It'S Perfect

It'S Perfect
Merajuk Namun Masih Perhatian


__ADS_3

Dikta mengejar ibunya yang kini membuka pintu kamar di ruangan Dikta. Dikta begitu panik dan menyusul ibunya yang sedang memeriksa kamarnya.


'mama pasti akan bertanya kenapa Alden ada didalam? mama juga pasti akan bertanya kenapa aku berbohong dengan mengatakan kalau Alden sudah pergi'


"ma Dikta bisa jelasin semuanya" ucapnya dengan wajah pasrah.


"astaga Dikta, jadi sejak tadi kau melarang mama. memeriksanya karena ini? karena kau takut mama akan mengomelimu karena kamarmu begitu berantakan? "


Dikta yang sedari tadi belum melihat ke dalam kamarnya segera mengedarkan pandangannya. dan benar, saat itu kamarnya begitu berantakan.


"he.. iya ma, sorry. nanti Dikta pasti beresin"


"nggak apa-apa biar mama yang beresin, lagian ini cuman selimut sama beberapa barang saja yang berserakan."


sembari ibunya membereskan kamarnya, Dikta mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alden. namun ia tidak menemukannya sama sekali. hingga ibunya tengah selesai membereskan kamar tersebut.


"Dikta mama harus pergi, ada yang harus mama urus. kamu jaga kesehatan ya sayang,jaga dirimu baik-baik"


Setelah kepergian dari ibunya, Dikta memeriksa dikamar mandi. itulah tempat yang sedari tadi diduga Alden ada di dalamnya. namun ia juga tidak bisa menemukan Alden. hingga netranya tertuju disalah satu lemari dimana Dikta menyimpan baju-bajunya untuk cadangan jika sesuatu terjadi dengan pakaiannya di kantor.


"Alden"


grup


Dikta menangkap Alden yang ambruk karena pingsan di dalam lemari dengan posisi duduk. Dikta menepuk-nepuk wajah Alden agar Alden segera sadar. bahkan ia beberapa kali mengguncang tubuh Alden, namun itu juga tidak berhasil.


Dikta mengangkat tubuh Alden dan ia baringkan di tempat tidurnya, Dikta mencoba untuk membangunkannya kembali namun Alden masih belum sadarkan diri. Dikta begitu panik karena Alden tidak mau membuka matanya hingga Dikta memutuskan untuk memberi Alden nafas buatan.


Dikta beberapa kali memberi Alden nafas buatan.


"Alden bangun Al. ini gak lucu Alden, aku cinta sama kamu, jangan tinggalin aku kaya gini Al. kenapa kamu gak mau bangun Al.." Dikta memeluk Alden, Dikta terlihat sangat putus asa melihat Alden yang tidak kunjung membuka matanya.


"Dikta, aku gak bisa nafas. kamu kekencengan meluk aku!"


seketika Dikta melihat Alden yang kini sudah membuka matanya.


"akhirnya kamu bangun Al, aku kira kamu udah-"


"ssstt, aku itu cuman pingsan Ta. sekarang aku udah sadar jadi udah jangan tangisin aku"

__ADS_1


Dikta justru semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mengecup kening Alden dengan lembut.


"syukurlah kamu tidak apa-apa Alden. kalo sampai kamu tadi kenapa-kenapa, aku gak bisa maafin diri aku sendiri"


Mendengar Dikta begitu cemas membuat Alden tidak tega dan segera menenangkan Dikta dengan sebuah pelukan hangat.


Dikta melepas pelukannya dan menatap lekat kedua matanya.


"entah apa yang bakal aku alamin kalo kamu gak ada Al. terserah si kalo kamu nganggep aku berlebihan, tapi yang jelas semenjak aku sadar perasan ini, aku gak bisa jauh dari kamu apalagi kalau sampai aku lihat kamu bersama orang lain Al"


"Dikta, aku gak akan sama orang lain, dan itupun yang aku rasain Al"


_


Lesya pergi begitu saja meninggalkan Saga yang masih bingung dengan sikap Lesya yang tiba-tiba marah dengannya. karena menrada aneh, Saga memungut kertas yang jatuh dari tangan Lesya.


reaksi Saga pun sama dengan Lesya, ia begitu terkejut dengan isi surat tersebut. dimana tulisan itu mengatakan Terima kasih karena sudah rela datang ke tempat ini ditengah Kesibukanmu untuk menemuiku dengan alasan mengajak liburan istrimu yang sedang mengandung. Dan pertemuan kemarin malam benar-benar tidak bisa aku lupakan, apalagi sesuatu yang manis seperti sama halnya apa yang keluar dari ucapanmu.


Saga meremas kertas yang ada ditangannya, Saga hendak membuang kertas tersebut. Namun ia mengurungkan niatnya dan melihat lagi tulisan tersebut. dahinya berkerut, Saga memikirkan sesuatu dan akhirnya membawa kertas tersebut.


"aku harus segera mengejar Lesya"


"apa ini Lesya? jangan seperti ini. aku mungkin tidak punya bukti kalau aku tidak bersalah. tapi aku berani bersumpah, kalau aku tidak mengenal siapa pengirimnya. dan tentang aku yang keluar malam kemarin, itu karena aku mencari udara segar dan berpikir kejutan apa yang akan kau berikan untukmu dan calon anak kita Lesya!"


"sudahlah Saga, aku lelah aku akan beristirahat. dan aku mengepak ini hanya untuk besok, bajumu juga sudah aku packing"


Saga menarik tipis sudut bibirnya memperhatikan istrinya yang tengah merajuk namun masih perhatian dengan dirinya.


Saga selalu mengikuti kemanapun Lesya bergerak. dan ketika Lesya berbaring, dia juga berbaring di sampingnya.


Tangan Saga melingkar di perut Lesya, namun Lesya melepasnya dan tidur membelakangi Saga.


tanpa mengucapkan apapun, Lesya memejamkan matanya.


Tanpa Saga tau, saat ini air mata mengalir dipipi Lesya. ia terus memikirkan tentang sapu tangan yang dikirim kepadanya. ketika makan siang tadi.


'kamu boleh menyangkalnya Saga. tapi jika dia hanya memfitnahmu? darimana dia tau semua tentang kita? bahkan dia tau aku tengah mengandung'


Saga yang melihat punggung Lesya bergetar, ia menyadari bahwa saat ini istrinya tengah menangis. Saga lalu bangkit dan pergi ke sisi Lesya. tangannya yang besar mengusap wajah Lesya yang basah.

__ADS_1


"Sayang"


Lesya menatap Saga yang ada dihadapnnya. saat itu Lesya sudah tidak bisa menyembunyikan kekecewaan nya terhadap Saga.


"baiklah Lesya, malam ini kamu beristirahat ya. aku janji aku akan buktiin kalau aku gak ada wanita lain. dan pegang janji aku Lesya, wanita dalam hidupku hanya ada kamu dan mami juga mama, tidak ada yang lainnya! dan mengenai surat yang tadi kamu Terima, aku akan menemukan pengirimnya" ujar Saga penuh penegasan.


sementara itu saat ini Liyora dan Sska tengah merayakan akan pertengkaran yang mereka lihat ketika ditempat makan dimana Saga yang sengaja menyiapkan hal itu untuk Lesya.


dengan minuman ditangannya Liyora mulai mabuk dan mengatakan apa yang ingin ia katakan. bahkan tak jarang ia juga mengumpat tentang Saka.


"hei kak Saka, kau bilang kau tidak tertarik dengan wanita lain hmm? apa kamu yakin itu? jika memang begitu berarti kau ini bukan lelaki normal"


Saka yang mendengar ucapan Liyora, ia segera membawa Liyora kembali kedalam kamar dimana mereka menginap. sesampainya dikamar Liyora terus mengatakan kekesalannya terhadap Saka. hingga Liyora menarik Saka hingga terjatuh diatasnya.


"kau yakin tidak tertarik dengan wanita lain kak Saka? " Saka hanya terdiam dan ingin bangkit, namun Liyora masih memegangi baju yang dikenakan lelah Saka.


"huh, memang apa si yang kalian para pria lihat dari cewek tua itu? apa kurangnya aku Ha? "


"Liyora, kau sedang mabuk jadi hentikan ucapanmu."


"aku tidak akan diam, kau saja yang diam kak Saka"


"akun ini benar-benar ya Liyora. tadi kau ingin merayakannya karena Lesya bertengkar dengan Saga, ini justru kau sendiri merusak perayaan kita"


cup


Liyora mengecup bib*r Saka sekilas hingga membuat Saka tertegun.


"kau berisik, makanya akunmenghentikanmu berbicara kak Saka"


"Liyora kau-"


cup


kali ini Liyora melakukannya lebih berani. "jadi kauenantangku Liyora"


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2