It'S Perfect

It'S Perfect
Tidak Berubah


__ADS_3

Kini semuanya terduduk diruang tamu. Saat itu Lesya segera mengajak bicara Dylan diruang tengah secara empat mata.


"Sebenarnya apa yang membuatmu seperti itu Dylan?" Lesya memulai pembicaraan.


Dylan menarik nafas dalam, ia menatap Lesya dalam. Dylan meraih tangan Lesya dan mengusapnya lembut. "Dengar Sya, keputusanmu dan Saga untuk membiarkan Saka tinggal satu rumah dengan kalian itu kesalahan besar!"


"Yang aku lihat Saka tidak berubah sama sekali! Dia masih sama dengan Saka yang dulu, Saka yang menginginkan rumah tangga kalian hancur" sambungnya lagi.


"tenang Dylan, setelah kak Saka pulih aku akan meminta Saga untuk berbicara dengan kak Saka, kalau dia tidak bisa tingal disini terus menerus!"


"Tapi dari mana kamu tau kak Saka tidak berubah Dylan?"


"Aku bisa melihatnya dari matanya saat dia melihatmu Lesya! Dan satu lagi, siapa perempuan itu? Sepertinya dia sedikit mencurigakan!" Sambungnya lagi.


Keduanya kini saling memandang namun tidak mengatakan apapun lagi. dengan pikirannya masing-masing, Saka dan Lesya tidak menyadari kehadiran Saga diruangan itu.


Melihat keduanya terdiam Saga kemudian memutuskan untuk kembali keruang tamu. Saat itu ia memikirkan apa yang baru saja ia dengar.


"Aaa...."


Tiba-tiba Saga mendengar jeritan dari Lesya, Seketika Saga berlari keruang tengah. Saga sangat cemas melihat Lesya berada dipangkuan Dylan, dengan segera Saga mengambil alih dan mengangkat tubuh Lesya.


Saga membaringkan Lesya diatas sofa ruang tengah. Saat itu Saka dan juga Dina pun turut melihat keadaan Lesya. Raut kecemasan pun terlihat jelas diwajah Saka.


"Dina, cepat hubungi dokter"


"Baik mas" Dina segera berlari untuk menelfon dokter dengan telfon rumah.


Saga berulang kali mengosok-gosok punggung tangan Lesya yang semakin dingin. Kecemasannya meningkat ketika tubuh Lesya menegang. Lesya terbangun dan memegangu perutnya yang merasakan sakit yang teramat melilit perutnya.


"Arghh.. perutku, perutku sangat sakit" keringat dingin terus keluar membasahi tubuh Lesya. Ia mengenggam erat tamgan Lesya. Saga tidak tega melihat isyrinya yang kesakitan, bahkan Lesya semakin mengerang kesakitan ketika Saga berusaha menyentuh perutnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Lesya Dylan? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?"


"Aku juga tidak tau Saga. tadi kami sedang berbicara, tiba-tiba saja Lesya memegangi perutnya dan tumbang karena kesakitan"


"Dina cepat suruh dokter untuk datang" teriaknya.


"Iya mas, sebentar lagi Dokter pasti datang" ucap Sina seraya berlari mendekat.


Dina melihat Lesya yang kesakitan merasa sangat senang didalam batinnya. Ia terus tersenyum tanpa ada yang memperhatikannya.


'Gue yakin, apa yang gue kasih tadi pagi itu lebih dari cukup. Karena apa? Karena dosisnya udah gue naikin tiga kali lipat' Dina tersenyum licik.


Namun setelah itu Dina tak lupa memasang wajah sedihnya dan memijat kaki Lesya sperti layaknya seseorang yang mengkhawatirkan orang yang tengah kesakitan.


'Silahkan bersakit-sakitan Lesya, ini belum seberapa dari derita due didalam jeruji besi selama satu tahun lamanya'


_Flashback On

__ADS_1


"Heh lo anak baru ya? Masih bau kencur udah berani betingkah lo" ucap salah satu tahanan seraya menjambak rambut Liyora.


"Lepasin gue, sakit"


_Flashback Off


'Dan itu terjadi hampir setiap hari sama gue! Bahkan mereka juga muk*lin gue. Dan gue bakal bikin lo ngerasa tersiksa Lesya'


"Ini mana Dokternya? Dina, cepat hubungi dokter lagi supaya lebih cepet kesininya" titah Saga.


"Iya mas"


Dina kembali pergi untuk menelfon, ia mulai menekan tombol telefon "yaudahlah ya.. kali ini gue bakal beneran telfon dokternya, jangan sampek gue ketauan sebelum rencana gue berhasil."


Setelah menggubungi Dokter, Dina kembali keruang tengah. Namun saat itu ia merasa sangat kesal karena Saga yang sangat perhatian dengan Lesya. Ia tidak hentinya memgusap lembut tangan Lesya dan sesekali mengecup lembut puncuk kepala Lesya yang masih terus menggeliat karena rasa sakit diperutnya.


"Tenang sayang sebentar lagi Dokter pasti datang"


"Gimana Dina, kapan dokter sampai?" Kini Saka angkat bicara dengan suaranya yang terdengar gelisah.


"Dokter akan sampai lima belas menit lagi mas Saka, karena jalanan cukuo macet" itu hanyalah alibi dari Dina agar tidak seorangpun mencurgainya bahwa dia sebenarnya tadi tidak benar-benar menghubungi Dokter.


Sekitar lima belas menit, benar yang dikatakan oleh Dina. Dokter sudah tiba lengkao dengan peralatan medisnya.


"Dok tolong istri saya, dia begitu merasa kesakitan"


Selang beberapa saat akhirnya rasa sakit mulai reda dan membuat Lesya beristirahat.


"Bagaimana keadaan istri saya dok, kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?"


"Sebaiknya kita bicara berdua tuan Saga"


"Baik dok, mari" Saga membawa Dokter tersebut keruang tamu.


"Sebenarnya ada apa dok, kenapa kita sampai harus berbicara berdua?" Saga semakin cemas, tidak biasanya dokter terlihat seperti sekarang ini.


"Begini tuan Saga, istri anda mengalami gangguan didalam rahimnya. Sepertinua beliau akan sulit untuk memiliki keturunan. Tetapi untuk lebih jelas lagi, kita harus menjalani serangkaian tes di rumah sakit"


Hati Saga mencelos mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter, naun Saga berusaha tenang agar tidaka da yang tau tentang hal itu.


"Baik terima kasih dok, tolong jadwalkan agar istri saya bisa segera menjalani tes. Dan untuk hal ini tolong rahasiakan kepada siapapun terlebih kepada istri saya Dok."


"Tapi apa tidak sebaiknya kita beritagukan hal ini kepada istri anda tuan?"


"Jangan dok, saya mohon"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Ini resep obat yang harus anda tebus dan secepatnya saya akan jadwalkan untuk istri anda melakukan tes"


"Terimakasih dok."

__ADS_1


Saga kemudian kembali keruang tangah. Berlutut disamping istrinya, ia membelai wajah Lesya yang terlihat pucat.


Ting


Sebuah notifikasi berdenting, saat itu Dylan segera melihat ponselnya.


"Emm Saga, bagaimana kata dokter barusan?" Tanya Dylan


"Tidak papa Dylan, Lesya hanya salah makam saja"


"Kamu yakin itu Saga? Apa tidak sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut" sahut Saka.


"Lain kali aku akan membawanya kak"


"Yasudah Saga, aku titip sepupuku. Jaga dia baik-baik, aku tau banyak sekali manusia yang ingin berbuat buruk padanya. Aku harus pergi karena Yoo joom sudah menghubungiku barusan" ucap Dylan seraya menatap Saka dan bergantian kearah Dina.


"Pasti Dylan, tanpa kau suruh aku pasti akan menjaga istriku."balasnya


Setelah kepergian Dylan, Saga membawa Lesya kedalam kamar. Namun ketika Saga membaringkan istrinya, perlahan dengan mata yang sayu Lesya membuka matanya.


"Saga.." lirih Saga.


"Ada apa denganku Saga?"


"Tidak apa sayang, kau hanya salah makan. Nanti bebrapa hari kita akan ke dokter untuk melakukan chek up"


"Tidak perlu Saga, kau bilang aku tidak apa-apa kan?"


"Ya walaupun begitu kita harus chek up untuk kesehatanmu sayang"


"Ya ya aku akam meurutimu, aku akan menjaga kesehatanku. Karna aku akan merawat suamiku dan juga calon anak-anak kita nanti"


Deg


Hati Saga bergetar mendengar ucapan dari Lesya yang membahas tentang anaknya kelak.


'Aku tidak tega membiarkanmu mengetahui apa yang diucapkan oleh domter sayang, harapanmu tentang anak sangat besar. Apa yang terjadi jika kau tau? Dan walaupun itu terjadi, aku akan selalu menjagamu sayang. Aku akan berbuat yang terbaik untukmu'


Saga berulang kali mengecup kening istrinya dengan tatapan yang sulit diartika oleh Lesya, hingga saat itu Lesya merasa ada yang aneh dengan suaminya.


"Ada apa Saga? Biasanya kau sangat bersemangat jika membahas anak! Tapi kenapa sekarang kau tidak meresponku?"


"Tidak apa sayang, aku hanya takut melihatmu seperti tadi" Saga kemudian menarik Lesya kedalam pelukannya, ia memejamkan matanya dan mencium pundak Lesya dengan lembut.


'Aku tidak akan membiarkanmu bersedih sayang'


.


.bersambung

__ADS_1


__ADS_2