
Via dengan Doni terperangah mengetahui kenyataan jika ssat ini Arga mengalami lumpuh. Seketika kejadian tabrak lari itupun menguasai kepala Via. Dalam sekejap tubuhnya terperosot dengan Reabyang ada di gendongannya.
"Hati-hati Via, tenagkan dirimu" Doni membantu Via bangkit dan duduk. Setelah itu Doni mengambil alih Rea, agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Denger Via, lo harus inget. Yang bikin bang Arga lumpuh emang orang yang nabrak dia. Tapi semua itu karena bang Arga nyelamatin lo. Semua keputusan ada di tangan lo, tapi gue harap lo harus tau diri" Usai mengatakan hal tersebut Sharena melenggang pergi.
Saat ini tersisa Via dengan Doni, saat itu Doni menyerahkan Rea kepada pengasuhnya. Dan dalam beberapa saat Andi pun datang dengan membawa sebuah bingkisan untuk Via.
Ketika meletakkan bingkisan yang ia bawa, Andi mengernyit. Kenapa Doni berasa di rumah Via saat ini.
"Pak Doni. Ada urusan apa bapak kesini? Apa ini masalah kantor? Kalau memang benar, lebih baik bapak membahasnya denganku"
Doni tidak menjawab pertanyaan dari Andi. Ia menatap Via yang terlihat tertegun. Di tariknya nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.
"Pak, apa kau tidak mendengarku?" Andi kembali memastikan.
Namun tiba-tiba Via bangkit "kalian pergilah dari sini, aku butuh waktu untuk sendiri dan memikirkan apa yang harus aku lakukan saat ini"
Doni meraih tangan Via dan mengusapnya lembut untk menenangkan Via.
"Tenagkan dirimu Via, berpikirlah dengan jernih. Dan ambil keputusan dengan benar. Dan satu lagi yang harus kau ingat, jangan menganggap ucapan Sharena adalah tekanan. Semua yang dia katakan tidak benar. Bukan dirimu yang bertanggung jawab atas h itu"
Via mengangguk ucapan Doni, ia pun bergegas kedalam tanpa membawa bingkisan yang sudah di bawakan oleh Andi, hingga saat itu Andi menghentikan Via.
"Bawa ini Via, gue harap lo jaga kesehatan. Habiskan makananya, karena ada Rea yang harus kamu jaga, maka kau juga harus kuat"
"Terima kasih Andi"
Setelah Via benar-benar masuk ke dalam, Andi segera menari Doni menjauh dari rumah Via. Ia segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi saat itu Andi tidak langsung mengatakannya.
"Dengar Pak Doni, mungkin kita rival dalam mendekati Via. Tapi lebih baik kita bekerja sama untuk menangani masalah Via. Dan katakan padaku, apa yang membuat Via seperti tadi?"
'Apa yang Andi katakan memang benar, lebih baik aku mengatakan apa yang di katakan Sharena barusan'
__ADS_1
Lagi-lagi Doni membuang nafas berat. Ia lalu mulai menceritakan apa yang Sharena katakan terhadap Via. Saat itulah Andi membulatkan kedua matanya. Ia merasa hal itu tidak benar, karena yang harus bertanggung jawab bukanlah Via, melainkan orang yang menabrak Arga saat itu.
Sementara itu di rumah sakit saat ini Saga dan keluarga Alden berlari melihat Dikta dalam keadaan menangis mendorong sebuah brankar dimana di sana ada seseorang yang terbaring dengan main menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa ini Ta, siapa ini? " saga menunjuk seseorang yang tertutupi sepenuhnya dengan kain putih rumah sakit dari ujung kaki hingga kepala.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Saga, saat itu Dikta justru semakin terisak dalam tangisnya. Melihat hal itu Dita oun segera menari lengan Dikta. Ia meminta penjelasan kepada Dikta, namun masih sama, Dikta masih terisak dalam tangisnya.
Karena merasa penasaran, Samuel saat itu segera membuka kain penutup. Pertama kali yang tertangkap oleh ekor mata Samuel adalah hidung mancung yang mirip dengannya. Wajah yang terlihat tenang tanpa rasa sakit.
"Aaaa.." Riana jatuh pingsan setelah melihat sosok yang ada di hadapannya itu.
Ya, sosok yang terbujur kamu dengan wajah yang terlihat tenang adalah sosok putranya yang beberapa hari terakhir tidak di akui oleh suaminya sebagai anaknya.
"Alden, bangun Al. Ini aku Samuel Alden. Alden jangan bercanda, apa kau mau aku tidak memberimu hadiah ulang tahunmu? "
Ya, lusa adalah hari ulang tahun Alden. Dan saat itulah Samuel merencanakan kejutan dimana ia kan membuat pesta dan menghadirkan orang tuanya agar menerima hubungannya dengan Dikta.namun semua itu hanyalah tinggal rencana. Tangispun pecah, Samuel sudah tidak bisa mengatakan apapun begitupun dengan Dita saat ini. Tubuhnya terperosot ke lantai.
"Duduk disini dulu Ta" Dikta satu-satunya orang yang tegar. Meskipun didalam hatinya seperti tersayat, Saga menahannya untuk mengurus semua orang yang saat ini benar-benar merasa hancur dengan kepergian Alden.
"Sekarang lo udah nggak kesakitan Al. Tapi ini semua nggak bener Al, kenapa lo pergi secepat ini? " Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata.
Sekelebat bayangan semua tingkah laku selama ia mengenal Alden semasa hidupnya, menguasai isi kepala Saga. Ia menang menangis tanpa bersuara. Saga lalu menyeka air matanya kasar dan kembali menghampiri Dikta yang masih terlihat kacau dengan tangisannya, begitupun dengan Samuel dan Dita.
"Aku akan mengurus semuanya, kalian beristirahatlah"
"Gue mau nemenin Alden Ga"
Saga mengangguk ucapan Dikta. Saat itu Saga mengantar Dikta kedalam ruang jenazah. Mereka segera menyiapkan kepulangan jenazah Alden kerumahnya untuk segera di kebumikan.
"Temani dia Ta, gue harus mengurus semuanya untuk Alden"
Setelah kepergian Saga, Dikta meraih tangan Alden dan mengusapnya lembut. "Apa kau lupa Al? Kita sudah menentang dunia untuk hidup bersama. Tapi kau mengkhianati itu. Kau pergi tanpa mengajakku Al"
__ADS_1
Dikta begitu terlarut dalam kesedihan. Ia lalu mengecup bib*r Alden untuk yang terakhir kalinya. Bibir yang terasa dingin itu membuat tangis Dikta semakin pecah. Ia tidak percaya kan di buat selatan itu oleh sahabat sekaligus cintanya.
_
Kesya melihat Saga membawa sesuatu. lesya pun segera menghampiri Suaminya untuk mengetahui apa yang membuat suaminya bahkan tidak menyapa anaknya yang saat itu berada di dalam gendongan Lesya.
Lesya menghampiri Saga, dan saat itulah Sga baru sadar jika Istri dan anaknya ada di dekatnya.
"Saga, ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Lesya, Saga langsung memeluk Lesya dan juga Elgara. Tangisnya pun pecah sehingga membuat Elgara ikut menangis.
Melihat hal itu Lesya membawa suaminya duduk di sofa, sementara itu Lesya memberikan Elgara kepada susternya.
"Saga katakan, apa yang terjadi?" Lesya menatap lekat suaminya.
Lesya tidak pernah melihat suaminya sehancur ini. Diusapnya air mata yang membasahi wajah suaminya.
"Alden Sya, Alden udah ninggalin kita selamanya"
"Apa?" Lesya lalu menarik Saga kedalam pelukannya. Saat itu Lesya berusaha memenangkan suaminya meskipun perasaannya pun tak kalah carut marut mengetahui sahabat mereka meninggal secepat itu bahkan dalam keadaan seperti saat ini.
"Ya sudah sayang, aku akan kembali ke rumah sakit untuk mengurus kepulangan Alden"
"Aku ikut"
Saga dan Lesya bergegas untuk kembali ke rumah sakit. Sesampainya disana, Lesya dan Saga melihat Dita yang berdiri di luar tuang jenazah sembari memegangi perutnya.
Saga dan Lesya berlari untuk menangkap Dita yang hampir tumbang. Untung saja mereka datang tepat waktu sehingga bisa menolong Dita agar tidak terjatuh.
"Lebih baik kita bawa Dita untuk di tangani oleh dokter Saga"
"Astaga darah" pekik Lesya
__ADS_1
Bersambung