
Tidak salah lagi, orang itu adalah Saka. Saga tau betul seperti apa Saka saat ini. Mungkin dulu Saka memang seorang yang bijaksana dan melakukan apapun dengan hati, namun Saka yang sekarang sangatlah berbeda. Ia sanggup melakukan apa saja untuk seseorang yang ia anggap penting untuknya, termasuk dengan Lesya.
Sebenarnya apa yang di alami oleh Saka sendiri adalah kesalahannya yang menolak Lesya untuk menjadi jodohnya, dan ia pun menyuruh Saga untuk yang di jodohkan dengan Lesya. Tetapi apa yang sekarang Saka lakukan? Ia justru menganggu rumah tangga adiknya sendiri yang sudah mengorbankan dirinya, padahal dulu Saga pun memiliki seorang kekasih yang saat ini justru menjadi istri dari Saka sendiri.
Dan hal itupun menjadi emosi dari Saga membuncah. Ia seperti di permainkan oleh Saga. Awalnya tidak mau menikah, tetapi sekarang justru ingin merebut. Sampai-sampai Saka tega l hal yang jahat untuk Saga, termasuk merebut beberapa tempat usaha milik Saga.
Hingga detik ini pun Saga masih bisa membiarkannya, namun kali ini benar-benar membuat Saga tidak bisa tinggal diam, sehingga ia akan mendatangi Saka dan langsung melarangnya.
Terparkir sebuah mobil mewah yang di naiki oleh Saga dihalaman rumah milik Saka. Tetapi saat itu hanya ada Liyora yang baru saja keluar dari dari dalam rumahnya.
Sorot mata Liyora begitu terpanah sekaligus heran dengan kedatangan Saga. Tidak pernah terbayang jika Saga akan mendatangi rumahnya. Dengan segera Liyora menhampiri Saga yang masih berdiri di sisi mobilnya.
"Saga, lo ngapain kesini? "
"Gue mau ketemu sama suami lo"
"Nggak ada, kak Saka lagi pergi"
Tanpa mengatakan apapun Saga bergegas pergi, hal itupun semakin membuat Liyora penasaran.
"Kenapa Saga kesini dan nyari kak Saka? Apa yang di lakuin kak Saka? "
_
Semenjak pulang dari rumah sakit, Andi sering mengunjungi rumah Via. Hanya sekedar ingin menggendong Rea yang seperti magnet. Ia sangat suka menggendong Rea, meskipun Rea bukan darah dagingnya.
"Via, jika malam-malam kamu membutuhkan bantuanku untuk menjaga Rea, kamu bisa menghubungiku. Jangan sungkan"
Ucap Andi sembari menciumi Rea yang ada didalam gendongannya, tanpa melihat Via yang tengah melipat beberapa pakian yang ia angkat dari jemuran.
"Aku sanggup mengurus anakku Andi. Lagi pula ada suster yang membantuku untuk menjaga Rea." Balasnya.
Tanpa Via sadari, saat itu ada sesuatu yang terasa nyeri didalam dada Andi.
"Tapi Rea juga sudah ku anggap seperti anakku sendiri, Via."
Pandangan mata Rea bertemu dengan Andi yang tidak sengaja melihat ke arahnya. Tetapi saat itu Via tidak menimpali ucapan Andi dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah beberapa saat, Via mengambil alih Rea yang berada didalam gendongan Andi.
"Pergilah Andi, sebentar lagi jam makan siang usai. Aku juga akan membawa Rea untuk check up ke dokter"
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku yang mengantarmu dan Rea ke rumah sakit"
"Tidak perlu Andi, aku sudah memesan taksi. Mungkin saja sebentar lagi taksinya akan sampai"
Tin
Dan benar saja, kndaraan yang sudah di pesan oleh Via sudah sampai di depan rumahnya. Dengan segera Via menggendong Rea untuk pergi ke rumah sakit.
Tetapi bukannya Andi langsung kembali ke kantor, ia justru mengikuti Via ke rumah sakit. Hingga ketika Via dan Rea masuk ke dalam ruangan, Andi justru melihat Alden yang tangah berada di kursi roda sendirian.
Awalnya Andi ingin langsung melihat Rea. tetapi bersamaan dengan itu, Andi melihat Alden yang jatuh dari kursi roda.
Andi berlari dan melihat keadaan Alden. Saat itu Alden sudah tidak sadsrkan diri, Andi pun meminta bantuan perawat yang ada di rumah sakit tersebut untuk membawa Alden ke dalam.
Seorang dokter mengatakan akan melakukan operasi kepada Alden, tetapi Andi tidak bisa memutuskannya karena dia bukanlah anggota keluarga Alden, ataupun sahabatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Saga.
"Kenapa ponsel pak Saga sibuk? Ah ya, lebih baik aku menghubungi bu Lesya"
Lagi-lagi nomor yang ia huhu sedang sibuk. Karena tidak memiliki nomor dari keluarga Alden akhirnya Andi menghubungi orang lain.
"Oke, ini nomor terakhir. Semoga saja kali ini bisa ku hubungi."
Tut....
"Syukurlah, akhirnya ada yang mengangkat telfon dariku" Andi bernafas lega.
Selang beberapa saat seseorang yang tadi sempat dihubungi oleh Andi akhirnya tiba. saat itu Andi sudah menunggunya di depan ruangan Alden.
"ada apa Andi, kenapa kau menghubungiku?"
"begini pak, tadi aku sudah menghubungi pak Saga dan bu Lesya. tapi mereka sepertinya sedang sibuk sehingga tidak bisa mengangkat telefon dariku. dan Mba Dita juga nggak ada, sementara orang tua pak Alden aki tidak punya nomor yang bisa ku hubungi. akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi pak Dikta"
"memangnya apa yang terjadi dengan Alden?"
"aku ingin bapak menandatangani surat persetujuan untuk operasi pak,Alden"
"memang Alden sakit apa"
"labih baik bapak baca saja"
Setelah membacanya, kedua bola mata Dikta membulat sempurna. bagaimana bisa Alden
__ADS_1
memiliki penyakit seperti itu? dan ini sudah sangat parah. bagaimana bisa semuanya tidak ada yang memberitahunya. ini benar-benar sebuah pengkhianatan bagi Dikta. ia benar-benar marah sekaligus mencemaskan keadaan Alden.
Dengan segera Dikta mendatanginya sekaligus mengurus administrasi untuk operasi Alden.
grusak
Sekantung plastik yang berisi beberapa barang dan makanan jatuh di hadapan Dikta.
"Dikta, ke-ke-kenapa lo disini? "
"kenapa lo nggak ngasih tau gue Dita?"
Saat itu melihat Dikta yang dipenuhi amarah, Andi segera menenangkannya dan melepas tangan Dikta yang mencengkeram lengan Dita.
"kendalikan dirimu pak Dikta, ini rimah sakit. dan mba Dita, dia sedang hamil"
"diam, aku sedang berbicara dengannya"
Sorot mata tajam, membuat Dita takut. tanpa memperdulikan Dita yang sedang mengandung, Dikta melepas cengkeraman nya cukup keras hingga membuat Dita terhuyung.
brugh
"apa-apaan ini Ta, kenapa lo kasar sama Dita? bukannya lo paling anti kasar sama cewek!"
"iya Dikta, kenapa kamu kasar? "
Ekor mata Dikta mencari sumber suara, dimana di sana adalah Saga yang datang bersama dengan Lesya.
"jadi kalian berdua juga udah tau dan nggak ngasih tau gue gimana keadaan Alden sekarang?"
Dikya semakin kecewa dengan Saga dan juga Lesya. tetapi Dikta tidak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk ikut mengantar Alden kedalam ruang operasi.
"Dikta, ada apa sama Alden? tadi waktu gue tinggal dia masih baik-baik aja? "
Dikta tidak menjawab pertanyaan dari Dita, Dikta justru memalingkan wajahnya dan memilih untuk berdiri di depan pintu operasi.
"tadi pak Alden jatuh dan ketika saya menolongnya, pak Alden sudah tidak sadsrkan diri mba" Andi pun angkat bicara.
"apa jatuh? Aaah"
Dita terperosot ke atas lantai sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. dan melihat hal itu membuat yang lainnya merasa cemas.
__ADS_1
.
. bersambung