
Nadia menatap Dikta dan Alden bergantian. Ia merasa ada yang aneh dengan kedua laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Saat itu Alden menggapit bibirnya karena merasa sedikit panik.
Melihat keduanya yang sedikit panik membuat Nadia memikirkan sesuatu. Ia curiga ada yang direncanakan oleh Alden dan Dikta. Namun ia juga tidak tau apa yang saat ini direncanakan oleh mereka berdua.
"kalian kenapa si pintunya harus dikunci dari atas kalian ngerencanain sesuatu?" tanya Nadia penuh selidik. Nadia terus memandangi Dikta dan Alden bergantian. Ya, Nadia memang bukan seseorang yang akan memendamnya dia akan bertanya untuk apa yang ingin ia ketahui.
"gak ada, kita gue cuman kelupaan aja ngunci pintunya kok Nad" timpal Dikta. "lo kesini mau cari gue?"
sebisa mungkin Dikta berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar Nadia tidak mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan menimbulkan kecurigaan.
"oh iya Dikta, kita harua selesaiin tugas kita hari ini. besok kita harus setor tugas, lo ingetkan pak Sapto itu dosen yang gak mudah dihadepin" Dikta hanya mengangguki ucapan Nadia.
"oh ya udah, gue kebawah dulu guys." Alden kemudian pergi lebih dulu. Meskipun ia tidak tenang jika Dikta hanya berdua dengan Nadia. bagaimanapun Alden seorang pria, dia tau bagaimana sikap seorang perempuan yang memiliki perasaan terhadap lawan jenisnya. Dan sepertinya Nadia punya perasaan terhadap Dikta.
Ketika menuruni tangga, Alden tidak sengaja melihat Saga. Saat itu ia benar-benar heran dengan melihat raut wajah Saga yang terus tersenyum dan bernyanyi meskipun temponya tidak sesuai dengan musik di dalam ponselnya.
"Saga.." panggil Alden seraya menghampiri Saga yang menoleh kearahnya.
"lu kenapa si Ga, dari tadi gua perhatiin lu itu kaya lagi seneng banget. Pakek nyanyi segala mana suaranya bikin kuping gua nyut-nyutan!"
"cangkem lu Al. Tapi gua kaya gini itu karna sebentar lagi gua bakal jadi bapak!"
"huh, yang bener Ga?" Alden masih tidak percaya dengan ucapan Saga.
"ya benerlah Al! asal lu tau Al, gua bahkan lebih terkejut dari pada lu barusan!"
"gila..gila.. Gercep banget lu. Baru juga sekita dua minggu kalian balikan, udah hamil aja mba Lesya"
"itu namanya bibit unggul, cepat dan efektif"
"gua gak mudeng gua masih polos om"
"argghh taik lu Al, dulu yang duluan tanam benih siapa?"
Sontak tawa keduanya pecah. Saat itu mereka tertawa karena memang itulah persahabatan, tanpa mengatakam apapun mereka sudah paham dengan pikiran masing-masing.
-
__ADS_1
Yoo joon terus terbayang dengan apa yang ia lihat beberapa hari terakhir. Dan ia kembali mengingat karena kecerobohannya dalam berkendara beberapa orang menjadi korban, meskipun korban dalam artian lain.
"Lebih baik aku membuat janji untuk bertemu dengan Andi dan Via. Aku merasa aku yang bertangung jawab atas apa yang mereka alami saat ini."
Yoo joon kemudian memilih untuk menghubungi Andi, saat itu ia mengajak Andi dan Via untuk makan malam. Setelah memastikan Andi menyetujuinya Yoo joon bergegas untuk pergi ketempat dimana Andi lah yang memilih. Dan karena Andi saat itu masih di kantor, ia memilih tempat terdekat.
Dan selang beberapa menit, Yoo joon tengah sampai di tempat tersebut. dimana kehadirannya sudah ditunggu oleh Andi dan juga Via yang memang kantor mereka lebih dekat, sehingga bisa tiba lebih awal dibanding Yoo joon.
Yoo joon duduk diseberang Andi sementara Via duduk disisi kanan mejanya. Saat itu suasana masih terasa hening, hingga akhirnya Yoo joon memulai pembicaraan mereka.
"Begini, aku sangat menyesal ayas kejadian beberapa hari lalu yang menyebabkan keadaan kacau. Bahkan nenekmu menjadi korban."
Andi menarik nafas dalam kemudian membuangnya perlahan. "Sebenarnya aku sangat terpukul dan marah pak, tapi.." Andi sempat menjeda ucapannya. "Tapi itu adslah kecelakaan, aku tidak berhak menyalahkanmu. Pada dasarnya saat itu nenekku memang terlalu senang karena aku mengenalkan Via sebagai kekasihku sehingga nenek tidak memperhatikan jalanan"
"Jadi, kalian memang saling mencintai?" Tanya Yoo joon dengan keterkejutannya.
"No, aku hanya berpura-pura untuk menyenangkan nenekku pak. Dan aku tidak menyangka hal itu akan menyeret kami kedalam hubungan yang seharusnya tidak terjadi"
Deg
Hati Via mencelos mendengar penuturan Andi disaat ia menceritakan kepada Yoo joon. Namun ia tidak bisa menyalahkan Andi, karna memang Andi tidak mencintainya melainkan hanya demi neneknya.
"Ya"
"Tidak"
Keduanya memberi jawaban berbeda sehingga membuat Yoo joon mengernyit.
"Jadi mana yang benar? lanjut atu tidak?" Sekali lagi Yoo joon memastikan.
"Kami tidak akan melanjutkannya pak, karena selain kami hanya berpura-pura demi nenek, keluarga kami juga tidak setuju!" Pungkas Via yang menahan gejolak didadanya.
"Baik, sebagai salah satu penebusan, aku akan membantu proses cerai yang akan kalian lakukan!" Tawar Yoo joon. "Tapi apa kamu yakin dengan status yang akan kamu sandang Via?" Sambung Yoo joon.
Dan pertanyaan itu diangguki oleh Via.
Berbeda dengan Andi, Andi justru lebih banyak terdiam sejak pertanyaan Yoo joon tentang kelanjutan hubungan mereka. Dan pertemuan pun dilanjutkan dengan makan malam.
__ADS_1
Saat itu Dita lah yang menyiapkan semuanya, namun lagi-lagi Yoo joon masih sangay mengacuhkannya. Yoo joon hanya berbicara tentang pesanan terhadapnya, dan diluar pesanan, Yoo joon hanya menanyakan tentang keadaan Kenan saat ini.
"Baik pak, terima kasih atas makan malamnya kami undur diri dan terima kasih"
Setelah beberapa menit, Andi dan Via sampai di rumah milik Andi. Saat itu Via menyadari perubahan sikap Andi yang mendadak diam.
"Ada apa sama Andi? Apa aku salah berbicara?" Ucap Via yang terduduk di sofa ruang tengah.
Melihat Andi yang baru selesai mandi, Via memanggil Andi. Namin saay itu Andi masih belum mendatanginya sehingga Via lah yang mendatangi Andi.
"Andi, ada apa?"
Andi masih belum menjawab pertanyaan Via dan sibuk membuka laptopnya.
"Lo denger gue nggak si Ndi?"
Via mengguncang lenga Ando sehingga Andi menghentikan aktivitasnya dan menatap Via dengan tatapan yanh sulit diartikan.
"Ngomong dong Andi.."
Andi membuang nafas kasar, ia lalu memegang kedua lengan Via dan menatapnya.
"Kenapa lo bilang sama pak Yoo joon kalau kita akam bercerai?"
"Tapi bukankah itu yang akan lo lakuin Ndi?"
"Denger Via, dari dulu gue gak pernah berpikir gue bakalan cerai setelah gue nikah. Dan walupun kita nikah bukan karna cinta, gue gak sedikitpun berpikir untuk berpisah"
Deg
Via merasa mendapat angin segar, namun ia juga merasa bingung.
'Jadi Andi marah karena ini? Tapi apa dia bakalam bahagia nikah dama gue yang jelas-jelas bu lesya orang yang di suka dari dulu!'
.
.bersambung
__ADS_1
.