
Saga kemudian bangkit dan meraih tangan nyonya Darmawan. ia mendudukkan ibunya dimana tempat yang baru saja ia duduki yang tepatnya disebelah Lesya. nonya Darmawan ingin berdiri namun Saga menahannya.
"tolong duduklah, ada yang ingin Saga katakan sama mami! " Saga menatap dalam-dalam kedua netra nyonya Darmawan yang begitu tegas menatapnya.
"mami dulu tidak seperti ini. bahkan sebelum Saga mencintai istri Saga, mami yang selalu mendekatkan kami. tapi kenapa mami berubah seperti ini, berubah membenci istri Saga yang saat ini udah bikin Saga kaya sekarang. bikin Saga berubah jauh lebih baik. bahkan bisa dikatakan Saga menjadi orang yang berahasil itu karena istri Saga mi! "
"sudah? sudah kamu mengatakan semua itu Saga? "
"tentu saja belum sama sekali mi, karna ada yang jauh lebih penting lagi mi." Saga menggenggam tangan nyonya Darmawan. ia lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
"apa mami tau kenapa perusahan papi bisa bangkrut?" nyonya Dsemawan masih belum menjawab pertanyaan Saga. ia menautkan kedua alisnya dan masih menunggu Saga melanjutkan perkataannya.
"kak Saka ingin membuat G.PRO CORPORATION bangkrit dengan bekerja sama dengan Arles Company"
"tapi ternyata apa yang kak Saka rencanakan benar-benar hancur, karena orang yang ia ajak kerja sama adalah seorang pengkhianat."
"apa yang kamu katakan Saga? papi tidak pernah mengajarkan Anak-anak papi berbuat curang! dan yang pasti Saka tidak akan melakukan kecurangan seperti itu apa lagi terhadap mas guntara!" kini tuan Darmawan kembali angkat bicara.
Saga menarik ujung bibirnya dan mengedarkan pandangannya ke arah Saka. "coba kak Saka yang menjelaskannya sama mami dan juga papi"
'arghh, Saga benar-benar licik. dia menyerangku disaat seperti ini. tapi jika aku tidak jujur, Saga akan mencurigai kalau aku belum berubah'
Saka lalu memajukan kursi rodanya. ia mendekat ke arah tuan Darmawan.
'okey tenang Saka.. calm down. pasang wajah semenyesal mungkin supaya papi sama mami gak marah.. fuh'
"maafkan Saka pi, mi. Saka benar-benar menyesal."
"jadi apa yang dikatakan Saga itu semua benar?" tanya tuan Darmawan penuh selidik.
dan perlahan Saka mengangguki pertanyaan dari Ayahnya.
"papi tidak habis pikir sama kamu Saka. sebenernya apa yang membuat kamu seperti ini?"
"Saka hanya.. "
"hanya menginginkan rumah tangga Saga dan Lesya hancur pi" potong Saga.
jawaban Saga berhasil membuat tuan dan nyonya Darmawan melebarkan tatapannya.
"apa itu benar Saka?"
__ADS_1
lagi-lagi Saka hanya mengangguk pasrah. ia sudah tidak bisa berkilah, karena jika ia menampiknya, jika itu ia lakukan itu berarti dia akan membuka kebohongannya tentang perubahannya di hadapan Lesya. dan hal itu yang paling di hindari oleh Saka saat ini. karena satu-satunya tujuannya hidup adalah Lesya.
nyonya Darmawan lalu memegangi kepalanya yang lumayan pening memikirkan apa yang sudah Saka perbuat selama ini.
"itu sudah membuktikan kalo keluarga Lesya tidak salah membuat keputusan untuk memberi pelajaran sama kak Saka kan mi, pi?"
nyonya Darmawan perlahan meraih tangan Lesya yang hanya terdiam sejak tadi. "maafkan mami sayang.. selama ini mami sudah buta. mami ternyata sudah salah menilaimu sayang.."
kini suara nonya Darmawan lebih lembut, dan ketika ia memeluk Lesya, kehangatan yang pernah Lesya rasakan ketika awal-awal mereka menjadi keluarga, kini kali ia rasakan.
'hiihh kak Saka bodoh banget si.. kenapa pakek jujur? kalo kaya gini gue makin sulit buat nyingkirin cewe tua ini' Literally meremas ujung baju yang ia kenakan. ia begitu kesal karena saat ini rencananya untuk menyingkirkan Lesya menjadi lebih berat.
"dan saat ini mami juga mau punya seorang cucu mi"
"jadi? "
"iya mi, Lesya hamil. sebentar lagi mami punya Cucu" ujar Lesya yang seketika membuat Nyonya Darmawan tersenyum haru. Sementara itu Liyora pergi dengan beralasan untuk pergi kekamar mandi.
sesampainya dikamar mandi, Liyora membasuh wajahnya yang terasa panas. matanya memerah dan menatap nyaman kepada pantulan dirinya didepan cermin.
"gue gak rela kalo sampek tante Lisa sayang lagi sama Lesya. pokoknya gue harus cari cara biar tante Lisa bisa benci lagi sama Lesya. dengan begitu Saga tidak akan bisa bersatu dengan Lesya lagi." lagi-lagi rencana jahat mulai disusun oleh Liyora.
entah sampai kapan Liyora akan terus merencanakan kejahatan yang akan merugikan dirinya sendiri.
'kenapa gue baru sadar, ternyata matanya sangat indah'
Andi masih terpaku menatap kedua netra Via yang memang sangat indah. mata sedikit sipit dengan bulu mata lentik tanpa menggunakan bulu mata palsu.
Via pun sama halnya dengan Andi yang masih terdiam. untuk mengatasi rasa canggung, Via segera menyuruh Andi untuk keluar dari kamarnya. ia segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
sementara Via berganti pakaian, Andi memilih untuk kekamarnya dan meemilih berdiri diatas balkon sembari melihat ke atas menikmati langit malam.
saat itu Andi kembali membayangkan disaat Via menindihnya. tetesan rambut basah dan leher jenjang diatasnya membuat nalurinya sebagai laki-laki hampir saja menguasai pikirannya. untung saja saat itu Via segera bangkit dan menyuruhnya untuk keluar.
"fuh"
karena merasa badannya yang panas, Andi melepas kaos yang ia kenakan. saat ini ia hanya bertemu*ng dada.
"apa gue gila? kenapa gue malah mengagumi Via kaya tadi. harusnya gue gak boleh kaya gitu." Andi mangacak rambutnya frustasi.
"okey Andi, sekarang lo harus lebih menjaga jarak sama Via. gimanapun gue laki-laki, gue takut kalo gue terlalu dekat, gue bisa bikin Via kecewa."
__ADS_1
tok tok
terdengar suara ketukan, sebelum Andi membuka pintu, Via sudah lebih dulu masuk. namun saat itu ia tidak menemukan Andi. dan Via melihat pintu dekat balkon terbuka, saat itulah Via memutuskan untuk pergi ke balkon. dan benar saja Andi berada disana.
"astaga Andi, dimana baju lo dimana? "
"ah iya sebentar" Andi lalu mengenakan kaos yang ia letakkan diatas kursi.
"emm apa ada yang ingin lo omongin tadi? "
"emm gue cuman mau minta maaf sama lo Vi, gue gak maksud buat ngeraguin lo. tapi gue gak percaya sama orang yang bernama Doni"
Via mengerutkan dahinya ketika Andi membahas soal Doni. "maksud lo apa Andi?"
"iya aku yakin Pak Doni mempunyai maksud tersendiri sama lo Vi, itu feeling gue! "
"tapi pak Doni yang gue lihat dia itu orang baik Andi"
"gue ini Laki-laki Via, gue bisa nebak kalo pak Doni kayaknya naksir sama lo. ya sebenernya gak pa-pa si kalo dia naksir sama lo, cuman gue takut dia punya maksud lain. "
"kayaknya dugaan lo salah Andi. kalo dia punya maksud lain harusnya tadi gue diapa-apain, tapi pak Doni justru lindungin gue. dia juga meluk gue waktu gue ketakutan. lebih baik lo gak berprasangka buruk sama dia Andi."
"apa? dia peluk lo Vi? terus lo mau-mau aja gitu dipeluk sama dia? lo gak mikir kalo lo itu terkesan mur*h*n? " Andi mencecar Via dengan pertanyaan yang membuat Via kesal.
"baru aja lo minta maaf sama gue Andi! tapi ya udahlah." Via pergi begitu saja meninggalkan Andi. sementara Andi juga hanya menatap kepergian Via.
setelah kepergian Via, Andi hanya berbaring diatas ranjangnya. ia lalu memikirkan ucapannya kembali.
"arghhh kayaknya emang tadi gue salah ngomong!" ya itulah Andi, jika bersama Via ia akan mengatakan apa saja sebelum berpikir lebih matang. sehingga ia pun akan menyesali dan meminta maaf seperti sebelum sebelumnya.
"gue harus minta maaf lagi" Andi berjalan menuju kamar Via. sesampainya didepan pintu, Andi mendapati kamar Via yang terbuka. disana terlihat tidak ada seorang pun didalam kamar.
"Via kemana?" Andi lalu mencari Via ke beberapa ruangan dirumahnya, namun ia tidak menemukan keberadaan Via.
"apa Via kabur?"
.
.
. bersambung
__ADS_1
.