It'S Perfect

It'S Perfect
Melanjutkan Hidup


__ADS_3

Lesya menatap langit-langit kamar rumah sakit, perlahan perasaannya mulai gusar. kini matanya yang terlihat sayu, mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ia tunggu sejak semalam.


"kamu kemana Saga? apa benar yang dikatakan Dikta kalau kamu sedang mengurus sesuatu yang penting!"


tok tok


kedua mata Lesya memperhatikan kenop pintu rumah sakit yang berputar. perlahan seseorang menyembul dari balik pintu.


"sayang..."


"mama, papa.." senyuman tipis terukir di wajah Lesya yang masih terlihat pucat.


dengan segera Lesya memeluk ibunya yang baru datang. ia memang merindukan pelukan seorang ibu. sejak ia memilih hidup sederhana, Lesya baru kali ini bertemu dengan kedua orang tuanya.


"papa gak dipeluk ni?" ucap tuan Guntara, ia lalu memeluk putri semata wayangnya itu.


tuan Guntara tersenyum getir, perlahan kepalanya menunduk dan mencium puncuk kepala Lesya dengan lembut. tangannya bergerak memegang wajah Lesya dan menatapnya dalam.


binar mata Lesya membuat senyum tuan Guntara memudar. melihat air muka dari ayahnya, saat itulah hatinya bertanya-tanya. "ada apa pa, kenapa papa kelihatan seperti ada yang papa pikirkan?"


"tidak sayang, papa hanya letih karena semalam papa membahas masalah kantor hingga larut malam"


"apa kantor ada masalah pa? lalu kenapa Yoo joon dan Dylan tidak memberitahuku? dan apa perusahaan memiliki masalah yang serius pa?" Lesya mencecar ayahnya dengan beberapa pertanyaan.


"tarik nafas sayang.. hembuskan perlahan" ucap nyonya Guntara.


sruuupp


fuuuhhhh


Lesya pun melakukannya beberapa kali untuk mengatur pernafasannya. Lesya kembali memandangi wajah kedua orang tuanya yang terlihat seperti ada yang disembunyikan. namun Lesya tidak akan menanyakannya lagi, ia berpikir akan menyelidikinya setelah ia benar-benar pulih.


tok tok


kedua orangtua Lesya termasuk Lesya melihat ke arah pintu yang perlahan terbuka. terlihat dari kakinya yang mengenakan sepatu yang terbuat dari rancangan merk terkenal, orang itu bukanlah orang sembarangan. dan benar saja, ketika terlihat seluruhnya orang tersebut adalah Arga Lesmana, CEO ARLES COMPANY. perusahaan yang menguasai bidang properti, kontruksi hingga trading. tidak hanya ada di indonesia, Arga memiliki beberapa perusahaan yang ada di luar negeri.


"pak Arga" ucap Lesya.


"selamat siang Lesya, tuan dan nyonya Guntara" sapa Arga.


"siang.." ucap Tuan Guntara yang masih menatap heran. tuan Guntara masih tidak percaya seorang Arga Lesmana mendatangi mereka.


"bukankah anda ini tuan Arga, CEO dari ARLES COMPANY?" tanya tuan Guntara.

__ADS_1


"iya pa, pak Arga adalah atasanku. aku bekerja sebagai sekertarisnya dikantor." sahut Lesya..


"duduklah tuan Arga" kini nyonya Guntara angkat bicara.


"panggil saja Arga! kalian lebih tua dariku, rasanya tidak pantas kalian memanggilku seperti itu!"


"ternyata kau sangat rendah hati ya tuan Arga, emm maksudku Arga" ucap Tuan Guntara sembari mengukir senyuman diwajahnya.


"ma, pa, kenapa sampai sekarang Saga gak datang? bahkan dia juga tidak menghubungiku! apa dia terkena masalah? dia tidak biasanya seperti ini ma!" wajah ayu Lesya terlihat lesu ketika ia menanyakan tentang Saga.


"mungkin saja suamimu sedang mengurus sesuatu sayang, makanya dia belum datang kemari!"


"emm maaf nyonya, kalau aku boleh bicara, bukankah sesibuk apapun seorang suami dia juga harus menghubungi istrinya?"


"emm mari ikut denganku nak Arga!" ucap tuan Guntara. saat itu juga Arga keluar dari ruangan untuk mengobrol dengan tuan Guntara.


sesaat setelah Arga dan tuan Guntara meninggalkan ruangan Lesya, Dikta dan Alden sampai dengan membawa beberapa makanan.


"siang mba Lesya" sapa Dikta bersamaan dengan Alden.


"apa disekolahan kalian melihat Saga?"


mendengar pertanyaan dari lesya, Dikta dan Alden hanya menggeleng bersamaan. saat itu Dikta justru ingin menanyakan Saga, namun karena Lesya bertanya lebih dulu, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Saga.


"emm nak Dikta nak Alden, tante kedepan dulu ya. tante titip anak tante ya.. jaga dia dengan baik"


"mba Lesya udah makan?" tanya Dikta.


"belum Dikta, aku masih belum lapar!"


Lesya terlihat lesu, saat itulah Dikta menyadari bahwa saat ini Lesya membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.


"emm mba, mba Lesya mau denger cerita gak? aku ada cerita lucu lo buat mba Lesya!"


Alden mengerutkan dahinya ketika mendengar perkataan dari Dikta. Dikta bukanlah seseorang yang humoris, tetapi entah mengapa kali ini sikap Dikta berbanding terbalik dari biasanya. dan hal itu mulai membuat Alden berpikir bahwa Dikta memang memiliki perasaan dengan Lesya.


Alden terus memperhatikan Dikta yang terus menceritakan sesuatu yang lucu, sesekali ia juga melihat Lesya yang tersenyum lebar ketika Dikta mengatakan sesuatu.


'gua seharusnya seneng lihat mba Lesya bahagia ketawa-ketawa kayak gini! tapi kenapa gua justru malah marah. dan anehnya gua selalu marah dengan seseorang yang dekat sama Dikta, astaga!' Alden membulatkan kedua matanya lebar-lebar.


'kenapa gua baru sadar, gua kesel setiap lihat orang lain deket sama Dikta! astaga, apa gua udah gak waras? gua cemburu kalo Dikta deket sama orang lain? nggak..nggak.. ini pasti gak bener! tapi lebih baik gue pastiin lagi, apa gua juga bakal cemburu kalopun bukan mba Lesya yang deket sama Dikta?'


-

__ADS_1


setelah berbicara dengan tuan Guntara, Arga memutuskan untuk kembali ke kantornya. ia masih terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Guntara tentang Lesya.


"apa bener, kalo selama ini gua yang salah?" ucap Arga sembari menggaruk dagunya yang tak gatal.


_Flashback On


tuan Arga membawa Arga cukup jauh dari ruangan Lesya, ia mencari tempat yang tidak terlalu ramai. setelah memperhatikan sekelilingnya, tuan Arga mengajak Arga untuk duduk di sebuah bangku.


"sebenarnya Saga memutuskan untuk meninggalkan Lesya tepat saat Lesya dibawa kerumah sakit!"


"bagaimana bisa seperti itu tuan Arga? bukankah mereka saling mencintai satu sama lain?" tanya Arga antusias.


"awalnya pernikahan ini memang sudah keliru nak Arga, makanya dengan mudah Saga kehilangan rasa cintanya untuk putriku!"


mendengar ucapan dari tuan Guntara, membuat Arga semakin ingin tau apa yang sebemarnya yamg belum ia ketahui.


"maksudnyn keliru bagaimana tuan Guntara?"


"awalnya Lesya menikah dengan Saga itu hanya agar keluarga kami tidak malu. karena saat itu sebenarnya Lesya aku jodohkan dengan Saka. namun karena Saka menolak tepat dihari pernikahan, mau tidak mau Lesya harus menikah dengan adiknya, yaitu Saga agar terhindar dari rasa malu. dan awalnya mereka saling membenci, hingga akhirnya mereka saling mencintai. tapi aku tidak menyangka, rasa cinta Saga pudar begitu saja karena ia tidak ingin hidup susah karena ujian dari ibunya sendiri dan memilih untuk meninggalkan Lesya" kepala tuan Guntara tertunduk lesu, gurat kecemasan terlihat jelas diwajahnya.


"lalu apakah Lesya tidak memiliki laki-laki yang ia cintai sehingga ia mau menikahi Saga tuan Guntara?"


tuan Guntara menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar. "dia dulu memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai nak Arga."


"dulu? maksud tuan?"


Arga berpura-pura ingin tau meskipun ia sudah mengetahuinya. karena orang itu tidak lain adalah kakaknya sendiri.


"iya dulu! karena kekasihnya meninggal karena menyelamatkan Lesya dari kecelakaan hingga dirinya sendiri yang menjadi korbannya" Arga semakin mengepalkan tangannya.


"ketika itu Lesya mengalami depresi hingga dia ingin mengakhiri hidupnya! bahkan hingga akhrinya dia menikah dengan Saga ia baru mulai membuka hatinya. sebelum itu, Lesya terus menjaga perasaannya untuk kekasihnya itu. namun karena pertengkarannya dengan Saga, justru hal itu yang membuat mereka semakin dekat. dan perlahan Lesya bisa menerima bahwa kekasihnya meninggal dan dia harus melanjutkan hidupnya." ucap tuan Guntara panjang lebar.


"jadi sesulit itu Lesya melupakan kekasihnya itu tuan Guntara?"


"mungkin bukan melupakan nak Arga, lebih tepatnya melanjutkan hidupnya. bahkan hingga detik ini Lesya masih merawat rumah pohonnya dengan kekasihnya. bahkan dia menyuruh beberapa orang untuk menjaga dan merawatnya agar tidak rusak hingga detik ini! huh maaf nak Arga, entah kenapa aku merasa harus menceritakan ini denganmu. maaf sudah menyita waktumu" kedua netra tuan Guntara terlihat memerah ketika menceritakan hal itu.


"tidak apa tuan Guntara, jika ini membuat anda lebih tenang, aku siap untuk mendengar cerita anda!"


_Flashback Off


Arga mengetuk-ketuk dahinya dengan jarinya. "aku pikir dia mengkhianati kamu bang Arvin? ternyata sesulit ini dia berusaha melanjutkan hidupnya tanpa abang?"


"lalu apa yang sudah aku lakukan? apa aku harus membatalkannya? tapi semuanya sudah terlanjur!"

__ADS_1


.


.bersambung


__ADS_2