
Andi memperhatikan Via yang tengah berkutat di depan komputernya. Sesekali Via meregangkan badannya yang terasa letih.
Tuk
Andi meletakkan segelas kopi yang biasa beli dari coffee shop milik Saga yang belum lama dibangun diseberang dari kantor milik istrinya.
Ini termasuk cabang Coffe shop LeGa yang ke dua puluh satu milik Saga.
Via melihat Andi yang tersenyum sembari duduk di meja miliknya. "Minum dulu gih kopinya Vi, lo kelihatan capek"
"Makasih ya Ndi.." Via segera menyesap kopi yang dibawakan oleh Andi, dan setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Emm nanti malam orang tua gue ngajak makan malam Vi, lo bisakan?" Via lalu berhenti mengerjakan aktifitasnya dan menatap Andi yang menunduk memperhatikannya dengan menyesap kopi miliknya.
Via membuang nafasnya berat "bisa kok Ndi, ya udah gue lanjut kerja lagi ya"
"Sip"
Seharian penuh Via terus berkutat dengan komputernya. Ia hanya beristirahat ketika makan siang. sementara Andi, ia juga sibuk mengerjakan pekerjaan yang harusnya Lesya tangani karena Lesya yang sudah dua hari tidak masuk ke kantor.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Via segera keluar dari kantor. Ketika ia berjalan keluar gedung, saat itu sebuah mobil menghampirinya.
Tin tin
Kaca mobil terbuka, dan sesosok yang familiar mengeluarkan kepalanya dari jendela. "Nona Via, aku antar pulang ya"
Via terlihat berpikir dan diam sejenak. Ia masih menimang apa dia akan ikut dengan seseorang yang menawarkan untuk mengantarnya pulang atau dengan suaminya.
"Eh Vi, tu lo mau di anter pulang sama pak Doni. Udah Terima aja, jarang-jarang kan lo naik mobil bagus. Ya udah ya, gue mau nyamperin Andi, dia udah nungguin gue didepan"
Via memperhatikan mobil Andi yang sudah ada diluar gerbang. Dan saat itu ia melihat teman sekantornya memasuki mobil Andi.
"Emm baik Pak Doni"
Karena Via yang sudah setuju, Doni segera keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Via disebelah kemudi.
Didalam mobil Doni terus memperhatikan Via yang terlihat murung. "Ada apa nona Via, apa ada yang kamu pikirkan?"
"Tidak pak Doni, aku hanya sedikit letih saja! Karena sudah dua hari bu Lesya tidak masuk dan pekerjaan sedikit menumpuk, jadi aku harus membantu Andi juga pak"
"Memang kenapa bu Lesya tidak masuk ke kantor? Apa karena dia sedang mengandung? "
__ADS_1
"Sepertinya tidak pak, soalnya kemarin sore Pak Saga menghubungi Andi dan menanyakan bu Lesya. Dan hari ini kami belum tau info tentang bu Lesya pak Doni"
"Oooh" Doni membulatkan bibirnya dan mengangguk beberapa kali.
Andi yang melihat Via memasuki mobil milik Doni merasa kesal dan memukul setir kemudinya.
"Via kenapa pulang sama pak Doni? Apa dia gak tau kalau pak Doni itu memiliki perasaan sama dia. Atau.."
Andi menggeleng beberapa kali.
"Nggak.. Nggak.. Kalaupun Via suka sama pak Doni itu bukan urusan gue. Karna gue juga udah janji sama Via, gue gak akan ngehalangin hubungannya sama siapaun, makanya gue gak publishin pernikahan ini"
Andi melajukan mobilnya dibelakang Doni. Dan saat itu Via memilih untuk diturunkan di perempatan jalan sebelum sampai di rumah Andi.
Setelah kepergian Doni, Andi segera mendekat ke arah Via.
"Masuk Vi"
Via segera memasuki mobil Andi. Dan setelah itu mereka pulang bersama.
Sementara itu Doni tersenyum smirk memperhatikan kepergian mobil Andi. "Mau sampai kapan kalian sembunyiin pernikahan kalian?"
"Tapi kalau memang kalian bersikeras sembunyiin hubungan kalian, aku akan rebut posisi kamu sebelum orang lain tau pernikahan kalian, Andi"
_Flashback On
"lo disini Via.." Andi berjongkok disamping Via. ia kemudian menarik Via ke dalam pelukannya. Andi menepuk-nepuk pelan punggung via.
sebuah mobil berwarna hitam dengan merk ternama berhenti tidak jauh dari tempat dimana Andi saat ini merengkuh Via. seseorang keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah Andi dan juga Via.
"denger Vi, lo salah kalo lo mikir lo sendiri. ada gue disini. gue janji gue gak akan berpikiran yang nggak-nggak sama lo. karna gue tau lo bukan orang seperti itu. maaf gara-gara omongan gue, lo jadi ngerasa lo sendiri. padahal nggak sama sekali Vi, lo nggak sendiri. inget ada gue, sahabat lo! dan inget, gue suami lo yang bakal terusin apa yang ayah lo lakuin, yaitu jadi pelindung lo!"
bukannya diam, Via justru menagis dengan suara kencang, dengan cepat Andi berusaha menenangkan Via yang semakin teridak didalam pelukannya.
"heii.. udah dong Vi. jangan nangis okey. maaf ya gue tadi ngomongnya agak kasar. tapi gue cuman khawatir sama lo Vi, gue takut lo dimanfaatin sama orang yang gak baik. jadi please maafin gue ya.. maafin gue ya.. "
perlahan langkahnya berbalik. seseorang itu memilih untuk tidak melanjutkan langkahnya kedepan. ia memilih untuk kembali kedalam mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
_Flashback off
"aku waktu itu sengaja tidak menhampiri kalian, karna kalian sendiri lah yang menginginkan menyembunyikannya."
__ADS_1
Doni tersenyum getir, namun ia tetap akan mengejar cinta Via.
sementara itu ditempat lain Saga yang sudah menghubungi polisi segera mendatangi orang-orang yang tengah menyekap Lesya.
"singkirin tangan kalian, jangan berani-beraninya kalian nyentuh istri gue! " pelik Saga sembari mengibas semua preman yang menyekap Lesya.
"heh siapa lo? berani-beraninya lo masuk ke markas kita"
"gue suami dari wanita yang kalian sekap ini"
"oh jadi kau mau menyelamatkan istri lo? jangan mimpi! kami akan membuat lo tidak bisa melihat istri lo yang cantik ini! kalian, cepat beri pelajaran anak ingusan ini"
perkelahian pun tak terelakan, Saga yang mendapat bantuan dari Alden dan juga Dikta membuat semua preman terkapar dan hendak lari. namun sebelum itu sirine polisi sudah terdengar mengepung gedung tua tersebut. dan segera polisi-polisi tersebut menangkap semua preman.
"Terima kasih atas informasi kalian, mereka memang buronan kami selama ini. kalau begitu kami akan mengurus mereka semua"
"baik Pak terima kasih" ucap Dikta.
sementara itu Alden membantu Saga membuka tali yang mengikat Lesya di sebuah kursi.
"sayang bangun, ini aku suami kamu sayang.. bangunlah"
perlahan Lesya mengerjap-erjapkan matanya. ia kemudian membuka kedua matanya dan saat itu airmatanya lolos begitu saja ketika mendapati Saga yang ada dihadapannya.
Saga merengkuh Lesya yang masih lemas. "akhirnya kamu sadar sayang"
"Saga, bagaimana anak kita? " tanyanya disisa-sisa tenaganya.
"anak kita pasti akan Baik-baik saja sayang" Saga berusaha menenangkan istrinya.
"Saga, lebih baik kita segera kerumah sakit, sepertinya mba Lesya sudah sangat lemas" ujar Alden
"apa yang dikatakan Alden benar Ga, ayo cepet"
dengan segera Saga mengangkat tubuh istrinya. dan mereka segera menuju rumah sakit terdekat. raut kecemasan terlihat jelas di wajah Saga. tidak dipungkiri saat ini selain mengkhawatirkan Lesya, ia juga teringat ketika mereka kehilangan bayi mereka.
"aku tidak ingin kehilangan anak kita lagi Saga"racau Lesya.
" tenang sayang, anak kita pasti akan Baik-baik saja" meskipun dirinya merasa cemas, namun Saga berusaha menenangkan Lesya begitupun Alden dan Juga Dikta yang ikut menenangkan.
'semoga anak kita baik-baik saja Lesya. tapi kalaupun kejadian terburuknya anak kita tidak bisa diselamatkan, yang aku harap kamu tetap baik Lesya'
__ADS_1
.
. bersambung