
"emm oke" tukas Dikta.
Kini Alden kembali menghampiri Adel untuk melanjutkan mengerjakan tugas yang harus mereka selesaikan. Cukup lama Dikta memgawasi Alden, namun ia harus segera pergi karna mata kuliahnya akan segera dimulai.
Didalam kelas, Dikta terlihat gusar. Ia terus melihat kejam tangannya. Entah kenapa ia merasa kelasnya hari ini berjalan sangat lamban sehingga ia akhirnya izin untuk pergi ke kamar kecil.
Saat itu Dikta melihat Alden dan beberapa temannya pergi meninggalkan area kampus. Tanpa berpikir panjang akhirmya Dykta memilih untuk tidak mengikuti pelajarannya dan memilih untuk membuntuti Alden.
Seperti kegiatan para mahasiswa lainnya,setelah pulang kuliah Alden dan teman-temannya pergi kesebuah tempat makan untuk makan bersama. dan saat itu lagi-lagi Dikta yang diam-diam membuntuti Alden dibuat meradang karena temannya yang bernama Adel terus mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Alden.
__ADS_1
'tu cewek maunya apaan si? Atau jangan-jangan dia naksir sama Alden?'
brak
Karena kesal, Dikta menggebrak meja dan menjadi pusat perhatian. Namun agar tidak ketahuan, Dimta segera menutupi wajahnya dengan buku menu yang. Ada di meja tersebut.
Tidak verhenti di tempat itu, kali ini Alden dan teman-temannya pergi kesebuah tempat karaoke. Dimana ketika mereka sampai, Adel langsung membawa Alden kesebuah ruangan terpisah dari temannya. Saat itulah Dikta merasa curiga. Dengan segera Dikta ikut masuk dan melihat Alden yang sudah mabuk. Ternyata temannya yang bernama Adel sudah memasukkan obat sejak didalam tempat makan yang diminum oleh Alden.
saat itu Dikta melihat Adel yang mulai membuka jaket yang dikenakan oleh Alden. Dengan segera Dikta mencegahnya.
"Dikta, ngapain lo kesini?"
"lo gak usah banyak tanya. Kalo lo gak mau relutasi lo hancur, jangan halangin gue buat bawa Alden"
Dengan wajah yang memrah karena kesal, Adel membiarkan Dikta membawa Alden untuk pergi.
didalam mobil Dikta terus memperhatikan Alden yang tengah setengah sadar. "gua harus bawa Alden ke apartemen gua. Gak mungkin kan kalo dia gua anter kerumahnya, orang tuanya gak ada dirumah dan siapa nanti yang mau ngurusin dia mabuk!"
Sesampainya di apartemennya, Dikta membaringkan Alden di kamarnya. Ia meninggalakan Alden untuk membersihkan dirinya. Namun ketika ia keluar dari kamar mandi yang masih megenakan handuk yang melilit dipinggangnya, Dikta mendapati Alden yang sudah melepas semua pakaiannya dan tersisa celana pendek.
Dikta terkekeh melihat Alden yang mendengkur dengan posisi yang acak-acakan. Akhirnya saat itu Dikta memutuskan untuk membenarkan posisi Alden, namun ketika ia hendak mengangkat tubuh Alden, tiba-tiba Alden memeluknya dengan erat.
"gua cinta sama lu Ta" lirih Alden.
Sontak Dikta membulatkan matanya sempurna. Tidak bisa dibayangkan seterkejut apa Dikta saat ini ya g mendengar perkataan Alden ditengah mabuknya.
"Al lu ngomong apa Al, coba lu ulangi?" namun Alden justru hanya menggeliat
"lu ulangi Al" pemik Dikta.
Alden lalu bangkit dan menangkup wajah Dikta , ia menatap lekat Dikta dengan mata sayunya "gua cinta sama lu Al, tapi kenapa lu bilang gua mustahil? Kenapa lu bilang gua kesalahan DIKTA"
Brug
Alden tumbang dan tertidur di atas ranjang. Sementara itu Dikta mematung mendengar pernyataan cinta dari Alden.
.
__ADS_1
.bersambung
.