It'S Perfect

It'S Perfect
Imajinasi Diluar Kemauan


__ADS_3

Dikta membulatkan kedua matanya, saat melihat Friska tinggal satu atap dengan laki-laki yang menagantarnya. ia diam-diam mengikuti Friska saat pulang dari sekolah.


"jadi apa yang di katakan Liyora itu memang benar?" Dikta mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah, rahangnya mengeras. dengan begitu kencang tangannya menghantam pohon yang ada di dekatnya.


"kenapa lo jadi kaya gini Friska? dimana lo yang dulu?"


Dikta tidak menyangka seseorang yang pernah mengisi hatinya saat ini rela melakukan hal itu untuk mendapatkan uang.


"gua kecewa sama lo Friska! dan gua benci perempuan kaya lo!"


Dikta melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga ia berhenti di sebuah klub. ketika ia memasuki tempat itu, ia mulai memesan banyak minuman. Dikta menjadi tidak terkandi, hingga ia memecahkan beberapa gelas dan botol.


saat itu Dikta lalu keluar dari klub dalam keadaan mabuk, namun tiba-tiba turun hujan lebat yang mengguyur tubuh Dikta. ia berjalan luntang lantung menyusuri jalanan.


"Dikta lu apa-apaan si? jangan bodoh gara-gara cewe kaya dia. dia itu emang cewe gak bener Dikta" Alden menatap Dikta yang saat ini juga menatapnya dengan keadaan setengah sadar.


"ayo kita pulang Dikta!"


Alden memapah sahabatnya itu untuk ia bawa kedalam mobilnya yanh sudah terparkir di depan klub tersebut. ia lalu muali melajukan mobilnya. sesekali Dikta melihat Dikta dari kaca spionnya.


'untung tadi gua ikutin lu Dikta. bener dugaan gua kan? sejak lu lihat Friska sama orang itu, lu kelihatan aneh! dan benerkan, lu ikutin dia. dan akhirnya lu jadi kaya gini sekarang?'


cukup lama Alden membawa Dikta ke rumahnya. malam itu Alden membawa Dikta ke kamarnya tanpa sepengetahuan


orang tuanya.


"lu ngapain si Al bawa gua?" saat ini kondisi Dikta masih sama, ia masih terpengaruh oleh alkoh*l.


"lu yang ngapain Dikta? kenapa lu harus kaya gini cuman gara-gara cewe mur*han kaya Friska!"bentak Alden.


seketika Dikta meninju Alden tepat di wajahnya. " jangan bicara sembaranga Alden!" dengan suara yang parau, Dikta memekik membela Friska.


"gua tau lu itu orang baik Dikta, jadi lu selalu nganggep orang lain juga baik. tapi lu jangan buta Dikta! Friska itu gak lebih baik dari wanita jal*ng di luar sana!"


bug


lagi-lagi Dikta mendaratkan pukulannya di wajah Alden. namun Alden tidak membalasnya sama sekali, ia tau saat ini Dikta terpengaruh oleh alkoh*l sehingga melakukan hal itu.


"atas dasar apa lu berani hina Friska kaya gitu Alden?"


"gua tau karna gua-" Alden tercekat. ia menghentikan ucapannya dan menatap nanar Dikta. 'karna gua udah ngebuktiin itu sendiri Dikta. bahkan dianrela gak minta tanggung jawab karan malam itu- cuman demi duit 200 juta Dikta'


"lebih baik lu tenangin diri lu, gua harus mandi. gua basah-basahan kaya gini gara-gara lu ujan-ujanan Ta."

__ADS_1


Alden meninggalkan Dikta yang saay ini tersududuk lemas dengan pinggung yang bersandar di tepian ranjang. perlahan penglihatannya mulai gelap hingga ia tak melihat apapun lagi.


-


[kediamam Darmawan]


Saga bergegas melihat kebawah dari balkon kamarnya, ia mengerutkan dahinya ketika melihat Saka yang memayungi Lesya dengan jasnya. terbesit pikiran yang segarusnya tidak ia pikirkan sebagai adik dari Saka.


Saga segera keluar dari kamarnya untuk melihat kedatangan Saka dan juga Istrinya. dan ketika ia sampai di ruang tengah, Saga melihat keadaan Lesya dengan pakaian kantirnya sedikit basah begitupun dengan rambutnya.


namun lagi-lagi Saga berimajinasi di luar kemauannya. entah mengapa tiba-toba bayangan itu muncul. ia membayangkan Saka yang saat itu memakaikan jasnya untuk Lesya, dan setelah itu perlahan jari jemari Saka menyibak helai rambut yang menutupi bagian wajah Lesya. dan setelah itu perlahan Saka menatap lekat manik mata Lesya dengan tangannya yang berpindah memegangi dagu Lesya.


"haiss apaan si.."


sontak orang-orang yang ada di ruangan itu menatap Saga heran, yang mendadak berbicara sendiri dengan suara tinggi.


"kamu kenapa Saga?" tanya Saka yang saat itu menyugar rambutnya yang sedikit basah karena air hujan.


namun tiba-tiba Lesya lah yang merapikan tiap helai rambut Saka di hadapan Saga saat ini. apakah Lesya berani melakukannya di hadapan keluarga suaminya. dan lagi-lagi itu hanyalah imajinasi Saga yang yentu saja hanya dirinya sendiri yang mengetahui hal itu.


"arrgghhh..."


Saga mengerang dan berlari kedalam kamarnya. sesampainya didalam sana, Saga mengacak-ngacak rambutnya ia menjatuhkan dirinya di atas kasur empuknya.


"kalongua kaya gini terus bisa gilan ni gua! dan kenapa gua ngebauangin mba Lesya yang aneh-aneh sama kak Saka. aneh banget si sama gua!"


"lagian ya, kak Saka gak mungkinlah suka sama cewe yang dia tolak. terus kalopun dia suka sama mba Lesya, itu bukan urusan gua. tapi kenapa gua kesel kalo tiba-tiba bayangan kemesraan mereka muncul"


tok tok


"masuk.."


"Saga, apa kamu baik-baik aja? apa kepalamu sakit!"


Saga yang belum melihat siapa yang datangpun terjingkat saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. ia lalu memvenarkan rambutnya yang sempat ia acak-acak.


"eghem..gua gak pa-pa kok mba, kenapa mba Lesya kesini?"


"wajar aku kesini Saga, aku ini istri kamu. dan aku khawatir lihat kamu yang tiba-tiba memekik kaya tadi!"


'apa sekhawatir itu, sampek-sampek dia gak ganti baju dulu dan langsung kesini buat ngecek keadaan gua? padahal gua yakin dia pasti kedingingan dengan pakaian yang sedikit basah itu.'


Saga lalu berjalan dan membawakan handuk untuk Lesya.

__ADS_1


tanpa mengatakan apapun, Saga mendudukan di sofa tanpa sandaran. ia lalu berdiri dibelakan Lesya yang saat itu terlihat bingung dengan sikap saga.


"Saga ada apa?"


"udah mba Lesya diem" perlahan Saga mulai mengeringkan rambut Lesya dengan handuk ya ia bawa.


seusai mengeringkan rambut Lesya, Saga segera membawakan handuk lain untuk Lesya menge4ingkan badannya.


"udah, mba Lesya sana ganti baju. nanti masuk angin"


"tapi Saga.."


"gua baik-baik aja kok mba"


akhirnya Lesya menuruti ucapan Saga untuk menggabti pakaiannya. sementara Lesya bergegas kekamarnya, Saga justru tiba-tiba mengetuk-ketuk kepalanya dengan tangannya.


"huh, apaan si gua. kenapa gua tiba-tiba tadi lakuin itu? kalo sampek Yora tau, bisa jadi masalah"Saga kembali mangacak rambutnya.


"oh iya mumpung kal Saka disini, lebih baik gua mulai penyelidikan gua soal dia ketemu sama Yora."


Saga bergegas kembali ke ruang tengah. saat itu ia melihat Saka yang tengah berbincang dengan Yoo joon.


"boleh gua gabung?"


"gabung aja Saga, kenapa pakek izin segala. kaya dimana aja!" sahut Saka.


"oh ya Yoo joon, yang aku dengar kamu itu sahabat Lesya dari kecil kan?"


"iya kak, lalu?"


"itu berarti kamu sangat dekat dengan Lesya!"


Yoojoon kemudian menyunggingkan senyumnya. ia lalu menatap Saga yang juga memperhatikannya sembari berpura-pura bermain ponsel.


"ia dulu kami memang sangat dekat kak. bahkan Lesya sering nginep di rumah aku kak. dan lucunya setiap jam empat pagi Lesya itu selalu minta di anter pulang. dan alesannya itu cuma katna pengen pipis."


sontak hal itu membuat Saka dan Yoo joon terkekeh. namun beda dari mereka berdua, Saga justru terlihat kesal dan menatap tajam ke arah Yoo joon.


'kalo mba Lesya nginep di rumah tu cowok, itu berarti mereka tidur bareng dong'


lagi-lagi Saga merasa kesal dengan hal-hal yang menyangkut dengan Lesya, terlebih hal yang bersifat tentang kedekatan orang lain dengan istri yang bahkan tidak ia anggap seperti istri pada umumnya.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2